Narasi Global Umat - Part 2

Narasi Global Umat – Part 2

TANTANGAN ZAMAN DAN NARASINYA

“Innallah ba’atsa fi kulli ra’si miati sanah man yujaddidu laha dinaha”, “sesungguhnya Allah mengutus di setiap penghujung abad, pembaharu yang akan memperbaharui agama” hadist tersebut sangat memotivasi akal-akal besar umat Islam untuk selalu menjawab tantangan zamannya seperti Imam Syafi’I dengan ar-Risalahnya yang dianggap sebagai pembaharu pertama di abad kedua Hijri dengan kodofikasi ushul fiqhnya.

Tapi para ulama mengatakan bahwa hadist tersebut tidak selalu terpersonifikasi pada diri satu orang, karena ia bisa jadi sebuah kelompok atau entitas.

Terlepas dari itu semua, sebuah narasi selalu dibutuhkan di setiap zaman, dan nyatanya selalu segelintir orang yang membawanya, jika bukan satu orang. Seorang pembaharu membuka mata dan hatinya atas semangat zaman dan problem kemanusiaan lalu ia merenung panjang dengan kelengkapan tools dan pengetahuannya hingga datang dengan sebuah gagasan besar untuk menyelamatkan umat dari kelesuan pemikiran, budaya, pengetahuan ataupun jihad.

Akhir abad 19 adalah masa terkikisnya daulah Ustmaniyyah secara sistematis dengan berbagai demonstrasi dan gerakan separatis menuntut kemerdekaan. Dari sana pulalah cikal bakal perasaan saling benci antara bangsa Turki dan Arab, yang hingga hari ini sering terus dibakar oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Rifa’ah Tahthawi (1873) termasuk pionir muslim yang membuka wacana tentang politik di era modern, itupun karena ia terpesona dengan tulisan-tulisan Montesqieu dan Rosseau saat di Paris. Hingga ia begitu terkagum-kagum dengan buku-buku disana, salah satu yang terpenting adalah “Principes du droit de la nature et des gens” karya De Wolff.

Tidak ada formulasi signifikan tentang narasi peradaban Islam darinya karena karya-karyanya ibarat versi arab dari pemikiran barat. Namun ide penting yang dibawa ke negeri-negeri muslim adalah tentang urgensi pemisahan kekuasaan trias politica Montesquieu. Ide itu terasa aneh karena sistem yang berlaku di Daulah Ustmaniyyah, ataupun imperium sebelumnya Abbasiyyah dan Umawiyyah adalah monarki, yang kita namakan Khilafah. Walau begitu, Rifa’ah Thahthawi tidak memberikan penjabaran untuk ide itu, apalagi mekanisme penerapannya.

Khairuddin at-Tunisi (1899) adalah pemikir besar kedua di era kelesuan intelektual daulah Ustmaniyyah. Buku fenomenalnya adalah Aqqamul Masalik fi Ma’rifati Ahwal Mamalik, yang menekankan urgensi mencontoh keadilan dalam sistem institusi politik barat. Ide besarnya adalah ingin memperjuangkan kebebasan warga sipil untuk berekspresi dan beropini. Karena baginya, kebebasan itu adalah syarat mutlak untuk kebebasan politik dan kesejahteraan negeri.

Ironisnya, kebebasan warga sipil dalam bersikap pada dasarnya adalah nilai luhur Qur’ani yang sejak zaman Rasulullah dinikmati para sahabat yang sangat merdeka dalam berfikir. Justru disanalah esensi dari tauhid. Tapi Khairuddin at-Tunisi sampai membutuhkan sebuah impor gagasan dari para pemikir politik barat karena terlalu lama nilai ini hilang di negeri-negeri muslim saat itu.

Agenda besar yang ia perjuangkan adalah meyakinkan para ulama akan prinsip kebebasan ini. Namun, kembali, ia tidak mempunyai stok perangkat yang cukup untuk menjabarkan gagasan tersebut di negeri-negeri muslim melainkan meniru habis-habisan gaya barat dalam politik.

Jamaluddin al-Afghani (1887) melihat zaman dengan situasi lain. Ia tidak silau dengan barat. Walaupun ia lama menetap di Paris, London, Jerman, Moscow, ia tetap mempunyai ketegasan dalam batas-batas nilai yang perlu dia adopsi bagi negeri muslim.

Baginya penjajahan adalah induk semua kemunduran umat Islam sehingga narasi yang ia bawa adalah persatuan umat Islam dan perlawanan terhadap penjajah dengan Pan Islamisme. Gagasan-gagasan tersebut ia terbitkan bersama Muhammad Abduh melalui Majalah berbahasa arab Urwah al-Wustqo di Paris. Narasi perlawanan yang dibawanya mengispirasi banyak tokoh nasionalis Arab yang berjuang di region masing-masing. Namun gagasan perlawanan itu sendiri tidak mempunyai bentuk global yang jelas, apakah perlawanan itu satu kordinasi? Atau inisiasi dari siapapun yang terispirasi idenya? Jalan hidupnya yang nomaden di berbagai negeri dengan berbagai intimidasi, konspirasi sistematis dan berbagai pengkhinatan, adalah salah satu faktor terpenting yang memuat dia tidak bisa fokus membangun sebuah gerakan di suatu negara dalam waktu yang lama.

Muhammad Abduh (1905) mungkin merupakan prestasi terbesar Jamaluddin al-Afghani. Ia mengikuti setiap langkah pembaharuan gurunya namun ia menambahkan satu poin penting yang tidak ia dapati dari al-Afghani, yaitu pendidikan. Keterbelakangan negeri-negeri muslim dan kemajuan intelektual negeri Eropa yang mengantarkannya pada kesimpulan ini.  Bersama muridnya Rasyid Ridha, ia menerbitkan majalah al-Manar. Pengetahuan adalah core narration yang ia yakini bisa menyelamatkan umat dari keterpurukannya.

Hasan al-Banna (1949) adalah anak pemikiran dari para pemikir diatas. Namun ada kenyataan pahit yang ia lihat, yang tidak dilihat para pendahulunya. Yaitu runtuhnya kekhilafahan. Oleh karena itu krisis ketiadaan institusi, ketiadaan kekuatan pemersatu, mempengaruhi gagasannya akan pentingnya institusi global yang ia masukan dalam salah satu maratib amal-nya (tahapan kerja) yaitu mengembalikan institusi khilafah. Tapi narasi yang ia bawa tidak bisa reduksi menjadi sekedar menegakan khilafah. Karena ia menawarkan sebuah proyek sosial yang komprehensif.

Proyek sosial itu muncul dari kesadarannya bahwa semua gagasan yang dibawa pendahulunya tentang pembaharuan ditantang realitas yang keras, bahwa tidak ada yang mengusung ide-ide itu atau bahkan ide-ide itu segera kandas di awal kemunculannya oleh musuh-musuhnya. Maka narasi yang ia bawa adalah pergerakan dalam wadah yang bernama jama’ah Ikhwanul Muslimun.

Kali ini pembaharuan yang dibawa Hasan al-Banna mendapatkan perhatian global yang sangat serius lebih dari para pembaharu sebelumnya. Karena Mesir menempati geopolitik yang terlalu penting di region tersebut. Dan Hasan al-Banna membangun kekuatan real dengan IM di kawasan tersebut. Kekuatan yang berupa rijal (manusia-generasi) bukan buku, majalah ataupun seruan-seruan.

Kekhawatiran negeri-negeri (penguasa) barat pada IM terkhusus karena ia menyentuh tiga domain krusial mereka sekaligus.

Pertama, yaitu perlawanan terhadap penjajah Inggeris di Mesir, juga seruan perlawanan global terhadap penjajahan. Termasuk Indonesia yang mendapatkan berkah jasa mereka dengan desakan IM terhadap pemerintah Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Kedua, IM mempunyai sikap tegas terhadap penjajahan Israel terhadap Palestina. Dan ketiga, IM membangun cikal bakal independensi ekonomi bagi masyarakat Mesir.

Ketiga poin ini membuat Inggeris mengambil jalan pintas untuk menghentikan narasi besarnya, yaitu assassination.

Hasan al-Banna mati muda, di usia 42 tahun dan masih banyak pekerjaan pemikiran yang belum terselesaikan. IM tidak mewariskan fiqh politik atau fiqh daulah yang dihasilkan dari pengalaman empirik seperti koalisi, power sharing, parliamentary budgeting, dan seabreg persoalan politik yang memerlukan pandangan resmi IM yang diekstrak menjadi prinsip politik IM.

Tahun 1949 di tahun wafatnya, IM mempunyai basis sosial yang kuat tapi mereka belum mempunyai pengalaman politik real di pemerintahan. Kondisi mereka tidak lebih baik sepeninggal sang muassis (pendiri). Bahkan berada dalam kondisi yang paling mengerikan di era mantan kadernya yang berkhianat dan menjadi presiden yang menindas mereka: Gamal abdul Naser.

Berkah terpenting dari narasi yang dibawa Hasal al-Banna adalah bangkitnya gerakan Islam di seluruh dunia, di timur tengah, Asia dan Afrika, bahkan di antara komunitas-komunitas minoritas muslim di negeri-negeri barat. Ide genuine al-Banna dalam MR (majmu’atur rasail) menjadi inspirasi berbagai negeri, baik yang membentuk dirinya sebagai struktur atau sekedar terinspirasi dari gagasannya.

Pemikir besar kedua IM adalah Sayid Quthb (1966) yang melawan dalam sunyi, menulis di balik jeruji. Semangat perlawanan terhadap tirani menjadi ruh yang menguatkan tulang punggung para aktivis Islam di masa-masa sulit penuh penindasan. Namun di kemudian hari, gagasan-gagasan Sayid Quthb yang beraroma ‘shira’ bainal haq wal bathil’ (pertarungan antara kebenaran dan keburukan) menjadi problematis saat dibaca hari ini dan dicerabut dari konteksnya. Terlebih abad 21 ini. Pembahasan ini akan dikaji kemudian.

Relatif tidak ada lagi pemikir besar IM dalam beberapa decade selain dari para pensyarah (penjelas gagasan), pengembang, penulis ulang, pengorganisir ide. Bahkan ratusan buku Dr. Yusuf al-Qharadhawi, salah satu ulama paling produktif zaman ini, tidak keluar dari frame gagasan-gagasan al-Banna. Walau begitu warisan intelektual kontemporer ulama-ulama IM mengisi perpustakaan umat Islam seluruh dunia hari ini.

Part 1

NARASI GLOBAL UMAT – Part 1

Bismillahirrahmanirrahim

Saudara-saudaraku, tulisan ini adalah anak pikiran dari hati yang gelisah. Gelisah melihat gap yang ternganga antara tantangan dakwah umat Islam di level nasional hingga global dengan kapasitas generasi muda muslim untuk mengeksekusi cita-cita Qur’an dan janjinya pada kemanusiaan.

Saya tidak berpretensi menawarkan sebuah grand narrative atau narasi besar untuk generasi muslim muda Indonesia dalam perannya mengisi gap itu. Tapi tulisan ini adalah pengantar untuk membuka perskektif atas problematika keumatan dan peradaban, yang suatu hari mungkin Allah menitipkan peran pergiliran kepemimpinan itu pada pundak pemuda-pemudi muslim Indonesia.

Oleh karena itu saya akan menekankan tulisan ini pada 3 pembahasan besar tentang sejarah, realitas, dan satu pembahasan peluang narasi baru pemuda abad ini. Pembahasan tentang realitas adalah tentang geopolitik negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim dan negeri Barat, juga realitas tentang perubahan trend zaman dalam beberapa bidang.      

RUANG KERJA DAN KELUASAN VISI UMAT

Salah satu masalah akut yang menjangkiti pikiran umat Islam pasca era kolonialiasi adalah masuknya mindset nasionalisme yang sempit, seakan urusan umat Islam di sebuah negeri adalah problem negaranya sendiri. Saat itu terjadi, setiap ormas, yayasan, gerakan pemuda begitu sibuk dengan urusan negerinya sampai-sampai satu domain kerja begitu diperebutkan dengan perjuangan berdarah, atau satu grand project dipenuhi konflik internal, seakan hanya itu ruang kerja umat Islam. Sehingga kekesalan, ketidak setujuan akan sebuah kebijakan begitu menguras energi produktif saat ladang kerja lain terbuka begitu lebar.

Padahal target dakwah yang Allah sediakan bagi umat Islam itu begitu menantang. Catatan Pew Research Center mengatakan bahwa jumlah umat Islam tahun 2010 ada 1,6 Milyar, atau 23 % dari total populasi dunia. Itu artinya ada 5.3 milyar umat manusia yang tidak bertauhid, 21 kali lipat dari seluruh penduduk Indonesia. Angka tersebut adalah ruang dakwah yang terlalu besar bahkan jika seluruh aktivis gerakan Islam di dunia bergerak. Mereka adalah target “rahmatan lil ‘alamin” kita semua atau penikmat cinta dan kebaikan umat Islam, selain tentu saja umat Islam itu sendiri, juga satwa, tumbuhan dan lingkungan.

Keluasan visi adalah problem lain yang dimiliki umat Islam, sejak zaman daulah Ustmaniyyah. Akhir abad 17 hingga pertengahan abad 19 dikenal dengan fase stagnasi daulah Ustmaniyyah. Umat Islam disibukan dengan persoalan internal, maintaining stabilitas dalam negeri juga tentu saja menikmati kejayaan dan kegemilangan imperium.

Satu orang yang menyeru-nyeru dengan visi besarnya. Ia adalah Umar Thalib, yang di tahun 1652 menulis analisis konstelasi global. “Sekarang orang-orang Eropa sudah mengenal seluruh penjuru dunia” katanya. “maka mereka mengirimkan kapal-kalap raksasanya ke berbagai arah menuju pelabuhan-pelabuhan penting …. Yang sebelumnya melalui Suez …. maka sekarang barang dagang berpindah melalui kapal-kapal Portugal, Belanda, Inggeris ke negeri Barat … Daulah Ustmaniyyah wajib menguasai jaluar perdagangan tersebut, jika tidak maka tidak butuh waktu lama sampai Eropa menguasai negeri-negeri muslim”.

Narasi Umar Thalib sangat relevan dan vital dizamannya, tapi suaranya hilang diterpa bisingnya kehidupan glamor saat itu. Dan di abad 17 adalah masa kebangkitan ekonomi Eropa saat mereka mengangkut kekayaan alam negeri-negeri Asia dan Afrika melalui kapal-kapal gagah mereka, persis seperti prediksi Umar Thalib.

Para pemikir peradaban kadang tidak mengenggam pedang atau menunggang kuda di depan benteng lawan, tapi ketiadaan mereka cukup membuat satu umat besar kehilangan arah hingga titik kejatuhannya.

Bersambung.

lpdp

LPDP: Proyek Masa Depan yang Ditantang

 

lpdpLPDP, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang didirikan pada Desember 2011 ini menjadi harapan baru ribuan mahasiswa yang bermimpi kuliah dengan beasiswa di dalam dan luar negeri. Dalam tiga tahun efektif masa kerja, LPDP telah menyerap 4800 awardee dari berbagai penjuru Indonesia. Lembaga yang dibidani oleh kementrian keuangan dan kementrian pendidikan dan kebudayaan ini mempunyai obsesi yang besar, yaitu mewujudkan Indonesia Emas 2045. Untuk niatan ini, LPDP memulainya dengan tiga tahap seleksi yang padat nilai akademik dan kepemimpinan, yaitu syarat administrasi, wawancara dan PK atau Persiapan Keberangkatan.

 

Proses administrasi LPDP transparan dan jelas, karena setiap detail informasi mudah diakses melalui media online sebagaimana dipaparkan Ketua PPI Belfast UK Zainul Yasni. Diantara faktor signifikan keberhasilan tahap ini adalah kekuatan visi calon awardee akan rencana kontribusinya untuk Indonesia dalam bentuk essai. Adapun proses wawancara tidak hanya soal akademis dan pengalaman calon awardee, melainkan leaderless group discussion yang memungkinkan mereka mengelaborasi pengetahuan dan pengalaman riil untuk memecahkan persoalan rumit secara spontan dalam team work. Disinilah daya kritis dan kebijaksanaan seorang awardee diuji.

 

Proses terakhir yang menjadi icon institusi Badan Layanan Umum ini adalah PK atau Persiapan Keberangkatan. Acara ini sejenis perkemahan yang berdurasi 1 hingga 4 pekan untuk membekali setiap awardee sebelum dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa. PK memastikan agar setiap awardee tidak sekedar dibekali semangat akademis, tapi, seperti yang diungkapkan kepala HIMMPAS UGM Rusdianti, untuk “…membentuk generasi berkarakter…”.

 

Proses seleksi bukanlah usaha satu-satunya LPDP untuk mewujudkan visi tersebut, tapi mereka terus membina perkembangan studi para awardeenya dengan berbagai proses monitoring online, forum, group dan organisasi. Setiap angkatan PK yang berkisar antara 100-120 awardee membentuk ikatan yang kuat walaupun pasca PK mereka berpencar ke berbagai daerah nusantara ataupun belahan dunia. Bahkan hingga hari ini, keempat ribu delapan ratus awardee tersebut terkordinasi dalam organisasi yang bercita-cita merealisasikan visi Indonesia Emas 2045. Hal inilah yang terus mengingatkan awardee akan urgensi membangun dalam negeri pasca studi, ungkap ketua PPI Leicester UK, Lutfhan Priambodo.

 

Seperti layaknya setiap proyek besar, tantangan akan selalu datang. Salah satunya adalah wacana pemindahan LPDP dari Kemenkeu ke Kementristek. Berita yang ditulis Neneng Zubaidah di koran Sindo 3 Desember lalu ini kian menghangat. Terutama setelah beberapa awardee LPDP merasa bahwa pemindahan ini bisa menjadi masalah, karena dikhawatirkan kinerja para pengurus LPDP yang dirasakan oleh mereka sangat professional bisa berubah jika sampai terjadi perubahan struktur dan kepengurusan yang signifikan.

 

Wacana ini bermula dari hasil rapat antara Kemenristek-Dikti dan Komisi X DPR. Ada empat alasan yang dikemukakan Neneng, yaitu (1) keterlambatan pencairan beasiswa dari pihak LPDP yang mengakibatkan mahasiswa terancam DO, (2) kuota penerima yang kecil, (3) tumpang tindihnya pengelolaan dana beasiswa, dan (4) secara administrasi tugas tersebut adalah fungsi dan tugas Kemenristek-Dikti.

 

Alasan pertama dianggap sepihak oleh para awardee LPDP yang merupakan objek penerima beasiswa. Firman Parlindungan, seorang awardee dari Ohio State University mengatakan Performa kerja Tim LPDP patut diacungi jempol karena tidak ada keterlambatan pencairan dana beasiswa dan mereka sangat responsif”. Lain halnya dengan Surya Anindita, Ketua I KIBAR UK merasa bahw LPDP tidak mengidap penyakit rumitnya birokrasi, bahkan mahasiswa Leed University ini menganggap LPDP jauh lebih baik dari beasiswa-beasiswa internasional lain seperti USAID, Chevening, Fullbright. Hal yang sama disampaikan Desideria, Wakil Dekan III FISIP Universitas Atma Jaya yang melihat LPDP setaraf dan seprofessional Fullbright dan Aminef.

 

Untuk membantah klaim keterlambatan tersebut, beberapa forum awardee LPDP mengadakan survei untuk melihat berapa persen keterlambatan yang ada dalam proses pencairan beasiswa. Hingga saat ini, survei tersebut masih dalam dalam proses.

Informasi lain yang vital datang dari ketua PPI UK, Media Wahyudi, yang mengabarkan bahwa PPI UK melaporkan kepada KBRI permasalahan keterlambatan beasiswa DIKTI yang sudah sangat akut dan menyebabkan mahasiswa DO. Lalu di akhir bulan November, KBRI di London dikunjungi komisi X DPR dan menyalurkan aspirasi mahasiswa UK untuk disampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Kemenristek Dikti. Namun setibanya di DPR persoalan keterlambatan beasiswa Dikti ini berubah nama jadi keterlambatan beasiswa LPDP.

 

Tulisan ini sama sekali tidak berniat untuk membandingkan antara satu lembaga beasiswa dengan yang lain karena setiap lembaga mempunyai tantangan dan kerumitan tersendiri. Namun poin ini sekedar berupaya mengklarifikasi kemungkinan akar kesalahfahaman yang berlanjut di ruang DPR hingga berkembang menjadi wacana di media massa.

 

Alasan kedua adalah klaim atas rendahnya angka serap penerima beasiswa. Hal ini diklarifikasi oleh Dirut LPDP Eko Prasetyo, bahwa hingga akhir 2015 ini, penerima beasiswa LPDP sudah mencapai angka 4800. Jika seleksi hanya melalui proses yang singkat seperti administrasi dan wawancara saja, 4800 awardee dalam waktu 3 tahun adalah hal biasa, namun angka ini merupakan prestasi dan kerja keras karena mereka didapat setelah melewati proses seleksi yang berlapis hingga PK yang memakan waktu sekitar 1 pekan untuk 100 orang. Itu artinya, setidaknya ada 48 pekan yang tersita dalam 3 tahun hanya untuk PK. Sedangkan di luar itu masih banyak kerja seperti proses seleksi administrasi, wawancara dan yang terberat tentu sosialisasi dari nol. Apalagi beberapa PK di awal-awal berdurasi 2 minggu, dan sebagiannya satu bulan penuh.

 

Alasan ketiga dan keempat, perlu dilihat dengan kepala dingin dan pikiran yang kritis. Kepala dingin artinya, awardee LPDP atau para calon awardee LPDP tidak terbawa emosi saat LPDP mendapat kritikan bahkan jika sampai kritikan itu tidak berdata dan tidak ilmiah, apalagi sampai langsung membawa kampanye #LPDPIndependen sebagai respon wacana tanpa kajian yang memadai. Wacana dalam gedung DPR, Kementrian ataupun Media perlu kita pantau dengan jeli sambil terus menyuplai informasi-informasi pembanding kepada publik.

 

Tapi kita juga perlu sangat kritis dalam arti mempertanyakan tujuan dan mekanisme pemindahan dengan jujur dan transparan. Jika kedua alasan diatas terbantahkan, lalu apa yang membuat LPDP harus berubah dari Kemenkeu ke Kemenristek-Dikti?

 

Publik perlu diberi kesempatan memahami dengan rasional tanpa unsur politik apalagi motif ekonomi. Jika alasan itu ada dan kuat, maka pemindahan Kemenristek-Dikti bukanlah sebuah usaha pelemahan atau sabotase LPDP apalagi menggugurkan mimpi Indonesia Emas 2045 melainkan sebuah perapian organisasi yang natural. Keduanya adalah kementrian negara, sehingga saya kira kurang tepat membanding-bandingkan kinerja kedua kementrian atas wacana ini.

 

Namun kekhawatiran-kekhawatiran publik harus terjawab, misalnya jika terjadi pemindahan tersebut, apakah struktur LPDP akan tetap sama ataukah akan ada perubahan signifikan dari Dirut hingga penganggung jawab PK? Jika iya, apa jaminan para pengganti itu bisa lebih baik atau setidaknya setara dengan profesionalitas pengelola LPDP yang saat ini diakui para awardee LPDP. Apa bentuk kesiapan konkret para pengelola baru tersebut untuk mengurus trilyunan rupiah dan para awardee yang faktanya hari ini sudah hampir menembus 5000, dan akan terus meningkat tiap tiga-empat bulan?

 

Tapi, jika kesiapan-kesiapan ini belum ada dan wacana pemindahan ini diteruskan dan dipaksakan, maka publik berhak skeptis. Terlebih jika tujuan pemindahan yang rasional itu memang tidak ada, maka biarkanlah LPDP yang punya kekurangan ini terus bekerja di jalannya sambil terus mengevaluasi diri dan menyelesaikan tantangan-tantangannya.

 

Paris, 6 Desember 2015

 

Muhammad Elvandi, Lc. MA.

Alumnus Al-Azhar Cairo, Filsafat IESH de Paris, Politik University of Manchester

Quran-7th-century-1-Cadbury-Research-Library180x180

Janji Allah dan riset Universitas Birmingham

Quran-7th-century-1-Cadbury-Research-Library180x180Sejak dulu belajar di Al-Azhar, kita selalu yakin dengan orisinalitas Qur’an, dengan ilmu ulumul Qur’an yang kita pelajari mulai dari sejarah penulisan Qur’an di zaman Rasul yang berserakan hingga pengumpulan dalam satu mushaf di zaman Abu Bakar dengan metodologi yang mirip metodologi ilmiah modern. Tapi mungkin itu cukup meyakinkan bagi kita orang beriman tapi tidak bagi orang ateis atau skeptis atau materialis yang hanya percaya apa yang bisa dilihat dn diraba.

 

Karena itu menjadi tantangan umat Islam dan seluruh universitas Islam untuk mengembangkan ilmu arkeologi, kimia, dll, untuk, tidak hanya mempelajari konten masnuskrip kuno dan tafsirnya, tapi juga berburu bukti fisiknya lalu menelitinya di lab-lab.

 

Walaupun sebagai umat Islam kita tidak perlu terlalu khawatir, karena janji Allah itu pasti benar dan terbukti. Maka “berjalanlah di muka bumi, lalu analisalah…” (qul siiru fil ardhi fan zhuru..), pasti akan kamu dapati setiap penemuan ilmiah itu selalu membernarkan setiap ayat Qur’an. Karena ayat yang tersebar di alam, dengan ayat yang tertulis di mushaf, berasal dari sumber yang satu: Allah.

 

Dan hari ini umat Islam layak berbahagia, karena Universitas Birmingham dan Oxford membantu kerja-kerja dakwah kita. Mereka merilis riset mereka atas manuskrip mushaf Qur’an yang ada di Universitas Birmingham.

 

Dengan analisis radiokardon di labolatorium Universitas Oxford, disimpulkan bahwa Mushaf ini ditulis sekiar tahun 568-645M, yang sesuai dengan waktu Rasulullah hidup antara tahun 570 M hingga wafatnya tahun 632 M.

 

Susan Worrall, direktur special collection dari Cadbudy Research Library Universitas Birmingham mengatakan, bahwa akurasi analisis radiokarbon ini mencapai 95,4%.

 

Hal ini menjadikan mushaf al-Qur’an yang ada di Universitas Birmingham adalah mushaf tertua yang ada di dunia yang isinya sama persis dengan muhaf yang kita punya hari ini.

 

Banyak renungan yang bisa kita ambil dari penemuan ini. Renungan yang membanggakan, membahagiakan namun juga menyedihkan.

 

Penelitian ini semakin membuktikan kejujuran umat Islam menjaga al-Qur’an sejak zaman para sahabat. Bahwa al-Qur’an mereka jaga dengan amanah, disampaikan, lalu ditulis tanpa ada tambahan satu hurufpun hingga sampai kepada kita dengan konten yang sama persis.

 

Penelitian bukti fisik mushaf ini menjadi argumentasi yang sangat kuat di depan tuduhan beberapa golongan umat Islam yang tidak mempercayai para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Ustman, karena mereka beranggapan para sahabat ini menyembunyikan beberapa bagian al-Qur’an yang berhubungan dengan ahlul bait. Berabad-abad debat mereka ini mengisi buku-buku ulumul qur’an atau perbandingan madzab dan aliran. Namun pada akhirnya, bukti fisik akan selalu mengalahkan dugaan-dugaan.

 

Penelitian ini memberi kekuatan tambahan akan validitas dan orisinalitas al-Qur’an di depan para materialis yang hanya percaya bukti fisik, dan menyangka bahwa al- Qur’an telah terdistorsi sebagaimana Bible dalam sejarah mereka.

 

Penelitian ini menjadi referensi tambahan dalam ilmu ulumul qur’an dan tafsir yang selama ini berisi kajian literatur dan kekurangan riset-riset lapangan seperti penelitian manuskrip.

 

Namun penelitian ini juga membawa kesedihan yang perlu menjadi refleksi diri umat Islam untuk berfikir, bergerak dan berubah.

 

Bagaimana mungkin mushaf tertua itu ada di Inggeris? Tersimpan rapi di Universitas Birmingham dan bukan di museum Saudi atau Cairo atau Istanbul? Bagaimana mungkin para peneliti mushaf ini mayoratisnya bukan muslim? Kemana para pakar radiokarbon muslim? Kemana para ‘Indiana Jones’ muslim yang berburu manuskrip yang telah dipindah-tempatkan dari timur tengah ke barat? Mana kajian-kajian telaah fisik manuskrip di Universitas Al-Azhar Mesir, Madinah, Ummul Quro, Damaskus, Qatar atau Universitas Istanbul? Mana museum-museum Islam di negeri-negeri timur tengah yang rapi merawat peninggalan para sahabat? bahkan kita tidak punya museum Rasulullah. Beruntung masih ada Topkapi di Istanbul yang menyimpan beberapa peninggalan nabi, dan pedang sahabat. Mereka juga punya museum yang mengabadikan momen penaklukan al-Fatih, tapi mana museum yang mengabadikan momen-momen paling bersejarah bagi umat Islam, Badr, Uhud, Khandaq, Hudaibiyyah? Apakah Saudi, negeri-negeri Teluk, kekurangan uang untuk membangunnya? saya rasa tidak, karena Dubai membuat cabang Museum Louvre Paris disana.

 

Orang akan sangat menjaga apa yang paling berharga yang dia miliki, seperti emas monas yang dijaga siang dan malam. Tapi kekayaan fisik Umat Islam yang berharga justru telah hilang dari negeri-negeri kita, dan bisa kita temui di Musee de Louvre Paris, Vatikan, London.

 

Mungkin bukan mutlak kesalahan generasi hari ini yang merasakan bekas-bekas penjajahan dua-tiga abad lalu. Tapi setidaknya hal ini perlu memicu adrenalin gerak riset dan laju pengetahuan kita. Bahwa zaman sedang berlari sprint, sehingga dakwah mengenalkan Islam di depan semua manusia itu juga memerlukan kondisi fisik yang prima dengan suplemen pengetahuan paling mutakhir, riset-riset ilmu alam, strategi-stregeri ilmu sosial dan tetap bernafaskan ilmu-ilmu keislaman.

 

Jika ada kesempatan, mushaf tulisan tangan sahabat ini bisa dilihat di The Barber Institute of Fine Art, The University of Birmigham Inggeris dari tanggal 2-25 Oktober.

 

Muhammad Elvandi

Manchester

 

Video: https://www.youtube.com/watch?v=C-HDFiC2boQ

 

10712746_347175752107852_943700997831598120_n Eid 2012 in Rusholme

Toleransi dan Ied di Manchester

Eid 2012 in Rusholme

Saya punya pengalaman yang kurang nyaman secara pribadi saat pulang ke Manchester setelah Ied tahun 2014 dan 2015. Tapi ada hikmah dari cerita ini.

 

Tahun lalu saya berlebaran di Paris dan pulang ke Manchester di hari kedua, sedang tahun ini saya berlebaran di Vienna dan pulang ke Manchester di hari ke tiga setelah Ied. Tahun lalu saya menggeret 2 koper dengan berat lebih dari 50 kg karena sedang proses pindahan, sedang tahun ini hampir 30 kg karena membawa buku-buku bahan tesis selama berpuasa di Austria.

 

Dari Manchester airport saya naik bus 43 menuju daerah yang bernama Rusholme. Daerah ini dikenal juga dengan nama Curry Miles, atau kampung Arab, karena banyak sekali restoran halal di kiri kanan jalan.

 

Jalan yang dilalui bus di daerah Rusholme ini termasuk jalan utama yang bersambung ke Oxford Road tempat University Manchester bertengger, seperti jalan Soekarno Hatta di Bandung. Maka hampir semua bus dari arah selatan yang menuju city center akan melewati daerah Rusholme ini.

 

Tapi jalanan ini ditutup pada hari Ied dan 2 hari setelahnya, karena banyak sekali umat Islam yang membawa mobil dan parkir disana. Mereka membawa kerabat dan sahabat, memenuhi restoran-restoran dan kadang berkumpul di bahu-bahu jalan dan menjejali jalanan yang sudah sesak dengan mobil yang diparkir.

 

Maka pemerintah kota menutup jalan itu dan mengalihkan bus-bus ke rute yang lain. Tahun kemarin saya harus jalan hampir 3 km sambil membawa koper tersebut, tapi untung ada seorang perempuan Italia di dalam bus yang kebetulan tinggal satu alamat bahkan satu flat, sehingga dia membantu membawakan koper itu.

 

Pengalaman tahun lalu membuat saya mengkritisi keapatisan sebagian umat Islam disini yang hanya memikirkan diri mereka menikmati Ied tapi memuat satu daerah tertutup aksesnya untuk publik. Setiap pendatang baru yang mengunjungi Manchester dan menuju Rusholme selalu bertanya-tanya mengapa bus tidak melalui jalur yang biasa. Sang supir bus menjawab “karena umat Islam sedang merayakan Iednya”.

 

Terlintas, rasa kikuk, karena saya menjadi bagian dari umat Islam disini yang berkontribusi menyusahkan orang lain. Sebagian mereka hanya memikirkan diri dan kekuarganya, dan parkir sembarangan, tidak peduli dengan kemacetan yang akan terjadi. Tapi pikiran itu hilang, karena Allah membuka hikmahnya.

 

Hikmah pertama, saya sedang dalam kondisi yang tidak fit untuk mengangkut 2 buah koper dalam jarak yang cukup jauh. Namun di tahun ini ada seorang lelaki India yang berniat ke Rusholme dan tidak tahu jalan. Akhirnya dia mengikuti saya setelah turun dari bus dan memaksa membantu membawakan koper saya hingga sampai ke rumah. Akhirnya saya sama sekali tidak menggeret koper besar dan hanya membawa koper kecil sampai rumah. Padahal andai bus melewati jalur biasa, saya harus menggeret koper besar 30 kg tersebut walaupun jaraknya lebih dekat.

 

Tapi mungkin, bagi orang lain yang tinggal di Rusholme, hal ini tetap menyusahkan, karena tidak semua orang mendapatkan pertolongan seperti yang saya temui. Setidaknya ini menjadi renungan internal umat Islam untuk lebih bisa memikirkan efek sosial dari aktivitas mereka.

 

Hikmah kedua, setelah saya menyimpan koper, saya jalan menuju salah satu restoran di daerah Rusholme tersebut dan bertanya ke salah satu polisi. “Mengapa jalan sampai ditutup?”.

 

Sang polisi menjawab dengan gembira “karena umat Islam sedang merayakan hari raya mereka dan kami sebagai pemerintah akan melindungi dan memfasilitasi apa yang mereka butuhkan”.

 

Saya kaget dengan jawaban dia, lalu saya berpura-pura mengkritisi atas jawaban tersebut “apakah hal ini tidak mengganggu orang lain?”. Apalagi bagi saya pribadi, jelas berefek dan menganggu. Andaikan Allah tidak menggerakan hati perempuan Italia dan lelaki India untuk menolong saya, mungkin kekecewaan itu lebih berat.

 

Mendengar pertanyaan itu Si Polisi menjawab “ini kan hanya 3 hari dalam setahun, tidak masalah, ini hari raya mereka, kami akan melakukan apapun untuk mereka”.

 

Saya tersentak dengan jawaban tersebut. Dan Allah memuka hikmah lain, bahwa inspirasi itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari masyarakat yang mayoritasnya Kristen. Saya belajar toleransi hari ini dari pemerintah yang didominasi non-muslim, sebagaimana saya mempelajari toleransi dari sejarah umat Islam yang agung memperlakukan minoritas non-muslim dengan baik.

 

Hal ini memberi saya refleksi atas tragedi yang sedang terjadi di Indonesia. Saat beberapa orang sedang mencatut kata “toleransi” seakan orang yang sedang menggunakan istilah “Toleransi” adalah orang yang paling tahu tentang peradaban dan paling moderat. Saat “toleransi” mereka berarti bebas merasionalisasi kekejian pembakaraan umat Islam di Tolikara, lalu mengatakan “karena minoritas umat Islam menganggu mayoritas non-muslim disana”.

 

Saya ingin mempertanyakan logika siapapun yang salah kaprah memaknai toleransi, baik tokoh masyarakat, kaum yang merasa intelek ataupun pemerintah. Apa kiblat toleransi anda?

 

Jika yang anda maksud toleransi dalam literatur sejarah Islam, kita lihat Nabi Muhammad menyuapi nenek Yahudi, menghukum tawanan perang Badar dengan menjadi guru membaca, atau Umar yang menjamin keselamatan semua Kristen Koptik Mesir.

 

Jika yang anda maksud adalah toletansi modern di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, di Jawa di Sumatera, dan daerah-daerah lain, kita lihat minoritas non-muslim bebas beribadah di rumah peribadatan mereka, bahkan natalpun menghiasi seluruh penjuru negeri dengan kelapang dadaan umat Islam.

 

Tapi jika anda mengatakan bahwa tragedi Tolikara adalah karena kesalahan minoritas umat Islam dengan berbagai dalihnya, lalu melihat kekejian mayoritas oknun itu sebagai tindakan wajar, lalu tetap berdalih “toleransi”, maka anda perlu banyak membuka mata anda untuk merevisi arti toleransi yang salah kaprah.

 

Sudah bukan zamannya perasaan kita saat beribadah dihantui suasana minoritas versus mayoritas. Coba bukalah mata. Barangkali tidak semua orang suka membaca keagungan sejarah Islam dalam hal toleransi dan fakta-fakta toleransi muslim di berbagai belahan dunia, tapi lebih senang berkiblat ke barat karena ingin merasa modern.

 

Maka saya katakan, toleransi di Manchester ini adalah mayoritas Kristen melindungi umat Islam sebagaimana mayoritas Umat Islam melindungi non-muslim di Indonesia. Toleransi di Manchester artinya, jika anda melecehkan seorang muslim secara verbal, maka anda bisa lapor polisi mempunyai hak memprosesnya secara hukum. Lalu negara yang mayoritasnya non-muslim ini akan membela si Muslim. Karena ini bukan soal agama, tapi hak manusia yang dirampas dan dibela pemerintah.

 

Sekarang, apa itu bisa terjadi juga di pemerintah yang justru mayoritasnya muslim?

 

Muhammad Elvandi

Manchester

2015-06-25 20.47.30

Dari Bandung Menembus Cairo, Paris dan Manchester

2015-06-25 20.47.30

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Maha besar Allah yang selalu menyimpan rahasia di balik setiap usaha manusia, berhasil ataupun gagalnya.

Cerita studi saya mirip seperti arung jeram. Sekali meluncur, tidak tahu batu mana yang akan dihantam, dan tikungan mana yang harus dilalui. Saya hanya berencana dan bersiap-sedia tapi Allah yang merancang semua liku dan tantangan.

Menuju Cairo

Sejak lulus SMA tahun 2004, saya ingin melanjutkan pendidikan di Akademi Militer atau teknik informatika ITB. Planning yang pertama batal sedang yang kedua kondisi orang tua tidak memungkinkan untuk mensupport studi disana. Terlebih mereka berharap jika saya langsung terjun di dunia kerja.

Namun semangat studi sedang sangat menggebu dan tidak mungkin dibiarkan berlalu. Semua kesempatan belajar pasca SMA saya cari. Semangat ini sangat dikenal oleh teman-teman dekat di SMA, hingga salah seorang sahabat, Priyo Utomo menawarkan bahwa orang tuanya berminat memberi beasiswa untuk kursus bahasa Inggeris. Kesempatan itu saya ambil dan saya jalani kursus tersebut selama 9 bulan di LIA Bandung. Saya sangat berterima kasih padanya, dan pada Bapak Hari dan Ibu Ira Laksono atas bantuan yang sangat berharga saat itu untuk membuka cakrawala saya dengan bahasa Inggeris.

Selepas itu, kesempatan untuk benar-benar melanjutkan kuliah belum terbuka, hingga pembina pengajian saya, Ustadz Djunaidi menawarkan bahwa beliau bisa memberikan rekomendasi agar saya diterima kuliah di Ma’had Al-Imarat, untuk belajar bahasa Arab selama dua tahun. Kuliah disana gratis, hanya karena alasan itulah saya bersedia belajar, karena sejujurnya saya tidak punya minat sama sekali dengan bahasa Arab. Apalagi dua tahun tersebut bukanlah kuliah S1, melainkan seperti kursus, walaupun beban studinya seperti kuliah universitas normal.

Segera saya pesiapkan dari, dengan bahasa arab nol, untuk ikut ujian masuk. Hasilnya saya yakin pasti hancur, dan memang benar. Tapi rekomendasi Ustadz Djunaidi sangat kuat membuat saya diterima disana.

Hari demi hari saya jalani dengan serius di Ma’had Al-Imarat dari tahun 2015, hingga minat baru mulai tumbuh, yaitu melanjutkan kuliah ilmu keislaan di timur tengah. Setahun setelah mulai belajar, saya memberanikan diri ikut tes beasiswa ke Al-Azhar Mesir tahun 2006. Dengan kemampuan bahasa Arab pas-pasan dan hafalan Qur’an yang minim, tes itu saya ikuti dengan hasil yang jelas: gagal total.

Tekad baru saya bangun untuk ikut tes tahun depannya, hingga tahun 2007 saya ikuti tes di kedutaan Mesir di Jakarta. Hasilnya menggembirakan, saya diterima dengan beasiswa penuh dari Universitas Al-Azhar.

Tanggal 13 November 2007 adalah momen penentu sejarah hidup saya, karena mulai hari itu saya meninggalkan tanah air selama empat tahun penuh tanpa sempat pulang.

Lembaran barupun dimuali di tanah Cairo tanggal 14 November di Universitas Al-Azhar Cairo jurusan Da’wah wa Tsaqafah Islamiyyah. Studi S1 saya pada akhirnya dimulai, dengan masa-masa yang sangat berat di tahun pertama untuk memahami tumbukan buku-buku berbahasa Arab.

Empat tahun saya selesaikan studi saya dengan nilai akhir Good (jayyid), dari tahun 2007 hingga 2011. Dengan berbagai dinamika dan cerita, dari mulai aktivitas kemahasiswaan, sastra, politik, kepenulisan, forum-forum internasional, juga cinta.

Oktober 2010 adalah momen bersejarah kedua. Bulan itulah saya menikahi muslimah Perancis keturunan Turki, Neslihan, yang menurut kawan-kawan kisahnya, sedikit mirip Ayat-ayat Cinta (he).

Setelah menikah, istri kembali melanjutkan studinya di Perancis, dan saya perlu menyelesaikan tingkat akhir studi hingga 2011.

Menuju Paris

Perjalanan menuju Perancis tidak serumit Cairo, karena saya datang sebagai suami, bukan mahasiswa. Sehingga saat ujian tingkat akhir tuntas, saya segera berangkat menuju Lyon Peranics. 15 Agustus 2011, lemabaran baru kisah studi pun dimulai.

Sejak dari Cairo, saya bertekad untuk melanjurkan S2 jurusan politik di Perancis. Maka tahun pertama di Perancis saya mulai bersiap-siap. Saat itu adalah masa paling sulit, karena saya harus mempelajari bahasa Perancis dari dasar sekali. Saya mengambil kursus selama 3 bulan di IFRA (Institut Formation Rhone Alpes) di kota Saint Etienne, sedangkan sisanya saya pelajari otodidak di jalanan sepanjang tahun, sambil menunggu istri menyelesaikan S1-nya.

Setelah satu tahun berlalu, saya coba berbagai universitas Perancis, namun tidak ada satupun yang menerima saya kuliah di jurusan politik, karena jurusan saya di Al-Azhar tidak linear. Terlebih, mayoritas universitas-universitas Perancis tidak menerima ijazah Al-Azhar untuk langsung kuliah S2, namun harus mengulangi tingkat akhir S1 di universitas mereka.

Saya terus mencoba, dan September 2012 saya memberanikan diri mendaftar kuliah S2 di Institut Européen des Science Humaines (IESH) de Paris, tanpa tahu dari mana harus membayarnya.

Saya diterima, hanya saja bukan politik, melainkan jurusan FIlsafat. Studi di IESH cukup mahal, tidak seperti universitas-universitas Perancis pada umumnya. Semua kemungkinan beasiswa di Perancis saya coba. Namun semua gagal. Hingga Allah kembali menurunkan rizkinya melalui hambanya yang tidak pernah saya duga.

Tanpa disangka, Ustadz Anis Matta menghubungi untuk meminta saya menemani beliau dan keluarga di Paris. Karena saya mempunyai usaha sampingan di bidang tour & traveling. Saya sudah menjalin komunikasi dengan beliau sejak 2007, namun baru tahun 2012 sempat mengenalnya secara pribadi.

Di akhir tour, saya sampaikan permasalahan studi saya. Tanpa semenitpun berfikir, beliau mengatakan “kalau tidak ada lagi cara, Insya Allah beasiswa dari saya”.

Rasa takjub, hormat, gembira, sungkan dan kekaguman, beracampur aduk. Saya berusaha keras mencari semua sumber beasiswa yang ada di luar dan dalam negeri selama beberapa bulan, termasuk beasiswa unggulan DIKTI, namun tidak ada yang berhasil. Sehingga akihrnya dua tahun biaya studi S2 saya dibiayai Ustadz Anis Matta. Sedangkan biaya harian, saya cukupkan dari usaha travel saya.

Menembus Manchester

Obsesi saya untuk kuliah politik masih mengganjal. Dan tekad itu semakin mengkristal di tahun kedua S2 saya di IESH de Paris.

Proses kristalisasi tekad ini dimulai sejak September 2013 di Istanbul. Saya berfikir serius untuk melanjutkan studi di bidang Public Policy. Istri, mendukung penuh dan terus menyemangati. Lalu minta doa restu orang tua, dan sejak hari itu mereka fokus berdoa untuk keberhasilan proyek studi saya. Saya berterima kasih kepada istri, ibu dan bapak saya.

Berikut kronologisnya:

Oktober 2013:

Saya memulai lagi kehidupan di Paris, dan pasang target latihan lagi Bahasa Inggeris dalam 4 bulan kedepan. Maka semua yang dibaca, didengar, diskusi, tonton, hanya bahasa Inggeris. Sedang Perancis dan Arab harus dikesampingkan dulu.

November 2013:

Saya harus booking test IELTS, karena untuk tes rebutan. Saya sempat panik, karena jadwal IELTS untuk Desember full booked, di seluruh Perancis. Jadwal yang ada hanya di Brussel, Belgia, itu yang terdekat, tapi tiket lagi mahal sekali. Akhirnya deadline beasiswa Eiffel dan Erasmus gagal untuk Januari. Maka jadwal 9 Januari yang diambil, di Paris.


Desember 2013: 


Persiapan ujian semester 3 di IESH, sehingga latihan bahasa Inggerisnya di pending dahulu.

Januari 2014: 

Test IELTS. Hari-H ujian, salah lokasi, gara-gara tim IELTS salah kirim email, sedang email revisi tidak masuk.

Saya berterima kasih kepada supir taksi, yang datang di saat yang tepat, di pagi buta, daerah sepi, di last minute. Dua minggu kemudian saya dapat hasilnya, overall 7. Nilai IELTS 7 jadi modal awal untuk maju ke tahap berikutnya yaitu: daftar kuliah.

Februari 2014:

Daftar Science-Po Paris dan 3 universitas Belanda [Twente, Tilburg dan Leiden]. Persiapan berkasnya mati-matian.

Saya minta semua orang yang potensial mereview berkas-berkas saya.

  • Saya bererima kasih kepada Mas Huda Albanna yang memberikan model awal Letter of Motivation.
  • Terima kasih kepada Asiah Rusdi yang memberi referensi template CV yang bagus, dan juga memberi model letter of motivation kemudian ikut mereview letter of motivation saya.
  • Terima kasih kepada Bapak. Fata Yunus yang mereview grammar.
    Terima kasih kepada tokoh profesional yang memberi rekomendasi: Ustadz. Anis Matta, Fahri Hamzah, Fata Yunus, Bpk. Deden Permana.
  • Terima kasih kepada tokoh akademik yang memberi rekomendasi: Dr. Ramzi Saoudi, Dr. Cheikh Ahmed Jaballah , Prof. Dr. Syamsuddin Arif.
  • Terima kasih kepada figur berkaitan yang memberi surat-surat keterangan: Bapak. Fata Yunus dan Ustadz Ahmad Tarmidzi.
  • Terima kasih kepada akh Taryudi Kasimun yang membantu proses pendaftaran Universitas Twente.

Maret 2014: 

Universitas Twente dan Tilburg menolak dengan alasan “Studi S1 [Dakwah] anda tidak cocok dengan bidang politik yang akan anda ambil karena di Belanda, jurusan harus linear atau berdekatan”. Hal ini membuat khawatir sekali, karena pilihan universitas Eropa berbahasa Inggeris tidak banyak, yang ada pun menolak. SciencePo dan Leiden belum jawab.

Akhirnya baru pikiran saya terbuka untuk cari Universitas di UK. Lalu saya mencoba menjajakinya dari nol, bermodal data internet saja. Saya buka Wikipedia, daftar universitas di UK. Ada ratusan, banyak sekali. Saya buka satu-satu situs universitasnya, saya cari jurusan yang dikehendaki, lalu buat list.

Di List itu masih banyak jumlahnya. Mungkin 50-an. Saya email satu-satu dan tanya “Untuk daftar di kampus anda, gratis enggak pendaftarannya?”. Ada sekitar 40-an jawab “gratis”. Sisanya, bilang “bayar, 50 pound [sekitar 1 juta rupiah]”. Kampus yang bayar itu seperti Edinburg, University College of London saya singkirkan dulu. Karena, jika daftar hanya mendaftar ke 1 tempat masing memungkinakn, tapi jika mendaftar ke 20 kampus, hal itu sangat menguras finansial.

Mulailah saya mendaftar, satu-satu. Semua yang mungkin saya coba, akan saya coba. Selama sebulan full, di depan laptop mengisi ratusan halaman formulir pendaftaran dan mengupload dokumen-dokumen yang diminta. Di setiap letter of motivation hanya tinggal di diganti-ganti saja, nama universitas yg dituju, dan program kuliahnya.

Warning: Bagi yang mau meniru tips saya, harus hati-hati, harus teliti. harus punya manajemen file dan folder yang baik. Jangan sampai surat untuk Bristol, tertulis Birmingham. Saya pernah salah sekali, waktu balas email “Kepada Universitas Bristol,….Birmingham adalah kampus yang saya cita-citakan….” (he)

Akhirnya hanya dua puluh universitas yang berhasil saya daftari. Sisanya belum sempat, karena terlalu lelah, dan jenuh sebulan penuh mengisi ratusan halaman formulir.

Saya berterima kasih kepada kedua dosen saya [Dr. Ramzi Saoudi & Dr. Ahmed Jaballa] yang sangat bermurah hati memberikan puluhan surat rekomendasi.

April 2014:

Satu-demi satu universitas memberi kabar penolakan. Leeds university mengatakan “Studi S1 [Dakwah] anda tidak cocok dengan bidang politik yang akan anda ambil”. Glasgow University lebih parah lagi “Universitas asal anda [Al-Azhar] tidak diakui untuk melanjutkan kuliah disini”. Sedih sekali memang. Tapi istri bilang “mungkin ini ujian terberatnya, jangan putus asa dulu, yang lain kan belum jawab”.

Setiap hari saya buka email, untuk menunggu jawaban. Sampai suatu hari, Newcastle University memberi respon “Congratulation” di pembuka suratnya. Sehabis dibaca utuh baru saya teriak takbir.

Alperenhan, anak saya yang baru 2 tahun keheranan, karena melihat saya bergembira dan bertakbir. Dia ikut kegirangan dan meloncat-loncat. Newscactle, oh Newcastle, seperti first love, berkesan sekali. Saat itu dalam hati saya mengatakan “cukuplah Newcastle, andaikan yang lain menolak, tidak apa-apa, saya akan kuliah di Newcastle, jurusan Geopolitics”.

Tapi, sejak hari itu, email-email penerimaan terus berdatangan. Dari University of Bristol, Birmingham, Durham, Southampton, Manchester, Aberdeen, Buckingham, Portsmouth, Swansea, Exeter, Kingston London, Roehampton. Ada 13 universtias yang menerima.

Hal ini membuat tenang, bisa memililh-milih dan mempertimbangkan kota, kurikulum, fasilitas kampus, dll. Ternyata saya baru terpengangah dengan profil universitas-universitas di UK yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan. Saat itu, saya masih menunggu jawaban dari SciencePo, tapi bertekad, apapun responnya saya akan milih universitas di UK.

LPDP dan Beasiswa Presiden RI:

Setelah mendapatkan Letter of Acceptance [LoA], saatnya memburu beasiswa. Karena tidak ada gunanya diterima kuliah di Universitas-universitas dunia jika tidak bisa membayarnya karena tidak ada beasiswa.

Saya siapkan seluruh berkas untuk memburu beasiswa. Alternatif yang tersedia hanyalah beasiswa LPDP regular dan Beasiswa Presiden RI.

Saya browsing dengan detail tentang LPDP, lalu tanya ke sana-sini, khususnya saya berterima kasih kepada Asiah Rusdi, Raditya, Nida Handaullah, Andri Setiawan yang memberi informasi banyak sekali tentang LPDP.

Lalu saya siapkan berkas-berkas administratif. Oleh karena itu saya berterima kasih kepada Ustadz. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Prof. Dr. Kalamullah Ramli atas surat rekomendasi akademiknya, serta Bpk. Mas Yusro yang telah membantu mengkomunikasikan dengan Prof. Kalamullah. Dan terima kasih kepada Bpk. Fata Yunus dan Deden Permana atas surat rekomendasi professionalnya.

Namun yang paling vital adalah essai, tentang sukses pribadi, rencana studi dan proyek masa depan. Saya membuat tulisan, yang saya rasa tulisan terbaik yang saya buat selama ini. Dengan konten yang padat sekali, merangkum dalam 4 halaman, 26 tahun pengalaman hidup dan puluhan tahun proyek masa depan. Saya pilih diksi yang super, yang belum pernah saya buat sebelumnya.

Saya yakin sekali dengan konten dan gaya essai tersebut. Terima kasih kepada Mas Raditya Hari Murti, Dimas Caraka Ramadhani dan Ustadz Harris Mare yang sudah mereviewnya, dan mereka sangat mengapresiasinya.

Namun saya tidak puas dengan apresiasi pihak yang setuju. Saya menginginkan kritikan yang detail dan rasional. Lalu saya minta Asiah Rusdi mengkritiknya setajam mungkin, dan memang betul, tajam sekal. Namun beberapa poin kritiknya tidak saya sepakati seluruhnya, terutama soal konten. Maka saya tidak mengubahnya sama sekali, karena saya sangat yakin sekali dengan konten tersebut.

Tapi saya belum puas, saya meminta lagi review Rihan Handaulah. Beliau sepakat dengan kontennya tapi mengkritik sekali gaya tulisan saya yang seperti prosa dan sastra, tapi tidak cocok secara akademis.

Saya baru sadar, dan saya sepakat 100 persen dengan kritikannya. Maka dia merombak besar-besaran gaya bahasa yang sudah sulit-sulit dibuat itu. Oleh karena itu saya sangat berhutang jasa kepada Rihan Handaullah.

Sebelum submit beasiswa LPDP, ada kabar dari Leiden bahwa saya diterima untuk program foundation Doktoral, tapi di bidang sejarah. Namun saya menerimanya, karena untuk mendaftar LPDP, tidak boleh menerima beasiswa dari sumber lain, walaupun hanya sekedar calon.

Sebelum berkas LPDP di submit, saya masih memerlukan satu berkas lagi dari Atdik Cairo, yaitu keterangan ekuivalensi IPK. Tanpanya, peluang diterimanya beasiswa saya menjadi kecil.

Hingga last minute, tepatnya 15 menit sebelum deadline berkas itu belum dikirim juga dari Cairo. Tapi ini adalah momen penentuan, sekarang atau tidak sama sekali. Daftar dengan peluang kecil, atau telat daftar dan tidak ada peluang sama sekali. Apalagi dalam waktu 15 menit itu semua bisa terjadi. Bisa jadi mati lampu dan internet [untung di Paris jarang], atau laptop hang, dll. Maka di menit-menit terakhir itu saya putuskan untuk men-submit berkas-berkas saya, walaupun tanpa selembar berkas vital itu dari Cairo itu.

Saya berterima kasih kepada Bpk. Joko Sumaryono yang telah bersusah payah seharian memperjuangkan selembar surat itu walaupun hingga akhir tidak berhasil beliau dapatkan dari Atdik.

Dua minggu kemudian hasilnya keluar. Saya lolos seleksi tahap pertama Beasiswa Presiden RI untuk kuliah di University of Manchester, karena Manchester inilah satu-satunya dari 12 kampus yang menerima, yang termasuk dalam the best 50 university. Sedang yang lain hanya best 100 atau best 150 dunia.

Mei 2014:

Jadwal wawancara saya keluar. Namun interview mengharuskan di Indonesia, maka saya perlu mengkomunikasikannya tentang kondisi saya yang sedang di Perancis agar jadwalnya bisa disesuaikan. Terima kasih kepada Rushendra Rustam yang jauh-jauh datang ke LPDP untuk menjelaskan kondisi saya.

Lalu saya pulang ke Indonesia untuk wawancara yang jadwalnya sangat perfect sekali. Namun sehari sebelum hari-H ada perubahan sehingga kepulangan saya ke Indonesia untuk wawancara seakan sia-sia.

Berminggu-minggu tidak ada kabar lagi tentang wawancara beasiswa Presiden, sedangkan deadline penerimaan kuliah saya adalah 7 Juli.

Ini masalah lain lagi. Jika saya menunggu-nunggu kepastian beasiswa Presiden [hanya karena beasiswanya lebih besar dari LPDP], maka saya menghadapi risiko gagal kuliah.

Saya harus memutuskan dengan tepat. Akhirnya saya yakin untuk mengorbankan peluang beasiswa presiden itu untuk pindah ke LPDP yang reguler.

Maka saya dan teman-teman calon penerima beasiswa Presiden mengajukan perpindahan dari Beasiswa Presiden ke beasiswa LPDP reguler. Berkas permohonan perpindahan kami kumpulkan, dan dibawa oleh Arif Spica dan beberapa teman ke kantor LPDP. Terima kasih kepada Arif Spica, Aisyah Rahmarani Siregar dan teman-teman lainnya.

Juni 2014:

Jadwal wawancara terbaru saya di UNPAD Bandung adalah tanggal 10 Juni. Wawancaranya lancar, Alhamdulillah. Para penguji awalnya menekan mental, tapi lama-lama mereka cair dan bersahabat, bahkan kami sampai bisa berbincang kesana-kemari. Dua minggu kemudian hasil keluar, dan saya dinyatakan lolos tahap kedua. Tinggal tahap ketiga, yaitu Pelatihan Kepemimpinan [PK].

Sekarang, saatnya urusan visa. Ini adalah puncak drama kesulitannya. Saya sudah apply visa, bahkan membayar yang premium, dengan 2 juta tambahan agar hasilnya cepat. Karena maksimal pada tanggal 6 Juli, saya harus sudah berangkat, agar 7 Juli pagi bisa registrasi. Jika tidak, maka kuliah saya gagal, dan otomatis, beasiswa LPDP batal.

Hingga hari ke 10, yaitu jum’at sore 4 Juli, visa belum keluar. Padahal, visa premium selesai dalam 3-7 hari maksimal. Jika hari Jum’at itu visa tidak keluar, sedang sabtu minggu libur, maka visa keluarnya hari senin 7 Juli, artinya semuanya akan gagal total, walaupun nantinya dapat beasiswa ratusan juta, tetap tidak bisa kuliah.

Namun Alhamdulillah, atas rahmat Allah, visa keluar 40 menit sebelum kantor visa tutup jam 15.00.

Tapi masih ada masalah lain, yaitu saya harus lapor ke LPDP bahwa saya akan berangkat hari sabtunya. Jika saya tidak melapor, maka tiket yang harganya 8 jutaan itu tidak akan diganti. Namun masalahnya hanya ada 35 menit dari kantor visa di Kuningan Mall menuju LPDP di Monas. Apalagi saat itu sore hari, di Jakarta yang macet.

Jam 14.35 saya berlari dari lantai 3 Kuningan Mall menuju tempat Ojek. Terima kasih kepada bang Ojek, yang Super Ngebut menyelamatkan status tiket saya yang 8 juta, karena saya tiba di LPDP 15 menit sebelum kantor itu tutup.

Saya segera melaporkan kondisi saya dan membicarakan rencana Pelatihan Kepemimpinan (PK) susulan. PK ini wajib saya ikuti, karena tanpanya, proses seleksi beasiswa saya belum tuntas, sehingga beasiswa belum bisa dicarikan seperserpun.

Terima kasih kepada Bapak Fendi, Bapak Kamil dan Mba Ayu Mayshita yang sangat pengertian dan bersahabat. Terkhusus Bapak Eko Prasetyo, direktur utama LPDP yang sangat perhatian, penolong dan peduli dengan setiap permasalahan calon penerima beasiswa. Tidak hanya itu, beliau memberi solusi yang tepat bersama jajaran direksi lainnya.

Saya juga berterima kasih kepada adik saya, Wildan Syawal Nugraha yang berkali-kali menjemput dari pull travel Bandung menuju Jakarta.

Terakhir saya berterima kasih kepada Bapak Hadi Pramono, Direktur Total Indonesia dan Ibu Nina Pramono, Direktur Pertamina Foundation yang memberi banyak bantuan terkait administrasi beasiswa (pinjaman hingga beasiswa bisa dicairkan), begitupun Bpk. Beni Wijaya dan Bpk. Fata Yunus.

Alhamdulillah, tiket saya beli hari itu juga 5 Juli, setelah melapor ke LPDP. Dan 6 Juli pagi dini hari saya berangkat menuju Menchester. Saya tiba di hari yang sama sorenya.

Sejal Juli 2014 itulah, mimpi akdemis saya di Eropa, yang saya rancang sejak tahun 2008 di Cairo terpenuhi. Saat ini saya menjalani studi di jurusan Political Science: Governance & Public Policy di The University of Manchester.

Apakah petualangan akademis saya sudah berakhir?

Belajar tidak akan pernah berhenti hingga mati. Terlebih, masih ada satu mimpi akademis yang tersisa di Eropa ini, yaitu untuk melanjutkan Doktoral di Universitas Oxford, Cambridge atau Edinburg. Ini misi berikutnya yang menanti sebelum misi real di Indonesia.

Dengan izin Allah, semua atas bantuan teman, sahabat, saudara, keluarga, dan guru-guru saya lah, saya bisa sampai disini.

Manchester, 15 April 2015

Seminar  (25)