Cover Kajian - Peran Alumni Azhar

Peran Alumni Azhar di Indonesia

(Refleksi Kejatuhan Mursi)
1. Beberapa waktu lalu diadakan lesehan nasional oleh Paguyuban Alumni Al-Azhar Mesir, dan sy sangat mengapresiasi inisiatif mulia ini.
2. Disana sy berkesempatan berbagi gagasan tentang Washathiyyah dan implementasinya di Indonesia, dengan mengambil inspirasi dari musibah Mursi.
3. Sejarah selalu mengulangi dirinya sendiri oleh karena itu Allah memerintahkan kita untuk berjalan di muka bumi, menganalisa nasib umat-umat lain agar kita bisa melakukan komparasi-komparasi, mmempelajari pola lalu memproyeksi masa depan.
4. Itulah sebabnya wawasan geopolitik sangat kita perlukan untuk membedah sejarah dan peradaban dengan lebih utuh.
5. Maka saya memilih mengambil sudut pandang politik dan global atas tragedi mursi, agar kita, umat Islam dan bangsa Indonesia tidak mengulangi fenomena yang sama.
6. Cerita timur tengah atau lebih tepatnya Alam Islami, setidaknya bisa kita runut ke masa runtuhnya Ustmaniyyah.
7. Jazirah Arab, juga Syam, Mesir adalah provinsi-provinsi Ustmaniyyah yang terus di provokasi untuk merdeka.
8. Agen-agen Inggeris dan Perancis bermain dengan sangat lincah di kawasan. Menjadi ‘sahabat’ bangsa Arab untuk merdeka dari Turki Ustmani. Terutama perwira flamboyan Lawrence ‘the arabia’ yang memgadvokasi berdirinya Saudi Arabia, Irak dan Jordania.
9. Markes Sykes diplomat Inggeris dan François George-Picot diplomat Perancis bahkan berbagi lahan timur tengah berdua secara rahasia tahun 1916.
10. Inggeris mendapat banyak lahan di kawasan Timur tengah hingga asia tengah, bahkan membagi India, Pakistan & Bangladesh sesuai kategorisasi politik mereka.
11. Perancis pun ikut membagi Syam menjadi Syria dan Lebanon.
12. Setahun kemudian baru terkekspos perjanjian Sykes-Picot itu di Izvestia dan Pravda, bahkan di harian Guardian Inggeris.
13. Dikemudian hari pasca perang dunia I, presiden Amerika Woodrow Wilson membuat perjanjian Sykes-Picot itu menjadi legitimate.
14. Tapi bayangkan, puluhan negara Arab yang kita pelajari di geografi SMA dulu adalah hasil beberapa gelintir orang yang berbagi lahan imperialisme di teritori Ustmaniyyah.
15. Makanya hingga hari ini sentimen antara Arab-Turki masih tersisa. Arab menganggap Turki penajajah, dan Turki menganggap Arab pengkhianat. Itulah hasil adu domba.
16. Prolog tersebut vital untuk melihat problematika Arab kontemporer, termasuk Mesir.
17. Bahwa sejak awal, berdirinya negara-negara Arab modern dijadikan kawasan satelit negeri barat untuk supplier bahan bakar industri mereka.
18. Puluhan tahun hubungan itu dijaga dengan berbagai ikatan, terutama yang menyangkut eksistensi Israel.
19. Mesir bukanlah pengecualian, ia terletak persis di pusaran konflik perebutan dominasi ekonomi-politik para raksasa neo-imperialis.
20. Dua puluh tahun pemerintahan Mubarak adalah perpanjangan tangan sistem global seperti juga di Asia Tenggara pasca perang dingin.
21. Maka jangan salah sangka: bahwa jika anda menguasai negara (Mesir) berarti anda menguasai negeri (Mesir)
22. Karena aktor-aktor global yang bercokol disana mengakar sejak awal abad dua puluh.
23. Tapi Allah-lah pemilik semua kekuatan dan kekuasaan. Pembuat sebaik-baik makar.
24. Monitoring dan cengkeraman asing di Mesir ada juga saat lemahnya, dan ia bertemu dengan momentum pembakar-dirian pemuda Tunisa pada Desember 2010. Hingga akhirnya revolusi Arab merambat ke Mesir.
25. Terbakarlah Timur Tengah dengan ‘Arab Spring’. Tumbanglah Mubarak dengan slogan revolusi rakyat yang dikomandoi IM. Salafi dan kalangan lain menjadi supporter.
26. Semua mabuk euforia, bahkan saya yang masih studi di Cairo ikut diajak serta dalam konvoi-konvoi simpatik membawa bendera IM bersama kawan-kawan Mesir yang IM.
27. Bahkan tentara menjadi partner revolusi melucuti kekuatan Amn Dauli (kepolisian dalam negeri).
28. Lalu Partai Keadilan dan Pembangunan milik IM memenangkan pemilu dan mengantarkan Mursi menjadi presiden.
29. Tapi IM tetap tawadhu, mengatakan ‘kemenangan ini dari Allah’. Karena seperti itu memang faktanya, semuanya tidak ada desain IM dari awal.
30. Mereka hanya mengambil celah sejarah (staghrah tarikhiyyah) yang terbuka lalu dengan mulus di eksekusi.
31. Ini yang saya sebut memenangkan demokrasi. Umat Islam sudah banyak yang mencapai tahap ini, yaitu mengambil alih kepemimpinan memalui pemilu demokratis.
32. Inilah juga mimpi barat imperialis pada awalnya. Mendemokratisasi dunia. Karena demokrasi itu pedang tak bertuan yang ampuh digunakan para petarung peradaban yang tangguh.
33. Baratlah yang dirasa akan selalu memenangkan demokrasi. Tapi sejarah memberi fakta keras.
34. Bahwa umat Islam (Islamis) mampu menjadi petarung tangguh dan memenangkan demokrasi. Di Mesir, di Aljazair, di Turki dengan kemenangan Erbakan beberapa kali.
35. Disinilah justru letak krusialnya. Level 2 perjuangan demokrasi: yaitu Menjaga demokrasi.
36. Dan umat Islam hampir selalu gagal disini. FIS di Aljazair diberangus, juga Erbakan, juga Mursi.
37. Akhirnya kita mempelajari kaidah baru: jika kaum islamis memenangkan demokrasi, maka demokrasi akan diaborsi dengan kudeta, kemudian sistem politik dikembalikan ke sistem darurat negara/ sipil/ militer.
38. Cara mengaborsi demokrasi itu terlalu banyak. Yang paling penting adalah menghilangkan stabilitas keamanan, dengan teror, bom, penembakan, kriminalisasi, dll.
39. Hilangnya keamanan adalah hilangnya pembangunan, hingga krisis ekonomi dan menjadi alasan paling mudah untuk kudeta.
40. Itulah yang terjadi dengan Mursi. Tidak siapnya menjaga demokrasi di depan ancaman perpecahan negeri, krisis ekonomi dan militer yang mengkhianati kepercayaan Mursi.
41. Itu juga yang hampir terjadi dengan AKP dan Erdogan. Tapi Erdogan memahami situasi ini. Berkat pengalamannya membersamai Erbakan.
42. Erdogan dikudeta berkali-kali dan stabilitas keamanan Turki berkali-kali diancam.
43. Tp prioritas pemerintahan Erdogan justru menjaga institusi demokrasi, dan semua perangkat negara (termasuk militer) ia konsolidasi dengan narasi baru “the new ottoman”. Ide Islamisme tidak ia bawa, karena tidak tepat di konteks sekularisme Turki.
44. Hal ini yang tidak kita temui dalam cerita Mursi. Tidak ada kebijakan kriris ekonomi, tidak siapnya perangkat coercive negara untuk mempertahankan rezim.
45. Yang paling parah adaah hilangnya dukungan penyolong revolusi yang tidak semuanya islami. Mereka mampu bersatu dibawah narasi IM saat melawan musuh bersama yang tiranik. Tapi mereka membutuhkan narasi baru pembangunan Mesir pasca kemenangan.
46. Lalu dimana posisi kita di Indonesia? Apa relevansinnya.
47. Pertama; perjuangan demokrasi melalui 3 tahapan. 1. Memenangkan. 2. Menjaga. 3. Mensejahterakan.
48. Memenangkan dan Menjaga demokrasi adalah prioritas kita hari ini. Sebagai alumni Azhar kita punya peran vital. Mengajarkan prinsip washathiyyatul Islam.
49. Entah siapa, yang jelas ada usaha memecah negeri ini.
50. Gerakan separatis mulai berani unjuk nyali.
51. Agenda-agenda umat dijadikan tumbal atas munculnya konflik sosial.
52. Umat Islam dipancing untuk membuka kembali debat-debat dasar negara, pancasila dan piagam jakarta.
53. Siapa yang paling diuntungkan? Jika anda memahami konteks geopolitik timur tengah yang saya jelaskan tadi, anda akan bisa memahaminya.
54. Menurut saya, saatnya debat-debat tentang dasar negara, pancasila VS Islam harus diakhiri. Umat Islam jangan terseret ke pinggiran untuk kembali ke meja-meja debat.
55. Karena bagi saya, diskusi pra-demokrasi sudah final. Pancasila yang ada sekarang adalah wujud ke agungan akhlak dan toleransi umat Islam dan pengorbanan umat Islam menjaga kebhinekaan kita. Apalagi sila pertama kita bahasa arabnya adalah “al I’tifaf bianna allah wahid”. Alias tauhid.
56. Dan demokrasi adalah cara kita mengimplentasikan prinsip syura.
57. Syura adalah pemerintahan partisipatif yang hari ini paling dekat diwujudkan dengan demokrasi.
58. Demokrasi adalah open platform yang elastis digunakan oleh pemenang pemilu. Demokrasi bahkan bias digunakan untuk isu rasial oleh Trump. Artinya demokrasi juga bisa digunakan untuk dakwah.
59. Peran alumni azhar adalah menjadi katalisator agar umat Islam berbondong-bondong menjejali pertarungan demokrasi lalu memenangkannya.
60. Kemudian menjaga negeri ini dari ancaman aborsi demokrasi dengan segala bentuknya.
61. Maka, menggandeng tokoh-tokoh militer adalah salah satu agenda strategis umat, asalkan para jenderal itu melepas kemegahan ketentaraannya dan maju sebagai tokoh sipil mewakili aspirasi umat Islam.
62. Alumni Azhar yang sudah kenyang dengan warisan washathiyyatul islam (kemoderatan islam) sudah saatnya membimbing umat dari pinggiran ruang debat pra demorasi, menuju tengah arena pertarungan memenangkan demokrasi, menjaganya dan mensejahterakannya.
63. Masyarakat Indonesia melihat alumni Azhar sebagai elit intelektual. Kapasitasnya dihormati sebagai tokoh pewaris nabi, dan kita diberikan privilege untuk mengatakan apa yang harus dijalani umat di negeri ini. Ini adalah power, mari gunakan power ini untuk membangun bangsa Indonesia.

Muhammad Elvandi, Lc. MA.
Intelektual Muslim
Al-Azhar Cairo & Manchester University

Link Video:

turkey-referendum-protests-870885

Referendum Turki: Babak Baru Ekspansi Erdogan (opini: Republika)

Referendum Turki yang dilaksanakan 16 April lalu telah memberi kemenangan bagi Erdogan. Walaupun KPU Turki belum mengumumkan hasil resmi, tapi menurut kantor berita negara Anadolu Agency, realcount yang telah selesai 100 persen mengasilkan 51,41 % untuk ‘Evet’ pro referendum dan 48,59% untuk ‘Hayer’ atau menolak referendum.

Erdogan langsung memberi pidato kemenangan “…kita telah berjalan bersama, dengan sistem baru ini, kita akan bersiap-siap melesat…” teriaknya menyemangati masa simpatisan.

Erdogan melihat sistem parlementer Turki sangat mengebiri kinerja pemerintahan. Sistem parlementer Turki adalah warisan panjang sejak Mustafa Kemal dan runtuhnya daulah Ustmaniyyah. Sistem ini memberi wewenang terlalu besar bagi militer untuk mengintervensi pengelolaan pemerintahan ditengah kecilnya wewenang kepala negara: presiden.

Sistem parlementer dinilai Erdogan menciptakan ketidakstabilan, beban ekonomi dan proteksi negara yang lamban seperti berbagai serangan bom dari kelompok bersenjata Kurdi dan ISIS. Secara institusional lembaga kepresidenan tidak punya cukup wewenang untuk mengeksekusi banyak persoalan krusial karena presiden hanya sebagai simbol sedangkan fungsi pemerintahan dikelola oleh perdana menteri.

Kemenangan kubu ‘yes’ yang dimotori AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) atas ‘No’ yang dimotori MHP (Partai Aksi Nasionalis) akan mengubah performa pemerintahan Turki secara signifikan.

Sistem presidensial Turki yang baru akan memberi wewenang baru presiden seperti memilih para menteri, wakil presiden, dan setengah anggota dari lembaga kehakiman. Juga memberi presiden hak untuk membubarkan parlemen, menerbitkan dekrit dan memutuskan status darurat bagi negara. Dan yang terpenting pada situasi transisional seperti ini adalah kewenangan presiden untuk memilih para petinggi militer dan kepolisian.

Referendum ini akan mulai memberi arti dalam pemilu presiden 2019 mendatang. Artinya Erdogan menang, maka ia bisa memimpin Turki hingga dua kali lima masa jabatan sampai 2029. Namun sebelum semua itu terjadi Erdogan harus menghadapi terlebih dahulu tantangan aborsi referendum.

Oposan CHP (Partai Masyarakat Republik) dan HDP (Partai Masyarakat Demokratik) yang pro Kurdi menuntut penghitungan ulang bahkan hingga pembatalan referendum. Tuduhan-tuduhan kesalahan prosedur pemilu dan perdebatan surat suara tidak berstempel yang dianggap valid harus mampu diselesaikan oleh KPU dengan baik. Mereka bahkan akan mengajukan mekanisme hukum melalui ECHR (Pengadilan Eropa dan Konstitusional untuk HAM) untuk menganulir hasil referendum. “Referendum ini akan ditempatkan dalam halaman gelap sejarah Turki…” seperti diuangkap tokoh CHP Bülent Tezcan saat konferensi pers.

Jika Erdogan berhasil melewati titik krusial legitimasi referendum maka Erdogan bersiap memulai babak baru dalam sistem presidensial. Pertama adalah memenangkan pemilu presiden 2019 yang menjadi tujuan utama referendum ini. Karena jika kalah, maka referendum ini menjadi senjata makan tuan bagi Erdogan, dimana rival politik yang menjadi presiden akan menggunakan wewenang baru untuk kontra proyek Erdogan.

Langkah kedua, Erdogan harus bersiap untuk membersihkan sisa-sisa pengaruh jaringan militer lama yang berkali-kali mengkudeta seniornya Necmettin Erbakan dan juga berupaya mengkudetanya seperti pada kudeta gagal terakhir 15-16 Juli 2016 lalu. Stabilitas keamanan Turki adalah prioritas Erdogan sejak awal kepemimpinannya yang selama ini terlalu sulit dikelola akibat sistem politik parlementer. Sisi keamanan juga yang membuat setiap pemimpin Turki harus selalu menyesuaikan ritme ideologi kepemimpinan dengan selera militer jika tidak mau dikudeta.

Ketiga, Erdogan akan leluasa membangun konsep Turki Baru-nya dengan eksekusi seorang presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan. Lima kali kemenangan AKP dalam pemilu sejak 2002 dan kemenangan pemilu presiden 2014 sebesar 51,79% mungkin bisa membuatnya berbesar hati atas dukungan rakyat untuk proyek apapun yang ia bawa. Namun hal itu membawa pesan keras bagi rival bubuyutan Turki, yaitu Eropa. Tantangan terbesar Erdogan pasca referendum adalah kekuatan-kekuatan eksternal.

Erdogan memang tidak membawa misi Islam apalagi mengusung ide khilafah dan negara Islam, justru ia menegaskan berkali-kali tentang sekularisme Turki. Tapi proyek pemerintahan Erdogan tidak bisa dipungkuri membangun mimpi ‘the New Ottomans’ yang notabene berkultur Islam, karena sejarah daulah Ustmaniyyah adalah sejarah Islam bukan seperti leluhur Turki Jengiz Khan di Asia Tengah. Inilah mimpi buruk Eropa jika Turki benar-benar menjadi kekuatan global baru dan membawa nilai baru di luar kapitalisme. Apalagi dari sisi ekonomi, geopolitik, demografi dan isu pengungsi saja, Eropa mempunyai cukup alasan untuk khawatir dengan kekuasaan baru Erdogan jika ia menang.

Maka mulailah tekanan Eropa dengan media-media besar mainstream yang menghujam legitimasi referendum Turki dan penciptaan ‘tyrannical image’ pada sistem presidensial. Uni Eropa juga membawa persoalan referendum pada isu kematian demokrasi Turki, walaupun proses referendum sendiri menggunakan perangkat demokrasi dikenal dan dipakai Eropa.

Dalam sebuah pidatonya Erdogan menyampaikan “negara ini telah melaksanakan pemilu yang sangat demokratis, yang jarang kita lihat juga di Eropa…” seperti yang dilansir Aljazeera. Dilain kesempatan Erdogan mengatakan “mentalitas perang salib di barat dan antek-anteknya di tanah air ini telah menyerang kita”.

Akan tetapi, persoalan ini tetap harus bisa dijawab dengan rasional oleh Erdogan untuk dijelaskan pada masyarakat dunia. Jika tidak, Turki akan mendapat ancaman kecaman dunia internasional dengan label yang disematkan sepihak yaitu negara gagal demokrasi, tirani atau sangsi-sangsi ekonomi-politik. Dan seperti biasa, negara-negara lain kemungkinan hanya mengekor sesuai trend media-media internasional.

Tapi lain halnya dengan animo masyarakat di kawasan timur tengah. Menurut Anadolu, masyarakat Azerbaijan, Palestina, Qatar, Pakistan, Masedonia, Saudi, dan Sudan menyambut gembira dan para pemimpinnya memberi ucapan selamat pada kementrian luar negeri Turki.

Oleh karena itu, pasca referendum ini saatnya Turki semakin memperbanyak kawan dan aliansi strategis untuk mencari dukungan jangka panjang terutama dalam bidang ekonomi, kemananan dan pertahanan. Karena ketegangan dengan Jerman dan Belanda dalam beberapa bulan terakhir semakin memanaskan hubungan Turki-Eropa. Jangan sampai Turki dikeroyok dan dibulli hanya karena dia dianggap sendiri dan negara lain tidak ada yang peduli.

Demo-411-dan-Bendera

Menanti Kontribusi Muslim HTI

Menanti Kontribusi Muslim HTI

1. Pagi ini, teriak takbir menggema di langit-langit Jakarta. Momen politik kali ini bernuansa ‘jihad’ bagi umat Islam. Dan betul, inilah al-Jihad as-Siyasi (Jihad Politik).

2. Semangat umat Islam seantero negeri menyatu dalam irama 411 dan 212. Bayangkan, jutaan hadir ke Jakarta, tanpa kordinasi menuntut penista agama. Dan sekarang penista agama itu ada di salah satu pojok kertas suara.

3. Satu demi satu elemen umat Islam memberikan dukungan kebulatan suara, menolak pembuat gaduh NKRI. Ormas Islam, partai Islam, majelis ta’lim, forum-forum pemuda dan ibu-ibu, semua elemen umat Islam menanggalkan baju dan mindset kelompok dan melebur dalam agenda nasional keumatan.

4. Elit-elit ormas dan partai Islam yang mencoba menerobos, bergandengan dengan pembuat gaduh NKRI, mendapat kecaman keras. Kantor-kantor cabang protes, bahkan mengancam keluar jika elit-elit pemipin organisasi Islam tidak sesuai dengan ‘khittah’ (panduan) organisasi Islam tersebut.

5. Lalu dimana posisi kalian di depan momen besar umat Islam ini wahai saudara-saudariku Hizbut Tahrir Indonesia?

6. Saya faham saudara tidak percaya demokrasi, karena saudara anggap sistem kafir. Saya faham saudara tidak ikut sistem pemilu karena ia warisan taghut. Maka saudara memilih golput karena ingin BARA (berlepas diri) dari sistem yang tidak Islami sesuai definisi saudara.

7. Saya tidak sepakat atas semua gagasan tersebut, baik dari sisi manhaj tafkir, dakwah, akidah, ataupun sisi politik kontemporer atau konsep global governance. Tapi ada waktunya kita berdiskusi dan berdebat ilmiah, lain kali, dan saya selalu siap berdikusi, tapi bukan hari ini.

8. Hari ini adalah hari unjuk kontribusi keumatan. Hari dimana saudara bisa menunjukan kepada umat Islam posisi anda dalam sejarah negeri ini.

9. Saya bertanya ke salah seorang ustadz tokoh HTI yang saya kenal tentang kemungkinan sikap HTI. Jawab beliau HTI masih sama sikapnya, yaitu tidak ikut pemilu, tapi melarang umat Islam memilih pemimpin kafir.

10. Setidaknya ada kesamaan soal kriteria pemimpin, tapi sayangnya HTI akan golput. Saya ingin bertanya, dimana akal sehat dalam sikap ‘tidak mau dipimpin gubernur non-muslim tapi tidak ikut nyoblos?’.

11. Saudara tidak mau A menang, tapi saudara tidak mau ikut milih B. Jika semua orang sepakat dengan saudara, maka mereka semuanya tidak akan milih A, tapi tetap tidak menambah suara B, dan semua yang mendukung A akan mencoblos A. Siapa yang menang? Mohon dipikirkan sekali lagi, dimana logika paling sederhana yang bisa menerima sikap ini?

12. Lalu mungkin saudara ingin menghindar, kita bagi-bagi peran saja, yang lain berjuang dalam pemilu sedang HTI berjuang mengedukasi, ngisi pengajian, seminar-seminar kekhilafahan, dan taujih ghazwul fikri.

13. Akan ada waktu untuk itu saudaraku, tapi tidak hari ini. Hari ini ada sebuah ‘Wajibul Amal’, bahkan ‘Taajul Amal’ (mahkota amal) yaitu pemilu. Hari ini bagi warga Jakarta, Afdhalul A’maal-nya dalam definisi Ibnu Qayyim adalah nyoblos.

14. Mari melunak sejenak dari ide-ide saudara yang menolak demokrasi sistem kafir, karena kita, umat Islam, mempunyai kaidah-kaidah fiqh seperti “akhaffud dhararain” (mengambil kemudharatan yang teringan) atau Fiqh Aulawiyyat (Fikih Prioritas), Fiqh Muwazanah (Fiqh Komparasi) yang usianya jauh lebih tua dan fundamental dari gagasan-gagasan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Hasan al-Banna, Al-Afghani atau pemikir muslim manapun.

15. Saya tidak tahu ada berapa ratus, ribu jumlah HTI di Jakarta. Tapi saya yakin satu hal, bahwa ‘every vote matters’ (setiap satu suara berharga).

16. Alkisah, di Cairo dulu, waktu saya kuliah, ada pemilu mahasiswa, pemilih sekitar 1000 orang, dari dua pasang calon, salah satunya menang dengan selisih 2 suara. Semua pendukung yang kalah dan tidak sempat nyoblos menyesal, tapi ‘as-shaifu dhoyya’til laban’ (sudah terlambat)

17. Jika hal itu akan terjadi di Jakarta, jangan sampai saudara adalah kelompok yang menyesal itu.

18. Waktu masih ada, mari keluar rumah, bawa KTP saudara, ucapkan bismillah, dan rasakanlah sekali ini, mencoblos untuk menaati kaidah syariat ‘akhaffud dhararain’. Kalau perlu berdoalah seperti ini saat mencoblos “Ya Allah hadza li tahqiiqi khilafatika fil Ardhi”.

19. Dan umat Islam akan menyaksikan siapa saja yang mengharap keridhaan Allah dengan kontribusi konkret di pagi ini.

20. Saudaraku HTI, semua akan tertulis dalam memori kolektif kita semua sebagai umat Islam, sebagai bangsa Indonesia, sepanjang masa, dan tertulis juga dalam catatan akhirat nanti.

Muhammad Elvandi, Lc. MA.

Global Policy Analyst, Manchester University

IMG_7483

Narasi Global Umat – Part 11

PELUANG MUSLIM INDONESIA

Muhammad Elvandi, Lc. MA.

Policy Analyst, Manchester University

 

Fenomena arab spring begitu menguras energi umat Islam di kawasan tersebut. Apalagi bagi aktivitis muslim di negara-negara yang sedang dicengkeram oleh militer ataupun pemerintah diktator seperti Mesir, Libya, Suriah. Prioritas aktivis muslim disana adalah bagaimana bisa bertahan di depan tirani mengerikan pemerintahnya. Maka secara entitas, mereka tidak mempunyai waktu untuk berfikir dengan tenang tentang problem kemanusiaan dan memikirkan narasi alternatif untuknya apalagi menawarkan global system.

 

Begitupun aktivis muslim di Eropa, yang sedang sibuk menunjukan jati diri dan eksistensi mereka di depan masyarakat lokal Eropa, di tengan ancaman rasisme, dan intimadasi sosial dan psikologis pasca beberapa pemboman di Eropa. Selain itu, secara kuantitas dan kualitas pemahaman Islam, generasi muda muslim Eropa tidak cukup mumpuni untuk menjadi guru-guru Islam bagi negara-negara Eropa. Bahkan bahasa Arab yang menjadi bahasa asli kakek nenek para imigran Arab pun kian terkikis di lidah mereka.

 

Mungkin hanya aktivis muslim di Turki yang mempunyai kesempatan untuk berfikir di luar problematika dalam negeri. Untuk memulai memikirkan narasi besar untuk kemanusiaan. Dan mereka mempunyai kapasitas juga aset untuk mendukung narasi besarnnya. Proyek besar ‘The New Ottoman’ yang dipromosikan Erdogan menjadi ruh baru negara Turki. Narasi Erdogan terkesan nasionalis bagi rakyat Turki, namun para peneliti yang jeli akan sampai pada kesimpulan ini: membangkitkan nasionalisme Ottoman (Ustmaniyyah) sama saja dengan membawa Islam kembali ke pusaran kekuatan global. Karena sejarah Ustmaniyyah adalah sejarah Islam, bukan sejarah leluhur bangsa Turki, Jengiz Khan yang hidup di stepa Asia Tengah dengan kebengisan.

 

Namun beberapa waktu terakhir, bom beledak terturut-turut di kota-kota Turki. Stabilitas mereka sedang digoncang dan mereka mempunyai PR baru untuk membangun soliditas rakyatnya lagi. Tantangan terbaru mereka adalah lawan-lawan Eropa yang mulai mengkonsolidasi diri menghalau ekspansi pengaruh Turki di tanah mereka.

 

Menanti Turki sebagai satu-satunya pelopor dan pemimpin umat bukanlah langkah strategis, walaupun harapan harus terus ditanam dihati umat. Maka saya berfikir, umat Islam haruslah mempunyai tawaran narasi alternatif diluar proyek ‘New Ottoman’ yang sedang mereka perjuangkan.

 

Dalam konstelasi itu, saya berkeyakinan bahwa pemuda Indonesia-lah yang sedang diberikan Allah kesempatan keleluasaan waktu dan keterangan pikiran untuk merumuskan narasi baru kemanusiaan. Pergerakan Islam di Indonesia tidak di bredel, tidak dimusuhi tentara, memikmati iklim demokrasi yang baik, dan kita mempunyai sumber daya melimpah secara kuantitas dan kualitas.

 

Dalam beberapa tahun lagi, Indonesia akan menghadapi apa yang disebut dengan bonus demografi. Yang artinya meledaknya jumlah anak muda dalam usia potensi kerja. Hal ini pada gilirannya menjadi aset mahal untuk diakomodir oleh gerakan Islam untuk dijadikan tim perealiasasi narasi-narasi besar.

 

Potensi kuantias tersebut yang tidak dimiliki seluruh pemuda muslim di Eropa dijadikan satu, potensi keluangan waktu dan ketenganan pikiran yang tidak dimiliki pemuda muslim di Timur Tengah ataupun Turki.

 

Maka trend dunia perlu kita kuasai benar. Agar kita bisa memformulasi narasi yang memang sejalan dengan nafas zaman. Saya melihat bahwa hari prioritas lapisan pemikir strategis gerakan Islam sangat perlu fokus pada kekuatan ekonomi yang lihai bermain dalam global economic order, lalu pendidikan yang produkif, produksi masal budaya populer juga invesasi panjang di dunia militer yang semuanya dirangkum dalam narasi yang utuh. Karena merekalah aktor utama global governance hari ini.

 

Pada akhirnya pembaharuan dan narasi global umat haruslah lahir dari kapasitas generasi pemimpin dan pemikir dengan pengetahuan yang kokoh dan pengalaman lapangan yang matang. Dan semua itu tetaplah haruslah bermula dari 4 syarat.

 

Pertama, cara belajar dan mindset baru atas realitas dunia.

Kedua, tools dan sumber pembelajaran baru atas perkembangan teknologi informasi yang dahsyat.

Ketiga, pemahaman yang memadai akan nilai Qur’ani, filsafat sejarah, metodologi berfikir, ekonomi makro, geopolitik dan strategi intelijen.

Keempat, tim solid yang fokus dan sabar merumuskan narasi global umat dalam jangka waktu tertentu tanpa tepuk sorak penggemar serta sorot media yang hingar bingar, tapi dalam sunyi yang panjang. Tim ini bukanlah priviledge aktivis gerakan Islam, tapi panggung terbuka bagi semua muslim yang berobsesi besar untuk investasi pemikiran yang menjadi platform umat dan mungkin bertahan satu abad kedepan.

 

Pada prakteknya, tim ini memerlukan diskusi intens yang real secara massif di berbagai tempat dalam berbagai level. Sehingga hasil-hasil diskusi itu bisa membangun bangunan narasi yang konstruktif secara bertahap.

 

Dalam tulisan-tulisan berikutnya, kita akan kaji bersama, keempat hal diatas secara sistematis. Sebelas tulisan di serial ‘Narasi Global Umat’ hanyalah pengantar untuk kajian inti kita, sehingga setiap pembaca bisa mempunyai ritme berfikir yang sama untuk mulai bekerja. Yaitu bekerja merumuskan ‘Narasi Global Umat’. Kerja besar ini memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit, tapi dari sanalah kematangan narasi tercipta, tidak ada jalan pintas.

Ditital Ilustration

Narasi Global Umat – Part 10

DUNIA DIGITAL DAN VISUAL

Penurunan besar-besaran oplah koran cetak mulai dari Washington Post hingga Kompas adalah diantara perubahan trend dunia dari budaya cetak menjadi digital. Dan meledaknya industri perfileman dan video blog adalah penanda zaman visual yang akan menggantikan era literal. Inilah dua trend yang bisa menjadi pertimbangan dalam menyusun narasi dalam aspek budaya.

Hal ini tidak sulit dijelaskan, khususnya bagi penduduk perkotaan. Dibanding buku atau kertas apapun, gadget selalu menempel di saat santai, sibuk, makan, bersama keluarga, bersama sahabat, di restoran, di ruang rapat, bahkan sesaat sebelum tidur.

Semua informasi yang diinginkan manusia dicari melalui gadgetnya atau laptopnya. Seperti itu tabiat digital native yang lahir setelah tahun 1980-an.

Begitupun dunia visual. Kualitas membaca semakin menurun karena tergantikan gambar bergerak. Dahulu sebelum ditemukan tulisan, media komunikasi adalah gambar, seperti yang terlukis di artefak-artefak kuno. Sekarang visual kembali mengambil alih media tulisan. Pepatah ‘satu gambar mewakili seribu kata’ kembali menemukan maknanya.

Media-media sosial sejenis Facebook, Instagram, Path, Twitter sangat mendukung pesan yang dikemas secara visual, baik itu gambar ataupun video.

Jika di tahun 80-an berderet seminar tentang dampak dan pengaruh TV terhadap perilaku, padahal program TV saat itu sangat terbatas dengan kualitas alakadarnya. Maka bisakah kita bayangkan pengaruh konten yang ada di gadget kita masing-masing terhadap perilaku generasi muda yang sejak SD sudah memegang gadget?

Fenomena ini merata di generasi muda seluruh dunia. Apalagi di Indonesia dengan jumlah pengguna internet dan twitter sebagai salah satu yang terbesar.

Hal ini mempengaruhi beberapa hal seperti hilangnya jarak karena semua orang melihat konten yang sama real time. Juga menghilangkan language barrier, karena setiap penyedia konten gambar bisa mengekpresikan pesannya lintas bahasa, dan para pembuat video bisa menyediakan terjemahan dengan bahasa apapun.

Maka lihatlah industri Holliwood yang masif memproduksi budaya populer. Pesan film-film global tersebar hingga ke bioskop-bioskop di kota kecil Indonesia, atau streaming di computer masing-masing di rumah. Inilah industri budaya terbesar abad ini, yaitu film.

Industri budaya terbesar kedua adalah video blog dan media sosial. Video adalah konten sedang media sosial adalah kendaraan. Mereka adalah dua hal yang secara signifikan terpisah, yang sering tercampur bagi para aktivis dakwah.

Beberapa strategi pemilu, atau kebijakan dakwah begitu mencurahkan energi pada penguasaan media sosial, padahal ia adalah sarana yang tidak akan efektif jika kita tidak mempuyai konten yang memadai.

Ideologi-ideologi besar seperti kapitalisme dan komunisme sangat memahami pertarungan budaya ini. Maka lihatlah usaha mereka membanjiri dunia maya dengan presentasi gagasan mereka. Jika kita membuka youtube dan menulis di search engine nya “understanding capitalism”, maka akan kita dapati berbagai versi video penjelasan tentang ideologi kapitalisme dengan kualitas video yang professional. Ada versi mahasiswa untuk bahan kuliah, ada versi populer untuk masyarakat, ada versi anak-anak untuk indoktrnasi.

Maka inilah tantangan dakwah Islam di era digital. Pekerjaan kita sungguh banyak untuk mengemas pesan Islam menjadi video-video animasi professional sekelas film-film Disney untuk anak-anak seluruh dunia. Juga mengemas sejarah peradaban Islam menjadi film-film kolosal sekelas Lord of The Rings. Atau memproduksi puluhan ribu video untuk mempresentasikan berbagai sisi nilai Islam, ayat Qur’an, hadist-hadist dalam durasi 3-5 menit yang penuh ilustrasi menarik.

Umat Islam tidak kekurangan dana untuk proyek besar seperti ini, juga tidak kekurangan tenaga profesonal para pakar IT, animator, editor atau desain grafis. Tapi yang kurang adalah gagasan besar untuk menjadikan proyek produksi budaya popular ini menjadi narasi besar.

civic-participation

Tim Partisipatif

 

Perjalanan itu bukan untuk meluaskan tahta, apalagi menumpuk harta. Tapi untuk sebuah misi agung yaitu distribusi jasa. Perjalanan pemimpin inspiratif Dzulkarnain dalam surat al-Kahfi adalah kisah abadi tentang prinsip kerja pemimpin dan umat. Diantaranya tentang produktivitas dan tawakkal. Kerja keras, kerja cerdas dan kerja sama. Keluhuran jiwa dan kerendah hatian, juga narasi atasan dan partisipasi bawahan.

 

Awalnya kaum yang bahasanya sulit dimengerti oleh Dzulkarnain itu menawarkan bayaran materil untuk proyek besar membangun ‘radma’ (benteng kokoh) tanpa mau berpartisipasi aktif. Mereka tahu masalah yang dihadapi, juga menegerti peta jalan yang harus dilalui. Tapi mendelegasikan semuanya kepada pemimpin memang nyaman. Sehingga jalan itu yang ditempuh. Membayar orang untuk jasa, lalu selesai masalah tanpa berlelah raga. Ringan bagi mental, enteng bagi pikiran, dengan cara meminta pemimpin mengambil alih semua urusan.

 

Tapi bukan itu karakter yang ingin dibangun Dzulkarnain. Melainkan “bantulah aku dengan apapun kekuatan kalian…” [al-Kahfi: 95]. Itulah sebabnya Dzulkarnain meledakan semua potensi masyarakat yang ada, tidak membungkamnya apalagi menihilkannya dengan alasan dia datang dengan pasukan besarnya sendiri atau karena dia yang paling tahu semuanya.

 

Independensi bawahan adalah prestasi terbesar seorang pemimpin. Jika bawahan bertumbuh dan berkembang menjadi pemimpin masa depan untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri maka itulah tanda keberhasilan pemimpin. Itu hanya terjadi jika pemimpin membuka keran potensi rakyat tidak menutup rapat pintunya. Mendengar harapan dan bisikan hati mereka, lalu meramunya menjadi aspirasi kolektif.

 

Itu juga agenda utama Rasulullah dalam membangun gerakan. Semua potensi terbaik dicarinya. Umar dan Ustman pengusaha kaya bukanlah hasil didikan ‘tarbiyah iqtishadiyyah’ (pendidikan ekonomi) Rasul, tapi mereka adalah para master di bidangnya yang kemudian potensinya terakomodasi dalam tim besar umat Islam. Juga Khalid bukanlah jago tarung setelah berislam, melainkan jawara Arab yang diberikan ruang dan panggung yang tepat dalam proyek ekspansif umat.

 

Maka peran Rasulullah adalah mengalirkan derasnya aspirasi dan obsesi orang-orang hebat itu di kanal yang tepat. Itulah sebabnya Rasul mengatakan “khiyarukum fil jahiliyyah khiyarukum fil islam idza faqihu” (yang terbaik diantara kalian di masa jahiliyyah berpotensi menjadi yang terbaik di masa Islam jika ia memiliki pemahaman yang tepat).

 

Semua potensi bawahan itu vital dalam sebuah proyek besar, dari kontribusi kerja tersulit hingga narasi verbal. Bahkan gagasan strategis tentang penempatan lokasi perang, yang seharusnya selesai di ruang pemimpin tertinggipun bisa dengan leluasan dan beradab di koreksi seorang sahabat Khabbab bin Mundzir di masa-masa genting itu.

 

Keterbukaaan rasul-lah yang membuat partisipasi Khabbab produktif. Dengan cara seperti itu tim partisipatif ditumbuhkan satu demi satu oleh Sang Rasul, yang menteladani prinsip kepemimpinan raja agung Dzulkarnain.

 

Beberapa prinsip kepemimpinan Qur’ani tersebut semakin hari terus berkembang dalam ilmu manajemen modern dan semakin dirasai produktivitasnya. Keterbukaan pemimpin dan pastisipasi kritis tim adalah salah satu unsur vital dinamisnya sebuah institusi untuk mengejar kecepatan arus informasi.

 

Paradigma-paradigma mendasar, gagasan besar atau grand narrative yang dahulu mungkin bertahan dalam ukuran abad, saat ini ditantang relevansinya dalam ukuran dekade oleh perubahan zaman akibat revolusi informasi, telekomunikasi dan transformasi.

 

Dua abad lalu kuda digantikan kereta uap, lalu sekarang taksi dan angkutan konvensional ditantang transportasi online yang kantornya virtual. Tidak lebih dari setengah abad kebelakang negeri-negeri muslim dibanjiri TV, diserbu tayangan yang menipiskan akhlak. Kemudian saat strategi-strategi dakwah di TV dipikirkan, diseminarkan, dirancang langkah praktisnya. Namun tiba-tiba saku-saku jutaan umat Islam diisi smartphone yang isinya lebih sulit di kendalikan dan jelas berbeda dengan rumusan strategi dakwah di TV.

 

Semua kecepatan ini membuat banyak pemimpin gamang atau bahkan lumpuh kreativitas menghadapi zaman baru. Seperti koran-koran raksasa sekelas New York Times atau Washington Post yang oplahnya terus merosot tereduksi berita online dalam genggaman tangan pembaca. Atau beberapa pengelola taksi yang memobilisir supir taksi untuk mendemo transportasi online di Perancis, Jerman, Denmark, juga Indonesia. Atau para pengusaha tekstil yang takluk di hadapan murahnya brand-brand ternama yang mengoutsource produksi ke Banglades, Vietnam, dan negara-negara Asean. Inilah era kecepatan gagasan yang disebut Thomas Friedman dengan ungkapan kiasan ‘the world is flat’.

 

Ada dua penyebab utama fenomena tersebut. Pertama, kesenjangan pengetahuan pemimpin atas fenomena paling mutakhir yang umumnya difahami oleh generasi yang berusia 10-20 tahun dibawahnya. Saldo pengetahuan para pemimpin untuk pengelolaan institusi, manajerial, hingga visi strategis umumnya dibangun dimasa muda saat konteks sosial politik demografi dan teknologi sangat kontras berbeda dengan masa dia memimpin.

 

Namun kesenjangan ini bukanlah krisis yang sebenarnya. Karena ia adalah kendala natural yang pasti dihadapi pemipin manapun saat tiba pada dinamika cepat masyarakat. Tapi krisis terbesarnya ada jika pemimpin tidak membuka pikiran dan telinga terhadap aspirasi dan kegelisahan kolektif generasi muda yang sedang menjadi aktor dan user utama semua perubahan diatas.

 

Penyebab kedua adalah saat generasi muda apatis dan pasif memberikan gagasan konstuktif bagi pemimpin. Dan sayangnya terlalu banyak alasan untuk merasionalisasi kepasifan itu, seperti soal ketakutan, ketidakpedulian, atau kelemahan kehendak.

 

Jika salah satu penyebab itu menjangkiti, sudah cukup membuat sebuah negeri, institusi, komunitas kehilangan relevansi untuk bekerja menjawab tantangan zaman modern. Pemimpin yang tertutup dengan aspirasi membuat gagasan konstuktif liar, tidak produktif atau bahkan terbuang sia-sia. Sebaliknya pemimpin terbuka akan kekurangan saldo strategi jika generasi mudanya diam membisu, memilih jalan nyaman sebagai para penunggu apalagi jika memang miskin gagasan.   Dalam situasi tersebut, sebuah negeri sedang menyalakan lonceng kematiannya.

 

Tapi jika para pemimpin terbuka, merasai denyut nadi keresahan pemuda, mendengar bisikan harapan mereka, juga memberi kenyamanan psikologis untuk semua bentuk kritikan dan masukan, maka mereka sedang menyiapkan panggung para pahlawan masa depan.

 

Dengan syarat, para pemuda partisipatif memberi rekomendasi soal tata kota, strategi transportasi, kebijakan ekonomi, kurikulum pendidikan atau rancangan-rancangan energi alam alternatif. Atau jika perlu kritikan bahkan protes soal tebang pilih hukum, mafia pemberantasan korupsi, reklamasi, kekayaan alam yang digerus asing, kerukunan yang dikoyak, dan banyak sekali ruang-ruang yang kosong untuk diperjuangkan.

 

Mengertilah kita, mengapa agama itu merupakan nasihat dari Allah, Kitabnya, dan Rasulnya. Untuk siapa saja? Rasulullah mengatakan “…untuk para pemimpin muslim dan seluruh umat Islam”.

 

Serial Pemuda Edisi 16

5-minute-mentality-design-banner

Mentalitas Ekspansif

5-minute-mentality-design-banner

Pada awalnya, orang-orang Arab Quraisy bukanlah generasi dengan kepercayadirian setebal tembok Dzulkarnain. Mereka adalah para lelaki inferior yang menurut pengakuan Abu Sufyan setelah dia berislam “kita adalah para kaum yang jika bertemu dengan orang Roma di Syam saja sudah bisa bercerita bangga di kampung Mekkah”.

Lalu datanglah Muhammad Sang Nabi dengan seperangkat mentality tools. Dimulai dari membaca cakrawala, keluar dari zona nyaman yang disimbolkan dengan kehangatan selimut; hingga deklarasi misi manusia di bumi ini . Yaitu “inni ja’ilun fil ardhi khalifah” (Sesungguhnya aku akan jadikan (bani Adam) di muka bumi ini khalifah) dalam firman-Nya.     

Generasi itu bertransformasi dari pengecut menjadi pemberani, dari pengharap jabatan kecil panglima pasukan umat, dari pemimpi mimpi-mimpi mungil menjadi perencana proyek peradaban raksasa.

Setiap sahabat mengalami tikungan jiwa yang mengubah seluruh persepsinya atas diri, hidup, Tuhan, dan semesta. Itulah mentalitas. Ia berupa ide-ide dan seperangkat arahan psikologis, tapi berfungsi seperti baju zirah yang melindungi tubuh. Ia membuat diri seorang manusia berbangga dengan apa yang dia yakini, tidak takut dengan ancaman, apalagi sekedar kritik-kritik manusia.

Kekuatan mental generasi sahabat adalah tauhidnya. Salah satu nilai sosial terpenting dalam syahadat adalah pembebasan manusia dari semua unsur ketundukan kepada selain Allah. Ketundukan atas materi, manusia, posisi strategis bahkan reputasi spiritual.

‘Ilah’ mempunyai berbagai wujud sesuai dengan konteks zaman dan geografis. Di zaman Nabi, persepsi ketundukan itu berbentuk materi yang megah, seperti keagungan angkatan militer Roma dan Persia, juga dengan bentangan teritori yang menghapit jazirab Arab yang kecil, yang dalam kehidupan modern padanannya seperti negara Ethiopia dibanding USA, Russia dan Cina. Maka dalam konteks peradaban bangsa Arab, mereka tidak mempunyai sejarah bertempur sengit dengan Persia ataupun Romawi karena saldo mentalitas mereka bahkan tidak cukup untuk berfikir menyaingi kedua imperium besar itu. Mentalitas yang terbangun adalah mentalitas budak yang seba takut dan khawatir.

Tapi Rasulullah membalik semua persepsi itu dari mulai arahan motivasional “kuntum khairu ummah” (kalian adalah umat terbaik), lalu strategi dan manajerial “betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar, dengan izin Allah, sesungguhnya Allah bersama kelompok yang sabar”, bahkan hingga visi masa depan “akan dibebaskan, Yaman, Persia…Konstatinopel…Roma…”.

Mentalitas seperti itu tertanam di kepala para sahabat saat mereka berinteraksi dengan berbagai budaya, bangsa dan agama. Ide-ide ekspansif mendrive gerak, langkah dan kebijakan para pemimpin muslim. Saat mata mereka menatap problematika dakwah, tantangan militer, masalah kesolidan internal, satu kata yang terngiang di benak mereka adalah ‘ekspansi’.

Maka di zaman Abu Bakar, Umar dan Ustman, tidak ada seharipun potensi umat Islam dibiarkan tergenang seperti air yang membusuk. Tapi kebijakan mereka adalah kebijakan yang ekspansif.

Mengapa? Agar potensi-potensi terbaik selalu mendapatkan salurannya yang tidak selalu mereka dapati di pusat pemerintahan Madinah yang padat.

Setiap zaman, umat akan diuji oleh masalah mental ini. Tantangannya tidaklah mulus, dan umat tidak selalu lulus. Dalam satu periode, umat di daerah Syam meyakini ketakutan ini “idza jaakum at-tataar fatarukuuh” (jika datang kepada kalian kaum Tatar maka kaburlah)”.

Di masa penjajahan, umat merasa bangsa Eropa lebih modern, lebih cerdas, lebih mampu mengelola negeri-negeri muslim yang mulai berkeping. Padahal baru beberapa abad bangsa Eropa menerjemahkan Mukaddimah Ibnu Khaldun untuk mengembangkan ilmu sosial mereka atau menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab Ibnu Rusyd tentang Aristoteles untuk menggali budaya Yunani mereka yang terkubur kalaulah umat Islam tidak menggalinya.

Di Barat hari ini, beberapa Muslim mengharap perlakuan dan respek sosial dengan cara memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama barat dan bergaya hidup seperti umumnya di barat, bukan dengan prestasi, kontribusi dan bersaing keras menembus strata sosial di negera tempat mereka berpijak.

Semua itu masalah mental, bukanlah soal fakta ataupun kekuatan real. Di era digital dan internet, Imajinasi manusia lebih mudah lagi direkayasa dan mentalitas penduduk semakin gampang dibentuk.

Di masa perang US VS Vietnam & Uni Soviet, film Rambo hampir menjadi referensi penduduk dunia akan hasil perang. Dan beberapa tahun terakhir film-film dari komik anak-anak Marvel mengisi layar-layar orang dewasa. Film-film tersebut bukan hanya berbicara tentang kepahlawanan imajiner Iron Man, Hulk, Spiderman atau X-Man. Tapi ia adalah sarana paling elegan untuk memamerkan segala kecangginan teknologi militer Amerika di depan penduduk dunia untuk melakukan proses psikologis yang dalam Bahasa Qur’an “turhibuuna bihi” (menggentarkan).

Dalam skala yang lebih kecil, mentalitas itu bisa luar biasa tereduksi menjadi kepengecutan yang akut. Takut dengan berbagai resiko hidup, resiko ideologi, resiko pergerakan, hingga resiko gagasan.

‘Ilah-ilah’ dalam kehidupan sosial kita bisa jadi bertransformasi dengan berbagai bentuk, tidak selalu menjadi keagungan materil. Tapi ia bisa berupa posisi struktural yang mengebiri kebebasan berfikir dan menjegal semangat kritik konstruktif. ‘Ilah’ itu mungkin saja dengan ketakutan ilusif tentang sesuatu yang mengancam keberlangsungan eksistensi, yang dijejalkan orang luar ke dalam tubuh dan institusi kita.

Illusive fear adalah senjata umum dalam dunia intelijen atau bisnis senjata (arms industry) yang sering digunakan negara ataupun pemimpin otoriter untuk tujuan yang spesifik. Karena ketakutan adalah salah satu driving force terkuat dalam jiwa manusia untuk bergerak.

Daya rusak akibat mentalitas pengecut ini sangat akut bagi generasi muda muslim. Karena semua kecerdasan, kreativitas dan inisiatif prograsif akan tertutup dari dalam pikiran bawah sadarnya. Setiap embrio gagasan akan langsung hanyut oleh pikiran bahwa ‘idemu tidak punya tempat di alam nyata yang keras’.

Inilah berhala-berhala yang dikikis oleh Rasulullah di pikiran sahabat-sahabat mulia. Maka Bilal terus mengatakan Ahad saat yang lain ragu melantangkan tauhid di publik. Khalid bin Walid yang disebut oleh Abu Bakar “akan aku usir ketenangan pasukan Roma dengan pikiran yang menghantui, dengan kedatangan Khalid”.    

Saat diuji oleh jebakan mentalitas ini, Rib’i bin Amir justru berkata lantang di depan Kisra Persia, sebuah statement yang menurut Dr. Raghid Sirjani mewakili misi tauhid dakwah Islam “li nakhrujal ‘ibad min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadati rabbil ‘ibaad” (untuk membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan Tuhannya manusia).

Serial Pemuda – Edisi 15

The-Expendables-3

Narasi Global Umat – Part 9

Bisnis KetakutanThe-Expendables-3

Yang paling mengerikan dari Trans National Corporation adalah arm industry atau industri senjata. Lockhead Martin (US), Boeing (US) dan BAE System (UK) adalah diantara yang terbesar. Pasar industri senjata adalah perang, konflik ataupun negara yang sedang ketakutan. Maka mari kita gunakan akal sehat kita. Apakah mungkin perusahaanperusahaan senjata besar dunia bisa bertahan jika dunia ini pernuh perdamaian, minim konflik dan peperangan?

Saya mengakui tidak selalu mudah melacak keterlibatan perusahaan senjata dalam sebuah konflik dan peperangan. Tapi para jurnalis terbaik mulai bisa mengurainya. Tidak sedikit hari ini analisis yang mengungkap sistem kerja mereka. Seperti USATODAY yang melaporkan keterlibatan mendalam perusahaan-perusahaan senjata Amerika dalam konflik di timur tengah.

Negara yang sedang berperang atau berada dalam ketakutan terhadap ancaman teroris akan membeli dengan harga berapapun harga keamanan mereka, termasuk persedian senjata.

Di Amerika sendiri aturan kepemilikan senjata terlalu sulit untuk digoyang. Karena jaringan mereka menguasai negara. Bisnis adalah dunia sendiri yang tidak menurut kepada negara, namun dalam banyak situasi justru negara yang tunduk pada kepentingan bisnis.

Lobi TNC memasuki parlemen, mendikte presiden, atau mensetting beberapa fenomena global. Maka TNC adalah salah satu prioritas gerakan Islam bukan sekedar sebagai supporting sistem penguasaan negara, tapi sebagai core struggle selain perjuangan politik.

Private Military Company atau perusahaan militer swasta adalah unsur kekuatan lain hari ini yang sangat mempengaruhi percaturan antar bangsa. Perangkat yang mereka miliki mulai dari petugas lapangan yaitu para tentara yang siap bertempur dengan senjata tercanggih hingga tim berdasi di kantor yaitu jaringan intelijen berbekal big data yang dengan mudah dibeli dari perusahaan-perusahaan dunia maya.

Penggunaan tentara bayaran secara hukum dilarang melalui United Nation Mercenary Convention, walaupun sistem kerja mereka jelas tersembunyi dari pengawasan PBB. Apalagi, US, UK, Rusia, Cina sama sekali tidak mau menandatangai convention tersebut.

Private Military Company juga menjadi bodyguard bagi perusahaan-perusahaan besar atau para politisi dan pemimpin negara.

Private Military Company mempunyai kemampuan untuk mensetting perang antar negara, minimal konflik horizontal di sebuah negara.

Maka inilah diantara tantangan lain dakwah, atau domain penting yang perlu dikuasai. Yaitu dunia militer, yang hal itu tidak tiba-tiba dimiliki pergerakan Islam jika mereka menguasai negara. Militer, seperti halnya bisnis, adalah dunia lain yang terpisah dengan politik. Kasus Mesir dan usaha kudeta AKP di Turki yang berkalikali membuktikan hal ini.

Bankers juga kekuatan super besar yang mungkin melebihi TNC dan Private Military Company. Sejarah hegemoni mereka sangat penjang sejak pertama kali uang kertas tercipta. Maka sekaya apapun seseorang dengan perusahaan dan ekonomi real, para bankir akan tetap jauh lebih kaya, karena semua aktivitas ekonomi menggunakan sistem yang sudah mereka buat. Kisah Rostchild menguasai ekonomi Inggeris saat perang Waterloo dengan Napoleon cukup terkenal dan menunjukan bahwa ekonomi sebuah negara imperium besar, selama berabad-abad dibawah kaki para bangkir.

Dalam literatur pergerakan Islam, tidak akan kita temui perjuangan mengisi bidang ini. Justru yang ada adalah resistensi normative dalam bab riba. Faktanya dunia perbankan mencengkeram aktivitas ekonomi seluruh umat manusia.

Inilah tantangan ketiga pergerakan Islam untuk merumuskan grand strategy untuk menguasai perbankan dunia dengan semangat perbaikan, bukan mengutuknya dari luar. Pandangan yang terlalu fokus pada penguasaan negara bangsa memerlukan evaluasi dan kajian mendalam. Karena aktor-aktor global yang disebut diatas adalah competitor baru negara yang diakui para pakar sangat signifikan mereduksi kekuasaan negara. Apalagi jika kekuatan mereka bersatu untuk sebuah proyek besar. Inilah yang disebut jaringan strategis.

Jaringan strategis bisa jadi memperjuangkan ideology zionis, lalu perusahaan internasional seluruh dunia bersama membawa isu ini, media memblow-up nya, industri mendanainya, militer menyuplai tentara dan perusahaan senjata melengkapi para tentara dengan amunisi tanpa batas.

Jaringan strategis TNC, Private military company dan bankers yang satu visi bisa mengalahkan negara-negara besar, apalagi yang kecil. Maka inilah trend baru dunia yang perlu dijadikan pertimbangan pergerakan Islam saat merumuskan narasi besarnya hari ini. Hal ini tidak berarti narasi besar Hasan al-Banna salah, dan dibuang, tapi ia memerlukan reassessment, atau pengkajian ulang, agar ide pembaharuan itu bisa diperbaharui.

Pembaharuan tidak selalu memulai dari yang baru, tapi memperbaiki yang lama, mengembangkannya, dan membuatnya lebih relevan.