Generasi Revolusi : Misi Besar Membawa Umat

Zaman Generasi Revolusi

 

Kontras antara tangis dan senyum, sehingga sulit dipadu dalam satu waktu. Seperti itu mengharap optimisme tumbuh dihadapan musibah, memancarkan semangat ditengah tragedi. Karena dalam 10 tahun terakhir, badan umat dikoyak badai bencana dari Timur Tengah hingga Timor Timur.

 

Tahun 2001 Afganistan dijajah. Timor Timor resmi terpisah dari Indonesia. 2003 giliran Irak yang dijajah. 2004 Tsunami menerpa Aceh dan sejak itu gerakan misionaris menjamur dengan sangat terbuka. Merekrut warga yang jelas-jelas muslim beserta anak-anaknya. 2005 Denmark kembali panas, dengan karikatur penghinaan terhadap manusia paling berjasa untuk kemanusiaan: Rasulullah. 2006 meletus perang di Lebanon melawan Yahudi. 2007 Palestina terpecah menjadi Gaza dan tepi barat. 2008 penduduk Gaza dibantai. Tiga ribu korbannya, mayoritas wanita dan anak-anak. 2009 minoritas muslim Turkistan dianiaya dan dihancurkan di Cina. 2010 Sudan Selatan terpecah dari induknya.

 

Dan negara-negara dunia Islam, khususnya Timur Tengah seragam dalam perbudakan modern. Salah satu yang terekstrim misalnya di Suriah. Potongan tulisan Fahmi Huwaidi, analis politik dunia asal Mesir ini sepertinya mewakili potret kehidupan disana. “Hanya di Suriah, kota sesak dengan Tank Perang untuk diarahkan ke rakyat; Hanya di Suriah, listrik diputus dimusim panas untuk dijual ke negara lain; Hanya di Suriah, anak-anak masuk penjara sebelum masuk sekolah; Hanya di Suriah, tetangga kita pergi bekerja dipagi hari dan kembali setelah sebelas tahun; Hanya di Suriah, rakyat tidak tenang membuka mulutnya kecuali kalau pergi ke dokter gigi; Hanya di Suriah, menghina Presiden kafir dan menghina agama sekedar pendapat pribadi”.

 

Para pemimpin diktator itu mempunyai guru yang sama: Fir’aun. “…yang mempunyai bagunan-bangunan yang besar, yang berbuat sewenang-wenang di dalam negeri, lalu mereka banyak berbuat kerusakan di dalam negeri itu…” [al-Fajr 10-12]. Maka sulit umat menegakan kembali kepalanya untuk memandang jauh masa depan. Inilah saat-saat paling genting. Bukan pada bencananya, tapi wabah pesimisme yang mulai meresap kesetiap sendi menuju jantung umat hingga tersungkur dalam kubangan keputusasaan. Putus asa bahwa perubahan tidak mungkin terjadi dan kemenangan umat menjadi utopia. Ini yang menjadi krisis umat bukan bencananya. Padahal “yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang kafir” [Yûsuf: 87].

 

Sepanjang sejarah Islam, umat pernah menghadapi bencana-bencana yang jauh lebih besar dari akumulasi ujian saat ini. Mulai dari gerakan murtad di zaman sahabat saat Islam baru mau mulai mengembangkan eksistensinya, fitnah di akhir masa Khulafâur Rasyidîn, terjajahnya al-Quds oleh tentara Salib, hancurnya peradaban Islam setelah mencapai puncaknya di Baghdâd oleh kaum Tatar, terpecahnya negeri-negeri kawasan Daulah Ustmâniyyah hingga mencapai keruntuhannya.

 

Tapi sepanjang waktu itu umat Islam tidak pernah mati, tidak seperti umat lain yang perannya di bumi ini berakhir dan tidak pernah lahir generasi penerusnya, seperti Tsamûd, ‘Ȃd, Sumeria, Babilonia. Karena janji Allah umat Islam tidak akan pernah mati. “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyeru kebaikan dan mencegak kerusakan, dan beriman kepada Allah” [Ȃli ‘Imrân: 110]. Pesan ini adalah umur umat yang harus dituntaskannya hingga akhir zaman.

 

Namun ada hal yang mungkin berakhir: generasi yang tidak produktif. Generasi sahabat, tabi’în, tâbi’ut tâbi’în telah menuntaskan perannya dengan baik. Juga generasi Umar bin Abdul Aziz, Hârûn ar-Rasyîd, Salahuddîn, Muzhaffar Quthz, Abdurrahman bin Mu’âwiyyah, Yûsuf bin Tasyifîn, Muhammad al-Fâtih dan Sultan Sulaimân al-Qânûni. Dipundak generasi mereka umat jaya dan menegakan kepala. Itu karena mereka produktif menuntaskan misi besarnya dengan baik. Jika tidak dizaman ini, umat akan tetap jaya kapanpun, hanya di zaman generasi lain. Inilah rahasia dari firman Allah “itulah hari-hari yang Kami pergilirkan diantara manusia …” [Ȃli ‘Imrân: 110]. Sehingga sebuah generasi mendapat giliran memikul badan umat saat ia mampu memahami kebutuhan zamannya dan menuntaskan misi-misi yang dibutuhkannya. Jika tidak, ia berakhir dan digantikan generasi lain di tempat lain, di waktu lain.

 

Misi itulah yang sedang menanti generasi ini. Setelah 10 tahun umat hampir putus asa, Allah memberikan busyrâ kepada umat di akhir 2010 hingga membiak menjadi Musim Semi Revolusi Arab. Titik perubahan ini bukan dimulai dari negara yang Islami, tapi dari negeri yang paling jauh praktek Islamnya. Tunisia bahkan lebih liberal dan sekuler dari Eropa. Di Prancis, kebebasan masih tersisa bagi muslimah berjilbab di universitas-universitas; umat Islam imigran mendapak hak-hak dan tunjangan yang sama persis dengan warga Prancis asli; Umat Islam leluasa mendirikan mesjd untuk berdinamika didalamnya, tapi tidak di Tunisia. Bahkan letusan revolusi itu dimulai dari tindakan yang mutlak tercela dalam Islam. Bunuh diri tidak mempunyai landasan dalam kondisi apapun. Tapi inilah yang terjadi, sehingga dalam waktu dua bulan saja, dunia Islam Arab terbakar panas revolusinya : Mesir, Libya, Bahrain, Yaman dan Suriah.

 

Sekarang atau Tunggu 60 Tahun Lagi

 

Revolusi ini bukan karya manusia. Siapapun yang melihat dan merasakan hari-hari revolusi Mesir sejak 25 Januari di Cairo akan sangat memahami makna ini. Di Tahrir tiga juta manusia berkumpul tanpa pemimpin, tanpa kordinator, tanpa rapat, tanpa rekayasa sosial yang dimatangkan berbulan-bulan.

 

Padahal tahun itu aktivis Islam sedang tidak mempunyai semangat. Karena saat pemilu parlemen November 2010 itu diumumkan, aktivis Islam luntur obsesi dengan hasilnya. Kekerasan dan pembajakan pemilu itu dilakukan di tengah siang yang terang dan menyedot energi optimisme umat. Sampai pada tingkat, suara caleg di sebuah TPS nol, padahal ia dan seluruh keluarganya memilih disana. Sehingga jelas, mengapa suara Partai Nasional Demokratnya Husni Mubarak mencapai 81%.

 

Tapi Niccolo Machiavelli menulis sebuah kaidah dalam Il Princepemimpin…setiap bertambah kekerasannya, semakin lemah sistem pemerintahannya”. Seperti Norwegia yang melawan penjajahan NAZI, atau perlawanan Belanda, Jerman, Cekoslovakia melawan komunisme, yang menyebabkan runtuhnya sistem komunis di Eropa. Inilah juga fenomena sejarah yang menjadi sunatullah di dunia Arab. Suriah misalnya, masyarakat dunia siap menghancurkan presiden zalim itu jika ia tetap tidak mendengar ancaman Liga Arab, tinggal menunggu waktu dan kesempatan saja. Dan itulah sebabnya buru-buru raja Maroko Mohamed VI membuka ruang demokrasi instan bagi rakyatnya dengan pemilu parlemen. Di Mesir, hanya dalam 18 hari revolusi itu gilang-gemilang dan sekarang memasuki pemilu demokratis pertama dalam sejarah mereka sejak zaman Fir’aun. Karena bukan orang Mesir merancang revolusi itu. Bukan juga umat Islam, tapi Allah sendiri yang menetapkan sunatullah bagi para pemimpin zalim “karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka”. [al-Fajr:13] dan Dialah yang menghancurkannya“bukanlah kamu yang melempar saat melempar, tapi Allah yang melempar…” [al-Anfâl: 17].

 

Revolusi ini adalah kesempatan dari Allah. Kesempatan ini pernah diberikan kepada generasi 50-an pasca perang dunia II. Saat negeri-negeri Islam merdeka dan mulai menata negaranya. Tapi generasi tersebut tidak berhasil menjadikan Islam konsep kehidupannya. Sistem-sistem yang saat ini sedang menuju kehancuranlah yang dipakai mereka, komunisme dan kapitalime. Bahkan bagi negara seperti Turki, Islam bukan hanya tidak dijadikan pilihan tapi dilarang secara undang-undang. Sistem-sistem impor itu diperparah dengan para pemimpin diktator, sehingga sempurnalah seluruh suasa bagi umat untuk hibernasi perjuangan di dalam gua hangatnya.

 

Ketika generasi 50 gagal, umat harus menunggu lama. Sepanjang itu tidak ada perubahan berarti. Bahkan yang ada justru peperangan sesama negara muslim. Generasi 60 hingga generasi 90 tidak mampu masuk ke ring pertarungan atas nama umat. Indonesia hanyalah salah satu busyrâ dari Allah. Generasi 98 mampu menjadikan Indonesia negara berpenduduk muslim paling demoktratis. Tapi selebihnya dunia Islam tidak berubah, dan umat masih harus menunggu generasi baru yang akan menjemputnya.

 

Dan sekarang kesempatan itu sedang Allah letakan di punggung generasi revolusi. Mereka bukanlah rakyat Tunisia, Libya, Mesir dan Suriah. Bukan generasi Arab, tapi generasi muslim zaman ini yang berkontribusi untuk revolusi, apapun warganegaranya. Dengan syarat, mereka masuk ke dalam barisan kerja untuk membawa umat ke gerbang sejarah baru. Oleh karena itu generasi revolusi perlu memahami realitas zamannya, kebutuhan-kebutuhannya dan langkah paling realistis untuk membawa umat kembali memimpin. Jika generasi revolusi tidak memahami perannya maka umat kembali menunggu generasi lain setelah sepuluh tahun, atau dua puluh, atau enam puluh tahun lagi.

 

Misi Generasi Revolusi

 

Secara praktis, ada tiga kekuatan untuk bekal generasi revolusi membawa umat ke gerbang sejarah baru.

 

1. Soliditas Iman: Revolusi Arab ini hanyalah mendobrak gerbang yang menghadang umat masuk. Tapi didalam, ada gunungan sampah kehidupan yang perlu ditata. Kerja-kerja pasca revolusi jauh lebih besar dan panjang dibanding demonstrasi dan teriakan di lapangan. Disinilah ujiannya. Saat panas perlawanan berkecamuk, Allah terasa dekat dan barisan begitu bersatu. Salat tetap berjalan ditengah desingan peluru dan apungan gas air mata, tapi di gedung-gedung rapat dan konferensi pers, Allah tidak terasa lagi. Dan terkadang lupa bahwa revolusi ini mutlak rekayasa Allah.

 

Allah-lah yang telah menjaga kesatuan barisan demonstran dan ketabahannya. Saat pidato emosional Mubarak disiarkan, ibu-ibu Mesir di rumah-rumah mereka terpengaruh dan menyeru anak-anaknya untuk berhenti berdemonstrasi. Barisan terpecah, dan suara tidak lagi bulat. Hampir revolusi gagal bukan buatan. Tapi tidak ada yang pernah membayangkan apalagi merencanakan bahwa gara-gara masuknya unta kebarisan mereka. Sehingga memperparah kerusuhan dan memperbanyak korban, justru dari sana barisan kembali solid hingga revolusi teguh hingga hari turunnya Mubarak. Siapa yang merancang semua ini? Kelompok mana yang mengkordinir kejadian ini? Tidak ada, kecuali Allah. Sehingga awal, pertengahan, hingga penghujung revolusi ini nanti, Allah harus menjadi slogan utama kebebasan rakyat. Karena dari-Nyalah kemenangan-kemenangan ini lahir. Allah-lah sebab utama revolusi ini.

 

2. Soliditas Barisan. Kesamaan tuntutan di revolusi Arab umumnya sebatas pada turunnya presiden diktator. Tapi saat proses masuk tahap penataan pemerintahan, terlihatlah taring kelompok. Dalam sebuah seminar terbuka, menurut harian Akbâr al-Yaum, barisan Sosialis Revolusioner Mesir lantang menyatakan “wahai orang-orang Salafi dan Ikhwan Muslimin jatah kalian adalah kematian dan kembali ke penjara-penjara”. Permusuhan terhadap Islam dan semua kelompok berhaluan Islam mulai bersaut-sautan. Tapi itu wajar, karena untuk prinsip itulah mereka hidup. Yang memprihatinkan jika barisan kelompok Islam-pun terpecah. Demonstrasi mereka tidak lagi satu suara. Berbagai kepentingan masuk dan agen-agen provokasi menyebar tugas.

 

Jika diterliti dengan dalam semua fitnah dan permusuhan pasca revolusi bukan karena fitnah agama atau madzhad gerakan. Sejarah telah memberi kaidah. Fitnah itu bukan karena perbedaan pendapat kelompok Ali, atau Muawiyyah, tapi sebuah tim membakar semangat anak-anak muda grup Ali dan Muawiyyah secara bersamaan. Ini yang terjadi saat ini. Fitnah persatuan umat Islam pasca revolusi adalah fitnah rekaan, fitnah hasil pengkajian tim strategis, fitnah sebuah timwork yang berbagi peran seperti analis Dr. Muhammad Baltâji di Ikhwan Online.

 

Ada tim yang bertugas membakar semangat keislaman menentang caleg-caleg Kristen; atau membakar gereja, atau menghasut Kristen bahwa sistem Islam membahayakan non-Islam; atau mendukung demonstran melawan tentara; atau mendukung tentara menembaki demonstran. Mereka semua satu tim. Tim dari sistem diktator yang masih tersisa. Tim yang tidak ingin semua misi revolusi tuntas. Tim yang ingin revolusi berhenti untuk kemudian pemerintahan diganti pemimpin baru dengan sistem yang sama: diktatorisme.

 

Saatnya generasi revolusi merapikan kertas kerjanya. Memperkokoh komunikasi antar para pemimpin gerakan Islam untuk proyek bersama pasca revolusi. Karena terlalu banyak tema besar yang sama dibanding perbedaan. Tidak ringan, tapi mungkin. Dan setidaknya memahami bahwa ada belati makar untuk mengoyak persatuan akan mempertajam insting generasi revolusi untuk tidak mudah terpancing isu-isu poluler baru di luar rancangan-rancangan perubahan yang sudah dipegang.

 

3. Prioritas Perubahan. Titik ini adalah garis pemisah yang akan menguji apakah generasi revolusi ini layak mengantarkan umat pada gerbang sejarah baru atau hanya mengulang kesalahan yang sama dengan generasi 50.

 

Kesamaan revolusi di beberapa negara Arab, juga reformasi di Indonesia, ada pada penghapusan sistem tirani. Tapi ia bukan tujuan akhir. Karena setelah itu risiko-risiko revolusi seperti krisis ekonomi perlu direcoveri, terlebih risalah Islam perlu menjadi prioritas utama selain kesejahteraan. Tapi seperti apa bentuk nyatanya? Apakah generasi revolusi ini menginginkan kehidupan bernegara seperti negara Madinah di zaman Rasulullah, ataukah malah seperti Saudi? Atau tidak mempunyai rekomendasi sistem sama sekali?

 

Risalah Islam tidak pernah menuntut umat mendirikan negara Islam dalam definisi yang umumnya difahami saat ini, seperti Saudi misalnya. Dan kepemimpinan umat tidak pernah menjadi tujuan Islam. Tapi kemepimpinan itu dibutuhkan hanya untuk melindungi dan menjamin umat melaksanakan pesannya “Rahmatan lil Ȃlamîn” untuk “hidâyatul basyar” [membimbing manusia]. Sehingga untuk saat ini, jika sebuah sistem mampu menjamin pesan ini, maka ia pilihan prioritas pasca revolusi. Memang ada sistem ideal untuk realisasi pesan itu, tapi ia bukan prioritas saat ini.

 

Negara demokratis yang potensial mengakomodasi pesan Islamlah yang diprioritaskan sekarang. Semua sedang mencari model. Tapi ada tema menarik di majalah Prancis Courrier International: Et si l’Indonèsie devenait un modéle? [Dan bagaimana kalau Indonesia yang jadi model ?]. Disebutkan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi ideal untuk negara-negara Timur Tengah. Karena di Indonesialah dakwah Islam sangat bebas dan terbuka. Di Indonesialah aktivis Islam boleh dan bisa membawa risalah Islam ke gedung-gedung pemerintahan. Disinilah peran Indonesia untuk berkontribusi bagi dunia Islam. Yaitu menunjukan strategi Islam dalam berdemokrasi.

 

Kesadaran prioritas ini urgen agar generasi revolusi tidak serakah ingin meraup samudera tapi akhirnya tak berhasil menciduk setetes telaga. Dalam buku From Dictatorship to Democracy yang sudah diterjemahkan kedalam 34 bahasa, Gene Sharp mengingatkan bahwa “tidak akan lahir masyarakat ideal pasca runtuhnya diktatorisme, karena ia hanyalah titik mula, tidak lebih. Butuh waktu panjang untuk membangun negara demokratis yang bebas”.

 

Kebebasan ini adalah modal utama umat untuk kembali membangun kekuatannya, seperti perjanjian Hudaibiyyah. Kebebasan dakwah yang jadi prioritas, bukan tatanan masyarakat dan negara yang seba sempurna. Didepan sisa-sisa sistem diktator yang masih bercokol kesempatan menuju kebebasan ini sempit dan pendek. Sehingga generasi revolusi perlu sadar situasi. Sekali kesempatan ini terlepas umat maka perubahan yang ada sekedar perubahan dari diktator lama ke diktator baru dan umat harus menunggu momen revolusi 60 tahun lagi.

 

Saint-Étienne France, 29 November 2011

Muhammad Elvandi, Lc.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.