2013-06-25_130249

Narasi Global Umat – Part 8

2013-06-25_130249TREND BARU DUNIA DAN PELUANG NARASI KITA

Pengetahuan kita seperti membuat bola kecil dengan tanah liat. Setiap datang pengetahuan baru saat itulah kita menempelkan tanah liat ke bola tersebut untuk memperbesarnya. Begitulah pengetahuan akumatif manusia membesar seperti bola tersebut.

Era digital abad 21 ini membuat ukuran bola pengetahuan itu membengkak luar biasa. Arus informasi membuat kita mengetahui apa yang ada di kutub dengan instan atau orang di pegunungan Tibet bisa mengetahui kemacetan saat kita mudik dengan seketika. Rahasia-rahaisa pun terkuak, dokumen-dokumen resmi tersembunyi kian banyak diakses publik. Organisasi-organisasi sejenis Wikileaks berjamuran, dan kunci-kunci kekuatan insitusi-insitusi besar semakin mudah diakses para pengejar informasi yang bersedia dibayar beberapa dolar oleh pihak yang berkepentingan.

Di bagian ini saya ingin berbagi tentang paradigma-paradigma baru pergerakan dan penyusunan kekuatan.

NEGARA BANGSA KE JARINGAN STRATEGIS

Peace of Westphalia adalah perjanjian damai di tahun 1648 setelah 80 tahun perang antara Spanyol, Belanda dan Jerman. Pengaruh penting perjanjian ini bagi kehidupan antar bangsa adalah kejelasan wilayah otoritas setiap kerajaan yang kemudian diadopsi menjadi doktrin Westphalian Sovereignity. Hal inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan negara modern di Eropa dengan berbagai basis teori sosialnya.

Berdirinya negara-negara modern Eropa menandai pemusatan kekuatan pada institusi negara. Di abad pertengahan keluarga-keluarga kaya Eropa seperti Medici, Rotschild menghegemoni kekuasaan sebuah negeri, dengan mendompleng raja dalam sistem aristokrasi. Namun dalam nation-state segala unsur keuatan dihegemoni negara, terutama legitimasi penggunaaan kekerasan seperti definisi negara-nya Max Weber.

Pasca keruntuhan daulah Ustmaniyyah, negeri-negeri muslim berjuang memerdekakan diri untuk menjadi negara bangsa yang mandiri. Sedang di Eropa terjadi dua perang besar, yaitu PD-1 dan 2. Periode 1910-1945, setiap negara sedang mengarah menjadi ultranasionalis.

Dalam konteks seperti itulah Imam Hasan al-Banna merumuskan narasi besarnya sebagai respon atas tantangan zaman. Yaitu narasi yang bisa dirangkum dengan tujuh tahapan:

1. Pembinaan pribadi muslim

2. Membangun keluarga islami

3. Membimbing Keluarga

4. Memperbaiki pemerintahan

5. Mengembalikan Kekhilafahan

6. Merealisasikan kepemimpinan global

7. Mendeklarasikan Islam sebagai guru peradaban

Hasan al-Banna sendiri belum mencapai tahapan keempat dengan optimal karena peluru lebih mendului syahidnya. Maka tidak ada warisan fiqh politik yang memadai dalam literature pergerakan Islam IM, bahkan juga pergerakan-pergerakan lain.

Poin yang ingin saya bedah terlebih pada konteks negara bangsa yang meliputi pandangan perjuangan Hasan al-banna di masanya.

Negara bangsa adalah unsur kekuatan terpenting dalam perkumpulan manusia saat itu. Oleh karena itu Hasan al-Banna sangat menaruh perhatian besar pada pengusaan negara. Point nomor empat adalah inti perjuangan gerakan Islam yang terinspirasi IM di berbagai negara. Point 1, 2, 3 hanyalah supporting sistem untuk memastikan aktivis Islam menguasasi peran penting dalam pemerintahan. Dan bagi al-Banna point 5,6,7 adalah agenda yang mutlak hanya bisa dilakukan jika negara sudah dipegang.

Namun hari ini negara-bangsa sebagai entitas terkuat perkumpulan manusia diperdebatkan, khususnya di kalangan pengkaji International Relations. Global Governance adalah salah satu kajian penting dalam tema International Relations.

Pembahasan Global Governance atau pemerintahan global memberikan kita kesadaran bahwa hari ini terjadi power shifting. Beberapa negara tetap merupakan pemain global yang sangat berpengaruh. Terutama negara-negara raksasa seperti US, Russia, China, atau Indonesia. Tapi negara tidak selalu menjadi entitas terkuat. Karena ada aktor-aktor lain yang terkadang mempunyai pengaruh jauh lebih besar dibanding negara. Misalnya, multinational corporation seperti Apple yang mempunyai penghasilan 53 milyar dolar, lebih besar dari pendapatan perkapita Lebanon, Tunisia, Jordan, Bahrain, Paraguay ataupun Bolivia. Ada actor-aktor besar UN, aliansi strategis BRICs (Brazil, Rusia, India dan Cina). Ada NGO-NGO internasional, lembaga-lembaga Think Tanks dan Global Policy Network dan Private Military dan Security Company.

Para aktor global itu mempunyai sistem, aset kekuatan dan agenda sendiri. Yang selama ini tidak mendapat perhatian sebesar perhatian gerakan Islam pada institusi negara.

TNC (Trans National Corporation) atau perusahaan multinasional adalah imperium lama yang transparansi kekayaannya diketahui publik hari ini. Berbeda dengan bisnis-bisnis kaya abad 15-18 yang bisnisnya tertutup dan tidak akuntabel. East India Company milik Inggeris dan VOC Belanda adalah contoh dari TNC yang bisnisnya tidak akuntabel, dari segi administrasi ataupun etika. Terutama era kolonialisasi adalah era dimana TNC menjadi kekuatan utama ekonomi negara.

Tapi TNC hari ini bisa dibaca publik. Potensi yang mereka punya bisa menghancurkan negara tertentu jika mereka mau. Perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia, ataupun perusahaan-perusahaan energi pada dasarnya tidak akan peduli dengan nasib lingkungan sebuah negara ataupun nasib generasi mendatang negara tersebut. Hegemoni perusahaan-perusahaan minyak di negara-negara petromonarki seperti Kuwait, Uni Emirates, Saudi Arabia, sangat mencengkram. Maka jika, misalnya seorang pemikir mencoba merumuskan narasi besar untuk kawasan teluk, maka sudah saatnya mereka berfikir bahwa prioritas aktivis dakwah adalah mendirikan perusahaan minyak milik aktivis Islam yang selevel dengan Saudi Aramco, Total, Royal Dutch Shell, atau Exxon Mobil.

Loyalitas TNC adalah uang, atau apapun yang diinginkan pemiliknya. Maka bisa jadi aktivis Islam berhasil mem-‘futuh’-kan dakwah sebuah negara seperti Saudi atau Qatar dengan mengisi pos-pos penting pemerintahan. Lalu apa yang akan mereka lakukan terhadap minyak yang mereka punya jika memang kapasitas aktivis gerakan Islam belum mampu membangun sebuah imperium perusahaan minyak? Apakah betul konflik-konflik horizontal yang ada di kawasan petromonarki karena alasan ideologis ataupun madzhab? Ataukah ada kepentingan minyak disana? Apakah betul berkembangnya salafi di Saudi murni karena kekuatan dakwah salafi ataukah ada kepentingan minyak hasil riset mendalam tentang sosio-kultural masyarakat Saudi? Maka narasi dakwah disana perlu perenungan mendalam dan pemikiran yang luas berbasis fakta realita kontemporer. Dimanakah letak medan yang perlu diperebutkan?

Perusahaan minyak hanyalah salah satu contoh, diantara contoh yang terlalu banyak tentang real power yang dikuasai TNC, seperti Apple, Samsung yang menguasasi alat komunikasi kita, atau Google yang merekam semua aktvitas online kita, atau provider email (yahoo, outlook) yang mengarsipkan semua korespondensi kita, dari yang personal hingga aktivitas super rahasia yang strategis dalam dakwah. Atau Unilever yang mengendalikan nutrisi kita.

Paradigma ini perlu melengkapi manhaj dakwah pergerakan Islam. Memang ide Hasan al-Banna adalah state oriented, tapi tidak harus paradigma ini menjadi titik tolak perumusan narasi nasional gerakan dakwah hari ini. Karena Imam Syahid menghadapi konsteks yang sama sekali berbeda. Justru kewajiban umat Islam khususnya aktivis pergerakan untuk selalu memetakan kerumitan konstelasi global dan nasional dengan jeli agar ktia berebut pos-pos yang lebih strategis sesuai dengan konteks geopolitik masing-masing.

Masih banyak aktor-aktor lain yang lebih dahsyat dari TNC dalam mengendalikan hidup kita disadari ataupun tidak, yang akan saya bahas di tulisan berikutnya.

download

Narasi Global Umat – Part 7

DEMOGRAFI DAN IDENTITAS

Krisis demografi akibat pertumbuhan penduduk ras putih eropa itu mendapatkan tantangan lain. Yaitu pertumbuhan imigran. Mayoritas imigran di Perancis adalah dari Maroko, Aljazair, Tunisia dan negara-negara Afrika yang dulu mereka jajah. Sedangkan Inggeris dipenuhi oleh imigran Pakistan, India dan Bangladesh. Adapun Jerman dengan imigran Turkinya.

Para imimgran ini membawa nilai yang berbeda dari negara yang mereka tinggali sekarang. Mereka mempunyai tradisi keluarga yang lebih kuat, walaupun hari ini semakin terkikis. Juga pada dasarnya tidak mempunyai trauma mentalitas tanggung jawab keluarga dan anak.

Entitas Arab, Turki, Pakistan, Bangladesh atau India gemar membuat anak. Di Perancis, angka pertumbuhan imigran Turki adalah 3.21, Aljazair 2.57, Maroko 2.97, Tunisia 2.9. Di UK angka rata-rata pertumbuhan itu 1.82 sedangkan di kota-kota yang dipenuhi para imigran angka itu mencapai 2.34.

Angka-angka tersebut tidak hanya menunjukan perubahan demografi, tapi juga perubahan sirkulasi uang. Dengan sistematika yang telah dijelaskan sebelumnya, banyak anak berarti banyak generasi muda, yang berarti generasi tenaga kerja. Generasi tenaga kerja lah yang menyerap uang sebuah negara. Itulah sebabnya nasib imigran generasi pertama yang datang dengan alakadarnya semakin membaik di generasi kedua dan ketiga. Sekarang generasi ketiga memasuki mid-management di lapangan kerja Eropa. Beberapa warga keturunan bahwan menjadi pemimpin komunitas hingga kota besar, seperti walikota Oxford, Lord Abbasi dan walikota London Sadiq Khan.

Perubahan ini mengaburkan identitas Eropa sebagai western, dengan definisi yang telah dijelaskan sebelunya. Tradisi Kristen mereka kian terkikis digantikan Ateisme, dan jumlah umat Islam yang dilahirkan di Eropa kian melonjak. Inilah kira-kira yang melatari berbagai skenario yang mendiskreditkan imigran (muslim), termasuk parade bom di kota-kota besar Eropa. Gelombang anti imigran sedang dibangkitkan sehingga mereka merasa tidak nyaman berada di Eropa.

Pendorong terbesar Brexit adalah krisis demografi ini. Mereka ingin merebut kembali posisi-posisi sosial dan karir yang dianggap selama ini diisi para imigran baik imigran Eropa ataupun imigran non Eropa yang masuk UK setelah menjadi warga negara Eropa. Tapi efek domino Brexit ini akan dahsyat. Karena ia akan memicu keluarga negara-negara eropa lain dari Uni Eropa, yang merupakan kekuatan pemersatu di hadapan Amerika, Rusia dan Cina.

 

MUSLIM EROPA

Mentalitas para imigran muslim di Eropa generasi pertama adalah seperti umumnya imigran di seluruh dunia. Mereka datang sebagai tamu, karena membantu bangsa Eropa dalam perang dunia ke-2 atau membantu membangun infrastruktur pasca perang, ataupun berbagai alasan lain. Sayangnya mentalitas ini terus diturunkan ke generasi ke dua dan ke tiga (hari ini).

Mentalitas itu membuat umat Islam di Eropa merasa sebagai orang asing yang menuntut perlakuan sama, sebagai warga negara, dan merasa perlu membuktikan diri bahwa mereka tidak berbeda dengan warga asli. Mereka perlu menunjukan bahwa mereka juga mempunyai skil, talenta, memahami bahasa juga budaya setempat untuk mendapat perlakuan sebagai warga yang setara.

Dalam kehidupan keislaman, mentalitas seperti itu membuat mereka begitu defensif dengan keislaman mereka. Mempertahankan ibadah di tengah masyarakat materialis, sampai mengisolasi diri dan mencukupkan hidup selama bisa mendirikan masjid, membuka toko makanan halal dan bisa memakai jilbab.

Seorang pembaharu hadir untuk menawarkan narasi baru, yaitu Tariq Ramadan cucu Hasan al-banna. Ia banyak dikritik oleh umat Islam sendiri karena tidak membai’at diri menjadi anggota IM bentukan kakeknya, dan tidak meneruskan narasi yang dibawa al-Banna. Tapi justru Tariq Ramadan menjawab bahwa mentalitas kakeknya lah yang ia bawa dalam dakwah internasionalnya. Yaitu mentalitas pembaharu. Artinya ia membaca tren zaman, membuka lembaran-lembaran laporan tentang tantangan geopolitik dimana dia dilahirkan (Swiss) tinggal dan tumbuh, yaitu Eropa.

Maka Tariq Ramadan datang dengan sebuah gagasan Muslim Eropa, bukan imigran yang mencoba bergabung dengan masyarakat Eropa. Gagasan ini melampaui diskursus Islam VS Barat. Karena dengan narasinya, ia membuka perspektif baru bahwa Barat adalah lahan kosong, milik bersama, siapapun yang lahir dan tinggal disana, dan menolak definisi Barat secara ideologis.

Gagasan ini mempunyai pengaruh yang mendasar dalam perubahan pola pikir umat Islam di Eropa dari imigran yang meminta kesetaraan menjadi mentalitas pemilik asli kawasan yang mencoba memimpin kaumnya, atau setidaknya mewarnainya dengan nilai Islam.

Gagasan praktisnya adalah Islam and Ethics. Bahwa muslim perlu percaya diri sebagai anak-anak asli negerinya di berbagai negara Eropa untuk masuk berpartisipasi dalam masyarakat, membina diri dengan pendidikan tertinggi, dan menempati posisi-posisi paling berpengaruh di strata sosial untuk satu tujuan, yaitu mewarnai kehidupan Eropa yang telah kehilangan etika di berbagai bidang dengan nilai Islam.

Strategi yang ia lakukan bukanlah membuat gerakan seperti kakeknya, karena itu tidak memungkinkan di Eropa. Tapi ia membangun komunitas elit intelektual yang berpengaruh dan mempunyai bargaining position kuat di depan para pemimpin komunitas muslim di Eropa, para intelektual universitas-universitas besar barat, hingga di depan para pemimpin gerakan Islam di timur tengah. Ia sendiri adalah Profesor Contemporary Islamic Studies di Univesitas Oxford. Gerakan intelektual yang ia bangun diwadawi oleh CILE (Center for Islamic Legalislation and Ethics).

Tariq Ramadan adalah tipikal pemikir muslim yang kokoh dalam basis pengetahuan, bermodalkan Bahasa Perancis, Inggeris dan Arab yang sempurna. Lalu pendidikan humaniora Universitas Barat dan talaqqi tradisional di Al-Azhar Cairo. Maka tools itu adalah bahan dasar yang memadai untuk membaca nafas zaman lalu merumuskan narasi besar yang dibutuhkan kemanusiaan.

Tariq Ramadan pada dasarnya mempunyai tawaran narasi global untuk umat Islam, namun menurut saya posisinya sebagai lelaki yang lahir dan besar di barat membuatnya tidak mempunyai legitimasi di depan umat Islam secara umum di negara-negara timur tengah dan Asia Tenggara untuk memimpin gerakan pemikiran. Status dan resume hidupnya saja sudah cukup membuat beberapa elemen umat Islam resisten dengan gagasannya, bahkan sebelum ia memulai menyampaikannya. Berbeda halnya jika lahir seorang pemikir besar dari Mesir, atau Suriah. Walaupun begitu kalangan intelektual timur dan barat mengakui kapasitas dan gagasanya, dan cukuplah Tariq menjadi pembaharu untuk membawa perubahan signifikan bagi Eropa atau negara-negara barat secara khusus.

images

Narasi Global Umat – Part 6

imagesEROPA: KRISIS IDENTITAS DAN KEPANIKAN EKONOMI

Saya mengkhususnya pembahasan Eropa, karena ia sedang membuka peluang dakwah yang jauh lebih besar bagi para da’i dibandingkan kawasan lain seperti US.

Eropa sebetulnya belum lama bangkit dari kehancuran berkepingnya pasca Perang Dunia ke-2. Tapi salah satu kedahsyatan yang saat itu perlu menginspirasi gerakan Islam seluruh dunia adalah narasi besar persatuan eropa. Ia dimulai tahun 1951 dengan Coal and Steel Community antara Jerman, Perancis, Italia, Luxemburg, Belanda dan Belgia. Dan lihatlah tahun 1992, paguyuban bisnis itu bertransformasi dengan cepat menjadi aliansi kepentingan ekonomi-politik dalam European Union melalui perjanjian Maastricht.

Sistem yang berlaku di negara-negara eropa disebut dengan “welfare state” atau negara kesejahteraan. Pertama-tama diperkenalkan oleh negarawan Jerman Otto Von Bismarck yang menjadi kanselir pertamanya. Secara sederhana welfare state artinya negara menjamin kesejahteraan masyarakat di hampir seluruh sisi kehidupan. Konsep normatif welfare state dalam literature Islam ada dalam konsep baitul mal, yang di zaman Umar menjadi lumbung pengumpulan uang dari zakat untuk didistribusikan kepada kesehatan, pendidikan masyarakat, dll.

Terlepas dari klaim bahwa Otto von Bismarcht terinspirasi dari sejarah negeri-negeri Muslim di Afrika Utara dan Ustmaniyyah, yang penting welfare state adalah sebuah sistem distribusi sosial yang sejalan dengan esensi zakat yaitu “tu’khadzu min aghniyaaihim wa turadduuna ila fuqaraaihim” (diambil dari orang-orang kaya dan didistribusikan ke kalangan miskinnya).

Mekanisme welfare state Eropa adalah pemasukan yang sangat besar dari pajak. Lalu pendistribusiannya mengalir pada pendidikan yang gratis atau super murah, fasilitas kesehatan gratis, subsidi properti dan kebutuhan rumah tangga, jaminan masa tua, dll. Misalnya, jika seorang Jerman dipecat, maka ia akan mendapat subsidi penghasilan senilai 60% dari gaji terakhirnya selama 12-36 bulan. Di Denmark lebih tinggi lagi, sampai 90%.

Di sistem continental seperti Jerman, pemasukan negara dari pajak sekitar 45 %, sedang di negara-negara Skandinavia seperti Denmark, Swedia lebih tinggi lagi hingga mencapai 50%. Semakin tinggi tingkat pajak semakin mengalir deras subsidi pemerintah bagi masyarakat.

Sistem welfare state adalah sistem mapan yang jarang sekali politisi di Eropa yang mencoba menurunkannya. Membawa kampanye penurunan kesejahteraan sama dengan bunuh diri politik. Itu artinya welfare state adalah harga mati yang ongkosnya makin lama makin mahal. Pengeluaran semakin tinggi, sedang pemasukan belum tentu mengejar angka pengeluaran itu.

JEBAKAN WELFARE STATE DAN AKHLAK

Ada banyak faktor yang membuat Eropa merosot hari ini. Futuris seperti John Naisbit mengatakan setidaknya ada lima faktor. Yaitu pertama, beban pajak yang terlalu besar, pertumbuhan produktivitas yang lambat, undang-undang tenaga kerja yang ketat, penguasaan pasar yang terus merosot dan meningkatnya proteksionesmu, juga inovasi yang rendah senilai 1,9% dari APBN nya yang jauh dibawah US 2,6%.

Tapi ada satu faktor lain yang signifikan, dan sering absen dalam analisis para ilmuwan sosial Eropa. Yaitu akhlak. Umumnya tema akhlak tidak akan pernah masuk dalam diskursus ilmiah, bahkan jika kita sedang membahas krisis demografi-pun rekan-rekan akademia akan menghindari akhlak dan spiritualitas. Saya akan mengurainya.

Welfare state sangat mengandalkan sektor pajak, sehingga penurunan sumber-sumber pajak artinya penurunan modal untuk pembiayaan welfare state. Usia kerja produktif Eropa adalah 20-64 tahun. Eurostat’s demographic projections melaporkan bahwa angka ini akan terus merosot 0.4% setiap tahun mulai dari 2010 hingga 2040. Analisis European Commission menyimpulkan, kemerosotan pasti menahun ini akan terus mereduksi produktivitas perekonomian Eropa.

Artinya semakin sedikit generasi muda yang berada di usia produktif sedang jumlah generasi tua akan semakin menumpuk. Generasi muda produktif yang semakin berkurang juga artinya pengurangan jumlah pendapatan pajak dan generasi tua yang bertambah, artinya penambahan beban tanggunan negara untuk masa pensiun dan tunjangan kesehatan dan masa tua.

Para pemimpin, juga pemikir Eropa panik membaca fenomena ini. Fertility rate perempuan Eropa atau angka pertumbuhan penduduk Eropa di 27 negara hanya 1,59. Artinya satu pasangan keluarga, suami-isteri hanya mempunyai satu anak. Sedangkan angka minimal untuk kelangsungan generasi adalah 2. Seperti Indonesia yang mencapai angka 2.5 di tahun 2014, cukup bagus, sehingga menghasilkan apa yang sering ditunggu, bonus demografi. Bahkan di tahun 1960, angka pertumbuhan itu mencapai 5.7. Satu perempuan Indonesia, 5-6 anak.

Pertumbuhan populasi Eropa dalam satu generasi (25 – 30 tahunan) akan setengahnya dari orang tua mereka, dari dari jumlah tersebut, di 25-30 berikutnya akan tinggal seperempatnya dibanding kakek-nenek mereka. Hal inilah yang menyebabkan krisis demografi di Eropa.

Lalu, apa respon pemerintah? Umumnya solusi atas krisis ini dihadapi dengan solusi struktural yaitu pemberian insentif bagi setiap pasangan keluarga yang memproduksi anak. Di Perancis, setiap anak yang lahir mendapatkan tunjangan sekitar 180 € atau 2.5 juta rupiah tiap bulan selama 3 tahun. Jika di tahun ketiga mempunyai anak kedua, maka kedua anak tersebut mendapat tunjangan yang sama masing-masing sebanyak 180 € untuk tiga tahun berikutnya, begitupun untuk anak ketiga dan keempat. Sehingga mempunyai anak banyak adalah cara terbaik bagi para imigran untuk mencicil rumah.

Di Denmark, pemerintahnya mengeluarkan solusi yang lebih menunjukan keputusasaan, yaitu program ‘do it for Denmark’ dengan tagline “can sex save Denmark’s future?”. Negara memotivasi secara masif hubungan sex antar warganya untuk menghasilkan anak. Para pasangan akan dipilih untuk berliburan ke kota-kota paling romantik di dunia untuk memproduksi anak.

Setiap negara mempunyai kebijakan insentif yang berbeda untuk memotivasi pertumbuhan anak. Tapi saya melihat para analis Eropa gagal melihat akar masalahnya.

Pengalaman saya berinteraksi dengan masyarakat Eropa selama 4 tahun di Saint Etienne, Paris, Berlin dan Manchester membuat saya sadar akan masalah akhlak yang menjadi faktor krisis demografi.

Krisis pertumbuhan penduduk Eropa bukanlah masalah struktural tapi masalah budaya mendasar, atau way of life. Konsep seks bagi mereka adalah sex for pleasure, untuk kesenangan bukan seks produktif, seks untuk keturunan. Konsep seks mereka hari ini tidak dibungkus oleh institusi pernikahan. Maka pernikahan bukanlah syarat yang mereka butuhkan untuk mendapatkan seks, tidak seperti di timur tengah ataupun Indonesia.

Keluarga adalah mitsaq ghalizha atau ikatan yang kokoh, menurut al-Qur’an. Maka keluarga berarti sederet komitmen yaitu: komitmen untuk bertanggung jawab, kesetiaan, loyalitas para pasangan hidup, juga dari sisi seks, berarti loyalitas dengan partner seks seumur hidup, masih suka ataupun tidak. Puncak dari rasa komitmen seorang lelaki dan perempuan dalam pernikahan adalah anak-anak. Karena anak-anak adalah pengikat terkuat hubungan suami isteri selama puluhan tahun untuk konsisten menjalankan komitmen-komitmen diatas.

Inilah nilai-nilai akhak Qur’ani yang sangat mendasar, yang berat dijalankan oleh generasi muda Eropa hari ini. Mereka lebih memilih memelihara seekor anjing dibanding membesarkan anak. Budaya individualis, materialis, sex for pleasure sangat tidak kompatibel dengan akhlak mendasar soal berkeluarga.

Maka generasi muda kelas menengah dengan mentalitas seperti itu, tidak akan terpengaruh oleh solusi-solusi struktural pemerintah untuk memperbanyak anak. Kehidupan materialisme mereka berarti mengumpulkan uang, menikmatinya dengan pasangan, summer holiday lalu kembali menjalani rutinitas karir.

Masyarakat Eropa baru tersadarkan akan kesepian kehidupan modern umumnya di fase pasca kemapanan, 30-40 tahun. Sehingga di usia itulah mereka membina pernikahan ataupun membuat anak.

Tantangan LGBT adalah isu lain yang dihadapi Eropa. Dimulai dari Belanda yang melegalkan pernikahan sejenis, hingga menyebar ke Perancis dan negara-negara lain dan tetap mendapatkan resistensi dari beberapa negara. Dalam kontes ini mungkin argument HAM dan kebebasan yang digunakan dan bersaut-sautan di forum-forum mereka, melawan tradisi Kristen yang menentangnya. Namun apapun hasil yang diputuskan, tampaknya isu demografi, rate fertility dan kelangsungan welfare state seakan absen dalam debat-debat tersebut.

Alangkah benarnya nabi kita, bahwa akhlak adalah salah satu faktor terpenting kebangkitan dan kehancuran sebuah peradaban.

fall-of-rome_2184860b

Narasi Global Umat – Part 5

BARAT DAN MUSLIM EROPA

BARAT VS ISLAM MASIH RELEVANKAH?

Terminologi Barat semakin rancu hari ini dengan perubahan demografi. Karena ia barat sama sekali tidak menunjukan sebuah entitas geografis. Barat adalah terminologi ideologis rasis. Barat adalah entitas kulit putih yang mewarisi peradaban Yunani-Romawi dengan latar budaya Kristen (Katolik-Protestan). Maka bukan hanya Eropa yang menyematkan istilah ‘western’, tapi juga Australia dan New Zealand yang letak geografisnya di timur.

Orang Amerika serikat menyebut dirinya mereka barat tapi belum tentu orang Kuba atau Venezuela. Ras kulit putih di London dengan pasti akan menyebut dirinya the genuine western (orang barat murni) tapi generasi ketiga imigran Pakistan pasti sulit mendefinisikan dirinya sebagai western. Bagaimanapun terminologi tersebut menjadi perdebatan serius bagi para ilmuwan sosial terlebih terhadap perubahan demografi yang terjadi besar-besaran di negara-negara Eropa. Masyarakat Eropa mendapat tantangan serius untuk mendefinisikan identitas mereka hari ini.

Yang menjadi perhatian kita adalah konsep Barat bagi umat Islam yang mayoritas berada di timur tengah dan Asia Tenggara. Barat dalam Bahasa arab berarti “Gharb” atau tempat terbenamnya matahari. Orang asing atau orang aneh dalam literature Bahasa arab disebut “Gharib”. Pada perkembangannya, dalam sejarah peradaban Islam, pendefinisan “we” dan “other” sangat melekat dengan sejarah interaksi umat Islam yang berpusat di Madinah, kemudian Damaskus, kemudian Baghdad dan Istanbul, dengan umat yang dianggap “gharib” atau asing, yaitu kerajaan-kerajaan di Eropa. Interaksi itu pada faktanya adalah interaksi persaingan, permusuhan dan perang. Peperangan umat Islam dengan dengan kerajaan Roma, perang Salib di Syam, peperangan di Andalusia, juga perang era kolonialisme adalah sejarah panjang ketidak harmonisan yang berurat berakar juga terwariskan pada mindset jutaan umat manusia hari ini.

Hal inilah yang menyebabkan default pikiran umat Islam hari ini terhadap barat adalah ‘mereka itu orang lain’. Dan default pikiran orang barat dengan definisi tersebut diatas (Eropa, US, Australia) terhadap umat Islam bahwa ‘mereka itu orang lain diantara kita’. Dikotomi ini terlihat dimana-mana, misalnya saat kita mengatakan “pilih sistem Islam atau barat” atau “harmonisasi antara Islam dan barat”. Saat kita mengatakannya kita tidak sadar bahwa kita seakan sedang menjadikan Islam adalah agama timur, sedangkan barat sebagai objek asing untuk kita inflistrasi dengan Islam.

Padahal nilai Qur’ani selalu menekankan pada universalisme Islam “wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin” atau hadist Rasulullah yang mengatakan “la yablughanna hadzad diinu maa balughallailu wannahaar” (agama ini akan tersebar keseluruh penjuru seperti malam dan siang mencapai mereka).

Bahkan andaikan pun Rasulullah menyebutkan kalimat “gharb” negeri barat, itu sebagai penunjuk geografis dan tidak menjadikan Islam agama timur.

Lalu bagaimana dengan Cina? Ada 1.3 milyar penduduknya. Laporan the world fact book CIA, umat Islam di Cina mencapai 20 juta. Lebih banyak dari jumlah umat Islam di Malaysia yang berjumlah 17 juta.

Maka saat kita mengkomparasikan Islam dengan sebuah entitas geopolitik, Islam VS Cina, Islam VS Barat, maka kita sedang mengebiri Islam menjadi sebuah agama Timur Tengah. Dampak paling signifikan dari pandangan tersebut adalah umat Islam tidak akan mampu memberikan narasi besar di kawasan masing-masing lebih dari narasi yang diproduksi pemikir-pemikir muslim di timur tengah. Karena narasi Cina berarti asing, narasi Perancis berarti asing, narasi Amerika berarti asing.

Contoh sebuah gagasan yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk diterima negara-negara berpenduduk mayoritas muslim adalah demokrasi. Sejak zaman Rifa’at Thahthawi, seruan demokrasi sudah bersaut-sautan di timur tengah, tapi butuh satu abad hingga ide demokrasi mulai dilirik para pemikir muslim dan mendapat legitimasi ‘tidak bertentangan dengan Islam’. Hal itu disebabkan mindset berikut: gagasan dari barat berarti asing, dan asing berarti resistensi hingga manfaat gagasan itu dipaksa dirasakan oleh umat Islam.

Tapi saya melihat, kendala ini bukan hanya berakar dari ketidakjernihan membaca sejarah, tapi juga dari masalah pemahaman ‘Manhaj Tafkir fil Islam’ atau metodologi berfikir dalam Islam yang tidak matang.

Maka saat kita menggunakan kata ‘barat’, yang perlu kita maksud adalah sebuah entitas geografi yang kosong akan ideologi. Disanalah Islam mulai mengisinya dari dalam.

Bersambung

12250235_441916732660087_1679103426_o

Serial Pemuda

  1. Misi Pemuda klikdisini
  2. Garis Tanggung Jawab  klikdisini
  3. Mengukur Kesempatan klikdisini
  4. Kapasitas Diri klikdisini
  5. Rencana Kerja Unggulan klikdisini
  6. Pesan Kehidupan klikdisini
  7. Mengetuk pintu Sejarah klikdisini
  8. Membaca Realitas klikdisini
  9. Saringan Potensi klikdisini
  10. Syarat Peradaban klikdisini
  11. Rekontruksi Pikiran klikdisini
  12. Jeruji Tradisi klikdisini
  13. Kesamaran Mengecohkan klikdisini
  14. Timbangan Kebenaran klikdisini
  15. Ayat Cakrawala klikdisini
  16. Ilmu Kehidupan klikdisini

 

Turkish President Recep Tayyip Erdogan (R) and Chief of the General Staff of the Turkish Armed Forces Hulusi Akar (L) are driven in a car past Turkish soldiers during a ceremony marking the 92nd anniversary of Republic Day on October 29, 2015 at the Ataturk Cultural Center in Ankara. AFP PHOTO / ADEM ALTAN

Narasi Global Umat – Part 4

New Turkey

Perjalanan pergerakan di Mesir sangat berbeda dengan Turki dan AKP-nya. Diawali oleh Erbakan. Ia adalah sosok antagonis bagi militer Turki selama beberapa dekade. Erbakan mempunyai pandangan dakwah yang tegas, pilih Islam atau sekuler. Sehingga tema dakwah jama’ah Millî Görüş atau Visi Nasional, adalah perlawanan terhadap sekularisme. Erbakan mempunyai tipikal strategi yang mirip dengan IM Mesir, sehingga inilah salah satu alasan IM tidak membuka cabang struktural di Turki, karena Millî Görüş dianggap representatif sebagai lokomotif gerakan Islam.

Satu yang paling ditakuti kekuatan deep state* turki adalah perlawanan sistematis Erbakan terhadap sekularisme. Sedangkan bagi penguasa barat adalah Erbakan sangat dianggap berbahaya karena ia menggagas aliansi strategis ekonomi yang bernama D-8 terdiri dari Turki, Indonesia, Mesir, Bangladesh, Pakistan, Nigeria, Malaysia dan Iran. Aliansi ini jauh lebih potensial dibanding OPEC. Sebagian menganggap narasi besar Erbakan adalah peluang tumbuhnya lagi soliditas umat Islam melalui negara-negara tersebut. Terlebih sikap Erbakan terhadap Zionis sangat tegas sehingga siapapun yang mulai menyentuh tema Palestina, akan dianggap musuh bersama kekuatan besar barat loyalis Israel.

Maka berakhirlah nasib sang arsitek yang mengambil dua kali PhD, satu di Aachen University dalam mechanical engineering dan PhD di King Saud University dalam Islamic Studies. Erbakan berkali-kali digulingkan, dan partainya berkali-kali dibredel, dari mulai Leader of the National Order Party (MNP), Leader of the National Salvation Party (MSP), Welfare Party (Refah Partisi), Felicity Party (SP).

Erdogan, murid Erbakan mempunyai strategi lain dengan AKP-nya. Ia datang dengan narasi yang benar-benar baru. Yaitu membangun kekuatan ekonomi Turki dari dalam sistem yang ada, baik sistem Turki ataupun Uni Eropa. Maka ia menerima sistem sekularisme Turki, menerima penghapusan hukuman mati sebagai salah satu syarat ketergabungan dengan Uni Eropa juga menegaskan tidak akan membawa ide negara islam.

Sebagian melihat bahwa semua itu hanyalah trik sementara Erdogan yang akan segera berganti saat ia menguasai Turki sehingga ideologi Erbakanlah yang kemudian menggantikan. Tapi bagi saya itu bukanlah trik, ataupun strategi pemenangan pemilu. Tapi Erdogan mempunyai grand narrative yang benar-benar baru, hasil pembacaannya terhadap realitas geopolitik Turki, Eropa juga dunia.

Ia tidak memaksakan seperangkat Qur’an untuk diinstutionalisasi dalam wadah yang bernama negara. Pengalaman Erbakan cukup memberi dia bukti bahwa kebenaran tidak selalu menang jika kendaraan tidak sesuai dengan tipe jalur yang dilalui. Maka ketimbang menentang sekularisme, Erdogan bermain dengan sekularisme. Ia memasuki sistem tersebut, foto Mustafa Kemal masih terpajang di kantor-kantor resmi pemerintahan seluruh Turki, sekularisme Turki ia lindungi, militer ia rangkul sehingga syarat pertama pertumbuhan ekonomi ia pastikan terlebih dahulu yaitu: stabilitas politik dalam negeri.

Perlu riset mendalam tentang diskursus antara Islam dan sekularisme dalam konteks Turki, dalam forum ilmiah, karena ia tidak bisa dipandang dengan pendangan simplistik atau membacanya dari kaca mata Hasan al-Banna yang tumbuh dalam konteks penjajahan Inggeris di Mesir, apalagi Sayyid Quthb yang saat itu berada dalam penjara.

Saat berinteraksi dengan sekularisme, saya tidak tahu apa yang ada di dalam hati Erdogan atau benak sang pemikir utama AKP, Dawud Oglu, tapi saya bisa mengangkap kebesaran narasi mereka untuk memperjuangkan Islam. Bukan melihat dari akhlak mereka, seperti yang sering dilakukan beberapa aktivis untuk membanggakan seorang pemimpin muslim modern. Tapi bagaimana dia berinteraksi dengan Gülen movement pimpinan Fethullah Gülen. Gülen movement adalah gerakan sosial spiritual yang tidak menyentuk politik. Mereka mirip dengan Muhammadiyyah atau NU dengan puluhan ribu sekolah di Turki juga seluruh dunia.

Gülen movement memastikan peningkatan spiritualitas masyarakat Turki yang tidak mungkin dikerjakan AKP secara frontal dalam sistem yang sekular.

Namun belakangan ini, Gülen dianggap menjadi dalang dari percobaan kudeta terhadap Erdogan. Terlepas dari fakta ataupun analisis terhadap kejadian kudeta terakhir, saya melihat bahwa kita perlu jeli memisahkan antara personal Gülen dengan corak keislaman yang dibawa organisasinya, yang notabene banyak mengadopsi spirit Said Nursi. Yang disebut terakhir ini, saya kira yang menjadi alasan kerja sama AKP dengan Gülen di awal-awal pemerintahan mereka sampai konflik politik dan kepentingan terjadi antara mereka. Walaupun ada sebagian yang menganggap bahwa Gülen telah membajak kemurnian ajaran Said Nursi.

Pernah terjadi beberapa usaha kudeta terhadap Erdogan sebelum kudeta Gülen, tapi justru para jenderal-lah yang ia tangkapi dengan tuduhan makar terhadap keutuhan Turki. Hal ini sebaliknya dengan apa yang terjadi di Mesir. Itu karena militer sudah berada di saku Erdogan. Saat standar stabilitas itu memadai, maka AKP mulai membuktikan janji-janji politiknya berupa membangun civil state (negara madani) dengan core agenda pembangunan ekonomi yang mengikuti global economic order. Semua syarat ekonomi Uni Eropa ia jalani untuk memastikan Turki bergabung dengan Uni Eropa. Tapi yang menarik bagi saya adalah mentalitas Erdogan untuk memasuki Uni Eropa. Bukanlah mentalitas pengemis yang menjadi objek dan berharap mencicipi kesejahteraan Eropa, tapi sebagai subjek, pemain ekonomi baru yang melihat Eropa seperti pasar untuk mereka taklukan. Terlebih Turki sebagai negara tidak mempunyai pengalaman dijajah negeri-negeri Eropa seperti Arab, namun justru sebaliknya. Sisa-sisa peradaban daulah Ustmaniyyah sangat terasa di negara Bulgaria, Kosovo, Bosnia, Rumania, bahkan hingga Austria.

Bentuk pembangunan ekonomi ekspansif itu lebih terlihat saat Turki mulai membangun deal-deal ekonomi dengan negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina).

Inilah kekhawatiran terbesar kompetitor ekonomi Turki, khususnya negara-negara Eropa. Oleh karena itu Turki akan terus digoncang oleh siapapun yang berkepentingan. Keamanannya akan terus dikoyak. Bom-bom akan terus meledak. Karena syarat pertama untuk pertumbuhan ekonomi harus dihilangkan dari negara tersebut, yaitu stabilitas dalam negeri. Inilah tantangan terkini Turki dengan narasi kekuatan baru Ekonomi umat. Setidaknya, mereka mempunyai narasi yang jelas. Pertarungan mereka adalah pertarungan mempertahankan ritme kemenangan

* Deep state atau derin devlet adalah gerakan bawah tanah Turki atau masyarakat elit rahasia yang sudah ada sejak sultan Selim III (1789–1807) yang berisikan militer, pakar hukum, intelijen, dan mafia. Mereka sering disebut dengan negara didalam negara. Ideologi mereka adalah ultra nasionalust, yang di era Turki modern ini menjadi penjaga terdepan sekularisme Turki.

Arab spring

Narasi Global Umat – Part 3

Arab Spring or Fall?

Istilah ini mengisi seluruh media dunia sejak seorang pemuda Tunisia membakar diri pada Desember 2010 lalu menginspirasi revolusi yang menjalar ke berbagai negeri Arab.

Saya tidak akan membahas dengan detail kajian ini karena setiap negara mempunyai folder tahunan yang menumpuk tersendiri. Namun poin utama yang ingin saya sampaikan adalah tantangan narasi besar yang perlu diformulasi di kawasan ini, khususnya Mesir dan Turki.

Diktatorisme di timur tengah menunjukan wajah yang sangat paradoks dengan nilai yang dianut mayoritas masyarakatnya. “wa amruhum syura bainahum” dalam al-Qur’an dikatakan. “dan urusan mereka diselesaikan dengan syura (musyarawah)”. Maka syarat awal kemajuan yaitu pemerintahan yang menyertakan rakyat inilah yang 3 abad lalu dibangun masyarakat Eropa, dan ironisnya telah hilang di negeri-negeri muslim selama berabad-abad sejak Ali bin Abi Thalib, khalifah rashidah terakhir. Istilah rasyidah menurut Dr. Muhammad Imarah disematkan karena pemerintahan mereka dibimbing syura bukan syura formalitas dibawah kehendak khalifah.

Ada masa ketika para khalifah (umwawiyyah-abbasiyyah-ustmaniyyah) yang sebagiannya diktator itu tetap membuat masyarakat sejahtera. Yaitu saat sistem monarki mereka hanya memonopoli politik. Sedangkan masyarakat masih menikmati kebebasan ekonomi, pemikiran, budaya dalam batas yang sangat luas. Disanalah terjadi penemuan, debat, diskusi, kemajuan pemikiran. Ditambah lagi, saat itu, para khalifah, yang walaupun diktator namun sedang berada dalam kondisi puncak peradaban, yang imperiumnya membentang dari asia timur hingga Spanyol. Maka keserakahan penguasapun tetap meninggalkan sesuatu bagi masyarakatnya.

Tapi diktatorisme hari ini adalah bentuk yang terburuk yang pernah dialami umat Islam. Mereka menekan rakyat, mencerabut kesejahteraannya, diperparah lagi dengan political arrangement di kawasan tersebut direncanakan di Washington (US), Brussel (EU) atau Downing Street (UK). Hal ini menyebabkan perpindahan kekayaan alam dari tanah mereka ke negeri-negeri barat. Maka apalagi yang tersisa bagi masyarakat arab selain kehinaan dan penindasan penguasa selama lebih dari 2 abad dari para kolonialis barat hingga pemimpin local sebagai kaki tangan kolonoalis modern.

Tapi saya tidak percaya bahwa segala sesuatu direncanakan dalam sebuah konspirasi tunggal yang terpusat. Sehingga dikatakan bahwa keseluruhan revolusi arab sejak awal adalah konspirasi untuk menggantikan para pemimpin arab loyalis barat dengan pemimpin lain yang lebih loyal.

Saya tidak mempercayai teori konspirasi total seperti itu, karena variabel sosial terlalu rumit untuk memuluskan rencana-rencana besar terpusat.

Tapi saya juga tidak mempercayai bahwa sejarah bergerak secara natural tanpa ada perencanaan para perencana sosial.

Saya memandang bahwa rekayasa sosial dan konspirasi selalu ada tapi tidak perlu dilebih-lebihkan, karena pada sebagiannya proses sosial berlangsung natural tanpa ada perencanaan. Dalam kasus arab spring, inilah yang terjadi di awal-awal seperti pandangan mayoritas analis. Bahwa revolusi arab berlangsung karena proses natural respon terhadap penindasan.

Namun point penting yang perlu dicatat adalah bahwa revolusi arab terjadi bukan karena grand design gerakan Islam, IM ataupun selainnya. Ia adalah murni gerakan rakyat yang merasakan keresahan bersama. Gerakan revolusi meledak dengan spontan setelah bom waktu penderitaan tertaman puluhan tahun. Revolusi itu difasilitasi oleh media sosial yang massif memobilisir massa.

Saat revolusi menjalar ke Mesir, saya tepat sedang berada di Cairo, di tingkat akhir kuliah saya dan menyaksikannya dari awal hingga kejatuhan Mubarak. Saya sering mendengar guru-guru dakwah dan pergerakan di Mesir mengatakan pada saya “Alhamdulillah, ini adalah nikmat dari Allah, makar yang Allah jalankan, karena semua diluar perencanaan kita (gerakan Islam)”.

Peran terbesar gerakan Islam, di Mesir khususnya adalah menjadi garda terdepan dan tersolid selama proses revolusi, karena bagi mereka perlawanan terhadap tirani tersebut adalah point of no return, dengan kata lain, ini adalah momen yang harus mereka rebut dan terus maju atau mereka hancur sama sekali.

Perjuangan revolusi berlangsung hampir tanpa narasi besar, selain menumbangkan sesosok rejim, di Mesir target mereka adalah Husni Mubarak. Tapi pasca ketumbangan Mubarak tidak berarti sistem tiranik mereka tumbang, karena yang terjadi adalah persis seperti rekonsolidasi kekuatan pasukan spanyol sebelum kembali turun menghancurkan umat Islam di Andalusia. Sistem diktatorisme mereka tidak terlucuti dengan sistematis, seperti yang terjadi di reformasi 98 Indonesia. Tentara masih ada disana dengan semua jaringan mabahist-nya (intelijen).

Disinilah konspirasi bermain, dan Washington berusaha mengambil alih kendali situasi. Perlu diketahui, bahwa sejak 2003, diskursus tentang mobilisasi massa dengan internet menghangat di forum-forum kajian US dan Eropa. Mereka, juga para diktator arab sangat menguasai konsep nonviolent mobilization yang terispirasi dari pengalaman Serbia, dan teori Srdja Popovis. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Yahoo, atau organisasi sejenis Albert Einstein Institution, Freedom House dan organisasi-organisasi besar yang dibiayai US, Eropa dan negara-negara timur tengah sangat siap menyambut unexpected chaos atau kesemrawutan yang tiba-tiba. Disinilah kekalahan langkah generasi muda muslim, pergerakan Islam di depan pihak-pihak lain yang berkepentingan di kawasan timur tengah.

Dalam kasus Mesir, pasca ketumbangan Mubarak, terjadi euphoria besar-besar di seluruh pelosok Mesir. Mabahist-mabahist (intel) dan polisi mungkin saja ikut bersorak ramai dengan baju sipilnya. Bernyanyi riang bersama warga dan para demonstran.

Tapi dalam situasi chaos seperti itu, narasi lah yang bertarung, antara gerakan Islam yang di motori IM dan salafi dengan narasi para penguasa barat yang mempunyai motiv hegemonik di Mesir.

Partai Kebebasan dan Keadilan IM maju mengahadapi pemilu dengan koalisi bersama Partai an-Nur salafi. Mereka memenangkan pemilu legislatif bersama, dan menaikan Mursi menjadi Presiden. Lalu umat Islam Mesir, bahkan mungkin seluruh dunia berbahagia melihat pemandangan aneh itu, IM dan Salafi berkoalisi dalam politik.

Mungkin saat itu, satuan intel atau pun tim kepanduan IM tidak sampai pada kesimpulan bahwa salafi tidak mempunyai kekuatan politik apapun jika mereka tidak di back up oleh kekuatan besar lain. Padahal selama 8 bulan, mereka diangkat menuju puncak kekuasaan dengan kucuran dana yang membelalakan mata dari Saudi dan organisasi-organisasi Qatar.

Sehingga ketika sampai saat yang ditentukan, Salafi berbalik arah dari IM, lalu Mursi dikudeta oleh jaringan rejim Mubarak (Jenderal As-Sisi) yang sudah melakukan rekonsolidasi beberapa bulan. Maka tinggalah IM seorang diri, ditinggal voter pemilunya, bahkan digulingkan tidak hanya oleh militer, tapi juga oleh massa yang beberapa waktu lalu bersama-sama turun ke maydan Tahrir.

Narasi itu sejak awal revolusi memang tidak ada, tapi yang lebih menyedihkan adalah setelah Mursi naikpun, IM tidak menyiapkan narasi besar untuk berkuasa, dalam jangkauan 10-20 tahun kedepan.

Bersambung

Narasi Global Umat - Part 2

Narasi Global Umat – Part 2

TANTANGAN ZAMAN DAN NARASINYA

“Innallah ba’atsa fi kulli ra’si miati sanah man yujaddidu laha dinaha”, “sesungguhnya Allah mengutus di setiap penghujung abad, pembaharu yang akan memperbaharui agama” hadist tersebut sangat memotivasi akal-akal besar umat Islam untuk selalu menjawab tantangan zamannya seperti Imam Syafi’I dengan ar-Risalahnya yang dianggap sebagai pembaharu pertama di abad kedua Hijri dengan kodofikasi ushul fiqhnya.

Tapi para ulama mengatakan bahwa hadist tersebut tidak selalu terpersonifikasi pada diri satu orang, karena ia bisa jadi sebuah kelompok atau entitas.

Terlepas dari itu semua, sebuah narasi selalu dibutuhkan di setiap zaman, dan nyatanya selalu segelintir orang yang membawanya, jika bukan satu orang. Seorang pembaharu membuka mata dan hatinya atas semangat zaman dan problem kemanusiaan lalu ia merenung panjang dengan kelengkapan tools dan pengetahuannya hingga datang dengan sebuah gagasan besar untuk menyelamatkan umat dari kelesuan pemikiran, budaya, pengetahuan ataupun jihad.

Akhir abad 19 adalah masa terkikisnya daulah Ustmaniyyah secara sistematis dengan berbagai demonstrasi dan gerakan separatis menuntut kemerdekaan. Dari sana pulalah cikal bakal perasaan saling benci antara bangsa Turki dan Arab, yang hingga hari ini sering terus dibakar oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Rifa’ah Tahthawi (1873) termasuk pionir muslim yang membuka wacana tentang politik di era modern, itupun karena ia terpesona dengan tulisan-tulisan Montesqieu dan Rosseau saat di Paris. Hingga ia begitu terkagum-kagum dengan buku-buku disana, salah satu yang terpenting adalah “Principes du droit de la nature et des gens” karya De Wolff.

Tidak ada formulasi signifikan tentang narasi peradaban Islam darinya karena karya-karyanya ibarat versi arab dari pemikiran barat. Namun ide penting yang dibawa ke negeri-negeri muslim adalah tentang urgensi pemisahan kekuasaan trias politica Montesquieu. Ide itu terasa aneh karena sistem yang berlaku di Daulah Ustmaniyyah, ataupun imperium sebelumnya Abbasiyyah dan Umawiyyah adalah monarki, yang kita namakan Khilafah. Walau begitu, Rifa’ah Thahthawi tidak memberikan penjabaran untuk ide itu, apalagi mekanisme penerapannya.

Khairuddin at-Tunisi (1899) adalah pemikir besar kedua di era kelesuan intelektual daulah Ustmaniyyah. Buku fenomenalnya adalah Aqqamul Masalik fi Ma’rifati Ahwal Mamalik, yang menekankan urgensi mencontoh keadilan dalam sistem institusi politik barat. Ide besarnya adalah ingin memperjuangkan kebebasan warga sipil untuk berekspresi dan beropini. Karena baginya, kebebasan itu adalah syarat mutlak untuk kebebasan politik dan kesejahteraan negeri.

Ironisnya, kebebasan warga sipil dalam bersikap pada dasarnya adalah nilai luhur Qur’ani yang sejak zaman Rasulullah dinikmati para sahabat yang sangat merdeka dalam berfikir. Justru disanalah esensi dari tauhid. Tapi Khairuddin at-Tunisi sampai membutuhkan sebuah impor gagasan dari para pemikir politik barat karena terlalu lama nilai ini hilang di negeri-negeri muslim saat itu.

Agenda besar yang ia perjuangkan adalah meyakinkan para ulama akan prinsip kebebasan ini. Namun, kembali, ia tidak mempunyai stok perangkat yang cukup untuk menjabarkan gagasan tersebut di negeri-negeri muslim melainkan meniru habis-habisan gaya barat dalam politik.

Jamaluddin al-Afghani (1887) melihat zaman dengan situasi lain. Ia tidak silau dengan barat. Walaupun ia lama menetap di Paris, London, Jerman, Moscow, ia tetap mempunyai ketegasan dalam batas-batas nilai yang perlu dia adopsi bagi negeri muslim.

Baginya penjajahan adalah induk semua kemunduran umat Islam sehingga narasi yang ia bawa adalah persatuan umat Islam dan perlawanan terhadap penjajah dengan Pan Islamisme. Gagasan-gagasan tersebut ia terbitkan bersama Muhammad Abduh melalui Majalah berbahasa arab Urwah al-Wustqo di Paris. Narasi perlawanan yang dibawanya mengispirasi banyak tokoh nasionalis Arab yang berjuang di region masing-masing. Namun gagasan perlawanan itu sendiri tidak mempunyai bentuk global yang jelas, apakah perlawanan itu satu kordinasi? Atau inisiasi dari siapapun yang terispirasi idenya? Jalan hidupnya yang nomaden di berbagai negeri dengan berbagai intimidasi, konspirasi sistematis dan berbagai pengkhinatan, adalah salah satu faktor terpenting yang memuat dia tidak bisa fokus membangun sebuah gerakan di suatu negara dalam waktu yang lama.

Muhammad Abduh (1905) mungkin merupakan prestasi terbesar Jamaluddin al-Afghani. Ia mengikuti setiap langkah pembaharuan gurunya namun ia menambahkan satu poin penting yang tidak ia dapati dari al-Afghani, yaitu pendidikan. Keterbelakangan negeri-negeri muslim dan kemajuan intelektual negeri Eropa yang mengantarkannya pada kesimpulan ini.  Bersama muridnya Rasyid Ridha, ia menerbitkan majalah al-Manar. Pengetahuan adalah core narration yang ia yakini bisa menyelamatkan umat dari keterpurukannya.

Hasan al-Banna (1949) adalah anak pemikiran dari para pemikir diatas. Namun ada kenyataan pahit yang ia lihat, yang tidak dilihat para pendahulunya. Yaitu runtuhnya kekhilafahan. Oleh karena itu krisis ketiadaan institusi, ketiadaan kekuatan pemersatu, mempengaruhi gagasannya akan pentingnya institusi global yang ia masukan dalam salah satu maratib amal-nya (tahapan kerja) yaitu mengembalikan institusi khilafah. Tapi narasi yang ia bawa tidak bisa reduksi menjadi sekedar menegakan khilafah. Karena ia menawarkan sebuah proyek sosial yang komprehensif.

Proyek sosial itu muncul dari kesadarannya bahwa semua gagasan yang dibawa pendahulunya tentang pembaharuan ditantang realitas yang keras, bahwa tidak ada yang mengusung ide-ide itu atau bahkan ide-ide itu segera kandas di awal kemunculannya oleh musuh-musuhnya. Maka narasi yang ia bawa adalah pergerakan dalam wadah yang bernama jama’ah Ikhwanul Muslimun.

Kali ini pembaharuan yang dibawa Hasan al-Banna mendapatkan perhatian global yang sangat serius lebih dari para pembaharu sebelumnya. Karena Mesir menempati geopolitik yang terlalu penting di region tersebut. Dan Hasan al-Banna membangun kekuatan real dengan IM di kawasan tersebut. Kekuatan yang berupa rijal (manusia-generasi) bukan buku, majalah ataupun seruan-seruan.

Kekhawatiran negeri-negeri (penguasa) barat pada IM terkhusus karena ia menyentuh tiga domain krusial mereka sekaligus.

Pertama, yaitu perlawanan terhadap penjajah Inggeris di Mesir, juga seruan perlawanan global terhadap penjajahan. Termasuk Indonesia yang mendapatkan berkah jasa mereka dengan desakan IM terhadap pemerintah Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Kedua, IM mempunyai sikap tegas terhadap penjajahan Israel terhadap Palestina. Dan ketiga, IM membangun cikal bakal independensi ekonomi bagi masyarakat Mesir.

Ketiga poin ini membuat Inggeris mengambil jalan pintas untuk menghentikan narasi besarnya, yaitu assassination.

Hasan al-Banna mati muda, di usia 42 tahun dan masih banyak pekerjaan pemikiran yang belum terselesaikan. IM tidak mewariskan fiqh politik atau fiqh daulah yang dihasilkan dari pengalaman empirik seperti koalisi, power sharing, parliamentary budgeting, dan seabreg persoalan politik yang memerlukan pandangan resmi IM yang diekstrak menjadi prinsip politik IM.

Tahun 1949 di tahun wafatnya, IM mempunyai basis sosial yang kuat tapi mereka belum mempunyai pengalaman politik real di pemerintahan. Kondisi mereka tidak lebih baik sepeninggal sang muassis (pendiri). Bahkan berada dalam kondisi yang paling mengerikan di era mantan kadernya yang berkhianat dan menjadi presiden yang menindas mereka: Gamal abdul Naser.

Berkah terpenting dari narasi yang dibawa Hasal al-Banna adalah bangkitnya gerakan Islam di seluruh dunia, di timur tengah, Asia dan Afrika, bahkan di antara komunitas-komunitas minoritas muslim di negeri-negeri barat. Ide genuine al-Banna dalam MR (majmu’atur rasail) menjadi inspirasi berbagai negeri, baik yang membentuk dirinya sebagai struktur atau sekedar terinspirasi dari gagasannya.

Pemikir besar kedua IM adalah Sayid Quthb (1966) yang melawan dalam sunyi, menulis di balik jeruji. Semangat perlawanan terhadap tirani menjadi ruh yang menguatkan tulang punggung para aktivis Islam di masa-masa sulit penuh penindasan. Namun di kemudian hari, gagasan-gagasan Sayid Quthb yang beraroma ‘shira’ bainal haq wal bathil’ (pertarungan antara kebenaran dan keburukan) menjadi problematis saat dibaca hari ini dan dicerabut dari konteksnya. Terlebih abad 21 ini. Pembahasan ini akan dikaji kemudian.

Relatif tidak ada lagi pemikir besar IM dalam beberapa decade selain dari para pensyarah (penjelas gagasan), pengembang, penulis ulang, pengorganisir ide. Bahkan ratusan buku Dr. Yusuf al-Qharadhawi, salah satu ulama paling produktif zaman ini, tidak keluar dari frame gagasan-gagasan al-Banna. Walau begitu warisan intelektual kontemporer ulama-ulama IM mengisi perpustakaan umat Islam seluruh dunia hari ini.