BUKU: Investasi Pikiran

1

3

Suatu hari, Imam Ghazali akan dirampok di tengah jalan dengan kafilahnya. Dia mengangis takut buku-bukunya ikut dirampok. Kata para perampok, “ilmu itu disini (kepala) bukan di buku”. Setelah pulang, Imam Ghazali langsung menghafal semua bukunya, dan dikemudian hari mengatakan “nasihat perampok itulah yang mengubah hidup saya sebagai pembelajar”.

Kisah itu tidak pernah saya lupakan sejak SMA. Tapi masalahnya otak saya tidak se-encer Imam Ghazali, sehingga kehadiran buku selalu saya perlukan disamping saya.

Kemaren saya baru tuntas pindahan ke Kotabaru Padalarang, setelah sebelumnya pindahan furniture, sekarang semua buku dikantor baru selesai saya tata. Jumlahnya ada 1000-an. 1000 buku itulah salah satu kepuasan hati saya setelah pulang dari Mesir 4 tahun, Perancis, 3 tahun, dan Inggeris 1 tahun.

1000 buku bukan jumlah yang besar bagi orang kaya di Indonesia yang hobi baca, uang 5-7 juta sudah bisa belanja 100 buku. Tapi 90% dari buku yang anda lihat di foto, adalah buku yang saya beli dari sisa-sisa uang beasiswa selama 8 tahun kuliah di luar. 1/2 nya berbahasa Inggeris, 1/4 berbahasa Arab, 1/4 sisanya bahasa Indonesia dan Perancis.

1000 buku itulah usaha menahan lapar dan mengurangi jalan-jalan. Uang saku beasiswa saya di Cairo (di luar housing) hanya 400.000 rupiah perbulan, ditambah sampingan jadi Tour Guide, tapi alhamdulillah recehan-recehan saya kumpulkan untuk mencicil satu-demi satu buku-buku yang real saya perlukan untuk dikaji, saat itu juga, bukan hanya pajangan tebal referensi seperti kitab-kitan Hadist atau Tafsir.

Di akhir masa studi di Azhar, buku saya sebanyak 4 karton rokok yang di shipping melalui laut. Lalu saya ke Perancis dan membawa beberapa buku terpenting, semua buku Anis Matta, Muhammad Ahmad Rasyid, Jasim Sulthan dan beberapa karya Raghib Sirjani saya bawa.

Disana, saya masih membutuhkan referensi, berbahasa Arab, tapi harganya, masya Allah, mengerikan. Buku Sunnah Masdaran lil Ma’rifah wal Hadharah karya Yusuf Qharadhawi cetakan El-Shorouq harganya 10 kali lipat dari Cairo. Makanya saya mulai beralih mencicil buku-buku lewat ebay dari Inggeris, karena buku cetakan Perancis super mahal. Selama 3 tahun hidup di Perancis, mungkin saya hanya bisa mengoleksi seperempat dari jumlah buku yang saya kumpulkan di Cairo.

Lalu tahun 2014 saya ke Manchester untuk studi lanjutan saya, disanalah saya kira zaman keemasan buku saya, karena saya mendapat beasiswa LPDP dengan nominal 20 juta perbulan.

Tapi saat ke toko buku, barulah semangat layu, karena buku-buku targetan saya yang umumnya terbitan penerbit-penerbit besar seperti Oxford University Press, super gile mahal. Satu buku Oxford Handbook of Political Science, 1 juta harganya.

Disanalah perjuangan terbesar. Saya katakan pada diri sendiri, sekarang atau tidak sama sekali. Saya habiskan sebagian besar beasiswa saya untuk buku, dan satu lagi: traveling (lain kali saya cerita tentang ini). Karena inilah investasi terbesar saya saat pulang, yang akan terus bisa bermanfaat.

Then, mulailah setiap pekan front office asrama saya di Langdale Hall Manchester seperti gudang paket yang menerima paket buku saya setiap pekan, dari Ebay, Amazon, dan berbagai situs buku online.

Setiap ada bidding lelang ensiklopedi saya ikuti, misalnya 60 Jilid The Great Books of Western Civilization adalah buku yang paling saya inginkan dalam hidup. Berisi tulisan terbaik penulis Barat dari zaman Plato, Romawi, Shakespeare, Rennaissance, hingga abad 20. Berbulan-bulan saya pantau terus perkembangan para penjuan buku itu di internet. Dan harganya sekitar 30 juta. Lalu saya pasang aplikasi autobidder di Mac saya, hingga hampir tiap ada waktu senggang saya pantau perkembangan harganya,

Suatu hari ada penjual yang memasang harga bidding sangat murah, dalam waktu yang singkat, di deadline yang jarang orang perhatian, saya pasang autobidder, dengan harga tertentu. Aplikasi itu mem-bidding di sepersekian detik terakhir, dengan harga yang sedikit lebih besar dari siapapun. Akhirnya buku itu saya miliki.

Begitu juga ensiklopedi Britannica 36 jilid, buku-buku Charles Dicken, Jane Asten, Hugo, Robert Greene, Ensiklopedi-ensiklopedi pengetahuan, serial Oxford Handbook, dan tentu diktat-diktat political science, yang harganya na’udzubillah.

Anda percaya, buku Governance setebal 250-an halaman, karangan Bell and Hindmoor terbitan Cambridge, harganya hampir sejuta, yang kalau di copy di taman sari hanya 40 ribu.

Tapi saya nikmati, dan diakhir studi saya, saya mengirim 7 karton super besar berisi ratusan buku berbasaha Inggeris dari politik, sastra, sejarah, agama juga pemikiran.

1000 buku yang ada di rumah sekarang adalah hasil keringat saya sebagai mahasiswa dari recehan mahasiswa, bukan seperti para pengusaha kaya yang bisa membeli satu perpustakaan sekali transaksi.

Setiap judulnya bermakna, karena saya pilih satu-demi satu, seperti menjahit jas yang di ukur setiap milinya, bukan seperti beli beras karungan.

Habiskan-lah sisa uang anda untuk buku, karena buku adalah investasi pikiran. Anda mungkin belum tuntas membacanya sekarang, tapi setiap pikiran anda buntu dari inspirasi, anda tahu bahwa buku-buku itu ada disamping anda untuk dijelajahi.

Comments

comments