Ikea dan ekonomi kerakyatan

mega-bangna-13IKEA, adalah satu toko meubel langganan saya waktu di Perancis, sangat nyaman, praktis, desainya sangat variatif, murah dan belanja meuble dengan leluasa seperti di mall biasa. Perusahaan Swedia ini mendominasi di mayoritas negara eropa. Saya baru sadar bahwa di Indonesia juga ada, di Tanggerang.

Saya hanya berfikir satu hal, andai IKEA ini ada di seluruh kota besar Indonesia, saya memprediksi usaha-usaha meuble lokal yg kecil akan terancam sebagai konsekuensinya. Memang kita tidak bisa melarang mereka mengembangkan usahanya, karena itu tabiat bisnis waralaba, dan saya termasuk yang tidak sepakat dengan ide boycott jika ia hanya sebagai jalan pintas atas ketidak mampuan berjuang. Tapi hadirnya perusahaan-perusahaan raksasa seperti ini perlu kita sadari agar ekonomi masyarakat tidak mati dilindas kapital besar.

Saya tidak sedang mendiskusikan ideologi kapitasime baik ataupun buruknya, yang saya pikirkan bahwa ia adalah realita yg sedang dihadapi negeri. Bagaimana menghadapi dan mengunggulinya? Dua pertanyaan besar itu saya kira lebih relevan dan produktif dibanding debat filsafat sistem ekonomi apalagi mendiskusikan ‘haramnya sistem kapitalis’ sambil berkumpul terus di forum-forum kecil sesama orang yg sepemikiran.

Ada dua pekerjaan besar yang perlu menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat. PR pemerintah adalah support bagi ekonomi kerakyatan dan bagi masyarakat adalah peningkatan kapasitas produksi dan distribusi.

Yang pertama itu vital, karena pertarungan bisnis itu seperti tinju dengan dengan berbagai kelas berat badan yang berbeda. Bisnis raksasa seperti IKEA itu di back up oleh kapital luar biasa, dengan ratusan atau ribuan ilmuan, pakar tata ruang, desainer terbaik dunia, dll. Coba, pernahkah anda melihat lemari super besar yg bisa dibongkar dan dipacking dengan sangat efisien, kecil dan mudah diangkut? lalu anda rakit sendiri di rumah seperti merakit Lego dengan petunjuk dan manual yg praktis dan mudah dipelajari. Saya sering lihat di jalan-jalan Bandung, mobil sayur mengangkut lemari besar, utuh, untuk diantar ke rumah, dengan 3-4 orang tukang angkutnya.

Semua tukang kayu mungkin bisa membuat lemari, meja, ranjang, dll, tapi mendesainnya agar bisa dipacking seperti tenda pleton yang digulung dan mudah bawa-bawa itu membutuhkan kerja besar dengan daya matematika, arsitektur, dan imajinasi tingkat tinggi, yang dihasilkan oleh teamwork para pakar.

Perbedaan kelas bukan hanya soal desain, tapi pemilihan material, customer service di lokasi dan juga marketing. Coba anda lihat website IKEA, bandingkan dengan toko meuble lokal yang alamatnya saja kadang tidak terlacak di yellow pages.

Support pemerintah itu vital untuk menjamin agar usaha lokal setidaknya bisa mengimbangi mereka di arena pertarungan. Support itu bisa dengan bantuan modal, pengembangan entrepreneur-enterpreneur, peningkatan kualitas produksi dengan training SDM, termasuk peningkatan bahasa asing agar masyarakat bisa mempunyai pandangan tentang produk-produk yang ada di dunia.

Saya yakin masih banyak di daftar kementrian sana. Saya tidak percaya pemerintah tidak punya paket solusi yang komprehensif untuk mensupport ekonomi lokal menghadapi pasar bebas, tapi masalahnya apakah itu akan dilakukan untuk mensupport rakyat?

Mungkin gaya Cina bisa menjadi salah satu alternatif: beli, tiru dan modifikasi. Beberapa kawan saya dari Cina yang studi di Eropa mengatakan, pemerintah membantu kami membeli semua produk terbaik barat, bahkan barang-barang luxury seperti Hermes, Channel atau Jimmy Coo, lalu mereka bongkar disana. Akhirnya Ebay dan Amazon Eropa itu dijejali dengan produk-produk Cina, yang bentuk luarnya mirip produk mahal eropa, sehingga masyarakat sini mulai beralih.

Yang kedua adalah PR masyarakat. Pada akhirnya, semua perubahan di dunia makro ekonomi ini harus membuka mata kita untuk terus meningkatkan kualitas produksi dan distribusi. Ini hanya awal. Karena akan kita temui makin banyak perusahaan raksasa dunia disekitar kita.

Beberapa bulan lalu saya membaca email tentang perekrutan mahasiswa-mahasiswa Indonesia alumnis Perancis untuk bergabung membuka toko Decathlon Indonesia. Decathlon adalah toko olah raga super besar di Perancis dan negara-negara Eropa, persis seperti IKEA. Mereka akan melibas toko-toko olah raga kecil yang produknya mahal, tidak variatif, tidak menyediakan berbagai jenis bahan dan ukuran. Misalnya, selama ini mungkin anda mengandalkan Eiger sebelum berangkat camping, tapi Decathlon mempunyai variasi produk yang jauh lebih banyak dan murah dari Eiger. Perbandingannya seperti Carrefour atau Giant melawan warung di gang-gang kecil.

Sesekali saya membawa tamu-tamu turis Indonesia yang ingin belanja baju dan alat olah raga di Paris dan London dan mata mereka terbelalak melihat Decathlon. Betapa lengkapnya dengan harga yang relatif terjangkau bahkan oleh mata uang rupiah.

Bisnis raksasa seperti ini tidak mungkin dihadapi usaha lokal jika kita tidak mengembangkan kapasitas diri kita membuat produk sebagus dan semurah mungkin. Saya tidak mengatakan mudah, tapi kesadaran hal ini saja sudah mencukupi agar kita bergerak.

Karena jika tidak, mekanisme pasar jelas mempunyai hukumnya sendiri, yang sayangnya walau kita suka tidak suka, ia seperti hukum rimba: yang paling bagus produknya, paling bagus pelayanannya dan paling murah harganya, ia yang akan dibeli customer. Termasuk anda bukan?

Manchester, 26 Juni 2015
Muhammad Elvandi

Comments

comments