Hijrah & Usaha

Hijrah dari Mekkah ke Madinah jaraknya hampir 500 km. Dalam perjalanan ini, kita bisa menggunakan kereta yang super nyaman, sama seperti kereta TGV di Perancis, yang ditempuh hanya dalam 3 jam.

Pernahkah kita semua merenungkan, mengapa Allah tidak mengirimkan Buraq ke Mekkah, lalu semenit kemudian tiba di Madinah? Kenapa tidak seperti Isra Mi’raj?

Inilah pelajaran besarnya dalam hijrah. Hijrah adalah cara Sang Nabi mengajari kaidah Fikih Peradaban dan cara Allah menunjukan kekuasaan.

Kaidahnya sederhana ‘pertolongan Allah akan turun di ujung usaha manusia. Tanpa usaha Allah akan membuat manusia merasakan dampak kesalahannya’. Begitulah kaidah yang bisa kita lihat dari awal perjuangan hingga akhir wafat sang Nabi.

Kaidah “usaha dan pertolongan Allah”, tidak bisa usaha saja, atau berdoa mendapat pertolongan saja. Karena hanya mengandalkan usaha artinya akan membuat takabbur, dan hanya mengandalkan doa, solawatan artinya ngawur. Mutlak harus keduanya.

Dalam hijrah, Nabi menjalani semua proses manusiawi yang Allah tetapkan, sebagai Fikih peradaban. Maka Sang Nabi membuat berbagai lapis strategi manusiawi.

Strategi 1: keluar rumah di waktu siang terik, menuju rumah Abu Bakar, lalu keluar dari pintu belakang rumah di waktu Subuh.
Strategi 2: mengelabui musuh dengan menempatkan Ali tidur di kasurnya
Strategi 3: mengambil rute menjauh dari Madinah, seharusnya ke Utara, tapi ini ke selatan arah Yaman.
Strategi 4: mengelabui waktu, dengan bermalam di gua Tsaur 3 malam.
Strategi 5: menggunakan Guide orang kafir, sehingga sang kafir yang membawa 2 traveler bercadar tidak akan dicurigai.
Strategi 6: membaca update kondisi Mekkah dengan intel putra Abu Bakar: Abdullah
Strategi 7: menyuplai kebutuhan logistik ke gua Tsaur dengan mengirim Asma binti Abu Bakar yang sedang hamil tua 8 bulan, untuk mendaki bukit menuju Tsaur sejauh 8 Km dari Mekkah.
Strategi 8: mengapus jejak Abdullah dan Asma dengan menugaskan Amir bin Fuhaira sang penggembala membawa gembalaan menginjak-injak jejak kaki.

Begitu caranya sang nabi dalam berjuang dalam kehidupan, yaitu berstrategi dan berusaha.

Lalu Rasul tidak henti-henti berdoa, agar urusan-urusannya dipermudah dan di tolong Allah. Disanalah pertolongan Allah turun. Membuat mata para pengejar tertutup di gua Tsaur, membuat kuda Suraqah bin Malik jatuh terus.

Kajilah Sirah dengan komprehensif, maka anda akan menemukan fakta keharmonisan luar biasa antara usaha manusia dan pertolongan Allah, dalam perang Badar, Khandaq, Tabuk, Fathu Makkah.

Tapi juga anda akan menemukan kekalahan-kekalahan umat saat usaha kurang seperti Uhud atau doa dan tawakkalnya kurang seperti babak pertama perang Hunain.

Begitulah umat harus diajarkan, keseimbangan yang benar, bukan dengan slogan, “Doa saja terus, geber solawatnya, ingin dapet mobil, baca Al-Mulk, Kulhu sekian ratus kali, ingin sembuh, sedekah…sedekah…sedekah…”.

Seruan seperti Itu jauh dari ajaran sang Nabi, yang menyuruh umatnya menempuh kaidah-kaidah kehidupan (sunnatullah) sambil terus memanjatkan berdoa. Harus dua-duanya, tidak bisa salah satu.

Madinah, 14 Juni

Comments

comments