5-minute-mentality-design-banner

Mentalitas Ekspansif

5-minute-mentality-design-banner

Pada awalnya, orang-orang Arab Quraisy bukanlah generasi dengan kepercayadirian setebal tembok Dzulkarnain. Mereka adalah para lelaki inferior yang menurut pengakuan Abu Sufyan setelah dia berislam “kita adalah para kaum yang jika bertemu dengan orang Roma di Syam saja sudah bisa bercerita bangga di kampung Mekkah”.

Lalu datanglah Muhammad Sang Nabi dengan seperangkat mentality tools. Dimulai dari membaca cakrawala, keluar dari zona nyaman yang disimbolkan dengan kehangatan selimut; hingga deklarasi misi manusia di bumi ini . Yaitu “inni ja’ilun fil ardhi khalifah” (Sesungguhnya aku akan jadikan (bani Adam) di muka bumi ini khalifah) dalam firman-Nya.     

Generasi itu bertransformasi dari pengecut menjadi pemberani, dari pengharap jabatan kecil panglima pasukan umat, dari pemimpi mimpi-mimpi mungil menjadi perencana proyek peradaban raksasa.

Setiap sahabat mengalami tikungan jiwa yang mengubah seluruh persepsinya atas diri, hidup, Tuhan, dan semesta. Itulah mentalitas. Ia berupa ide-ide dan seperangkat arahan psikologis, tapi berfungsi seperti baju zirah yang melindungi tubuh. Ia membuat diri seorang manusia berbangga dengan apa yang dia yakini, tidak takut dengan ancaman, apalagi sekedar kritik-kritik manusia.

Kekuatan mental generasi sahabat adalah tauhidnya. Salah satu nilai sosial terpenting dalam syahadat adalah pembebasan manusia dari semua unsur ketundukan kepada selain Allah. Ketundukan atas materi, manusia, posisi strategis bahkan reputasi spiritual.

‘Ilah’ mempunyai berbagai wujud sesuai dengan konteks zaman dan geografis. Di zaman Nabi, persepsi ketundukan itu berbentuk materi yang megah, seperti keagungan angkatan militer Roma dan Persia, juga dengan bentangan teritori yang menghapit jazirab Arab yang kecil, yang dalam kehidupan modern padanannya seperti negara Ethiopia dibanding USA, Russia dan Cina. Maka dalam konteks peradaban bangsa Arab, mereka tidak mempunyai sejarah bertempur sengit dengan Persia ataupun Romawi karena saldo mentalitas mereka bahkan tidak cukup untuk berfikir menyaingi kedua imperium besar itu. Mentalitas yang terbangun adalah mentalitas budak yang seba takut dan khawatir.

Tapi Rasulullah membalik semua persepsi itu dari mulai arahan motivasional “kuntum khairu ummah” (kalian adalah umat terbaik), lalu strategi dan manajerial “betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar, dengan izin Allah, sesungguhnya Allah bersama kelompok yang sabar”, bahkan hingga visi masa depan “akan dibebaskan, Yaman, Persia…Konstatinopel…Roma…”.

Mentalitas seperti itu tertanam di kepala para sahabat saat mereka berinteraksi dengan berbagai budaya, bangsa dan agama. Ide-ide ekspansif mendrive gerak, langkah dan kebijakan para pemimpin muslim. Saat mata mereka menatap problematika dakwah, tantangan militer, masalah kesolidan internal, satu kata yang terngiang di benak mereka adalah ‘ekspansi’.

Maka di zaman Abu Bakar, Umar dan Ustman, tidak ada seharipun potensi umat Islam dibiarkan tergenang seperti air yang membusuk. Tapi kebijakan mereka adalah kebijakan yang ekspansif.

Mengapa? Agar potensi-potensi terbaik selalu mendapatkan salurannya yang tidak selalu mereka dapati di pusat pemerintahan Madinah yang padat.

Setiap zaman, umat akan diuji oleh masalah mental ini. Tantangannya tidaklah mulus, dan umat tidak selalu lulus. Dalam satu periode, umat di daerah Syam meyakini ketakutan ini “idza jaakum at-tataar fatarukuuh” (jika datang kepada kalian kaum Tatar maka kaburlah)”.

Di masa penjajahan, umat merasa bangsa Eropa lebih modern, lebih cerdas, lebih mampu mengelola negeri-negeri muslim yang mulai berkeping. Padahal baru beberapa abad bangsa Eropa menerjemahkan Mukaddimah Ibnu Khaldun untuk mengembangkan ilmu sosial mereka atau menerjemahkan karya-karya berbahasa Arab Ibnu Rusyd tentang Aristoteles untuk menggali budaya Yunani mereka yang terkubur kalaulah umat Islam tidak menggalinya.

Di Barat hari ini, beberapa Muslim mengharap perlakuan dan respek sosial dengan cara memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama barat dan bergaya hidup seperti umumnya di barat, bukan dengan prestasi, kontribusi dan bersaing keras menembus strata sosial di negera tempat mereka berpijak.

Semua itu masalah mental, bukanlah soal fakta ataupun kekuatan real. Di era digital dan internet, Imajinasi manusia lebih mudah lagi direkayasa dan mentalitas penduduk semakin gampang dibentuk.

Di masa perang US VS Vietnam & Uni Soviet, film Rambo hampir menjadi referensi penduduk dunia akan hasil perang. Dan beberapa tahun terakhir film-film dari komik anak-anak Marvel mengisi layar-layar orang dewasa. Film-film tersebut bukan hanya berbicara tentang kepahlawanan imajiner Iron Man, Hulk, Spiderman atau X-Man. Tapi ia adalah sarana paling elegan untuk memamerkan segala kecangginan teknologi militer Amerika di depan penduduk dunia untuk melakukan proses psikologis yang dalam Bahasa Qur’an “turhibuuna bihi” (menggentarkan).

Dalam skala yang lebih kecil, mentalitas itu bisa luar biasa tereduksi menjadi kepengecutan yang akut. Takut dengan berbagai resiko hidup, resiko ideologi, resiko pergerakan, hingga resiko gagasan.

‘Ilah-ilah’ dalam kehidupan sosial kita bisa jadi bertransformasi dengan berbagai bentuk, tidak selalu menjadi keagungan materil. Tapi ia bisa berupa posisi struktural yang mengebiri kebebasan berfikir dan menjegal semangat kritik konstruktif. ‘Ilah’ itu mungkin saja dengan ketakutan ilusif tentang sesuatu yang mengancam keberlangsungan eksistensi, yang dijejalkan orang luar ke dalam tubuh dan institusi kita.

Illusive fear adalah senjata umum dalam dunia intelijen atau bisnis senjata (arms industry) yang sering digunakan negara ataupun pemimpin otoriter untuk tujuan yang spesifik. Karena ketakutan adalah salah satu driving force terkuat dalam jiwa manusia untuk bergerak.

Daya rusak akibat mentalitas pengecut ini sangat akut bagi generasi muda muslim. Karena semua kecerdasan, kreativitas dan inisiatif prograsif akan tertutup dari dalam pikiran bawah sadarnya. Setiap embrio gagasan akan langsung hanyut oleh pikiran bahwa ‘idemu tidak punya tempat di alam nyata yang keras’.

Inilah berhala-berhala yang dikikis oleh Rasulullah di pikiran sahabat-sahabat mulia. Maka Bilal terus mengatakan Ahad saat yang lain ragu melantangkan tauhid di publik. Khalid bin Walid yang disebut oleh Abu Bakar “akan aku usir ketenangan pasukan Roma dengan pikiran yang menghantui, dengan kedatangan Khalid”.    

Saat diuji oleh jebakan mentalitas ini, Rib’i bin Amir justru berkata lantang di depan Kisra Persia, sebuah statement yang menurut Dr. Raghid Sirjani mewakili misi tauhid dakwah Islam “li nakhrujal ‘ibad min ‘ibadatil ‘ibad ila ‘ibadati rabbil ‘ibaad” (untuk membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia menuju penghambaan Tuhannya manusia).

Serial Pemuda – Edisi 15

The-Expendables-3

Narasi Global Umat – Part 9

Bisnis KetakutanThe-Expendables-3

Yang paling mengerikan dari Trans National Corporation adalah arm industry atau industri senjata. Lockhead Martin (US), Boeing (US) dan BAE System (UK) adalah diantara yang terbesar. Pasar industri senjata adalah perang, konflik ataupun negara yang sedang ketakutan. Maka mari kita gunakan akal sehat kita. Apakah mungkin perusahaanperusahaan senjata besar dunia bisa bertahan jika dunia ini pernuh perdamaian, minim konflik dan peperangan?

Saya mengakui tidak selalu mudah melacak keterlibatan perusahaan senjata dalam sebuah konflik dan peperangan. Tapi para jurnalis terbaik mulai bisa mengurainya. Tidak sedikit hari ini analisis yang mengungkap sistem kerja mereka. Seperti USATODAY yang melaporkan keterlibatan mendalam perusahaan-perusahaan senjata Amerika dalam konflik di timur tengah.

Negara yang sedang berperang atau berada dalam ketakutan terhadap ancaman teroris akan membeli dengan harga berapapun harga keamanan mereka, termasuk persedian senjata.

Di Amerika sendiri aturan kepemilikan senjata terlalu sulit untuk digoyang. Karena jaringan mereka menguasai negara. Bisnis adalah dunia sendiri yang tidak menurut kepada negara, namun dalam banyak situasi justru negara yang tunduk pada kepentingan bisnis.

Lobi TNC memasuki parlemen, mendikte presiden, atau mensetting beberapa fenomena global. Maka TNC adalah salah satu prioritas gerakan Islam bukan sekedar sebagai supporting sistem penguasaan negara, tapi sebagai core struggle selain perjuangan politik.

Private Military Company atau perusahaan militer swasta adalah unsur kekuatan lain hari ini yang sangat mempengaruhi percaturan antar bangsa. Perangkat yang mereka miliki mulai dari petugas lapangan yaitu para tentara yang siap bertempur dengan senjata tercanggih hingga tim berdasi di kantor yaitu jaringan intelijen berbekal big data yang dengan mudah dibeli dari perusahaan-perusahaan dunia maya.

Penggunaan tentara bayaran secara hukum dilarang melalui United Nation Mercenary Convention, walaupun sistem kerja mereka jelas tersembunyi dari pengawasan PBB. Apalagi, US, UK, Rusia, Cina sama sekali tidak mau menandatangai convention tersebut.

Private Military Company juga menjadi bodyguard bagi perusahaan-perusahaan besar atau para politisi dan pemimpin negara.

Private Military Company mempunyai kemampuan untuk mensetting perang antar negara, minimal konflik horizontal di sebuah negara.

Maka inilah diantara tantangan lain dakwah, atau domain penting yang perlu dikuasai. Yaitu dunia militer, yang hal itu tidak tiba-tiba dimiliki pergerakan Islam jika mereka menguasai negara. Militer, seperti halnya bisnis, adalah dunia lain yang terpisah dengan politik. Kasus Mesir dan usaha kudeta AKP di Turki yang berkalikali membuktikan hal ini.

Bankers juga kekuatan super besar yang mungkin melebihi TNC dan Private Military Company. Sejarah hegemoni mereka sangat penjang sejak pertama kali uang kertas tercipta. Maka sekaya apapun seseorang dengan perusahaan dan ekonomi real, para bankir akan tetap jauh lebih kaya, karena semua aktivitas ekonomi menggunakan sistem yang sudah mereka buat. Kisah Rostchild menguasai ekonomi Inggeris saat perang Waterloo dengan Napoleon cukup terkenal dan menunjukan bahwa ekonomi sebuah negara imperium besar, selama berabad-abad dibawah kaki para bangkir.

Dalam literatur pergerakan Islam, tidak akan kita temui perjuangan mengisi bidang ini. Justru yang ada adalah resistensi normative dalam bab riba. Faktanya dunia perbankan mencengkeram aktivitas ekonomi seluruh umat manusia.

Inilah tantangan ketiga pergerakan Islam untuk merumuskan grand strategy untuk menguasai perbankan dunia dengan semangat perbaikan, bukan mengutuknya dari luar. Pandangan yang terlalu fokus pada penguasaan negara bangsa memerlukan evaluasi dan kajian mendalam. Karena aktor-aktor global yang disebut diatas adalah competitor baru negara yang diakui para pakar sangat signifikan mereduksi kekuasaan negara. Apalagi jika kekuatan mereka bersatu untuk sebuah proyek besar. Inilah yang disebut jaringan strategis.

Jaringan strategis bisa jadi memperjuangkan ideology zionis, lalu perusahaan internasional seluruh dunia bersama membawa isu ini, media memblow-up nya, industri mendanainya, militer menyuplai tentara dan perusahaan senjata melengkapi para tentara dengan amunisi tanpa batas.

Jaringan strategis TNC, Private military company dan bankers yang satu visi bisa mengalahkan negara-negara besar, apalagi yang kecil. Maka inilah trend baru dunia yang perlu dijadikan pertimbangan pergerakan Islam saat merumuskan narasi besarnya hari ini. Hal ini tidak berarti narasi besar Hasan al-Banna salah, dan dibuang, tapi ia memerlukan reassessment, atau pengkajian ulang, agar ide pembaharuan itu bisa diperbaharui.

Pembaharuan tidak selalu memulai dari yang baru, tapi memperbaiki yang lama, mengembangkannya, dan membuatnya lebih relevan.

2013-06-25_130249

Narasi Global Umat – Part 8

2013-06-25_130249TREND BARU DUNIA DAN PELUANG NARASI KITA

Pengetahuan kita seperti membuat bola kecil dengan tanah liat. Setiap datang pengetahuan baru saat itulah kita menempelkan tanah liat ke bola tersebut untuk memperbesarnya. Begitulah pengetahuan akumatif manusia membesar seperti bola tersebut.

Era digital abad 21 ini membuat ukuran bola pengetahuan itu membengkak luar biasa. Arus informasi membuat kita mengetahui apa yang ada di kutub dengan instan atau orang di pegunungan Tibet bisa mengetahui kemacetan saat kita mudik dengan seketika. Rahasia-rahaisa pun terkuak, dokumen-dokumen resmi tersembunyi kian banyak diakses publik. Organisasi-organisasi sejenis Wikileaks berjamuran, dan kunci-kunci kekuatan insitusi-insitusi besar semakin mudah diakses para pengejar informasi yang bersedia dibayar beberapa dolar oleh pihak yang berkepentingan.

Di bagian ini saya ingin berbagi tentang paradigma-paradigma baru pergerakan dan penyusunan kekuatan.

NEGARA BANGSA KE JARINGAN STRATEGIS

Peace of Westphalia adalah perjanjian damai di tahun 1648 setelah 80 tahun perang antara Spanyol, Belanda dan Jerman. Pengaruh penting perjanjian ini bagi kehidupan antar bangsa adalah kejelasan wilayah otoritas setiap kerajaan yang kemudian diadopsi menjadi doktrin Westphalian Sovereignity. Hal inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan negara modern di Eropa dengan berbagai basis teori sosialnya.

Berdirinya negara-negara modern Eropa menandai pemusatan kekuatan pada institusi negara. Di abad pertengahan keluarga-keluarga kaya Eropa seperti Medici, Rotschild menghegemoni kekuasaan sebuah negeri, dengan mendompleng raja dalam sistem aristokrasi. Namun dalam nation-state segala unsur keuatan dihegemoni negara, terutama legitimasi penggunaaan kekerasan seperti definisi negara-nya Max Weber.

Pasca keruntuhan daulah Ustmaniyyah, negeri-negeri muslim berjuang memerdekakan diri untuk menjadi negara bangsa yang mandiri. Sedang di Eropa terjadi dua perang besar, yaitu PD-1 dan 2. Periode 1910-1945, setiap negara sedang mengarah menjadi ultranasionalis.

Dalam konteks seperti itulah Imam Hasan al-Banna merumuskan narasi besarnya sebagai respon atas tantangan zaman. Yaitu narasi yang bisa dirangkum dengan tujuh tahapan:

1. Pembinaan pribadi muslim

2. Membangun keluarga islami

3. Membimbing Keluarga

4. Memperbaiki pemerintahan

5. Mengembalikan Kekhilafahan

6. Merealisasikan kepemimpinan global

7. Mendeklarasikan Islam sebagai guru peradaban

Hasan al-Banna sendiri belum mencapai tahapan keempat dengan optimal karena peluru lebih mendului syahidnya. Maka tidak ada warisan fiqh politik yang memadai dalam literature pergerakan Islam IM, bahkan juga pergerakan-pergerakan lain.

Poin yang ingin saya bedah terlebih pada konteks negara bangsa yang meliputi pandangan perjuangan Hasan al-banna di masanya.

Negara bangsa adalah unsur kekuatan terpenting dalam perkumpulan manusia saat itu. Oleh karena itu Hasan al-Banna sangat menaruh perhatian besar pada pengusaan negara. Point nomor empat adalah inti perjuangan gerakan Islam yang terinspirasi IM di berbagai negara. Point 1, 2, 3 hanyalah supporting sistem untuk memastikan aktivis Islam menguasasi peran penting dalam pemerintahan. Dan bagi al-Banna point 5,6,7 adalah agenda yang mutlak hanya bisa dilakukan jika negara sudah dipegang.

Namun hari ini negara-bangsa sebagai entitas terkuat perkumpulan manusia diperdebatkan, khususnya di kalangan pengkaji International Relations. Global Governance adalah salah satu kajian penting dalam tema International Relations.

Pembahasan Global Governance atau pemerintahan global memberikan kita kesadaran bahwa hari ini terjadi power shifting. Beberapa negara tetap merupakan pemain global yang sangat berpengaruh. Terutama negara-negara raksasa seperti US, Russia, China, atau Indonesia. Tapi negara tidak selalu menjadi entitas terkuat. Karena ada aktor-aktor lain yang terkadang mempunyai pengaruh jauh lebih besar dibanding negara. Misalnya, multinational corporation seperti Apple yang mempunyai penghasilan 53 milyar dolar, lebih besar dari pendapatan perkapita Lebanon, Tunisia, Jordan, Bahrain, Paraguay ataupun Bolivia. Ada actor-aktor besar UN, aliansi strategis BRICs (Brazil, Rusia, India dan Cina). Ada NGO-NGO internasional, lembaga-lembaga Think Tanks dan Global Policy Network dan Private Military dan Security Company.

Para aktor global itu mempunyai sistem, aset kekuatan dan agenda sendiri. Yang selama ini tidak mendapat perhatian sebesar perhatian gerakan Islam pada institusi negara.

TNC (Trans National Corporation) atau perusahaan multinasional adalah imperium lama yang transparansi kekayaannya diketahui publik hari ini. Berbeda dengan bisnis-bisnis kaya abad 15-18 yang bisnisnya tertutup dan tidak akuntabel. East India Company milik Inggeris dan VOC Belanda adalah contoh dari TNC yang bisnisnya tidak akuntabel, dari segi administrasi ataupun etika. Terutama era kolonialisasi adalah era dimana TNC menjadi kekuatan utama ekonomi negara.

Tapi TNC hari ini bisa dibaca publik. Potensi yang mereka punya bisa menghancurkan negara tertentu jika mereka mau. Perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia, ataupun perusahaan-perusahaan energi pada dasarnya tidak akan peduli dengan nasib lingkungan sebuah negara ataupun nasib generasi mendatang negara tersebut. Hegemoni perusahaan-perusahaan minyak di negara-negara petromonarki seperti Kuwait, Uni Emirates, Saudi Arabia, sangat mencengkram. Maka jika, misalnya seorang pemikir mencoba merumuskan narasi besar untuk kawasan teluk, maka sudah saatnya mereka berfikir bahwa prioritas aktivis dakwah adalah mendirikan perusahaan minyak milik aktivis Islam yang selevel dengan Saudi Aramco, Total, Royal Dutch Shell, atau Exxon Mobil.

Loyalitas TNC adalah uang, atau apapun yang diinginkan pemiliknya. Maka bisa jadi aktivis Islam berhasil mem-‘futuh’-kan dakwah sebuah negara seperti Saudi atau Qatar dengan mengisi pos-pos penting pemerintahan. Lalu apa yang akan mereka lakukan terhadap minyak yang mereka punya jika memang kapasitas aktivis gerakan Islam belum mampu membangun sebuah imperium perusahaan minyak? Apakah betul konflik-konflik horizontal yang ada di kawasan petromonarki karena alasan ideologis ataupun madzhab? Ataukah ada kepentingan minyak disana? Apakah betul berkembangnya salafi di Saudi murni karena kekuatan dakwah salafi ataukah ada kepentingan minyak hasil riset mendalam tentang sosio-kultural masyarakat Saudi? Maka narasi dakwah disana perlu perenungan mendalam dan pemikiran yang luas berbasis fakta realita kontemporer. Dimanakah letak medan yang perlu diperebutkan?

Perusahaan minyak hanyalah salah satu contoh, diantara contoh yang terlalu banyak tentang real power yang dikuasai TNC, seperti Apple, Samsung yang menguasasi alat komunikasi kita, atau Google yang merekam semua aktvitas online kita, atau provider email (yahoo, outlook) yang mengarsipkan semua korespondensi kita, dari yang personal hingga aktivitas super rahasia yang strategis dalam dakwah. Atau Unilever yang mengendalikan nutrisi kita.

Paradigma ini perlu melengkapi manhaj dakwah pergerakan Islam. Memang ide Hasan al-Banna adalah state oriented, tapi tidak harus paradigma ini menjadi titik tolak perumusan narasi nasional gerakan dakwah hari ini. Karena Imam Syahid menghadapi konsteks yang sama sekali berbeda. Justru kewajiban umat Islam khususnya aktivis pergerakan untuk selalu memetakan kerumitan konstelasi global dan nasional dengan jeli agar ktia berebut pos-pos yang lebih strategis sesuai dengan konteks geopolitik masing-masing.

Masih banyak aktor-aktor lain yang lebih dahsyat dari TNC dalam mengendalikan hidup kita disadari ataupun tidak, yang akan saya bahas di tulisan berikutnya.

download

Narasi Global Umat – Part 7

DEMOGRAFI DAN IDENTITAS

Krisis demografi akibat pertumbuhan penduduk ras putih eropa itu mendapatkan tantangan lain. Yaitu pertumbuhan imigran. Mayoritas imigran di Perancis adalah dari Maroko, Aljazair, Tunisia dan negara-negara Afrika yang dulu mereka jajah. Sedangkan Inggeris dipenuhi oleh imigran Pakistan, India dan Bangladesh. Adapun Jerman dengan imigran Turkinya.

Para imimgran ini membawa nilai yang berbeda dari negara yang mereka tinggali sekarang. Mereka mempunyai tradisi keluarga yang lebih kuat, walaupun hari ini semakin terkikis. Juga pada dasarnya tidak mempunyai trauma mentalitas tanggung jawab keluarga dan anak.

Entitas Arab, Turki, Pakistan, Bangladesh atau India gemar membuat anak. Di Perancis, angka pertumbuhan imigran Turki adalah 3.21, Aljazair 2.57, Maroko 2.97, Tunisia 2.9. Di UK angka rata-rata pertumbuhan itu 1.82 sedangkan di kota-kota yang dipenuhi para imigran angka itu mencapai 2.34.

Angka-angka tersebut tidak hanya menunjukan perubahan demografi, tapi juga perubahan sirkulasi uang. Dengan sistematika yang telah dijelaskan sebelumnya, banyak anak berarti banyak generasi muda, yang berarti generasi tenaga kerja. Generasi tenaga kerja lah yang menyerap uang sebuah negara. Itulah sebabnya nasib imigran generasi pertama yang datang dengan alakadarnya semakin membaik di generasi kedua dan ketiga. Sekarang generasi ketiga memasuki mid-management di lapangan kerja Eropa. Beberapa warga keturunan bahwan menjadi pemimpin komunitas hingga kota besar, seperti walikota Oxford, Lord Abbasi dan walikota London Sadiq Khan.

Perubahan ini mengaburkan identitas Eropa sebagai western, dengan definisi yang telah dijelaskan sebelunya. Tradisi Kristen mereka kian terkikis digantikan Ateisme, dan jumlah umat Islam yang dilahirkan di Eropa kian melonjak. Inilah kira-kira yang melatari berbagai skenario yang mendiskreditkan imigran (muslim), termasuk parade bom di kota-kota besar Eropa. Gelombang anti imigran sedang dibangkitkan sehingga mereka merasa tidak nyaman berada di Eropa.

Pendorong terbesar Brexit adalah krisis demografi ini. Mereka ingin merebut kembali posisi-posisi sosial dan karir yang dianggap selama ini diisi para imigran baik imigran Eropa ataupun imigran non Eropa yang masuk UK setelah menjadi warga negara Eropa. Tapi efek domino Brexit ini akan dahsyat. Karena ia akan memicu keluarga negara-negara eropa lain dari Uni Eropa, yang merupakan kekuatan pemersatu di hadapan Amerika, Rusia dan Cina.

 

MUSLIM EROPA

Mentalitas para imigran muslim di Eropa generasi pertama adalah seperti umumnya imigran di seluruh dunia. Mereka datang sebagai tamu, karena membantu bangsa Eropa dalam perang dunia ke-2 atau membantu membangun infrastruktur pasca perang, ataupun berbagai alasan lain. Sayangnya mentalitas ini terus diturunkan ke generasi ke dua dan ke tiga (hari ini).

Mentalitas itu membuat umat Islam di Eropa merasa sebagai orang asing yang menuntut perlakuan sama, sebagai warga negara, dan merasa perlu membuktikan diri bahwa mereka tidak berbeda dengan warga asli. Mereka perlu menunjukan bahwa mereka juga mempunyai skil, talenta, memahami bahasa juga budaya setempat untuk mendapat perlakuan sebagai warga yang setara.

Dalam kehidupan keislaman, mentalitas seperti itu membuat mereka begitu defensif dengan keislaman mereka. Mempertahankan ibadah di tengah masyarakat materialis, sampai mengisolasi diri dan mencukupkan hidup selama bisa mendirikan masjid, membuka toko makanan halal dan bisa memakai jilbab.

Seorang pembaharu hadir untuk menawarkan narasi baru, yaitu Tariq Ramadan cucu Hasan al-banna. Ia banyak dikritik oleh umat Islam sendiri karena tidak membai’at diri menjadi anggota IM bentukan kakeknya, dan tidak meneruskan narasi yang dibawa al-Banna. Tapi justru Tariq Ramadan menjawab bahwa mentalitas kakeknya lah yang ia bawa dalam dakwah internasionalnya. Yaitu mentalitas pembaharu. Artinya ia membaca tren zaman, membuka lembaran-lembaran laporan tentang tantangan geopolitik dimana dia dilahirkan (Swiss) tinggal dan tumbuh, yaitu Eropa.

Maka Tariq Ramadan datang dengan sebuah gagasan Muslim Eropa, bukan imigran yang mencoba bergabung dengan masyarakat Eropa. Gagasan ini melampaui diskursus Islam VS Barat. Karena dengan narasinya, ia membuka perspektif baru bahwa Barat adalah lahan kosong, milik bersama, siapapun yang lahir dan tinggal disana, dan menolak definisi Barat secara ideologis.

Gagasan ini mempunyai pengaruh yang mendasar dalam perubahan pola pikir umat Islam di Eropa dari imigran yang meminta kesetaraan menjadi mentalitas pemilik asli kawasan yang mencoba memimpin kaumnya, atau setidaknya mewarnainya dengan nilai Islam.

Gagasan praktisnya adalah Islam and Ethics. Bahwa muslim perlu percaya diri sebagai anak-anak asli negerinya di berbagai negara Eropa untuk masuk berpartisipasi dalam masyarakat, membina diri dengan pendidikan tertinggi, dan menempati posisi-posisi paling berpengaruh di strata sosial untuk satu tujuan, yaitu mewarnai kehidupan Eropa yang telah kehilangan etika di berbagai bidang dengan nilai Islam.

Strategi yang ia lakukan bukanlah membuat gerakan seperti kakeknya, karena itu tidak memungkinkan di Eropa. Tapi ia membangun komunitas elit intelektual yang berpengaruh dan mempunyai bargaining position kuat di depan para pemimpin komunitas muslim di Eropa, para intelektual universitas-universitas besar barat, hingga di depan para pemimpin gerakan Islam di timur tengah. Ia sendiri adalah Profesor Contemporary Islamic Studies di Univesitas Oxford. Gerakan intelektual yang ia bangun diwadawi oleh CILE (Center for Islamic Legalislation and Ethics).

Tariq Ramadan adalah tipikal pemikir muslim yang kokoh dalam basis pengetahuan, bermodalkan Bahasa Perancis, Inggeris dan Arab yang sempurna. Lalu pendidikan humaniora Universitas Barat dan talaqqi tradisional di Al-Azhar Cairo. Maka tools itu adalah bahan dasar yang memadai untuk membaca nafas zaman lalu merumuskan narasi besar yang dibutuhkan kemanusiaan.

Tariq Ramadan pada dasarnya mempunyai tawaran narasi global untuk umat Islam, namun menurut saya posisinya sebagai lelaki yang lahir dan besar di barat membuatnya tidak mempunyai legitimasi di depan umat Islam secara umum di negara-negara timur tengah dan Asia Tenggara untuk memimpin gerakan pemikiran. Status dan resume hidupnya saja sudah cukup membuat beberapa elemen umat Islam resisten dengan gagasannya, bahkan sebelum ia memulai menyampaikannya. Berbeda halnya jika lahir seorang pemikir besar dari Mesir, atau Suriah. Walaupun begitu kalangan intelektual timur dan barat mengakui kapasitas dan gagasanya, dan cukuplah Tariq menjadi pembaharu untuk membawa perubahan signifikan bagi Eropa atau negara-negara barat secara khusus.

images

Narasi Global Umat – Part 6

imagesEROPA: KRISIS IDENTITAS DAN KEPANIKAN EKONOMI

Saya mengkhususnya pembahasan Eropa, karena ia sedang membuka peluang dakwah yang jauh lebih besar bagi para da’i dibandingkan kawasan lain seperti US.

Eropa sebetulnya belum lama bangkit dari kehancuran berkepingnya pasca Perang Dunia ke-2. Tapi salah satu kedahsyatan yang saat itu perlu menginspirasi gerakan Islam seluruh dunia adalah narasi besar persatuan eropa. Ia dimulai tahun 1951 dengan Coal and Steel Community antara Jerman, Perancis, Italia, Luxemburg, Belanda dan Belgia. Dan lihatlah tahun 1992, paguyuban bisnis itu bertransformasi dengan cepat menjadi aliansi kepentingan ekonomi-politik dalam European Union melalui perjanjian Maastricht.

Sistem yang berlaku di negara-negara eropa disebut dengan “welfare state” atau negara kesejahteraan. Pertama-tama diperkenalkan oleh negarawan Jerman Otto Von Bismarck yang menjadi kanselir pertamanya. Secara sederhana welfare state artinya negara menjamin kesejahteraan masyarakat di hampir seluruh sisi kehidupan. Konsep normatif welfare state dalam literature Islam ada dalam konsep baitul mal, yang di zaman Umar menjadi lumbung pengumpulan uang dari zakat untuk didistribusikan kepada kesehatan, pendidikan masyarakat, dll.

Terlepas dari klaim bahwa Otto von Bismarcht terinspirasi dari sejarah negeri-negeri Muslim di Afrika Utara dan Ustmaniyyah, yang penting welfare state adalah sebuah sistem distribusi sosial yang sejalan dengan esensi zakat yaitu “tu’khadzu min aghniyaaihim wa turadduuna ila fuqaraaihim” (diambil dari orang-orang kaya dan didistribusikan ke kalangan miskinnya).

Mekanisme welfare state Eropa adalah pemasukan yang sangat besar dari pajak. Lalu pendistribusiannya mengalir pada pendidikan yang gratis atau super murah, fasilitas kesehatan gratis, subsidi properti dan kebutuhan rumah tangga, jaminan masa tua, dll. Misalnya, jika seorang Jerman dipecat, maka ia akan mendapat subsidi penghasilan senilai 60% dari gaji terakhirnya selama 12-36 bulan. Di Denmark lebih tinggi lagi, sampai 90%.

Di sistem continental seperti Jerman, pemasukan negara dari pajak sekitar 45 %, sedang di negara-negara Skandinavia seperti Denmark, Swedia lebih tinggi lagi hingga mencapai 50%. Semakin tinggi tingkat pajak semakin mengalir deras subsidi pemerintah bagi masyarakat.

Sistem welfare state adalah sistem mapan yang jarang sekali politisi di Eropa yang mencoba menurunkannya. Membawa kampanye penurunan kesejahteraan sama dengan bunuh diri politik. Itu artinya welfare state adalah harga mati yang ongkosnya makin lama makin mahal. Pengeluaran semakin tinggi, sedang pemasukan belum tentu mengejar angka pengeluaran itu.

JEBAKAN WELFARE STATE DAN AKHLAK

Ada banyak faktor yang membuat Eropa merosot hari ini. Futuris seperti John Naisbit mengatakan setidaknya ada lima faktor. Yaitu pertama, beban pajak yang terlalu besar, pertumbuhan produktivitas yang lambat, undang-undang tenaga kerja yang ketat, penguasaan pasar yang terus merosot dan meningkatnya proteksionesmu, juga inovasi yang rendah senilai 1,9% dari APBN nya yang jauh dibawah US 2,6%.

Tapi ada satu faktor lain yang signifikan, dan sering absen dalam analisis para ilmuwan sosial Eropa. Yaitu akhlak. Umumnya tema akhlak tidak akan pernah masuk dalam diskursus ilmiah, bahkan jika kita sedang membahas krisis demografi-pun rekan-rekan akademia akan menghindari akhlak dan spiritualitas. Saya akan mengurainya.

Welfare state sangat mengandalkan sektor pajak, sehingga penurunan sumber-sumber pajak artinya penurunan modal untuk pembiayaan welfare state. Usia kerja produktif Eropa adalah 20-64 tahun. Eurostat’s demographic projections melaporkan bahwa angka ini akan terus merosot 0.4% setiap tahun mulai dari 2010 hingga 2040. Analisis European Commission menyimpulkan, kemerosotan pasti menahun ini akan terus mereduksi produktivitas perekonomian Eropa.

Artinya semakin sedikit generasi muda yang berada di usia produktif sedang jumlah generasi tua akan semakin menumpuk. Generasi muda produktif yang semakin berkurang juga artinya pengurangan jumlah pendapatan pajak dan generasi tua yang bertambah, artinya penambahan beban tanggunan negara untuk masa pensiun dan tunjangan kesehatan dan masa tua.

Para pemimpin, juga pemikir Eropa panik membaca fenomena ini. Fertility rate perempuan Eropa atau angka pertumbuhan penduduk Eropa di 27 negara hanya 1,59. Artinya satu pasangan keluarga, suami-isteri hanya mempunyai satu anak. Sedangkan angka minimal untuk kelangsungan generasi adalah 2. Seperti Indonesia yang mencapai angka 2.5 di tahun 2014, cukup bagus, sehingga menghasilkan apa yang sering ditunggu, bonus demografi. Bahkan di tahun 1960, angka pertumbuhan itu mencapai 5.7. Satu perempuan Indonesia, 5-6 anak.

Pertumbuhan populasi Eropa dalam satu generasi (25 – 30 tahunan) akan setengahnya dari orang tua mereka, dari dari jumlah tersebut, di 25-30 berikutnya akan tinggal seperempatnya dibanding kakek-nenek mereka. Hal inilah yang menyebabkan krisis demografi di Eropa.

Lalu, apa respon pemerintah? Umumnya solusi atas krisis ini dihadapi dengan solusi struktural yaitu pemberian insentif bagi setiap pasangan keluarga yang memproduksi anak. Di Perancis, setiap anak yang lahir mendapatkan tunjangan sekitar 180 € atau 2.5 juta rupiah tiap bulan selama 3 tahun. Jika di tahun ketiga mempunyai anak kedua, maka kedua anak tersebut mendapat tunjangan yang sama masing-masing sebanyak 180 € untuk tiga tahun berikutnya, begitupun untuk anak ketiga dan keempat. Sehingga mempunyai anak banyak adalah cara terbaik bagi para imigran untuk mencicil rumah.

Di Denmark, pemerintahnya mengeluarkan solusi yang lebih menunjukan keputusasaan, yaitu program ‘do it for Denmark’ dengan tagline “can sex save Denmark’s future?”. Negara memotivasi secara masif hubungan sex antar warganya untuk menghasilkan anak. Para pasangan akan dipilih untuk berliburan ke kota-kota paling romantik di dunia untuk memproduksi anak.

Setiap negara mempunyai kebijakan insentif yang berbeda untuk memotivasi pertumbuhan anak. Tapi saya melihat para analis Eropa gagal melihat akar masalahnya.

Pengalaman saya berinteraksi dengan masyarakat Eropa selama 4 tahun di Saint Etienne, Paris, Berlin dan Manchester membuat saya sadar akan masalah akhlak yang menjadi faktor krisis demografi.

Krisis pertumbuhan penduduk Eropa bukanlah masalah struktural tapi masalah budaya mendasar, atau way of life. Konsep seks bagi mereka adalah sex for pleasure, untuk kesenangan bukan seks produktif, seks untuk keturunan. Konsep seks mereka hari ini tidak dibungkus oleh institusi pernikahan. Maka pernikahan bukanlah syarat yang mereka butuhkan untuk mendapatkan seks, tidak seperti di timur tengah ataupun Indonesia.

Keluarga adalah mitsaq ghalizha atau ikatan yang kokoh, menurut al-Qur’an. Maka keluarga berarti sederet komitmen yaitu: komitmen untuk bertanggung jawab, kesetiaan, loyalitas para pasangan hidup, juga dari sisi seks, berarti loyalitas dengan partner seks seumur hidup, masih suka ataupun tidak. Puncak dari rasa komitmen seorang lelaki dan perempuan dalam pernikahan adalah anak-anak. Karena anak-anak adalah pengikat terkuat hubungan suami isteri selama puluhan tahun untuk konsisten menjalankan komitmen-komitmen diatas.

Inilah nilai-nilai akhak Qur’ani yang sangat mendasar, yang berat dijalankan oleh generasi muda Eropa hari ini. Mereka lebih memilih memelihara seekor anjing dibanding membesarkan anak. Budaya individualis, materialis, sex for pleasure sangat tidak kompatibel dengan akhlak mendasar soal berkeluarga.

Maka generasi muda kelas menengah dengan mentalitas seperti itu, tidak akan terpengaruh oleh solusi-solusi struktural pemerintah untuk memperbanyak anak. Kehidupan materialisme mereka berarti mengumpulkan uang, menikmatinya dengan pasangan, summer holiday lalu kembali menjalani rutinitas karir.

Masyarakat Eropa baru tersadarkan akan kesepian kehidupan modern umumnya di fase pasca kemapanan, 30-40 tahun. Sehingga di usia itulah mereka membina pernikahan ataupun membuat anak.

Tantangan LGBT adalah isu lain yang dihadapi Eropa. Dimulai dari Belanda yang melegalkan pernikahan sejenis, hingga menyebar ke Perancis dan negara-negara lain dan tetap mendapatkan resistensi dari beberapa negara. Dalam kontes ini mungkin argument HAM dan kebebasan yang digunakan dan bersaut-sautan di forum-forum mereka, melawan tradisi Kristen yang menentangnya. Namun apapun hasil yang diputuskan, tampaknya isu demografi, rate fertility dan kelangsungan welfare state seakan absen dalam debat-debat tersebut.

Alangkah benarnya nabi kita, bahwa akhlak adalah salah satu faktor terpenting kebangkitan dan kehancuran sebuah peradaban.

fall-of-rome_2184860b

Narasi Global Umat – Part 5

BARAT DAN MUSLIM EROPA

BARAT VS ISLAM MASIH RELEVANKAH?

Terminologi Barat semakin rancu hari ini dengan perubahan demografi. Karena ia barat sama sekali tidak menunjukan sebuah entitas geografis. Barat adalah terminologi ideologis rasis. Barat adalah entitas kulit putih yang mewarisi peradaban Yunani-Romawi dengan latar budaya Kristen (Katolik-Protestan). Maka bukan hanya Eropa yang menyematkan istilah ‘western’, tapi juga Australia dan New Zealand yang letak geografisnya di timur.

Orang Amerika serikat menyebut dirinya mereka barat tapi belum tentu orang Kuba atau Venezuela. Ras kulit putih di London dengan pasti akan menyebut dirinya the genuine western (orang barat murni) tapi generasi ketiga imigran Pakistan pasti sulit mendefinisikan dirinya sebagai western. Bagaimanapun terminologi tersebut menjadi perdebatan serius bagi para ilmuwan sosial terlebih terhadap perubahan demografi yang terjadi besar-besaran di negara-negara Eropa. Masyarakat Eropa mendapat tantangan serius untuk mendefinisikan identitas mereka hari ini.

Yang menjadi perhatian kita adalah konsep Barat bagi umat Islam yang mayoritas berada di timur tengah dan Asia Tenggara. Barat dalam Bahasa arab berarti “Gharb” atau tempat terbenamnya matahari. Orang asing atau orang aneh dalam literature Bahasa arab disebut “Gharib”. Pada perkembangannya, dalam sejarah peradaban Islam, pendefinisan “we” dan “other” sangat melekat dengan sejarah interaksi umat Islam yang berpusat di Madinah, kemudian Damaskus, kemudian Baghdad dan Istanbul, dengan umat yang dianggap “gharib” atau asing, yaitu kerajaan-kerajaan di Eropa. Interaksi itu pada faktanya adalah interaksi persaingan, permusuhan dan perang. Peperangan umat Islam dengan dengan kerajaan Roma, perang Salib di Syam, peperangan di Andalusia, juga perang era kolonialisme adalah sejarah panjang ketidak harmonisan yang berurat berakar juga terwariskan pada mindset jutaan umat manusia hari ini.

Hal inilah yang menyebabkan default pikiran umat Islam hari ini terhadap barat adalah ‘mereka itu orang lain’. Dan default pikiran orang barat dengan definisi tersebut diatas (Eropa, US, Australia) terhadap umat Islam bahwa ‘mereka itu orang lain diantara kita’. Dikotomi ini terlihat dimana-mana, misalnya saat kita mengatakan “pilih sistem Islam atau barat” atau “harmonisasi antara Islam dan barat”. Saat kita mengatakannya kita tidak sadar bahwa kita seakan sedang menjadikan Islam adalah agama timur, sedangkan barat sebagai objek asing untuk kita inflistrasi dengan Islam.

Padahal nilai Qur’ani selalu menekankan pada universalisme Islam “wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin” atau hadist Rasulullah yang mengatakan “la yablughanna hadzad diinu maa balughallailu wannahaar” (agama ini akan tersebar keseluruh penjuru seperti malam dan siang mencapai mereka).

Bahkan andaikan pun Rasulullah menyebutkan kalimat “gharb” negeri barat, itu sebagai penunjuk geografis dan tidak menjadikan Islam agama timur.

Lalu bagaimana dengan Cina? Ada 1.3 milyar penduduknya. Laporan the world fact book CIA, umat Islam di Cina mencapai 20 juta. Lebih banyak dari jumlah umat Islam di Malaysia yang berjumlah 17 juta.

Maka saat kita mengkomparasikan Islam dengan sebuah entitas geopolitik, Islam VS Cina, Islam VS Barat, maka kita sedang mengebiri Islam menjadi sebuah agama Timur Tengah. Dampak paling signifikan dari pandangan tersebut adalah umat Islam tidak akan mampu memberikan narasi besar di kawasan masing-masing lebih dari narasi yang diproduksi pemikir-pemikir muslim di timur tengah. Karena narasi Cina berarti asing, narasi Perancis berarti asing, narasi Amerika berarti asing.

Contoh sebuah gagasan yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk diterima negara-negara berpenduduk mayoritas muslim adalah demokrasi. Sejak zaman Rifa’at Thahthawi, seruan demokrasi sudah bersaut-sautan di timur tengah, tapi butuh satu abad hingga ide demokrasi mulai dilirik para pemikir muslim dan mendapat legitimasi ‘tidak bertentangan dengan Islam’. Hal itu disebabkan mindset berikut: gagasan dari barat berarti asing, dan asing berarti resistensi hingga manfaat gagasan itu dipaksa dirasakan oleh umat Islam.

Tapi saya melihat, kendala ini bukan hanya berakar dari ketidakjernihan membaca sejarah, tapi juga dari masalah pemahaman ‘Manhaj Tafkir fil Islam’ atau metodologi berfikir dalam Islam yang tidak matang.

Maka saat kita menggunakan kata ‘barat’, yang perlu kita maksud adalah sebuah entitas geografi yang kosong akan ideologi. Disanalah Islam mulai mengisinya dari dalam.

Bersambung

12250235_441916732660087_1679103426_o

Serial Pemuda

  1. Misi Pemuda klikdisini
  2. Garis Tanggung Jawab  klikdisini
  3. Mengukur Kesempatan klikdisini
  4. Kapasitas Diri klikdisini
  5. Rencana Kerja Unggulan klikdisini
  6. Pesan Kehidupan klikdisini
  7. Mengetuk pintu Sejarah klikdisini
  8. Membaca Realitas klikdisini
  9. Saringan Potensi klikdisini
  10. Syarat Peradaban klikdisini
  11. Rekontruksi Pikiran klikdisini
  12. Jeruji Tradisi klikdisini
  13. Kesamaran Mengecohkan klikdisini
  14. Timbangan Kebenaran klikdisini
  15. Ayat Cakrawala klikdisini
  16. Ilmu Kehidupan klikdisini

 

Turkish President Recep Tayyip Erdogan (R) and Chief of the General Staff of the Turkish Armed Forces Hulusi Akar (L) are driven in a car past Turkish soldiers during a ceremony marking the 92nd anniversary of Republic Day on October 29, 2015 at the Ataturk Cultural Center in Ankara. AFP PHOTO / ADEM ALTAN

Narasi Global Umat – Part 4

New Turkey

Perjalanan pergerakan di Mesir sangat berbeda dengan Turki dan AKP-nya. Diawali oleh Erbakan. Ia adalah sosok antagonis bagi militer Turki selama beberapa dekade. Erbakan mempunyai pandangan dakwah yang tegas, pilih Islam atau sekuler. Sehingga tema dakwah jama’ah Millî Görüş atau Visi Nasional, adalah perlawanan terhadap sekularisme. Erbakan mempunyai tipikal strategi yang mirip dengan IM Mesir, sehingga inilah salah satu alasan IM tidak membuka cabang struktural di Turki, karena Millî Görüş dianggap representatif sebagai lokomotif gerakan Islam.

Satu yang paling ditakuti kekuatan deep state* turki adalah perlawanan sistematis Erbakan terhadap sekularisme. Sedangkan bagi penguasa barat adalah Erbakan sangat dianggap berbahaya karena ia menggagas aliansi strategis ekonomi yang bernama D-8 terdiri dari Turki, Indonesia, Mesir, Bangladesh, Pakistan, Nigeria, Malaysia dan Iran. Aliansi ini jauh lebih potensial dibanding OPEC. Sebagian menganggap narasi besar Erbakan adalah peluang tumbuhnya lagi soliditas umat Islam melalui negara-negara tersebut. Terlebih sikap Erbakan terhadap Zionis sangat tegas sehingga siapapun yang mulai menyentuh tema Palestina, akan dianggap musuh bersama kekuatan besar barat loyalis Israel.

Maka berakhirlah nasib sang arsitek yang mengambil dua kali PhD, satu di Aachen University dalam mechanical engineering dan PhD di King Saud University dalam Islamic Studies. Erbakan berkali-kali digulingkan, dan partainya berkali-kali dibredel, dari mulai Leader of the National Order Party (MNP), Leader of the National Salvation Party (MSP), Welfare Party (Refah Partisi), Felicity Party (SP).

Erdogan, murid Erbakan mempunyai strategi lain dengan AKP-nya. Ia datang dengan narasi yang benar-benar baru. Yaitu membangun kekuatan ekonomi Turki dari dalam sistem yang ada, baik sistem Turki ataupun Uni Eropa. Maka ia menerima sistem sekularisme Turki, menerima penghapusan hukuman mati sebagai salah satu syarat ketergabungan dengan Uni Eropa juga menegaskan tidak akan membawa ide negara islam.

Sebagian melihat bahwa semua itu hanyalah trik sementara Erdogan yang akan segera berganti saat ia menguasai Turki sehingga ideologi Erbakanlah yang kemudian menggantikan. Tapi bagi saya itu bukanlah trik, ataupun strategi pemenangan pemilu. Tapi Erdogan mempunyai grand narrative yang benar-benar baru, hasil pembacaannya terhadap realitas geopolitik Turki, Eropa juga dunia.

Ia tidak memaksakan seperangkat Qur’an untuk diinstutionalisasi dalam wadah yang bernama negara. Pengalaman Erbakan cukup memberi dia bukti bahwa kebenaran tidak selalu menang jika kendaraan tidak sesuai dengan tipe jalur yang dilalui. Maka ketimbang menentang sekularisme, Erdogan bermain dengan sekularisme. Ia memasuki sistem tersebut, foto Mustafa Kemal masih terpajang di kantor-kantor resmi pemerintahan seluruh Turki, sekularisme Turki ia lindungi, militer ia rangkul sehingga syarat pertama pertumbuhan ekonomi ia pastikan terlebih dahulu yaitu: stabilitas politik dalam negeri.

Perlu riset mendalam tentang diskursus antara Islam dan sekularisme dalam konteks Turki, dalam forum ilmiah, karena ia tidak bisa dipandang dengan pendangan simplistik atau membacanya dari kaca mata Hasan al-Banna yang tumbuh dalam konteks penjajahan Inggeris di Mesir, apalagi Sayyid Quthb yang saat itu berada dalam penjara.

Saat berinteraksi dengan sekularisme, saya tidak tahu apa yang ada di dalam hati Erdogan atau benak sang pemikir utama AKP, Dawud Oglu, tapi saya bisa mengangkap kebesaran narasi mereka untuk memperjuangkan Islam. Bukan melihat dari akhlak mereka, seperti yang sering dilakukan beberapa aktivis untuk membanggakan seorang pemimpin muslim modern. Tapi bagaimana dia berinteraksi dengan Gülen movement pimpinan Fethullah Gülen. Gülen movement adalah gerakan sosial spiritual yang tidak menyentuk politik. Mereka mirip dengan Muhammadiyyah atau NU dengan puluhan ribu sekolah di Turki juga seluruh dunia.

Gülen movement memastikan peningkatan spiritualitas masyarakat Turki yang tidak mungkin dikerjakan AKP secara frontal dalam sistem yang sekular.

Namun belakangan ini, Gülen dianggap menjadi dalang dari percobaan kudeta terhadap Erdogan. Terlepas dari fakta ataupun analisis terhadap kejadian kudeta terakhir, saya melihat bahwa kita perlu jeli memisahkan antara personal Gülen dengan corak keislaman yang dibawa organisasinya, yang notabene banyak mengadopsi spirit Said Nursi. Yang disebut terakhir ini, saya kira yang menjadi alasan kerja sama AKP dengan Gülen di awal-awal pemerintahan mereka sampai konflik politik dan kepentingan terjadi antara mereka. Walaupun ada sebagian yang menganggap bahwa Gülen telah membajak kemurnian ajaran Said Nursi.

Pernah terjadi beberapa usaha kudeta terhadap Erdogan sebelum kudeta Gülen, tapi justru para jenderal-lah yang ia tangkapi dengan tuduhan makar terhadap keutuhan Turki. Hal ini sebaliknya dengan apa yang terjadi di Mesir. Itu karena militer sudah berada di saku Erdogan. Saat standar stabilitas itu memadai, maka AKP mulai membuktikan janji-janji politiknya berupa membangun civil state (negara madani) dengan core agenda pembangunan ekonomi yang mengikuti global economic order. Semua syarat ekonomi Uni Eropa ia jalani untuk memastikan Turki bergabung dengan Uni Eropa. Tapi yang menarik bagi saya adalah mentalitas Erdogan untuk memasuki Uni Eropa. Bukanlah mentalitas pengemis yang menjadi objek dan berharap mencicipi kesejahteraan Eropa, tapi sebagai subjek, pemain ekonomi baru yang melihat Eropa seperti pasar untuk mereka taklukan. Terlebih Turki sebagai negara tidak mempunyai pengalaman dijajah negeri-negeri Eropa seperti Arab, namun justru sebaliknya. Sisa-sisa peradaban daulah Ustmaniyyah sangat terasa di negara Bulgaria, Kosovo, Bosnia, Rumania, bahkan hingga Austria.

Bentuk pembangunan ekonomi ekspansif itu lebih terlihat saat Turki mulai membangun deal-deal ekonomi dengan negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina).

Inilah kekhawatiran terbesar kompetitor ekonomi Turki, khususnya negara-negara Eropa. Oleh karena itu Turki akan terus digoncang oleh siapapun yang berkepentingan. Keamanannya akan terus dikoyak. Bom-bom akan terus meledak. Karena syarat pertama untuk pertumbuhan ekonomi harus dihilangkan dari negara tersebut, yaitu stabilitas dalam negeri. Inilah tantangan terkini Turki dengan narasi kekuatan baru Ekonomi umat. Setidaknya, mereka mempunyai narasi yang jelas. Pertarungan mereka adalah pertarungan mempertahankan ritme kemenangan

* Deep state atau derin devlet adalah gerakan bawah tanah Turki atau masyarakat elit rahasia yang sudah ada sejak sultan Selim III (1789–1807) yang berisikan militer, pakar hukum, intelijen, dan mafia. Mereka sering disebut dengan negara didalam negara. Ideologi mereka adalah ultra nasionalust, yang di era Turki modern ini menjadi penjaga terdepan sekularisme Turki.