Dari Bandung Menembus Cairo, Paris dan Manchester

2015-06-25 20.47.30

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Maha besar Allah yang selalu menyimpan rahasia di balik setiap usaha manusia, berhasil ataupun gagalnya.

Cerita studi saya mirip seperti arung jeram. Sekali meluncur, tidak tahu batu mana yang akan dihantam, dan tikungan mana yang harus dilalui. Saya hanya berencana dan bersiap-sedia tapi Allah yang merancang semua liku dan tantangan.

Menuju Cairo

Sejak lulus SMA tahun 2004, saya ingin melanjutkan pendidikan di Akademi Militer atau teknik informatika ITB. Planning yang pertama batal sedang yang kedua kondisi orang tua tidak memungkinkan untuk mensupport studi disana. Terlebih mereka berharap jika saya langsung terjun di dunia kerja.

Namun semangat studi sedang sangat menggebu dan tidak mungkin dibiarkan berlalu. Semua kesempatan belajar pasca SMA saya cari. Semangat ini sangat dikenal oleh teman-teman dekat di SMA, hingga salah seorang sahabat, Priyo Utomo menawarkan bahwa orang tuanya berminat memberi beasiswa untuk kursus bahasa Inggeris. Kesempatan itu saya ambil dan saya jalani kursus tersebut selama 9 bulan di LIA Bandung. Saya sangat berterima kasih padanya, dan pada Bapak Hari dan Ibu Ira Laksono atas bantuan yang sangat berharga saat itu untuk membuka cakrawala saya dengan bahasa Inggeris.

Selepas itu, kesempatan untuk benar-benar melanjutkan kuliah belum terbuka, hingga pembina pengajian saya, Ustadz Djunaidi menawarkan bahwa beliau bisa memberikan rekomendasi agar saya diterima kuliah di Ma’had Al-Imarat, untuk belajar bahasa Arab selama dua tahun. Kuliah disana gratis, hanya karena alasan itulah saya bersedia belajar, karena sejujurnya saya tidak punya minat sama sekali dengan bahasa Arab. Apalagi dua tahun tersebut bukanlah kuliah S1, melainkan seperti kursus, walaupun beban studinya seperti kuliah universitas normal.

Segera saya pesiapkan dari, dengan bahasa arab nol, untuk ikut ujian masuk. Hasilnya saya yakin pasti hancur, dan memang benar. Tapi rekomendasi Ustadz Djunaidi sangat kuat membuat saya diterima disana.

Hari demi hari saya jalani dengan serius di Ma’had Al-Imarat dari tahun 2015, hingga minat baru mulai tumbuh, yaitu melanjutkan kuliah ilmu keislaan di timur tengah. Setahun setelah mulai belajar, saya memberanikan diri ikut tes beasiswa ke Al-Azhar Mesir tahun 2006. Dengan kemampuan bahasa Arab pas-pasan dan hafalan Qur’an yang minim, tes itu saya ikuti dengan hasil yang jelas: gagal total.

Tekad baru saya bangun untuk ikut tes tahun depannya, hingga tahun 2007 saya ikuti tes di kedutaan Mesir di Jakarta. Hasilnya menggembirakan, saya diterima dengan beasiswa penuh dari Universitas Al-Azhar.

Tanggal 13 November 2007 adalah momen penentu sejarah hidup saya, karena mulai hari itu saya meninggalkan tanah air selama empat tahun penuh tanpa sempat pulang.

Lembaran barupun dimuali di tanah Cairo tanggal 14 November di Universitas Al-Azhar Cairo jurusan Da’wah wa Tsaqafah Islamiyyah. Studi S1 saya pada akhirnya dimulai, dengan masa-masa yang sangat berat di tahun pertama untuk memahami tumbukan buku-buku berbahasa Arab.

Empat tahun saya selesaikan studi saya dengan nilai akhir Good (jayyid), dari tahun 2007 hingga 2011. Dengan berbagai dinamika dan cerita, dari mulai aktivitas kemahasiswaan, sastra, politik, kepenulisan, forum-forum internasional, juga cinta.

Oktober 2010 adalah momen bersejarah kedua. Bulan itulah saya menikahi muslimah Perancis keturunan Turki, Neslihan, yang menurut kawan-kawan kisahnya, sedikit mirip Ayat-ayat Cinta (he).

Setelah menikah, istri kembali melanjutkan studinya di Perancis, dan saya perlu menyelesaikan tingkat akhir studi hingga 2011.

Menuju Paris

Perjalanan menuju Perancis tidak serumit Cairo, karena saya datang sebagai suami, bukan mahasiswa. Sehingga saat ujian tingkat akhir tuntas, saya segera berangkat menuju Lyon Peranics. 15 Agustus 2011, lemabaran baru kisah studi pun dimulai.

Sejak dari Cairo, saya bertekad untuk melanjurkan S2 jurusan politik di Perancis. Maka tahun pertama di Perancis saya mulai bersiap-siap. Saat itu adalah masa paling sulit, karena saya harus mempelajari bahasa Perancis dari dasar sekali. Saya mengambil kursus selama 3 bulan di IFRA (Institut Formation Rhone Alpes) di kota Saint Etienne, sedangkan sisanya saya pelajari otodidak di jalanan sepanjang tahun, sambil menunggu istri menyelesaikan S1-nya.

Setelah satu tahun berlalu, saya coba berbagai universitas Perancis, namun tidak ada satupun yang menerima saya kuliah di jurusan politik, karena jurusan saya di Al-Azhar tidak linear. Terlebih, mayoritas universitas-universitas Perancis tidak menerima ijazah Al-Azhar untuk langsung kuliah S2, namun harus mengulangi tingkat akhir S1 di universitas mereka.

Saya terus mencoba, dan September 2012 saya memberanikan diri mendaftar kuliah S2 di Institut Européen des Science Humaines (IESH) de Paris, tanpa tahu dari mana harus membayarnya.

Saya diterima, hanya saja bukan politik, melainkan jurusan FIlsafat. Studi di IESH cukup mahal, tidak seperti universitas-universitas Perancis pada umumnya. Semua kemungkinan beasiswa di Perancis saya coba. Namun semua gagal. Hingga Allah kembali menurunkan rizkinya melalui hambanya yang tidak pernah saya duga.

Tanpa disangka, Ustadz Anis Matta menghubungi untuk meminta saya menemani beliau dan keluarga di Paris. Karena saya mempunyai usaha sampingan di bidang tour & traveling. Saya sudah menjalin komunikasi dengan beliau sejak 2007, namun baru tahun 2012 sempat mengenalnya secara pribadi.

Di akhir tour, saya sampaikan permasalahan studi saya. Tanpa semenitpun berfikir, beliau mengatakan “kalau tidak ada lagi cara, Insya Allah beasiswa dari saya”.

Rasa takjub, hormat, gembira, sungkan dan kekaguman, beracampur aduk. Saya berusaha keras mencari semua sumber beasiswa yang ada di luar dan dalam negeri selama beberapa bulan, termasuk beasiswa unggulan DIKTI, namun tidak ada yang berhasil. Sehingga akihrnya dua tahun biaya studi S2 saya dibiayai Ustadz Anis Matta. Sedangkan biaya harian, saya cukupkan dari usaha travel saya.

Menembus Manchester

Obsesi saya untuk kuliah politik masih mengganjal. Dan tekad itu semakin mengkristal di tahun kedua S2 saya di IESH de Paris.

Proses kristalisasi tekad ini dimulai sejak September 2013 di Istanbul. Saya berfikir serius untuk melanjutkan studi di bidang Public Policy. Istri, mendukung penuh dan terus menyemangati. Lalu minta doa restu orang tua, dan sejak hari itu mereka fokus berdoa untuk keberhasilan proyek studi saya. Saya berterima kasih kepada istri, ibu dan bapak saya.

Berikut kronologisnya:

Oktober 2013:

Saya memulai lagi kehidupan di Paris, dan pasang target latihan lagi Bahasa Inggeris dalam 4 bulan kedepan. Maka semua yang dibaca, didengar, diskusi, tonton, hanya bahasa Inggeris. Sedang Perancis dan Arab harus dikesampingkan dulu.

November 2013:

Saya harus booking test IELTS, karena untuk tes rebutan. Saya sempat panik, karena jadwal IELTS untuk Desember full booked, di seluruh Perancis. Jadwal yang ada hanya di Brussel, Belgia, itu yang terdekat, tapi tiket lagi mahal sekali. Akhirnya deadline beasiswa Eiffel dan Erasmus gagal untuk Januari. Maka jadwal 9 Januari yang diambil, di Paris.


Desember 2013: 


Persiapan ujian semester 3 di IESH, sehingga latihan bahasa Inggerisnya di pending dahulu.

Januari 2014: 

Test IELTS. Hari-H ujian, salah lokasi, gara-gara tim IELTS salah kirim email, sedang email revisi tidak masuk.

Saya berterima kasih kepada supir taksi, yang datang di saat yang tepat, di pagi buta, daerah sepi, di last minute. Dua minggu kemudian saya dapat hasilnya, overall 7. Nilai IELTS 7 jadi modal awal untuk maju ke tahap berikutnya yaitu: daftar kuliah.

Februari 2014:

Daftar Science-Po Paris dan 3 universitas Belanda [Twente, Tilburg dan Leiden]. Persiapan berkasnya mati-matian.

Saya minta semua orang yang potensial mereview berkas-berkas saya.

  • Saya bererima kasih kepada Mas Huda Albanna yang memberikan model awal Letter of Motivation.
  • Terima kasih kepada Asiah Rusdi yang memberi referensi template CV yang bagus, dan juga memberi model letter of motivation kemudian ikut mereview letter of motivation saya.
  • Terima kasih kepada Bapak. Fata Yunus yang mereview grammar.
    Terima kasih kepada tokoh profesional yang memberi rekomendasi: Ustadz. Anis Matta, Fahri Hamzah, Fata Yunus, Bpk. Deden Permana.
  • Terima kasih kepada tokoh akademik yang memberi rekomendasi: Dr. Ramzi Saoudi, Dr. Cheikh Ahmed Jaballah , Prof. Dr. Syamsuddin Arif.
  • Terima kasih kepada figur berkaitan yang memberi surat-surat keterangan: Bapak. Fata Yunus dan Ustadz Ahmad Tarmidzi.
  • Terima kasih kepada akh Taryudi Kasimun yang membantu proses pendaftaran Universitas Twente.

Maret 2014: 

Universitas Twente dan Tilburg menolak dengan alasan “Studi S1 [Dakwah] anda tidak cocok dengan bidang politik yang akan anda ambil karena di Belanda, jurusan harus linear atau berdekatan”. Hal ini membuat khawatir sekali, karena pilihan universitas Eropa berbahasa Inggeris tidak banyak, yang ada pun menolak. SciencePo dan Leiden belum jawab.

Akhirnya baru pikiran saya terbuka untuk cari Universitas di UK. Lalu saya mencoba menjajakinya dari nol, bermodal data internet saja. Saya buka Wikipedia, daftar universitas di UK. Ada ratusan, banyak sekali. Saya buka satu-satu situs universitasnya, saya cari jurusan yang dikehendaki, lalu buat list.

Di List itu masih banyak jumlahnya. Mungkin 50-an. Saya email satu-satu dan tanya “Untuk daftar di kampus anda, gratis enggak pendaftarannya?”. Ada sekitar 40-an jawab “gratis”. Sisanya, bilang “bayar, 50 pound [sekitar 1 juta rupiah]”. Kampus yang bayar itu seperti Edinburg, University College of London saya singkirkan dulu. Karena, jika daftar hanya mendaftar ke 1 tempat masing memungkinakn, tapi jika mendaftar ke 20 kampus, hal itu sangat menguras finansial.

Mulailah saya mendaftar, satu-satu. Semua yang mungkin saya coba, akan saya coba. Selama sebulan full, di depan laptop mengisi ratusan halaman formulir pendaftaran dan mengupload dokumen-dokumen yang diminta. Di setiap letter of motivation hanya tinggal di diganti-ganti saja, nama universitas yg dituju, dan program kuliahnya.

Warning: Bagi yang mau meniru tips saya, harus hati-hati, harus teliti. harus punya manajemen file dan folder yang baik. Jangan sampai surat untuk Bristol, tertulis Birmingham. Saya pernah salah sekali, waktu balas email “Kepada Universitas Bristol,….Birmingham adalah kampus yang saya cita-citakan….” (he)

Akhirnya hanya dua puluh universitas yang berhasil saya daftari. Sisanya belum sempat, karena terlalu lelah, dan jenuh sebulan penuh mengisi ratusan halaman formulir.

Saya berterima kasih kepada kedua dosen saya [Dr. Ramzi Saoudi & Dr. Ahmed Jaballa] yang sangat bermurah hati memberikan puluhan surat rekomendasi.

April 2014:

Satu-demi satu universitas memberi kabar penolakan. Leeds university mengatakan “Studi S1 [Dakwah] anda tidak cocok dengan bidang politik yang akan anda ambil”. Glasgow University lebih parah lagi “Universitas asal anda [Al-Azhar] tidak diakui untuk melanjutkan kuliah disini”. Sedih sekali memang. Tapi istri bilang “mungkin ini ujian terberatnya, jangan putus asa dulu, yang lain kan belum jawab”.

Setiap hari saya buka email, untuk menunggu jawaban. Sampai suatu hari, Newcastle University memberi respon “Congratulation” di pembuka suratnya. Sehabis dibaca utuh baru saya teriak takbir.

Alperenhan, anak saya yang baru 2 tahun keheranan, karena melihat saya bergembira dan bertakbir. Dia ikut kegirangan dan meloncat-loncat. Newscactle, oh Newcastle, seperti first love, berkesan sekali. Saat itu dalam hati saya mengatakan “cukuplah Newcastle, andaikan yang lain menolak, tidak apa-apa, saya akan kuliah di Newcastle, jurusan Geopolitics”.

Tapi, sejak hari itu, email-email penerimaan terus berdatangan. Dari University of Bristol, Birmingham, Durham, Southampton, Manchester, Aberdeen, Buckingham, Portsmouth, Swansea, Exeter, Kingston London, Roehampton. Ada 13 universtias yang menerima.

Hal ini membuat tenang, bisa memililh-milih dan mempertimbangkan kota, kurikulum, fasilitas kampus, dll. Ternyata saya baru terpengangah dengan profil universitas-universitas di UK yang sebelumnya tidak pernah saya perhatikan. Saat itu, saya masih menunggu jawaban dari SciencePo, tapi bertekad, apapun responnya saya akan milih universitas di UK.

LPDP dan Beasiswa Presiden RI:

Setelah mendapatkan Letter of Acceptance [LoA], saatnya memburu beasiswa. Karena tidak ada gunanya diterima kuliah di Universitas-universitas dunia jika tidak bisa membayarnya karena tidak ada beasiswa.

Saya siapkan seluruh berkas untuk memburu beasiswa. Alternatif yang tersedia hanyalah beasiswa LPDP regular dan Beasiswa Presiden RI.

Saya browsing dengan detail tentang LPDP, lalu tanya ke sana-sini, khususnya saya berterima kasih kepada Asiah Rusdi, Raditya, Nida Handaullah, Andri Setiawan yang memberi informasi banyak sekali tentang LPDP.

Lalu saya siapkan berkas-berkas administratif. Oleh karena itu saya berterima kasih kepada Ustadz. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dan Prof. Dr. Kalamullah Ramli atas surat rekomendasi akademiknya, serta Bpk. Mas Yusro yang telah membantu mengkomunikasikan dengan Prof. Kalamullah. Dan terima kasih kepada Bpk. Fata Yunus dan Deden Permana atas surat rekomendasi professionalnya.

Namun yang paling vital adalah essai, tentang sukses pribadi, rencana studi dan proyek masa depan. Saya membuat tulisan, yang saya rasa tulisan terbaik yang saya buat selama ini. Dengan konten yang padat sekali, merangkum dalam 4 halaman, 26 tahun pengalaman hidup dan puluhan tahun proyek masa depan. Saya pilih diksi yang super, yang belum pernah saya buat sebelumnya.

Saya yakin sekali dengan konten dan gaya essai tersebut. Terima kasih kepada Mas Raditya Hari Murti, Dimas Caraka Ramadhani dan Ustadz Harris Mare yang sudah mereviewnya, dan mereka sangat mengapresiasinya.

Namun saya tidak puas dengan apresiasi pihak yang setuju. Saya menginginkan kritikan yang detail dan rasional. Lalu saya minta Asiah Rusdi mengkritiknya setajam mungkin, dan memang betul, tajam sekal. Namun beberapa poin kritiknya tidak saya sepakati seluruhnya, terutama soal konten. Maka saya tidak mengubahnya sama sekali, karena saya sangat yakin sekali dengan konten tersebut.

Tapi saya belum puas, saya meminta lagi review Rihan Handaulah. Beliau sepakat dengan kontennya tapi mengkritik sekali gaya tulisan saya yang seperti prosa dan sastra, tapi tidak cocok secara akademis.

Saya baru sadar, dan saya sepakat 100 persen dengan kritikannya. Maka dia merombak besar-besaran gaya bahasa yang sudah sulit-sulit dibuat itu. Oleh karena itu saya sangat berhutang jasa kepada Rihan Handaullah.

Sebelum submit beasiswa LPDP, ada kabar dari Leiden bahwa saya diterima untuk program foundation Doktoral, tapi di bidang sejarah. Namun saya menerimanya, karena untuk mendaftar LPDP, tidak boleh menerima beasiswa dari sumber lain, walaupun hanya sekedar calon.

Sebelum berkas LPDP di submit, saya masih memerlukan satu berkas lagi dari Atdik Cairo, yaitu keterangan ekuivalensi IPK. Tanpanya, peluang diterimanya beasiswa saya menjadi kecil.

Hingga last minute, tepatnya 15 menit sebelum deadline berkas itu belum dikirim juga dari Cairo. Tapi ini adalah momen penentuan, sekarang atau tidak sama sekali. Daftar dengan peluang kecil, atau telat daftar dan tidak ada peluang sama sekali. Apalagi dalam waktu 15 menit itu semua bisa terjadi. Bisa jadi mati lampu dan internet [untung di Paris jarang], atau laptop hang, dll. Maka di menit-menit terakhir itu saya putuskan untuk men-submit berkas-berkas saya, walaupun tanpa selembar berkas vital itu dari Cairo itu.

Saya berterima kasih kepada Bpk. Joko Sumaryono yang telah bersusah payah seharian memperjuangkan selembar surat itu walaupun hingga akhir tidak berhasil beliau dapatkan dari Atdik.

Dua minggu kemudian hasilnya keluar. Saya lolos seleksi tahap pertama Beasiswa Presiden RI untuk kuliah di University of Manchester, karena Manchester inilah satu-satunya dari 12 kampus yang menerima, yang termasuk dalam the best 50 university. Sedang yang lain hanya best 100 atau best 150 dunia.

Mei 2014:

Jadwal wawancara saya keluar. Namun interview mengharuskan di Indonesia, maka saya perlu mengkomunikasikannya tentang kondisi saya yang sedang di Perancis agar jadwalnya bisa disesuaikan. Terima kasih kepada Rushendra Rustam yang jauh-jauh datang ke LPDP untuk menjelaskan kondisi saya.

Lalu saya pulang ke Indonesia untuk wawancara yang jadwalnya sangat perfect sekali. Namun sehari sebelum hari-H ada perubahan sehingga kepulangan saya ke Indonesia untuk wawancara seakan sia-sia.

Berminggu-minggu tidak ada kabar lagi tentang wawancara beasiswa Presiden, sedangkan deadline penerimaan kuliah saya adalah 7 Juli.

Ini masalah lain lagi. Jika saya menunggu-nunggu kepastian beasiswa Presiden [hanya karena beasiswanya lebih besar dari LPDP], maka saya menghadapi risiko gagal kuliah.

Saya harus memutuskan dengan tepat. Akhirnya saya yakin untuk mengorbankan peluang beasiswa presiden itu untuk pindah ke LPDP yang reguler.

Maka saya dan teman-teman calon penerima beasiswa Presiden mengajukan perpindahan dari Beasiswa Presiden ke beasiswa LPDP reguler. Berkas permohonan perpindahan kami kumpulkan, dan dibawa oleh Arif Spica dan beberapa teman ke kantor LPDP. Terima kasih kepada Arif Spica, Aisyah Rahmarani Siregar dan teman-teman lainnya.

Juni 2014:

Jadwal wawancara terbaru saya di UNPAD Bandung adalah tanggal 10 Juni. Wawancaranya lancar, Alhamdulillah. Para penguji awalnya menekan mental, tapi lama-lama mereka cair dan bersahabat, bahkan kami sampai bisa berbincang kesana-kemari. Dua minggu kemudian hasil keluar, dan saya dinyatakan lolos tahap kedua. Tinggal tahap ketiga, yaitu Pelatihan Kepemimpinan [PK].

Sekarang, saatnya urusan visa. Ini adalah puncak drama kesulitannya. Saya sudah apply visa, bahkan membayar yang premium, dengan 2 juta tambahan agar hasilnya cepat. Karena maksimal pada tanggal 6 Juli, saya harus sudah berangkat, agar 7 Juli pagi bisa registrasi. Jika tidak, maka kuliah saya gagal, dan otomatis, beasiswa LPDP batal.

Hingga hari ke 10, yaitu jum’at sore 4 Juli, visa belum keluar. Padahal, visa premium selesai dalam 3-7 hari maksimal. Jika hari Jum’at itu visa tidak keluar, sedang sabtu minggu libur, maka visa keluarnya hari senin 7 Juli, artinya semuanya akan gagal total, walaupun nantinya dapat beasiswa ratusan juta, tetap tidak bisa kuliah.

Namun Alhamdulillah, atas rahmat Allah, visa keluar 40 menit sebelum kantor visa tutup jam 15.00.

Tapi masih ada masalah lain, yaitu saya harus lapor ke LPDP bahwa saya akan berangkat hari sabtunya. Jika saya tidak melapor, maka tiket yang harganya 8 jutaan itu tidak akan diganti. Namun masalahnya hanya ada 35 menit dari kantor visa di Kuningan Mall menuju LPDP di Monas. Apalagi saat itu sore hari, di Jakarta yang macet.

Jam 14.35 saya berlari dari lantai 3 Kuningan Mall menuju tempat Ojek. Terima kasih kepada bang Ojek, yang Super Ngebut menyelamatkan status tiket saya yang 8 juta, karena saya tiba di LPDP 15 menit sebelum kantor itu tutup.

Saya segera melaporkan kondisi saya dan membicarakan rencana Pelatihan Kepemimpinan (PK) susulan. PK ini wajib saya ikuti, karena tanpanya, proses seleksi beasiswa saya belum tuntas, sehingga beasiswa belum bisa dicarikan seperserpun.

Terima kasih kepada Bapak Fendi, Bapak Kamil dan Mba Ayu Mayshita yang sangat pengertian dan bersahabat. Terkhusus Bapak Eko Prasetyo, direktur utama LPDP yang sangat perhatian, penolong dan peduli dengan setiap permasalahan calon penerima beasiswa. Tidak hanya itu, beliau memberi solusi yang tepat bersama jajaran direksi lainnya.

Saya juga berterima kasih kepada adik saya, Wildan Syawal Nugraha yang berkali-kali menjemput dari pull travel Bandung menuju Jakarta.

Terakhir saya berterima kasih kepada Bapak Hadi Pramono, Direktur Total Indonesia dan Ibu Nina Pramono, Direktur Pertamina Foundation yang memberi banyak bantuan terkait administrasi beasiswa (pinjaman hingga beasiswa bisa dicairkan), begitupun Bpk. Beni Wijaya dan Bpk. Fata Yunus.

Alhamdulillah, tiket saya beli hari itu juga 5 Juli, setelah melapor ke LPDP. Dan 6 Juli pagi dini hari saya berangkat menuju Menchester. Saya tiba di hari yang sama sorenya.

Sejal Juli 2014 itulah, mimpi akdemis saya di Eropa, yang saya rancang sejak tahun 2008 di Cairo terpenuhi. Saat ini saya menjalani studi di jurusan Political Science: Governance & Public Policy di The University of Manchester.

Apakah petualangan akademis saya sudah berakhir?

Belajar tidak akan pernah berhenti hingga mati. Terlebih, masih ada satu mimpi akademis yang tersisa di Eropa ini, yaitu untuk melanjutkan Doktoral di Universitas Oxford, Cambridge atau Edinburg. Ini misi berikutnya yang menanti sebelum misi real di Indonesia.

Dengan izin Allah, semua atas bantuan teman, sahabat, saudara, keluarga, dan guru-guru saya lah, saya bisa sampai disini.

Manchester, 15 April 2015

Comments

comments