Biografi dan Kurikulum Pribadi

“Konstatinopel akan dibebaskan” kata sang guru, saat membacakan hadist Nabi 8 abad sebelumnya. Lalu Sang guru Aq Syamsuddin memberi motivasi dan memandu desain kapasitas diri yang perlu dimiliki muridnya. “maka kamulah yang akan menjadi pembebas itu” nasihatnya pada Muhammad al-Fatih.

 

Masa persiapan kapasitas seorang pemimpin pembebas membutuhkan belasan tahun. Sejak mimpi itu dicetak di dinding hatinya, Muhammad bin Murad II merancang keseluruhan masa depannya dari 1 obsesi yang terfokus. Masa mudanya, masa luangnya, buku bacaannya, pelatihan skillnya, seluruhnya untuk mengeksekusi rencana kontribusi unggulannya dalam hidup; yaitu menjadi sang pembebas konstatinopel, merealisasikan ramalan Sang Nabi.

 

Berapa lama kita mempersiapkan diri untuk kontribusi unggulan hidup? Mungkin 10-20 tahun? Bahkan bisa jadi 40 tahun, seperti pembinaan Allah untuk calon-calon Nabi yang umumnya diangkat di usia 40 tahun. Rentang waktu yang lama itu kita siapkan untuk membangun kapasitas diri yang matang, karena targetnya menuntaskan misi besar kemanusiaan. Mengapa selama itu? Karena tugas besar selalu membutuhkan kapasitas besar. Dan kapastitas besar tidak cukup hanya mengandalkan sekolah formal sarjana hingga usia 22-24 tahunan.

 

Karena pada dasarnya, pendidikan umum hanya mencetak generasi generalis. Suatu jurusan yang ada di universitas, diisi oleh ratusan ribuan mahasiswa, diajari kurikulum yang sama dan materi yang sama. Pendidikan formal dasar itu tidaklah mencukupi untuk sebuah misi tiap pemuda yang unik.

 

Bagaimana dengan pendidikan tingkat tinggi master dan doktoral, apakah menjadi standar persiapan kapasitas diri? Mungkin ya, mungkin tidak. Bahkan mungkin juga berakhir nihil jika pendidikan tinggi tersebut tidak terintegrasi dalam desain kapasitas diri jangka panjang untuk sebuah misi hidup yang agung. Bahkan bisa jadi gelar doktoral menjadi beban. Karena skill teknis yang didapat tidak membawa seseorang pada obsesi kontributor peradaban. Tapi gelar itu justru menjadi pengisi rantai terujung dalam proses produksi kekuatan ekonomi global.

 

Desain kapasitas diri bukan sekedar prosesi pendidikan formal. Tapi menjadikan seluruh usia muda seorang pemuda sebagai satu durasi pendidikan komprehensif. Durasi itu memerlukan kurikulum pribadi yang sangat jeli, rinci dan fungsional. Juga menggunakan semua sarana pembelajaran modern. Karena durasi masa muda itu terbatas. Maka tanpa fokus yang jelas, momentum tersebut akan hilang tanpa bekas.

 

Setiap mimpi memerlukan jalan spesifik untuk mencapainya. Beda mimpi, berbeda juga kontribusi, berbeda pula rute yang dijalani. Persoalannya, pikiran pemuda dipenuni alam idealita yang belum tentu menjawab persoalan zaman. Pada sebagiannya, pikiran-pikiran tersebut dijejali oleh kenaifan hasil bentukan media. Di angkasa digital, konten-konten superfisial tentang jalan menuju kesuksesan kadang membanjiri gadget pemuda. Jalan pintas menjadi kaya, cara praktis menjadi ilmuan, menguasai bahasa asing instans, tips cepat menaklukan cinta, kuliah sesekali langsung dapat kerja, atau konten-konten sejenis membanjiri tontonan pemuda yang membentuk pola pikir. Sehingga perencanaan hidup pemuda mungkin di pengaruhi oleh sederet konten populer, viral, menarik dan sederhana tapi penuh miskonsepsi.

 

Namun bukan itu jalan sejati membentuk kapasitas diri. Jalan itu panjang dan berat. Tidak bisa didapatkan kecuali dengan “kecerdasan, semangat, usaha keras, modal, moentorship, dan waktu yang panjang” kata Imam Syafi’i. Inilah jalan itu. Jalan merancang kurikulum pribadi.

 

Jalan panjang menuju penguasaan suatu bidang membutuhkan kurikulum yang jelas. Ada 3 langkah mendesain kurikulum pengembangan kapasitas diri. Yaitu membaca biografi, mentorship dan re-creating self curricula.

 

Biografi seorang tokoh dalam sejarah, siapapun itu, akan memberi inspirasi. Kita tidak perlu membaca ribuan tokoh besar. Karena selain waktu membatasi, tapi juga karena banyak tokoh hebat tapi tidak terlalu relevan dengan misi hidup kita. Sebagian tokoh mengispirasi lebih besar dari tokoh lain, atau relevansinya lebih dekat dengan kita.

Akan selalu ada tokoh-tokoh mempunyai jalan hidup mirip seperti mimpi masa depan yang kita inginkan. Carilah tokoh-tokoh yang mempunyai kontribusi unggulan atau life achievement yang sejalan dengan rencana kontribusi unggulan kita.

 

Biografi itu diperlukan karena manusia bijak bukanlah yang belajar dari kesalahan sendiri. Tapi dia yang belajar dari pengalaman orang lain sehingga dia tidak perlu mengulangi kesalahan yang pernah terjadi dalam sejarah.

 

Biografi adalah ilmu level ketiga menurut Imam al-Ghazali. Karena ia adalah kisah tentang kapasitas sang tokoh (teori), pengalaman kegagagalan dan kesuksesan (implementasi) dan hasil akhir dari pergulatan hidup mereka setelah jatuh bangun (akumulasi pengalaman hidup). Tiga level ilmu ini kita baca secara utuh dalam biografi.

 

Biografi manusia agung akan menginspirasi para pemuda untuk meniru keagungan sang tokoh. Alexander the Great terinspirasi Achiles dalam legenda Helen of Troy. Napoleon kecil terinspirasi Alexander the Great, Julius Caesar, Leonidas Sparta bahkan Khalid bin Walid. Hitler terinspirasi Napoleon. Soekarno terinspirasi Gajah Mada. Abdul Aziz menamai anaknya Umar karena terinspirasi leluhurnya Umar bin Khattab. Che Guevara terinspirasi Simon Bolivar. Hasan al-Banna terinspirasi Jamaluddin al-Afghani. Lalu siapa saja yang menjadi inspirasi kita? Siapa tokoh bacaan para pemuda?

 

Biografi memberi arah filosofis tentang apa saja nilai-nilai dasar yang dibutuhkan dalam jalan menuju kontribusi unggulan. Apa kapasitas inti yang dibutuhkan di bidang yang kita inginkan? Jika rencana kontribusi unggulan seorang pemuda di ranah natural science, maka seraplah inspirasi itu dari Ibnu Haytsam, Ibnu Nafis, An-Nuwairi, al-Mas’udi, Copernicus atau Newton.

 

Jika seseorang ingin berkontribusi membangun negara maka selami kehidupan Nabi Sulaiman, Muawiyyah, Harun al-Rasyid, Abdurrahman an-Nashir, Otto Von Bismarch, Rosevelt, dan negarawan-negarawan berbagai negeri.

 

Pelajari dimensi-dimensi perjuangan masa kecil dan remaja mereka. Jangan terlalu fokus pada masa-masa mendapatkan penghargaan dan kesuksesan usia tua mereka. Renungi bagaimana pergulatan jiwa mereka menentukan mimpi masa depan, perjuangan mengembangkan skill, penderitaan merintis karir, penolakan, kegagalan, musibah, dan tragedi-tragedi hidup mereka. Karena cerita tersebut akan memberi gambaran tentang karakter jalan kehidupan yang akan ditempuh seorang pemuda di masa depan. Akan selalu banyak kemiripan, karena sejarah sering berulang.

 

Ada 4 elemen yang bisa diamati dalam setiap biografi tokoh. Yaitu perjalanan intelektual mereka, kualitas sosial (akhlak & karakter), kekuatan jiwa dan spiritual, juga kapasitas fisik.

 

Perjalanan intelektual adalah periode paling krusial dalam kehidupan muda seseorang. Karena jalan hidup puluhan tahun seorang tokoh ditentukan oleh basis pengetahuan yang didapatnya semasa muda. Kajilah bagaimana sang tokoh mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan utama bagi masa depannya. Apa saja bidang studi inti yang mereka pelajari, apa sederet skill yang mereka tuntaskan sebagai modal karir dan kontribusi besar mereka.

 

Saat kita membaca 10-20 tokoh dalam bidang yang berdekatan, maka kita akan menemukan pola-pola pengetahuan dasar yang mirip diantara mereka. Bahwa ada ilmu dan skill tertentu yang umumnya dimiliki semua tokoh tersebut. Jika seperangkat ilmu-skill ini berhasil diidentifikasi, maka jadikanlah ia sebagai inspirasi untuk memandu rancangan kurikulum pribadi. Perangkat ilmu para tokoh itu menjadi patokan akan ilmu-skill apa saja yang kita dibutuhkan untuk masa depan. Apa yang dulu mereka butuhkan kurang lebih menjadi standar akan ilmu-skill yang juga kita butuhkan.

 

Elemen lain adalah kualitas sosial, spiritual juga fisik. Jalan panjang membangun kapasitas diri bukan hanya kecerdasan pikiran dan pengetahuan, tapi juga kelihaian interaksi dengan orang lain dan ketahanan jiwa di depan goncangan. Bacalah kisah tokoh-tokoh agung saat dihantam krisis, diserang musuh, dicurangi partner kerja, bahkan dikhianati sahabat dan orang tercinta. Bagaimana tokoh-tokoh inspiratif itu bangkit setelah terpuruk dan mencoba lagi setelah gagal berkali-kali.

 

Renungi bagaimana mereka membangun ikatan magis yang transendental. Membangun keyakinan dengan kekuatan supranatural. Bagi muslim, inspirasi spiritual itu adalah kisah ibadah mereka. Bagaimana salat berjamaah menjadi sumber energi dahsyat bagi Muhammad Al-Fatih; Dzikir pagi-sore menjadi booster bagi Ibnu Taimiyyah; atau imajinasi surga membuat badan Bilal yang lemah menjadi kokoh di depan penindasan yang keji.

 

Pelajari juga bagaimana mereka membangun persahabat sejati, mempertahankan cinta, juga membuat bungker jiwa agar kegembiraan di hatinya tetap menyala saat ujian tersulit menempa. Atau bagaimana mereka membangun kemampuan fisik yang memadai sehingga mereka mempunyai ketahanan memikul tugas-tugas berat.

 

Mereka telah menjalani setiap proses kehidupan menuju kontribusi unggulannya. Jalur cepat, lambat, mudah dan rumitnya telah mereka lalui.  Maka jika para pemuda ingin mengikuti jalur kontribusi unggulan mereka, selami spirit biografi tokoh-tokoh besar itu.

 

Semua inspirasi biografi para tokoh itu adalah modal untuk memandu kurikulum pribadi. Jika mereka memiliki seperangkat pengetahuan tertentu, artinya itulah bahan pengetahuan yang mungkin kita butuhkan. Jika mereka mengembangkan kemampuan sosial, spiritual dan fisik tertentu, maka itulah kurang lebih target kurikulum pribadi yang harus kita kembangkan.

 

Resapi kehidupan manusia-manusia agung agar kita terpengaruh. Karena “manusia besar” kata Muhammad Ahmad Rasyid, “akan menjadi magnet bagi manusia-manusia lainnya”.

 

#SerialPemuda. Part 13

Instagram.com/muhammad.elvandi

Bandung, 13 Februari 2019

Comments

comments