WhatsApp Image 2017-12-29 at 16.15.25

Pemuda Millenial: Teknologi & Percepatan

MUHAMMAD ELVANDI, LC. MA.

Intelektual Muslim, Al Azhar Cairo & Manchester University

Profil: bit.ly/elvandi

Sebelum usia 30 tahun, ada sederet nama besar dalam sejarah Islam yang sulit dipercaya pernah terjadi di alam nyata. Muhammad bin Idris As-Syafi’i menjadi Imam seusia SD anak hari ini, Al-Bukhari menjadi pakar Hadist seusia anak SMA modern, Harun al-Rasyid atau Muhammad Al-Fatih menjadi pemimpin imerium besar yang menguasai satu pertiga dunia di usia-usia mahasiswa baru S1.

Tidak ada yang berbeda, soal modal biologis dan psikologis, antara pemuda zaman dulu dan sekarang. Pemuda 10 abad lalu, 5 abad, mempunyai jatah waktu yang sama dengan kita, yang mereka gunakan juga untuk makan, istirahat, keluarga, karir juga dakwah. Mereka bahkan tidak memiliki alat bantu teknologi yang selengkap sekarang.

Saat mereka sekolah, sama-sama harus menghafal rumus-rumus science, atau kosa kata bahasa baru, tapi tanpa gadget dan multimedia yang memudahkan proses penghafalan. Saat aksi fisik dibutuhkan, tubuh mereka fit untuk memikul tugas-tugas besar, berkuda sepekan hingga sebulan tanpa jeda.

Jumlah pemuda-pemuda jenius seperti itu terlalu banyak menghisai plafon sejarah umat Islam. Setiap zaman selalu hadir pemuda-pemuda yang kualitas pribadinya sebanding dengan seribu manusia.

Apa yang sebenarnya terjadi pada capaian-capaian besar itu? Bukanlah modal kita sama? Bisakah pemuda zaman ini merebut piala kepahlawanan yang agung seperti Abruddahman ad-Daakhil yang mendirikan imperium Islam di Andalusia Spanyol di usia 25 tahun?

Pembentukan karakter masa kecil-lah jawabannya. Di balik biografi setiap pemuda agung tersimpan masa panjang pendidikan mental, spiritual dan pikiran yang kuat, sistematis dan berat.

Inilah rahasia dari beratnya masa kecil Muhammad, yang tumbuh tanpa ayah, dan ditinggal Ibu di usia 6 tahun. Kasih sayang kakeknya hanya sampai 8 tahun. Sisanya, sang paman Abu Thalib yang miskin mengasuhnya dalam kehidupan yang keras. Menuntunya untuk menggembala dan berdagang.

Berat memang! Tapi bukan tanpa hasil, usia muda yang dihabiskan untuk tugas-tugas berat mematangkan kepribadian. Menegaskan pada diri, bahwa hidup itu keras dan setiap suap makanan harus diperjuangkan dengan keringat.

Tapi kehidupan muda sang Nabi juga bukan hanya soal bertahan mencari nafkah, tapi juga soal kontribusi sosial. Usia remaja beliau habiskan untuk organisasi, militer (dalam Perang Fijar) juga aksi sosial (Hilful Fudhul).

Pengalaman-pengalaman berbobot inilah yang membentuk kepribadian sang Nabi di masa depan, sehingga beliau mengatakan “addabani rabbii, fa ahsana ta’diibi” (Tuhanku telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan sebaik-baiknya).

Itulah keadilan Allah yang diberikan melalui sebuah siklus yang dalam peribahasa terkenal:

“Hard times create strong men, Strong men create good times, Good times create weak men, Weak men create hard times”

(Masa sulit mencetak manusia kuat, Manusia kuat membangun masa yang enak, zaman yang enak membuat orang lemah, dan orang lemah membuat zaman yang susah).

Masa-masa sulit itulah yang menciptakan generasi muda yang kuat, bukan hanya fisik, tapi juga kekuatan pikiran, mental, finansial dan keluhuran obsesi.

Inilah situasi nasional yang tidak banyak dirasakan pemuda di kota-kota besar. Anak-anak yang lahir dari latar belakang orang tua berada, akan merasakan bahwa pendidikan dasar hingga kuliah sarjana adalah sebuah privilege dan taken for granted (jatah dan keharusan). Maka situasi ini akan jelas berbeda dengan seorang anak yang harus berjuang bahkan untuk menyelesaikan SMA.

Setiap pemuda yang mudah mendapatkan akses sumber pengetahuan dengan sekali klik, tidak akan merasakan keseriusan Imam Bukhari yang harus berjalan 500 KM antar kota untuk mendapat 1 hadis, atau Imam Syafi’i yang harus menghafal setiap catatan pelajaran dari gurunya Imam Malik karena keterbatasan kertas dan alat tulis.

Maka sekali unduh satu paket Ensiklopedia Britanica ada di depan laptop anak muda zaman ini, dan satu frase keyword bisa memunculkan tayangan yang diinginkan di depan youtube tanpa merasa bahwa konten yang sedang kita buka itu sangat berharga, karena bisa di dapat kapanpun dimanapun.

Pemuda yang terbiasa menghabiskan waktu 5-8 jam perhari untuk lesure time (santai) baik itu game online, chatting, medsos, atau hang out dengan sahabat, tidak akan pernah merasakan bahwa satu satuan waktu selama 30 menit menit bisa dilakukan berbagai aktivitas di tangan orang yang keras terhadap pemanfaatan waktu.

Satu hari, satu jam bahkan satu menit, kadang bisa menentukan sebuah negara merdeka atau tidak, dalam satu menit sebuah perang bisa menang atau kalah, atau nyawa pemimpin selamat atau tidak.

Masa sulit kemerdekaan, revolusi dan reformasi telah kita lewati. Para pemuda angkatan 08, 28, 45, 60-an, hingga 98 mengantarkan negeri ini pada sebuah level modernitas yang berpeluang untuk memanjakan generasi muda perkotaan, yang kita sebut generasi millenials.

Inilah fase krusial yang menguji kematangan generasi muda sebuah bangsa. Ibnu Khaldun jauh-jauh hari memberi kita peringatan, bahwa siklus ini seperti tantangan yang menggelincirkan. Kata Ibnu Khaldun, usia peradaban seperti usia manusia. Ada masa kelahiran, muda, dewasa, tua dan mati. Generasi pertama fokus dengan misi luhur komunitasnya, atau agamanya, atau bangsanya. Generasi kedua menikmatinya, dan hanya mengingat semangat generasi pertama. Generasi ketiga lupa dengan semangat generasi pertama, dan melihat fasilitas kehidupan yang mereka terima adalah jatah wajib generasi mereka. Sedang generasi setelahnya hanya tinggal lanjut menikmati hingga meruntuhkannya.

Di fase mana generasi muda Indonesia hari ini? Apakah kita masuk generasi ke-2 yang meneruskan perjuangan generasi pertama untuk membawa Indonesia pada puncak peradabannya? Ataukah kita tidak membiarkan negeri ini mendapatkan peran sejarahnya di level global sebagai aktor utama, dan kita memilih menjadi generasi ke-3 yang hanya menikmati fasilitas kehidupan sebagai jatah, mengeksploitasinya sesuai selera dan trend yang sedang viral, atau melihat demokrasi dengan harga yang murah sehingga jiwa kita tidak tergerak jika institusi demokrasi ini bermasalah? Yang lebih parah, apakah kita masih mempunyai definisi atas nasionalisme? Memaknai kemerdekaan? Indonesia emas 2045?

Usia 17-35 adalah kategori pemuda menurut UU kita, berbeda dengan PBB yang mematok 8-25 tahun. Kategori 18-35 inilah yang sering disebut dengan generasi Y atau Millenials. Mereka mempunyai pola pikir, perasaan, gaya hidup dan memori yang berbeda tentang kehidupan, bahkan tentang agama.

Variabel terkuat yang memengaruhi generasi ini adalah teknologi, politik, pendidikan dan demografi.  Tapi dalam tulisan ini saya hanya akan mengulas dimensi teknologi sebagai variable yang memengaruhi positif dan negatif generasi millennials.

 

Teknologi

Tahun 1991 tembok Berlin runtuh. Perang dingin berakhir. Sebelumnya sistem totaliter komunisme memonopoli informasi, dan kebenaran hanya satu, yaitu versi penguasa. Informasi hanya dihegemoni pemilik media, negara, juga pemilik teknologi.

Setelah tembok berlin runtuh, 6 bulan setelahnya Windows 3.0 terbit. Generasi yang lahir tahun 60-an dipaksa beradaptasi melihat dunia baru yang ‘datar’. Semua orang jadi bisa memberi (uploading) dan mengambil informasi (downloading), siapapun, kapanpun, dimanapun, walau dalam skala yang terbatas. Semua fenomena ini adalah keajaiban bagi yang hidup di bawah rezim totaliter, di Asia Tengah bekas pecahan Uni Soviet, Uzbekistan, Tajikistan, atau Vietnam, bahkan Jerman timur dan Eropa timur.

Tapi bagi generasi ini, kesetaraan informasi adalah jatah kehidupan yang mereka terima dari lingkungan nasional ataupun global. Mayoritas anak yang lahir tahun 2000-an tidak mempunyai gagasan tentang ‘kendala jarak’. Setiap keinginan mereka terpenuhi dengan social media, google, teleconference, livestreaming.

Teknologi transportasi semakin memperluas ruang gerak generasi ini. Bisa makan pagi di Paris, makan siang di Brussels, dan makan malam di Amsterdam. Atau pagi rapat di Senayan, meeting dengan klien di Surabaya dan istirahat di hotel Bandung.

Kita mungkin merasa tidak perlu merenungi perkembangan ini. Apa efeknya terhadap mimpi-mimpi kita, visi bangsa kita, dan peran negara ini bagi masyarakat dunia?

Mengapa? Karena gelombang yang diciptakan oleh teknologi ini sedikit banyak menggerus nilai kemanusiaan manusia. Alexis Carrel, sang peraih Nobel dari Perancis dengan bukunya ‘L’homme inconnu’ menerbitkan kegelisahan jiwanya akan nasib umat manusia. Untuk apa teknologi jika semakin memuat manusia mengurangi gerakan fisiknya yang real? Bagaimana mesin mengubah cara kita merasa dan berfikir? Perkembangan science semakin pesat tapi pemahaman kita akan manusia semakin kabur (the need of a better science of man). Fasilitas kehidupan semakin pesat tapi kematangan kepribadian kita semakin tergerus?

Tahun berapakah keluhan Carrel akan nasib umat manusia itu? Tahun 1935, saat teknologi masih di level itu, saat Einstein belum melaunching bom atom.

Bayangkan saat ini, seperti apa efek yang ditimbulkan teknologi atas kehidupan pribadi, keluarga, sosial dan bernegara kita? Medsos yang tujuannya menghilangkan jarak komunikasi, bisa jadi menghilangkan komunikasi real manusia. Berada satu tempat, berdekatan fisik, tapi setiap orang sibuk dengan dunia virtual di gadgetnya.

Sarana pembelajaran semakin melimpah. Imam Bukhari yang harus berjalan berhari-hari untuk tahu 1 hadis, bisa kita kalahkan kecepatannya karena satu klik kita bisa mendownload seluruh 9 kitab Shahih. Atau para pembelajar yang dulu gigih menembus universitas-universitas besar, untuk mendapat akses sumber-sumber pengetahuan (learning sources), bisa tersaingi dengan cepat dengan ribuan situs online course, dengan narasumber yang tidak kalah kredibel atau mungkin selevel.

 

Tapi apakah sumber-sumber produktivitas itu yang diambil generasi muda? Ataukah sederet game online, ribuan jam browsing yang tidak beraturan, traveling untuk mengumpulkan ensiklopedi selfie?

Apakah kecepatan internet mengakselerasi kematangan pemikiran, keluasan visi, dan ketajaman analisis generasi millennials? Apakah kecanggihan smartphone mencipta smart people?

Apakah alat-alat bantu pembelajaran menguatkan proses belajar? Apakah Powert Point untuk presentasi mengasah skill public speaking atau justru cara menyembunyikan ketidakmampuan menyampaikan materi dengan bahan presentasi yang canggih?

Apakah evernote, onenote atau manajerial tools, membuat hidup lebih terorganisir? Ataukah mereduksi habis-habisan kemampuan natural manajemen hidup kita? Sehingga saat handphone dan laptop hilang atau rusak, maka produktivitas-pun lenyap?

Itulah sebagian renungan akan tantangan teknologi bagi generasi millennials ini. Teknologi bisa menjadi tuan yang mengendalikan kita dengan dorongan konsumerisme dunia kapitalisme yang merangsek memasuki setiap saku kita. Atau melumpukan potensi kita karena kita sudah terlalu bergantung kepadanya?

 

Pemimpin Teknologi

Saya membagi manusia menjadi tiga pada setiap fase perubahan revolusioner. Yaitu leaders (para pemipin), followers (para pengikut) atau victims (para korban).

Mislanya, dalam revolusi percetakan, para penulis tangan (an-Nassakh) adalah korban-korban perubahan. Sedangkan para pemakai kertas, buku, penulis adalah follower yang mengikuti arus zaman. Adapun para pemilik percetakan adalah para pemimpin yang mengarahkan visi kehidupan dibidangnya.

Seperti itu juga revolusi transportasi saat mobil dibuat. Kuda dan pengendaranya adalah korban pertama revolusi mobil, dan pengusaha mobil-lah yang menentukan masa depan transportasi dunia, hingga hari ini.

Maka sekarang revolusi teknologi dalam bidang-bidang utama yaitu informasi, transportasi, telekomunikasi melahirkan para pemimpin baru, pengikut baru, dan korban-korban baru.

Secara demografi, generasi diatas 40 tahun adalah golongan yang paling potensial menjadi korban atas perubahan ini, minimal menjadi pengikut. Saat anak dan cucu mereka menggunakan VPN gratis untuk memasuki jaringan negara lain dan menembus semua blokade yang dibuat negeri sendiri, tidak mudah difahami oleh orang umum diatas 50 tahun. Dan sehari-hari mereka dihadapkan pada para pengusaha online yang tidak dia ketahui kantornya, tapi dirasakan produknya.

Atau guru, ustadz, pendidik, yang tidak mudah meyakinkan generasi millennials, karena generasi ini mampu mengklarifikasi konten apapun yang mereka sampaikan. Dan tiba-tiba mereka menciptakan tren-tren budaya baru dalam hitungan bulan yang mengalahkan usaha pendidikan mereka selama puluhan tahun.

Tapi apakah betul generasi millennial Indonesia memiliki independensi dalam bersikap? Kematangan yang dihasilkan teknologi? Atau kemampuan melakukan penetrasi sosial dan rekayasa tren dunia?

Disinilah masalahnya. Pemimpin teknologi memiliki saham besar dalam mengatur wajah kehidupan di dunia ini. Pemilik facebook, Instagram, mobil, mobile phone, google, tidak kita sadari mampu mengatur cara kita mengambil foto, memotong video, memilih konten postingan, bahkan menkonsumsi informasi harian. Tanpa sadar kita mengikuti Instagram untuk mereduksi konten video yang 1.5 menit kita menjadi 60 detik. Atau menyingkat setiap kata kita agar gagasan bisa dimasukan ke dalam twitter.

Disanalah kepemimpinan mereka dalam skala yang ringan memengaruhi kita, sebagai follower dan konsumen teknologi.

Saya percaya, tidak hanya solusi-solusi kecil dalam level individu untuk memindah kita dari kuadran follower menjadi leader, tapi kita butuh solusi strategis struktural kultural yang terintegrasi dalam konteks peradaban Indonesia.

Tapi saya ingin berbicara dalam konteks kematangan pribadi generasi millennials di tahap ini.

Karena di saat yang sana, inilah juga masa ketika manusia bisa mempercepat kematangan pemikiran, fisik dan kepribadian. Inilah zaman ketika manusia bisa mengetahui banyak hal dalam satu waktu, memahami banyak kerumitan kehidupan dan tim pembelajar strategis, merancang masa depan dengan big-data dan analisis pemikir strategis. Inilah peluang yang ditawarkan teknologi bagi kita.

Ada 6 langkah untuk menjadikan teknologi informasi, transportasi dan telekomunikasi yang tersedia adalah asisten percepatan kematangan pribadi dan pemikiran.

 

Pertama, Visi yang Jelas.

Membuat visi yang jelas akan pengembangan diri kita di masa depan. Segala sesuatu bermulai dari sini, memulai dari akhir. Visi inilah yang akan memberi arah, kemana kita menuju setelah belasan tahun belajar? Bagaimana menghabiskan usia muda kita? Perangkat ilmu apa saja yang kita butuhkan untuk mencapai visi kita?

Muara dari visi yang jelas adalah adanya kurikulum pribadi yang sistematis, dalam rentang 15 tahunan, sekitar usia 20-35 tahun. Yaitu apa saja yang perlu kita tahu dan kita kembangkan dalam diri kita. Baik secara spiritual, mental, emosinal juga intelektual.

Disinilah perlunya mentor yang bisa mengarahkan kita membangun visi yang jelas dengan rincian jalan terefektif untuk mencapainya.

 

Kedua, Sumber Pembelajaran

Ini adalah zaman ketika semua yang ingin kita tahu bisa kita tahu dengan mudah dan cepat. Ini tidak berarti membuat kita generasi instan. Tapi yang saya maksud, jika kita mempunyai kurikulum pengembangan diri yang jelas, semua sumber pembelajaran yang kita butuhkan untuk kurikulum tersebut bisa kita dapatkan dengan mudah.

Hal ini membutuhkan wawasan informasi sumber pembelajaran. Pendidikan formal adalah yang utama, hingga S1 bahkan S3. Tapi ia tidak cukup, karena apa yang bisa didapat dari informalitas tidak kalah luas dan dalam.

Sumber pembelajaran ini berserak dimana-mana baik online ataupun kajian sistematis, yang bisa didapatkan dengan kualitas akademis yang mumpuni.

Teknologi memberi kita keberlimpahan informasi ini. Situs seperti TedTalks, MIT Online Course, dan ribuan lembaga pendidikan online dengan biaya yang jauh ratusan kali lebih murah dari pendidikan formal, bisa menjadi suplemen kognitif disamping pendidikan formal.

Tapi hal ini hanya akan berhasil jika kita mempunyai kurikulum pengembangan diri yang jelas, dan sumber-sumber pengetahuan yang kredibel. Jika tidak, waktu kita terbuang banyak tapi hanya untuk mengkonsumsi sajian yang tidak ilmiah bahkan menyesatkan.

 

Ketiga, Penguasaan Instrumen Teknologi Informasi dan Telekomunikasi

Menguasai semua instrument teknologi informasi dan telekomunikasi kontemporer adalah cara terbaik untuk mengefisienkan waktu kita, di depan target kurikulum pengembangan diri yang banyak. Karena pada akhirnya, semua target kita akan selalu lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Maka, misalnya instrument teknologi informasi dan telekomunikasi harus bisa mereduksi waktu rapat tanpa mengurangi kualitas keputusan. Waktu perjalanan menuju tempat pertemuan 1 jam pergi dan 1 jam pulang bisa direduksi dengan kordinasi online, chat dan teleconference. Secara pribadi, kami pernah mengelola sebuah event besar di Paris, yang berhasil terlaksana dengan koordinasi virtual menggunakan sarana teknologi tanpa pertemuan fisik sekalipun.

Maka banyak sekali urusan bisa terselesaikan jika kita menguasai instrumen ini. Inilah fenomena baru manajemen diri dan waktu berbasis teknologi, yang memberi kita banyak waktu untuk meneruskan sederet agenda pengembangan diri.

 

Ketiga, Tim Pembelajar

Saat Imam Al-Ghazali menulis buku Tahafut al-Falasifah di Daulah Abbasiyyah (sekarang daerah Iraq), di benua lain Ibnu Rusyd butuh waktu untuk mendapatkan bukunya. Karena dia tinggal di daulah Andalusiyah (sekarang Spanyol). Dan saat ia membantah buku tersebut dalam ‘Tahafut at-Tahafut’, itupun butuh waktu yang tidak sebentar agar dibaca al-Ghazali.

Tapi sekarnag, tim pembelajar bisa kita bentuk dengan mudah. Teknologi telekomunikasi harus kita berdayakan bukan hanya untuk komunikasi sosial, tapi untuk tim pembelajaran. Bahkan tidak hanya di Indonesia, tapi antar negara.

Karena pengetahuan hari ini sudah terlalu terspesialisasi, dan tidak ada orang yang mampu faham segala tentang segala. Pengetahuan kita semakin terfragmentasi dan semakin membutuhkan keterbukaan pikiran dan hati untuk mendengar perspektif berbeda, dari bidang berbeda, bahkan agama dan bangsa yang berbeda.

 

Kelima, Traveling

Teknologi memberi kita peluang lain yaitu transportasi yang memintahkan fisik kita ke benua berbeda dalam hitungan jam. Traveling yang produktif adalah tools lain untuk mempercepat kematangan mental dan pemikiran kita. Karena saat traveling itulah terjadi dialog budaya dan pertukaran sudut pandang.

Keluasan pikiran seseorang bisa diukur oleh keluasan daya jelajahnya atas bumi Allah ini. Oleh sebab itulah banyak sekali ayat Qur’an bertebaran yang memerintahakan “Qul siiruu fil ardhi…fandzhuru…” (berjalanlah di muka bumi lalu analisalah).

Itulah rahasia percepatan pemikiran dalam Qur’an, yaitu perjalanan yang disertai analisa. Maka traveling bukanlah-lah beban atau kemewahan, tapi investasi masa depan, dengan syarat traveling bukan hanya sekedar foto-foto atau belanja, melainkan proses pertukaran budaya, perspetif dan mengantarkan pada analisa-analisa peradaban.

 

Keenam, Bahasa Asing

Para akhirnya, semua instrument diatas adalah fenomena global hari ini yang bisa kita manfaatkan dengan optimal jika kita memiliki kuncinya. Yaitu Bahasa asing. Bahasa Arab, Inggris, Jerman, Spanyol, Perancis, Cina, Rusia adalah diantara besar yang membuka banyak sekali akses pada sumber pembelajaran, sumber tim belajar.

Jika Bahasa Arab kita kuasai, betapa banyak kajian keislaman berbasis teknologi informasi yang bisa kita pelajari di sela-sela menunggu bus, kemacetan bahkan saat berolah-raga. Jika Bahasa Inggris kita kuasai, betapa banyak sumber-sumber online course yang berbobot, terbuka dan bisa diakses lewat smartphone kita. Dan betapa luasnya jangkauan diskusi ilmiah yang bisa kita lakukan dengan berbagai pembelajar seluruh dunia.

Keenam poin diatas adalah tools untuk menjadikan perkembangan teknologi sebagai sarana percepatan kematangan pribadi, mental dan intelektual.

Muhammad al-Fatih pernah mendapatkan pendidikan terbaik, dengan fasilitas guru terbaik di zamannya di berbagai bidang. Sehingga ia menguasai berbagai Bahasa, bidang ilmu juga kepemimpinan. Tapi di zamannya, hanya Al-Fatihlah yang mendapat kehormatan agung itu, karena ayahnya seorang khalifah Daulah Ustmaniyyah yang mempunyai fasilitas itu.

Tapi saat ini, setiap generasi muda millennials mempunyai kesempatan yang sama dengan Al-Fatih berkat teknologi. Yang membedakan hanya satu: apakah kita mempunyai obsesi luhur yang sama, seluhur mimpi Al-Fatih untuk berkontribusi untuk umat dan bangsanya?

4

BUKU: Investasi Pikiran

1

3

Suatu hari, Imam Ghazali akan dirampok di tengah jalan dengan kafilahnya. Dia mengangis takut buku-bukunya ikut dirampok. Kata para perampok, “ilmu itu disini (kepala) bukan di buku”. Setelah pulang, Imam Ghazali langsung menghafal semua bukunya, dan dikemudian hari mengatakan “nasihat perampok itulah yang mengubah hidup saya sebagai pembelajar”.

Kisah itu tidak pernah saya lupakan sejak SMA. Tapi masalahnya otak saya tidak se-encer Imam Ghazali, sehingga kehadiran buku selalu saya perlukan disamping saya.

Kemaren saya baru tuntas pindahan ke Kotabaru Padalarang, setelah sebelumnya pindahan furniture, sekarang semua buku dikantor baru selesai saya tata. Jumlahnya ada 1000-an. 1000 buku itulah salah satu kepuasan hati saya setelah pulang dari Mesir 4 tahun, Perancis, 3 tahun, dan Inggeris 1 tahun.

1000 buku bukan jumlah yang besar bagi orang kaya di Indonesia yang hobi baca, uang 5-7 juta sudah bisa belanja 100 buku. Tapi 90% dari buku yang anda lihat di foto, adalah buku yang saya beli dari sisa-sisa uang beasiswa selama 8 tahun kuliah di luar. 1/2 nya berbahasa Inggeris, 1/4 berbahasa Arab, 1/4 sisanya bahasa Indonesia dan Perancis.

1000 buku itulah usaha menahan lapar dan mengurangi jalan-jalan. Uang saku beasiswa saya di Cairo (di luar housing) hanya 400.000 rupiah perbulan, ditambah sampingan jadi Tour Guide, tapi alhamdulillah recehan-recehan saya kumpulkan untuk mencicil satu-demi satu buku-buku yang real saya perlukan untuk dikaji, saat itu juga, bukan hanya pajangan tebal referensi seperti kitab-kitan Hadist atau Tafsir.

Di akhir masa studi di Azhar, buku saya sebanyak 4 karton rokok yang di shipping melalui laut. Lalu saya ke Perancis dan membawa beberapa buku terpenting, semua buku Anis Matta, Muhammad Ahmad Rasyid, Jasim Sulthan dan beberapa karya Raghib Sirjani saya bawa.

Disana, saya masih membutuhkan referensi, berbahasa Arab, tapi harganya, masya Allah, mengerikan. Buku Sunnah Masdaran lil Ma’rifah wal Hadharah karya Yusuf Qharadhawi cetakan El-Shorouq harganya 10 kali lipat dari Cairo. Makanya saya mulai beralih mencicil buku-buku lewat ebay dari Inggeris, karena buku cetakan Perancis super mahal. Selama 3 tahun hidup di Perancis, mungkin saya hanya bisa mengoleksi seperempat dari jumlah buku yang saya kumpulkan di Cairo.

Lalu tahun 2014 saya ke Manchester untuk studi lanjutan saya, disanalah saya kira zaman keemasan buku saya, karena saya mendapat beasiswa LPDP dengan nominal 20 juta perbulan.

Tapi saat ke toko buku, barulah semangat layu, karena buku-buku targetan saya yang umumnya terbitan penerbit-penerbit besar seperti Oxford University Press, super gile mahal. Satu buku Oxford Handbook of Political Science, 1 juta harganya.

Disanalah perjuangan terbesar. Saya katakan pada diri sendiri, sekarang atau tidak sama sekali. Saya habiskan sebagian besar beasiswa saya untuk buku, dan satu lagi: traveling (lain kali saya cerita tentang ini). Karena inilah investasi terbesar saya saat pulang, yang akan terus bisa bermanfaat.

Then, mulailah setiap pekan front office asrama saya di Langdale Hall Manchester seperti gudang paket yang menerima paket buku saya setiap pekan, dari Ebay, Amazon, dan berbagai situs buku online.

Setiap ada bidding lelang ensiklopedi saya ikuti, misalnya 60 Jilid The Great Books of Western Civilization adalah buku yang paling saya inginkan dalam hidup. Berisi tulisan terbaik penulis Barat dari zaman Plato, Romawi, Shakespeare, Rennaissance, hingga abad 20. Berbulan-bulan saya pantau terus perkembangan para penjuan buku itu di internet. Dan harganya sekitar 30 juta. Lalu saya pasang aplikasi autobidder di Mac saya, hingga hampir tiap ada waktu senggang saya pantau perkembangan harganya,

Suatu hari ada penjual yang memasang harga bidding sangat murah, dalam waktu yang singkat, di deadline yang jarang orang perhatian, saya pasang autobidder, dengan harga tertentu. Aplikasi itu mem-bidding di sepersekian detik terakhir, dengan harga yang sedikit lebih besar dari siapapun. Akhirnya buku itu saya miliki.

Begitu juga ensiklopedi Britannica 36 jilid, buku-buku Charles Dicken, Jane Asten, Hugo, Robert Greene, Ensiklopedi-ensiklopedi pengetahuan, serial Oxford Handbook, dan tentu diktat-diktat political science, yang harganya na’udzubillah.

Anda percaya, buku Governance setebal 250-an halaman, karangan Bell and Hindmoor terbitan Cambridge, harganya hampir sejuta, yang kalau di copy di taman sari hanya 40 ribu.

Tapi saya nikmati, dan diakhir studi saya, saya mengirim 7 karton super besar berisi ratusan buku berbasaha Inggeris dari politik, sastra, sejarah, agama juga pemikiran.

1000 buku yang ada di rumah sekarang adalah hasil keringat saya sebagai mahasiswa dari recehan mahasiswa, bukan seperti para pengusaha kaya yang bisa membeli satu perpustakaan sekali transaksi.

Setiap judulnya bermakna, karena saya pilih satu-demi satu, seperti menjahit jas yang di ukur setiap milinya, bukan seperti beli beras karungan.

Habiskan-lah sisa uang anda untuk buku, karena buku adalah investasi pikiran. Anda mungkin belum tuntas membacanya sekarang, tapi setiap pikiran anda buntu dari inspirasi, anda tahu bahwa buku-buku itu ada disamping anda untuk dijelajahi.

Cover Kajian - Peran Alumni Azhar

Peran Alumni Azhar di Indonesia

(Refleksi Kejatuhan Mursi)
1. Beberapa waktu lalu diadakan lesehan nasional oleh Paguyuban Alumni Al-Azhar Mesir, dan sy sangat mengapresiasi inisiatif mulia ini.
2. Disana sy berkesempatan berbagi gagasan tentang Washathiyyah dan implementasinya di Indonesia, dengan mengambil inspirasi dari musibah Mursi.
3. Sejarah selalu mengulangi dirinya sendiri oleh karena itu Allah memerintahkan kita untuk berjalan di muka bumi, menganalisa nasib umat-umat lain agar kita bisa melakukan komparasi-komparasi, mmempelajari pola lalu memproyeksi masa depan.
4. Itulah sebabnya wawasan geopolitik sangat kita perlukan untuk membedah sejarah dan peradaban dengan lebih utuh.
5. Maka saya memilih mengambil sudut pandang politik dan global atas tragedi mursi, agar kita, umat Islam dan bangsa Indonesia tidak mengulangi fenomena yang sama.
6. Cerita timur tengah atau lebih tepatnya Alam Islami, setidaknya bisa kita runut ke masa runtuhnya Ustmaniyyah.
7. Jazirah Arab, juga Syam, Mesir adalah provinsi-provinsi Ustmaniyyah yang terus di provokasi untuk merdeka.
8. Agen-agen Inggeris dan Perancis bermain dengan sangat lincah di kawasan. Menjadi ‘sahabat’ bangsa Arab untuk merdeka dari Turki Ustmani. Terutama perwira flamboyan Lawrence ‘the arabia’ yang memgadvokasi berdirinya Saudi Arabia, Irak dan Jordania.
9. Markes Sykes diplomat Inggeris dan François George-Picot diplomat Perancis bahkan berbagi lahan timur tengah berdua secara rahasia tahun 1916.
10. Inggeris mendapat banyak lahan di kawasan Timur tengah hingga asia tengah, bahkan membagi India, Pakistan & Bangladesh sesuai kategorisasi politik mereka.
11. Perancis pun ikut membagi Syam menjadi Syria dan Lebanon.
12. Setahun kemudian baru terkekspos perjanjian Sykes-Picot itu di Izvestia dan Pravda, bahkan di harian Guardian Inggeris.
13. Dikemudian hari pasca perang dunia I, presiden Amerika Woodrow Wilson membuat perjanjian Sykes-Picot itu menjadi legitimate.
14. Tapi bayangkan, puluhan negara Arab yang kita pelajari di geografi SMA dulu adalah hasil beberapa gelintir orang yang berbagi lahan imperialisme di teritori Ustmaniyyah.
15. Makanya hingga hari ini sentimen antara Arab-Turki masih tersisa. Arab menganggap Turki penajajah, dan Turki menganggap Arab pengkhianat. Itulah hasil adu domba.
16. Prolog tersebut vital untuk melihat problematika Arab kontemporer, termasuk Mesir.
17. Bahwa sejak awal, berdirinya negara-negara Arab modern dijadikan kawasan satelit negeri barat untuk supplier bahan bakar industri mereka.
18. Puluhan tahun hubungan itu dijaga dengan berbagai ikatan, terutama yang menyangkut eksistensi Israel.
19. Mesir bukanlah pengecualian, ia terletak persis di pusaran konflik perebutan dominasi ekonomi-politik para raksasa neo-imperialis.
20. Dua puluh tahun pemerintahan Mubarak adalah perpanjangan tangan sistem global seperti juga di Asia Tenggara pasca perang dingin.
21. Maka jangan salah sangka: bahwa jika anda menguasai negara (Mesir) berarti anda menguasai negeri (Mesir)
22. Karena aktor-aktor global yang bercokol disana mengakar sejak awal abad dua puluh.
23. Tapi Allah-lah pemilik semua kekuatan dan kekuasaan. Pembuat sebaik-baik makar.
24. Monitoring dan cengkeraman asing di Mesir ada juga saat lemahnya, dan ia bertemu dengan momentum pembakar-dirian pemuda Tunisa pada Desember 2010. Hingga akhirnya revolusi Arab merambat ke Mesir.
25. Terbakarlah Timur Tengah dengan ‘Arab Spring’. Tumbanglah Mubarak dengan slogan revolusi rakyat yang dikomandoi IM. Salafi dan kalangan lain menjadi supporter.
26. Semua mabuk euforia, bahkan saya yang masih studi di Cairo ikut diajak serta dalam konvoi-konvoi simpatik membawa bendera IM bersama kawan-kawan Mesir yang IM.
27. Bahkan tentara menjadi partner revolusi melucuti kekuatan Amn Dauli (kepolisian dalam negeri).
28. Lalu Partai Keadilan dan Pembangunan milik IM memenangkan pemilu dan mengantarkan Mursi menjadi presiden.
29. Tapi IM tetap tawadhu, mengatakan ‘kemenangan ini dari Allah’. Karena seperti itu memang faktanya, semuanya tidak ada desain IM dari awal.
30. Mereka hanya mengambil celah sejarah (staghrah tarikhiyyah) yang terbuka lalu dengan mulus di eksekusi.
31. Ini yang saya sebut memenangkan demokrasi. Umat Islam sudah banyak yang mencapai tahap ini, yaitu mengambil alih kepemimpinan memalui pemilu demokratis.
32. Inilah juga mimpi barat imperialis pada awalnya. Mendemokratisasi dunia. Karena demokrasi itu pedang tak bertuan yang ampuh digunakan para petarung peradaban yang tangguh.
33. Baratlah yang dirasa akan selalu memenangkan demokrasi. Tapi sejarah memberi fakta keras.
34. Bahwa umat Islam (Islamis) mampu menjadi petarung tangguh dan memenangkan demokrasi. Di Mesir, di Aljazair, di Turki dengan kemenangan Erbakan beberapa kali.
35. Disinilah justru letak krusialnya. Level 2 perjuangan demokrasi: yaitu Menjaga demokrasi.
36. Dan umat Islam hampir selalu gagal disini. FIS di Aljazair diberangus, juga Erbakan, juga Mursi.
37. Akhirnya kita mempelajari kaidah baru: jika kaum islamis memenangkan demokrasi, maka demokrasi akan diaborsi dengan kudeta, kemudian sistem politik dikembalikan ke sistem darurat negara/ sipil/ militer.
38. Cara mengaborsi demokrasi itu terlalu banyak. Yang paling penting adalah menghilangkan stabilitas keamanan, dengan teror, bom, penembakan, kriminalisasi, dll.
39. Hilangnya keamanan adalah hilangnya pembangunan, hingga krisis ekonomi dan menjadi alasan paling mudah untuk kudeta.
40. Itulah yang terjadi dengan Mursi. Tidak siapnya menjaga demokrasi di depan ancaman perpecahan negeri, krisis ekonomi dan militer yang mengkhianati kepercayaan Mursi.
41. Itu juga yang hampir terjadi dengan AKP dan Erdogan. Tapi Erdogan memahami situasi ini. Berkat pengalamannya membersamai Erbakan.
42. Erdogan dikudeta berkali-kali dan stabilitas keamanan Turki berkali-kali diancam.
43. Tp prioritas pemerintahan Erdogan justru menjaga institusi demokrasi, dan semua perangkat negara (termasuk militer) ia konsolidasi dengan narasi baru “the new ottoman”. Ide Islamisme tidak ia bawa, karena tidak tepat di konteks sekularisme Turki.
44. Hal ini yang tidak kita temui dalam cerita Mursi. Tidak ada kebijakan kriris ekonomi, tidak siapnya perangkat coercive negara untuk mempertahankan rezim.
45. Yang paling parah adaah hilangnya dukungan penyolong revolusi yang tidak semuanya islami. Mereka mampu bersatu dibawah narasi IM saat melawan musuh bersama yang tiranik. Tapi mereka membutuhkan narasi baru pembangunan Mesir pasca kemenangan.
46. Lalu dimana posisi kita di Indonesia? Apa relevansinnya.
47. Pertama; perjuangan demokrasi melalui 3 tahapan. 1. Memenangkan. 2. Menjaga. 3. Mensejahterakan.
48. Memenangkan dan Menjaga demokrasi adalah prioritas kita hari ini. Sebagai alumni Azhar kita punya peran vital. Mengajarkan prinsip washathiyyatul Islam.
49. Entah siapa, yang jelas ada usaha memecah negeri ini.
50. Gerakan separatis mulai berani unjuk nyali.
51. Agenda-agenda umat dijadikan tumbal atas munculnya konflik sosial.
52. Umat Islam dipancing untuk membuka kembali debat-debat dasar negara, pancasila dan piagam jakarta.
53. Siapa yang paling diuntungkan? Jika anda memahami konteks geopolitik timur tengah yang saya jelaskan tadi, anda akan bisa memahaminya.
54. Menurut saya, saatnya debat-debat tentang dasar negara, pancasila VS Islam harus diakhiri. Umat Islam jangan terseret ke pinggiran untuk kembali ke meja-meja debat.
55. Karena bagi saya, diskusi pra-demokrasi sudah final. Pancasila yang ada sekarang adalah wujud ke agungan akhlak dan toleransi umat Islam dan pengorbanan umat Islam menjaga kebhinekaan kita. Apalagi sila pertama kita bahasa arabnya adalah “al I’tifaf bianna allah wahid”. Alias tauhid.
56. Dan demokrasi adalah cara kita mengimplentasikan prinsip syura.
57. Syura adalah pemerintahan partisipatif yang hari ini paling dekat diwujudkan dengan demokrasi.
58. Demokrasi adalah open platform yang elastis digunakan oleh pemenang pemilu. Demokrasi bahkan bias digunakan untuk isu rasial oleh Trump. Artinya demokrasi juga bisa digunakan untuk dakwah.
59. Peran alumni azhar adalah menjadi katalisator agar umat Islam berbondong-bondong menjejali pertarungan demokrasi lalu memenangkannya.
60. Kemudian menjaga negeri ini dari ancaman aborsi demokrasi dengan segala bentuknya.
61. Maka, menggandeng tokoh-tokoh militer adalah salah satu agenda strategis umat, asalkan para jenderal itu melepas kemegahan ketentaraannya dan maju sebagai tokoh sipil mewakili aspirasi umat Islam.
62. Alumni Azhar yang sudah kenyang dengan warisan washathiyyatul islam (kemoderatan islam) sudah saatnya membimbing umat dari pinggiran ruang debat pra demorasi, menuju tengah arena pertarungan memenangkan demokrasi, menjaganya dan mensejahterakannya.
63. Masyarakat Indonesia melihat alumni Azhar sebagai elit intelektual. Kapasitasnya dihormati sebagai tokoh pewaris nabi, dan kita diberikan privilege untuk mengatakan apa yang harus dijalani umat di negeri ini. Ini adalah power, mari gunakan power ini untuk membangun bangsa Indonesia.

Muhammad Elvandi, Lc. MA.
Intelektual Muslim
Al-Azhar Cairo & Manchester University

Link Video:

turkey-referendum-protests-870885

Referendum Turki: Babak Baru Ekspansi Erdogan (opini: Republika)

Referendum Turki yang dilaksanakan 16 April lalu telah memberi kemenangan bagi Erdogan. Walaupun KPU Turki belum mengumumkan hasil resmi, tapi menurut kantor berita negara Anadolu Agency, realcount yang telah selesai 100 persen mengasilkan 51,41 % untuk ‘Evet’ pro referendum dan 48,59% untuk ‘Hayer’ atau menolak referendum.

Erdogan langsung memberi pidato kemenangan “…kita telah berjalan bersama, dengan sistem baru ini, kita akan bersiap-siap melesat…” teriaknya menyemangati masa simpatisan.

Erdogan melihat sistem parlementer Turki sangat mengebiri kinerja pemerintahan. Sistem parlementer Turki adalah warisan panjang sejak Mustafa Kemal dan runtuhnya daulah Ustmaniyyah. Sistem ini memberi wewenang terlalu besar bagi militer untuk mengintervensi pengelolaan pemerintahan ditengah kecilnya wewenang kepala negara: presiden.

Sistem parlementer dinilai Erdogan menciptakan ketidakstabilan, beban ekonomi dan proteksi negara yang lamban seperti berbagai serangan bom dari kelompok bersenjata Kurdi dan ISIS. Secara institusional lembaga kepresidenan tidak punya cukup wewenang untuk mengeksekusi banyak persoalan krusial karena presiden hanya sebagai simbol sedangkan fungsi pemerintahan dikelola oleh perdana menteri.

Kemenangan kubu ‘yes’ yang dimotori AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) atas ‘No’ yang dimotori MHP (Partai Aksi Nasionalis) akan mengubah performa pemerintahan Turki secara signifikan.

Sistem presidensial Turki yang baru akan memberi wewenang baru presiden seperti memilih para menteri, wakil presiden, dan setengah anggota dari lembaga kehakiman. Juga memberi presiden hak untuk membubarkan parlemen, menerbitkan dekrit dan memutuskan status darurat bagi negara. Dan yang terpenting pada situasi transisional seperti ini adalah kewenangan presiden untuk memilih para petinggi militer dan kepolisian.

Referendum ini akan mulai memberi arti dalam pemilu presiden 2019 mendatang. Artinya Erdogan menang, maka ia bisa memimpin Turki hingga dua kali lima masa jabatan sampai 2029. Namun sebelum semua itu terjadi Erdogan harus menghadapi terlebih dahulu tantangan aborsi referendum.

Oposan CHP (Partai Masyarakat Republik) dan HDP (Partai Masyarakat Demokratik) yang pro Kurdi menuntut penghitungan ulang bahkan hingga pembatalan referendum. Tuduhan-tuduhan kesalahan prosedur pemilu dan perdebatan surat suara tidak berstempel yang dianggap valid harus mampu diselesaikan oleh KPU dengan baik. Mereka bahkan akan mengajukan mekanisme hukum melalui ECHR (Pengadilan Eropa dan Konstitusional untuk HAM) untuk menganulir hasil referendum. “Referendum ini akan ditempatkan dalam halaman gelap sejarah Turki…” seperti diuangkap tokoh CHP Bülent Tezcan saat konferensi pers.

Jika Erdogan berhasil melewati titik krusial legitimasi referendum maka Erdogan bersiap memulai babak baru dalam sistem presidensial. Pertama adalah memenangkan pemilu presiden 2019 yang menjadi tujuan utama referendum ini. Karena jika kalah, maka referendum ini menjadi senjata makan tuan bagi Erdogan, dimana rival politik yang menjadi presiden akan menggunakan wewenang baru untuk kontra proyek Erdogan.

Langkah kedua, Erdogan harus bersiap untuk membersihkan sisa-sisa pengaruh jaringan militer lama yang berkali-kali mengkudeta seniornya Necmettin Erbakan dan juga berupaya mengkudetanya seperti pada kudeta gagal terakhir 15-16 Juli 2016 lalu. Stabilitas keamanan Turki adalah prioritas Erdogan sejak awal kepemimpinannya yang selama ini terlalu sulit dikelola akibat sistem politik parlementer. Sisi keamanan juga yang membuat setiap pemimpin Turki harus selalu menyesuaikan ritme ideologi kepemimpinan dengan selera militer jika tidak mau dikudeta.

Ketiga, Erdogan akan leluasa membangun konsep Turki Baru-nya dengan eksekusi seorang presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan. Lima kali kemenangan AKP dalam pemilu sejak 2002 dan kemenangan pemilu presiden 2014 sebesar 51,79% mungkin bisa membuatnya berbesar hati atas dukungan rakyat untuk proyek apapun yang ia bawa. Namun hal itu membawa pesan keras bagi rival bubuyutan Turki, yaitu Eropa. Tantangan terbesar Erdogan pasca referendum adalah kekuatan-kekuatan eksternal.

Erdogan memang tidak membawa misi Islam apalagi mengusung ide khilafah dan negara Islam, justru ia menegaskan berkali-kali tentang sekularisme Turki. Tapi proyek pemerintahan Erdogan tidak bisa dipungkuri membangun mimpi ‘the New Ottomans’ yang notabene berkultur Islam, karena sejarah daulah Ustmaniyyah adalah sejarah Islam bukan seperti leluhur Turki Jengiz Khan di Asia Tengah. Inilah mimpi buruk Eropa jika Turki benar-benar menjadi kekuatan global baru dan membawa nilai baru di luar kapitalisme. Apalagi dari sisi ekonomi, geopolitik, demografi dan isu pengungsi saja, Eropa mempunyai cukup alasan untuk khawatir dengan kekuasaan baru Erdogan jika ia menang.

Maka mulailah tekanan Eropa dengan media-media besar mainstream yang menghujam legitimasi referendum Turki dan penciptaan ‘tyrannical image’ pada sistem presidensial. Uni Eropa juga membawa persoalan referendum pada isu kematian demokrasi Turki, walaupun proses referendum sendiri menggunakan perangkat demokrasi dikenal dan dipakai Eropa.

Dalam sebuah pidatonya Erdogan menyampaikan “negara ini telah melaksanakan pemilu yang sangat demokratis, yang jarang kita lihat juga di Eropa…” seperti yang dilansir Aljazeera. Dilain kesempatan Erdogan mengatakan “mentalitas perang salib di barat dan antek-anteknya di tanah air ini telah menyerang kita”.

Akan tetapi, persoalan ini tetap harus bisa dijawab dengan rasional oleh Erdogan untuk dijelaskan pada masyarakat dunia. Jika tidak, Turki akan mendapat ancaman kecaman dunia internasional dengan label yang disematkan sepihak yaitu negara gagal demokrasi, tirani atau sangsi-sangsi ekonomi-politik. Dan seperti biasa, negara-negara lain kemungkinan hanya mengekor sesuai trend media-media internasional.

Tapi lain halnya dengan animo masyarakat di kawasan timur tengah. Menurut Anadolu, masyarakat Azerbaijan, Palestina, Qatar, Pakistan, Masedonia, Saudi, dan Sudan menyambut gembira dan para pemimpinnya memberi ucapan selamat pada kementrian luar negeri Turki.

Oleh karena itu, pasca referendum ini saatnya Turki semakin memperbanyak kawan dan aliansi strategis untuk mencari dukungan jangka panjang terutama dalam bidang ekonomi, kemananan dan pertahanan. Karena ketegangan dengan Jerman dan Belanda dalam beberapa bulan terakhir semakin memanaskan hubungan Turki-Eropa. Jangan sampai Turki dikeroyok dan dibulli hanya karena dia dianggap sendiri dan negara lain tidak ada yang peduli.

Demo-411-dan-Bendera

Menanti Kontribusi Muslim HTI

Menanti Kontribusi Muslim HTI

1. Pagi ini, teriak takbir menggema di langit-langit Jakarta. Momen politik kali ini bernuansa ‘jihad’ bagi umat Islam. Dan betul, inilah al-Jihad as-Siyasi (Jihad Politik).

2. Semangat umat Islam seantero negeri menyatu dalam irama 411 dan 212. Bayangkan, jutaan hadir ke Jakarta, tanpa kordinasi menuntut penista agama. Dan sekarang penista agama itu ada di salah satu pojok kertas suara.

3. Satu demi satu elemen umat Islam memberikan dukungan kebulatan suara, menolak pembuat gaduh NKRI. Ormas Islam, partai Islam, majelis ta’lim, forum-forum pemuda dan ibu-ibu, semua elemen umat Islam menanggalkan baju dan mindset kelompok dan melebur dalam agenda nasional keumatan.

4. Elit-elit ormas dan partai Islam yang mencoba menerobos, bergandengan dengan pembuat gaduh NKRI, mendapat kecaman keras. Kantor-kantor cabang protes, bahkan mengancam keluar jika elit-elit pemipin organisasi Islam tidak sesuai dengan ‘khittah’ (panduan) organisasi Islam tersebut.

5. Lalu dimana posisi kalian di depan momen besar umat Islam ini wahai saudara-saudariku Hizbut Tahrir Indonesia?

6. Saya faham saudara tidak percaya demokrasi, karena saudara anggap sistem kafir. Saya faham saudara tidak ikut sistem pemilu karena ia warisan taghut. Maka saudara memilih golput karena ingin BARA (berlepas diri) dari sistem yang tidak Islami sesuai definisi saudara.

7. Saya tidak sepakat atas semua gagasan tersebut, baik dari sisi manhaj tafkir, dakwah, akidah, ataupun sisi politik kontemporer atau konsep global governance. Tapi ada waktunya kita berdiskusi dan berdebat ilmiah, lain kali, dan saya selalu siap berdikusi, tapi bukan hari ini.

8. Hari ini adalah hari unjuk kontribusi keumatan. Hari dimana saudara bisa menunjukan kepada umat Islam posisi anda dalam sejarah negeri ini.

9. Saya bertanya ke salah seorang ustadz tokoh HTI yang saya kenal tentang kemungkinan sikap HTI. Jawab beliau HTI masih sama sikapnya, yaitu tidak ikut pemilu, tapi melarang umat Islam memilih pemimpin kafir.

10. Setidaknya ada kesamaan soal kriteria pemimpin, tapi sayangnya HTI akan golput. Saya ingin bertanya, dimana akal sehat dalam sikap ‘tidak mau dipimpin gubernur non-muslim tapi tidak ikut nyoblos?’.

11. Saudara tidak mau A menang, tapi saudara tidak mau ikut milih B. Jika semua orang sepakat dengan saudara, maka mereka semuanya tidak akan milih A, tapi tetap tidak menambah suara B, dan semua yang mendukung A akan mencoblos A. Siapa yang menang? Mohon dipikirkan sekali lagi, dimana logika paling sederhana yang bisa menerima sikap ini?

12. Lalu mungkin saudara ingin menghindar, kita bagi-bagi peran saja, yang lain berjuang dalam pemilu sedang HTI berjuang mengedukasi, ngisi pengajian, seminar-seminar kekhilafahan, dan taujih ghazwul fikri.

13. Akan ada waktu untuk itu saudaraku, tapi tidak hari ini. Hari ini ada sebuah ‘Wajibul Amal’, bahkan ‘Taajul Amal’ (mahkota amal) yaitu pemilu. Hari ini bagi warga Jakarta, Afdhalul A’maal-nya dalam definisi Ibnu Qayyim adalah nyoblos.

14. Mari melunak sejenak dari ide-ide saudara yang menolak demokrasi sistem kafir, karena kita, umat Islam, mempunyai kaidah-kaidah fiqh seperti “akhaffud dhararain” (mengambil kemudharatan yang teringan) atau Fiqh Aulawiyyat (Fikih Prioritas), Fiqh Muwazanah (Fiqh Komparasi) yang usianya jauh lebih tua dan fundamental dari gagasan-gagasan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Hasan al-Banna, Al-Afghani atau pemikir muslim manapun.

15. Saya tidak tahu ada berapa ratus, ribu jumlah HTI di Jakarta. Tapi saya yakin satu hal, bahwa ‘every vote matters’ (setiap satu suara berharga).

16. Alkisah, di Cairo dulu, waktu saya kuliah, ada pemilu mahasiswa, pemilih sekitar 1000 orang, dari dua pasang calon, salah satunya menang dengan selisih 2 suara. Semua pendukung yang kalah dan tidak sempat nyoblos menyesal, tapi ‘as-shaifu dhoyya’til laban’ (sudah terlambat)

17. Jika hal itu akan terjadi di Jakarta, jangan sampai saudara adalah kelompok yang menyesal itu.

18. Waktu masih ada, mari keluar rumah, bawa KTP saudara, ucapkan bismillah, dan rasakanlah sekali ini, mencoblos untuk menaati kaidah syariat ‘akhaffud dhararain’. Kalau perlu berdoalah seperti ini saat mencoblos “Ya Allah hadza li tahqiiqi khilafatika fil Ardhi”.

19. Dan umat Islam akan menyaksikan siapa saja yang mengharap keridhaan Allah dengan kontribusi konkret di pagi ini.

20. Saudaraku HTI, semua akan tertulis dalam memori kolektif kita semua sebagai umat Islam, sebagai bangsa Indonesia, sepanjang masa, dan tertulis juga dalam catatan akhirat nanti.

Muhammad Elvandi, Lc. MA.

Global Policy Analyst, Manchester University

IMG_7483

Narasi Global Umat – Part 11

PELUANG MUSLIM INDONESIA

Muhammad Elvandi, Lc. MA.

Policy Analyst, Manchester University

 

Fenomena arab spring begitu menguras energi umat Islam di kawasan tersebut. Apalagi bagi aktivitis muslim di negara-negara yang sedang dicengkeram oleh militer ataupun pemerintah diktator seperti Mesir, Libya, Suriah. Prioritas aktivis muslim disana adalah bagaimana bisa bertahan di depan tirani mengerikan pemerintahnya. Maka secara entitas, mereka tidak mempunyai waktu untuk berfikir dengan tenang tentang problem kemanusiaan dan memikirkan narasi alternatif untuknya apalagi menawarkan global system.

 

Begitupun aktivis muslim di Eropa, yang sedang sibuk menunjukan jati diri dan eksistensi mereka di depan masyarakat lokal Eropa, di tengan ancaman rasisme, dan intimadasi sosial dan psikologis pasca beberapa pemboman di Eropa. Selain itu, secara kuantitas dan kualitas pemahaman Islam, generasi muda muslim Eropa tidak cukup mumpuni untuk menjadi guru-guru Islam bagi negara-negara Eropa. Bahkan bahasa Arab yang menjadi bahasa asli kakek nenek para imigran Arab pun kian terkikis di lidah mereka.

 

Mungkin hanya aktivis muslim di Turki yang mempunyai kesempatan untuk berfikir di luar problematika dalam negeri. Untuk memulai memikirkan narasi besar untuk kemanusiaan. Dan mereka mempunyai kapasitas juga aset untuk mendukung narasi besarnnya. Proyek besar ‘The New Ottoman’ yang dipromosikan Erdogan menjadi ruh baru negara Turki. Narasi Erdogan terkesan nasionalis bagi rakyat Turki, namun para peneliti yang jeli akan sampai pada kesimpulan ini: membangkitkan nasionalisme Ottoman (Ustmaniyyah) sama saja dengan membawa Islam kembali ke pusaran kekuatan global. Karena sejarah Ustmaniyyah adalah sejarah Islam, bukan sejarah leluhur bangsa Turki, Jengiz Khan yang hidup di stepa Asia Tengah dengan kebengisan.

 

Namun beberapa waktu terakhir, bom beledak terturut-turut di kota-kota Turki. Stabilitas mereka sedang digoncang dan mereka mempunyai PR baru untuk membangun soliditas rakyatnya lagi. Tantangan terbaru mereka adalah lawan-lawan Eropa yang mulai mengkonsolidasi diri menghalau ekspansi pengaruh Turki di tanah mereka.

 

Menanti Turki sebagai satu-satunya pelopor dan pemimpin umat bukanlah langkah strategis, walaupun harapan harus terus ditanam dihati umat. Maka saya berfikir, umat Islam haruslah mempunyai tawaran narasi alternatif diluar proyek ‘New Ottoman’ yang sedang mereka perjuangkan.

 

Dalam konstelasi itu, saya berkeyakinan bahwa pemuda Indonesia-lah yang sedang diberikan Allah kesempatan keleluasaan waktu dan keterangan pikiran untuk merumuskan narasi baru kemanusiaan. Pergerakan Islam di Indonesia tidak di bredel, tidak dimusuhi tentara, memikmati iklim demokrasi yang baik, dan kita mempunyai sumber daya melimpah secara kuantitas dan kualitas.

 

Dalam beberapa tahun lagi, Indonesia akan menghadapi apa yang disebut dengan bonus demografi. Yang artinya meledaknya jumlah anak muda dalam usia potensi kerja. Hal ini pada gilirannya menjadi aset mahal untuk diakomodir oleh gerakan Islam untuk dijadikan tim perealiasasi narasi-narasi besar.

 

Potensi kuantias tersebut yang tidak dimiliki seluruh pemuda muslim di Eropa dijadikan satu, potensi keluangan waktu dan ketenganan pikiran yang tidak dimiliki pemuda muslim di Timur Tengah ataupun Turki.

 

Maka trend dunia perlu kita kuasai benar. Agar kita bisa memformulasi narasi yang memang sejalan dengan nafas zaman. Saya melihat bahwa hari prioritas lapisan pemikir strategis gerakan Islam sangat perlu fokus pada kekuatan ekonomi yang lihai bermain dalam global economic order, lalu pendidikan yang produkif, produksi masal budaya populer juga invesasi panjang di dunia militer yang semuanya dirangkum dalam narasi yang utuh. Karena merekalah aktor utama global governance hari ini.

 

Pada akhirnya pembaharuan dan narasi global umat haruslah lahir dari kapasitas generasi pemimpin dan pemikir dengan pengetahuan yang kokoh dan pengalaman lapangan yang matang. Dan semua itu tetaplah haruslah bermula dari 4 syarat.

 

Pertama, cara belajar dan mindset baru atas realitas dunia.

Kedua, tools dan sumber pembelajaran baru atas perkembangan teknologi informasi yang dahsyat.

Ketiga, pemahaman yang memadai akan nilai Qur’ani, filsafat sejarah, metodologi berfikir, ekonomi makro, geopolitik dan strategi intelijen.

Keempat, tim solid yang fokus dan sabar merumuskan narasi global umat dalam jangka waktu tertentu tanpa tepuk sorak penggemar serta sorot media yang hingar bingar, tapi dalam sunyi yang panjang. Tim ini bukanlah priviledge aktivis gerakan Islam, tapi panggung terbuka bagi semua muslim yang berobsesi besar untuk investasi pemikiran yang menjadi platform umat dan mungkin bertahan satu abad kedepan.

 

Pada prakteknya, tim ini memerlukan diskusi intens yang real secara massif di berbagai tempat dalam berbagai level. Sehingga hasil-hasil diskusi itu bisa membangun bangunan narasi yang konstruktif secara bertahap.

 

Dalam tulisan-tulisan berikutnya, kita akan kaji bersama, keempat hal diatas secara sistematis. Sebelas tulisan di serial ‘Narasi Global Umat’ hanyalah pengantar untuk kajian inti kita, sehingga setiap pembaca bisa mempunyai ritme berfikir yang sama untuk mulai bekerja. Yaitu bekerja merumuskan ‘Narasi Global Umat’. Kerja besar ini memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit, tapi dari sanalah kematangan narasi tercipta, tidak ada jalan pintas.

Ditital Ilustration

Narasi Global Umat – Part 10

DUNIA DIGITAL DAN VISUAL

Penurunan besar-besaran oplah koran cetak mulai dari Washington Post hingga Kompas adalah diantara perubahan trend dunia dari budaya cetak menjadi digital. Dan meledaknya industri perfileman dan video blog adalah penanda zaman visual yang akan menggantikan era literal. Inilah dua trend yang bisa menjadi pertimbangan dalam menyusun narasi dalam aspek budaya.

Hal ini tidak sulit dijelaskan, khususnya bagi penduduk perkotaan. Dibanding buku atau kertas apapun, gadget selalu menempel di saat santai, sibuk, makan, bersama keluarga, bersama sahabat, di restoran, di ruang rapat, bahkan sesaat sebelum tidur.

Semua informasi yang diinginkan manusia dicari melalui gadgetnya atau laptopnya. Seperti itu tabiat digital native yang lahir setelah tahun 1980-an.

Begitupun dunia visual. Kualitas membaca semakin menurun karena tergantikan gambar bergerak. Dahulu sebelum ditemukan tulisan, media komunikasi adalah gambar, seperti yang terlukis di artefak-artefak kuno. Sekarang visual kembali mengambil alih media tulisan. Pepatah ‘satu gambar mewakili seribu kata’ kembali menemukan maknanya.

Media-media sosial sejenis Facebook, Instagram, Path, Twitter sangat mendukung pesan yang dikemas secara visual, baik itu gambar ataupun video.

Jika di tahun 80-an berderet seminar tentang dampak dan pengaruh TV terhadap perilaku, padahal program TV saat itu sangat terbatas dengan kualitas alakadarnya. Maka bisakah kita bayangkan pengaruh konten yang ada di gadget kita masing-masing terhadap perilaku generasi muda yang sejak SD sudah memegang gadget?

Fenomena ini merata di generasi muda seluruh dunia. Apalagi di Indonesia dengan jumlah pengguna internet dan twitter sebagai salah satu yang terbesar.

Hal ini mempengaruhi beberapa hal seperti hilangnya jarak karena semua orang melihat konten yang sama real time. Juga menghilangkan language barrier, karena setiap penyedia konten gambar bisa mengekpresikan pesannya lintas bahasa, dan para pembuat video bisa menyediakan terjemahan dengan bahasa apapun.

Maka lihatlah industri Holliwood yang masif memproduksi budaya populer. Pesan film-film global tersebar hingga ke bioskop-bioskop di kota kecil Indonesia, atau streaming di computer masing-masing di rumah. Inilah industri budaya terbesar abad ini, yaitu film.

Industri budaya terbesar kedua adalah video blog dan media sosial. Video adalah konten sedang media sosial adalah kendaraan. Mereka adalah dua hal yang secara signifikan terpisah, yang sering tercampur bagi para aktivis dakwah.

Beberapa strategi pemilu, atau kebijakan dakwah begitu mencurahkan energi pada penguasaan media sosial, padahal ia adalah sarana yang tidak akan efektif jika kita tidak mempuyai konten yang memadai.

Ideologi-ideologi besar seperti kapitalisme dan komunisme sangat memahami pertarungan budaya ini. Maka lihatlah usaha mereka membanjiri dunia maya dengan presentasi gagasan mereka. Jika kita membuka youtube dan menulis di search engine nya “understanding capitalism”, maka akan kita dapati berbagai versi video penjelasan tentang ideologi kapitalisme dengan kualitas video yang professional. Ada versi mahasiswa untuk bahan kuliah, ada versi populer untuk masyarakat, ada versi anak-anak untuk indoktrnasi.

Maka inilah tantangan dakwah Islam di era digital. Pekerjaan kita sungguh banyak untuk mengemas pesan Islam menjadi video-video animasi professional sekelas film-film Disney untuk anak-anak seluruh dunia. Juga mengemas sejarah peradaban Islam menjadi film-film kolosal sekelas Lord of The Rings. Atau memproduksi puluhan ribu video untuk mempresentasikan berbagai sisi nilai Islam, ayat Qur’an, hadist-hadist dalam durasi 3-5 menit yang penuh ilustrasi menarik.

Umat Islam tidak kekurangan dana untuk proyek besar seperti ini, juga tidak kekurangan tenaga profesonal para pakar IT, animator, editor atau desain grafis. Tapi yang kurang adalah gagasan besar untuk menjadikan proyek produksi budaya popular ini menjadi narasi besar.

civic-participation

Tim Partisipatif

 

Perjalanan itu bukan untuk meluaskan tahta, apalagi menumpuk harta. Tapi untuk sebuah misi agung yaitu distribusi jasa. Perjalanan pemimpin inspiratif Dzulkarnain dalam surat al-Kahfi adalah kisah abadi tentang prinsip kerja pemimpin dan umat. Diantaranya tentang produktivitas dan tawakkal. Kerja keras, kerja cerdas dan kerja sama. Keluhuran jiwa dan kerendah hatian, juga narasi atasan dan partisipasi bawahan.

 

Awalnya kaum yang bahasanya sulit dimengerti oleh Dzulkarnain itu menawarkan bayaran materil untuk proyek besar membangun ‘radma’ (benteng kokoh) tanpa mau berpartisipasi aktif. Mereka tahu masalah yang dihadapi, juga menegerti peta jalan yang harus dilalui. Tapi mendelegasikan semuanya kepada pemimpin memang nyaman. Sehingga jalan itu yang ditempuh. Membayar orang untuk jasa, lalu selesai masalah tanpa berlelah raga. Ringan bagi mental, enteng bagi pikiran, dengan cara meminta pemimpin mengambil alih semua urusan.

 

Tapi bukan itu karakter yang ingin dibangun Dzulkarnain. Melainkan “bantulah aku dengan apapun kekuatan kalian…” [al-Kahfi: 95]. Itulah sebabnya Dzulkarnain meledakan semua potensi masyarakat yang ada, tidak membungkamnya apalagi menihilkannya dengan alasan dia datang dengan pasukan besarnya sendiri atau karena dia yang paling tahu semuanya.

 

Independensi bawahan adalah prestasi terbesar seorang pemimpin. Jika bawahan bertumbuh dan berkembang menjadi pemimpin masa depan untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri maka itulah tanda keberhasilan pemimpin. Itu hanya terjadi jika pemimpin membuka keran potensi rakyat tidak menutup rapat pintunya. Mendengar harapan dan bisikan hati mereka, lalu meramunya menjadi aspirasi kolektif.

 

Itu juga agenda utama Rasulullah dalam membangun gerakan. Semua potensi terbaik dicarinya. Umar dan Ustman pengusaha kaya bukanlah hasil didikan ‘tarbiyah iqtishadiyyah’ (pendidikan ekonomi) Rasul, tapi mereka adalah para master di bidangnya yang kemudian potensinya terakomodasi dalam tim besar umat Islam. Juga Khalid bukanlah jago tarung setelah berislam, melainkan jawara Arab yang diberikan ruang dan panggung yang tepat dalam proyek ekspansif umat.

 

Maka peran Rasulullah adalah mengalirkan derasnya aspirasi dan obsesi orang-orang hebat itu di kanal yang tepat. Itulah sebabnya Rasul mengatakan “khiyarukum fil jahiliyyah khiyarukum fil islam idza faqihu” (yang terbaik diantara kalian di masa jahiliyyah berpotensi menjadi yang terbaik di masa Islam jika ia memiliki pemahaman yang tepat).

 

Semua potensi bawahan itu vital dalam sebuah proyek besar, dari kontribusi kerja tersulit hingga narasi verbal. Bahkan gagasan strategis tentang penempatan lokasi perang, yang seharusnya selesai di ruang pemimpin tertinggipun bisa dengan leluasan dan beradab di koreksi seorang sahabat Khabbab bin Mundzir di masa-masa genting itu.

 

Keterbukaaan rasul-lah yang membuat partisipasi Khabbab produktif. Dengan cara seperti itu tim partisipatif ditumbuhkan satu demi satu oleh Sang Rasul, yang menteladani prinsip kepemimpinan raja agung Dzulkarnain.

 

Beberapa prinsip kepemimpinan Qur’ani tersebut semakin hari terus berkembang dalam ilmu manajemen modern dan semakin dirasai produktivitasnya. Keterbukaan pemimpin dan pastisipasi kritis tim adalah salah satu unsur vital dinamisnya sebuah institusi untuk mengejar kecepatan arus informasi.

 

Paradigma-paradigma mendasar, gagasan besar atau grand narrative yang dahulu mungkin bertahan dalam ukuran abad, saat ini ditantang relevansinya dalam ukuran dekade oleh perubahan zaman akibat revolusi informasi, telekomunikasi dan transformasi.

 

Dua abad lalu kuda digantikan kereta uap, lalu sekarang taksi dan angkutan konvensional ditantang transportasi online yang kantornya virtual. Tidak lebih dari setengah abad kebelakang negeri-negeri muslim dibanjiri TV, diserbu tayangan yang menipiskan akhlak. Kemudian saat strategi-strategi dakwah di TV dipikirkan, diseminarkan, dirancang langkah praktisnya. Namun tiba-tiba saku-saku jutaan umat Islam diisi smartphone yang isinya lebih sulit di kendalikan dan jelas berbeda dengan rumusan strategi dakwah di TV.

 

Semua kecepatan ini membuat banyak pemimpin gamang atau bahkan lumpuh kreativitas menghadapi zaman baru. Seperti koran-koran raksasa sekelas New York Times atau Washington Post yang oplahnya terus merosot tereduksi berita online dalam genggaman tangan pembaca. Atau beberapa pengelola taksi yang memobilisir supir taksi untuk mendemo transportasi online di Perancis, Jerman, Denmark, juga Indonesia. Atau para pengusaha tekstil yang takluk di hadapan murahnya brand-brand ternama yang mengoutsource produksi ke Banglades, Vietnam, dan negara-negara Asean. Inilah era kecepatan gagasan yang disebut Thomas Friedman dengan ungkapan kiasan ‘the world is flat’.

 

Ada dua penyebab utama fenomena tersebut. Pertama, kesenjangan pengetahuan pemimpin atas fenomena paling mutakhir yang umumnya difahami oleh generasi yang berusia 10-20 tahun dibawahnya. Saldo pengetahuan para pemimpin untuk pengelolaan institusi, manajerial, hingga visi strategis umumnya dibangun dimasa muda saat konteks sosial politik demografi dan teknologi sangat kontras berbeda dengan masa dia memimpin.

 

Namun kesenjangan ini bukanlah krisis yang sebenarnya. Karena ia adalah kendala natural yang pasti dihadapi pemipin manapun saat tiba pada dinamika cepat masyarakat. Tapi krisis terbesarnya ada jika pemimpin tidak membuka pikiran dan telinga terhadap aspirasi dan kegelisahan kolektif generasi muda yang sedang menjadi aktor dan user utama semua perubahan diatas.

 

Penyebab kedua adalah saat generasi muda apatis dan pasif memberikan gagasan konstuktif bagi pemimpin. Dan sayangnya terlalu banyak alasan untuk merasionalisasi kepasifan itu, seperti soal ketakutan, ketidakpedulian, atau kelemahan kehendak.

 

Jika salah satu penyebab itu menjangkiti, sudah cukup membuat sebuah negeri, institusi, komunitas kehilangan relevansi untuk bekerja menjawab tantangan zaman modern. Pemimpin yang tertutup dengan aspirasi membuat gagasan konstuktif liar, tidak produktif atau bahkan terbuang sia-sia. Sebaliknya pemimpin terbuka akan kekurangan saldo strategi jika generasi mudanya diam membisu, memilih jalan nyaman sebagai para penunggu apalagi jika memang miskin gagasan.   Dalam situasi tersebut, sebuah negeri sedang menyalakan lonceng kematiannya.

 

Tapi jika para pemimpin terbuka, merasai denyut nadi keresahan pemuda, mendengar bisikan harapan mereka, juga memberi kenyamanan psikologis untuk semua bentuk kritikan dan masukan, maka mereka sedang menyiapkan panggung para pahlawan masa depan.

 

Dengan syarat, para pemuda partisipatif memberi rekomendasi soal tata kota, strategi transportasi, kebijakan ekonomi, kurikulum pendidikan atau rancangan-rancangan energi alam alternatif. Atau jika perlu kritikan bahkan protes soal tebang pilih hukum, mafia pemberantasan korupsi, reklamasi, kekayaan alam yang digerus asing, kerukunan yang dikoyak, dan banyak sekali ruang-ruang yang kosong untuk diperjuangkan.

 

Mengertilah kita, mengapa agama itu merupakan nasihat dari Allah, Kitabnya, dan Rasulnya. Untuk siapa saja? Rasulullah mengatakan “…untuk para pemimpin muslim dan seluruh umat Islam”.

 

Serial Pemuda Edisi 16