Indonesia Rumah Semua

Sesak dada umat saat mendengar, umat Islam di Indonesia gopoh-gapah membuka medan-medan perang ideologi dan pemikiran.

Tiga puluh satu ribu orang menggalang dukungan lewat Facebook, ‘Bubarkan FPI’, hingga gerakan media menjadi gerakan turun ke jalan, yang kian memanas setelah penolakan FPI di Kalimantan Tengah. Dari sana bergejolaklah FPI dan para kadernya, dan para pendukungnya, ditambah dukungan mereka yang menolak liberalisme dengan slogan ‘Indonesia Tanpa Jaringan Islam Liberal’.

Tiba-tiba saja umat Islam di Ind onesia ini seperti dipaksa berbaris antara dua blok. Dengan seruan ‘‘jika Anda menolak kemaksiatan maka dukunglah FPI dan bubarkan JIL’’, atau seruan ‘‘jika Anda menolak terorisme dukunglah JIL dan tolaklah FPI’’. Entitas muslim yang beragam diminta untuk memilih. Padahal umat Islam Indonesia lebih dari sekedar FPI dan JIL.

Saya tidak ingin membahas karakteristik kedua kelompok itu secara ideologis dan pengaruhnya di Indonesia. Yang pasti, mereka adalah orang Indonesia, mereka bagian dari peserta demokrasi, dan terlebih mereka adalah bagian dari umat Islam, tidak seperti Ahmadiyyah misalnya, sekali lagi mereka adalah bagian dari umat Islam.

Insiden yang bermula di Kalimantan Tengah yang melibatkan sedikit muslim itu, pada akhirnya berusaha ditarik menjadi persoalan umat. Ia menjadi momentum untuk memulai kembali skenario-skenario lama. Skenario yang sangat tidak asing dalam sejarah umat manusia. Skenario agar umat Islam terbesar di dunia ini tidak sepadu, agar ia menutup pintu kerja sama keumatan, bahkan menggembok gerbang untuk diskusi sharing pandangan.

Mengapa? Terlalu banyak yang mampu dilakukan muslim Indonesia jika ia berjalan mulus dalam demokrasinya. Karena di dalam sistem ini, muslim Indonesia mampu berfikir dan berbicara bebas. Mampu berdialog, dan menabung solusi kebangsaan dari rekening setiap pemikiran entitas muslim. Dalam tabungan itu ide-ide terbaik umat disaring untuk kemudian digunakan untuk tegaknya bangunan Indonesia. Jika bangunan itu tegak, terlalu banyak peran yang bisa dipikul muslim Indonesia yang berjumlah 200 juta. Bukan hanya menjadi kontributor Asia Tenggara, bahkan menjadi model dunia untuk sebuah negara demokratis berpenduduk muslim.

Tapi siapa yang merancang skenario ini? Anda akan mampu menjawabnya. Sepotong kisah dalam sejarah Islam yang sangat ringkas ini mungkin bisa membantu. Karena Allah merekomendasikan umat Islam mengambil kaidah-kaidah sosial darinya ‘‘Ceritakanlah kepada mereka kisah agar mereka berfikir’’ [al-A’râf: 176].

Umat Islam tetap kokoh dalam persatuannya sepeninggal Rasulullah dan pasca perang Riddah [perang melawan para pengkhianat]. Hingga tahun-tahun terakhir pemerintahan Ustmân bin al-‘Affân. Muncullah seorang tokoh publik bernama Abdullah bin Saba keturunan Yahudi-Persia.  Ia membangun basis massa yang merongrong pemerintahan Ustman yang akhirnya berhasil membunuh Ustman.

Para pembunuh itu terdiri dari suku yang berbeda-beda, dan umat Islam mengenal mereka. Namun butuh waktu panjang untuk mengejar para pembunuh itu. Pasca tragedi tersebut, meletuslah demontrasi dimana-mana. Negara dalam kondisi krisis dan menuju kehancuran jika krisis berlanjut. Sedang kepemimpinan baru Ali bin Abû Thâlib belum stabil.

Dari sini, pilihan umat Islam ada dua. Menyelesaikan krisis dan stabilitas dalam negeri, baru mengejar dan mengadili pada pembunuh; atau mengadili terlebih dahulu dibanding menyelesaikan krisis.  Risiko pilihan pertama, mengecewakan para loyalis ‘Ustman untuk menyelamatkan negara dari krisis, sedang risiko pilihan kedua, runtuhnya negara demi simpati para loyalis ‘Ustmân.

Kedua pendapat itu adalah hasil ijtihâd manusia-manusia terbaik zaman itu. Ali dan mayoritas ulama saat itu memilih yang pertama, sedang Aisyah, dan para pembesar sahabat seperti Zubair, Thalhah, Mu’âwiyyah memilih yang kedua. Mereka semua berijtihad dengan niat suci bukan mengejar kursi.

Jika diteliti secara ilmiah, berdasarkan kaidah-kaidah penelitian Islam yang valid, akan didapati sebagaimana kesimpulan jumhur Ulama muslimin zaman itu hingga saat ini, memandang bahwa pendapat Ali yang lebih tepat. Tapi bukan ini esensi cerita kita.

Kelompok Aisyah mengambil langkah sendiri. Ia membangun pasukan untuk mengejar dan pengadili para pembunuh. Tapi langkah inisiatif ini membuat krisis bertambah. Karena keluarga para pembunuh melindungi mereka dan pengejaran pasukan Aisyah terhadap para pembunuh itu tidak sistematis karena memang ia hanya gerakan parsial, bukan resmi negara. Sehingga jatuhlah korban yang tidak ditargetkan, 500 warga sipil tidak berdosa gara-gara melindungi kerabat mereka para pembunuh yang berjumlah 20-30. Dan negara kian terancam dengan penghakiman yang berubah menjadi perang saudara ini.

Untuk menyelesaikan masalah, maka Ali membawa tentara untuk menghentikan Aisyah dari aksinya agar korban sipil yang bukan menjadi target tidak bertambah. Ali mengajak diskusi untuk mencari jalan tengah. Ia mengutus Qa’qâ bin ‘Amr at-Tamîmi. Di pihak lain, Aisyah, Thalhah dan Zubair menyadari ada kekeliruan dalam aksi mereka, karena jatuhnya korban tidak berdosa gara-gara sikap mereka.

Solusi yang ditawarkan Qa’qâ hanya satu kata: at-Taskîn [penghentian], hingga kondisi negara stabil untuk kembali mengurus perkara dengan kepala dingin. Tawaran gilang-gemilang ini diterima penuh kelompok Aisyah. Dan di malam itu, tidurlah kedua kelompok di tenda masing-masing dengan sangat tenang. Namun siapa yang tidak tenang? Tentu para perusuh dan pembunuh.  Karena saat negara stabil, hukuman siap menanti mereka dengan segera. Pihak Ali dan Aisyah akan bersatu dan bersama-sama meringkus mereka.

Apa yang mereka butuhkan? hanya langkah yang sederhana. Membakar permusuhan di kedua kelompok. Dibuatlah teamwork yang solid. Mereka membagi tugas di malam hari untuk membunuh siapapun yang mereka mau di perkemahan Ali dan Aisyah lalu menyebar isu di kalangan para pemuda kelompok Aisyah bahwa tentara Ali yang membunuh, dan kepada Ali mengabarkan bahwa pasukan Aisyah membunuh secara terencana.

Terbakarlah semangat perlawanan para pemuda terhadap kelompok lain oleh bara fitnah setelah mereka bersepakat untuk menghentikan semua panas perang. Dan mengalirlah darah para sahabat besar itu di esok harinya dalam perang Jamal antara kelompok Ali melawan Aisyah yang disebut masa fitnah.

Tajamnya fitnah ini masih terasa di tubuh umat. Sakitnya terlalu dalam. Persoalan utama, bukan karena kelompok Ali dan Aisyah berbeda pendapat, berbeda konsep, berbeda gaya penyelesaian. Tapi hanyalah sebuah krisis yang dimanfaatkan untuk membagi umat kedalam blok-blok untuk diadu seperti sabung ayam di dalam arena judi.

Sunnah sejarah ini akan selalu berulang, karena Allah mengatakan ‘‘sunnatullah yang telah terjadi bagi [umat] sebelummu, tidak akan pernah kamu temui perubahan dalam sunnatullah itu’’ [al-Fath:23]. Sunnah ini terjadi tidak hanya dalam sejarah Islam, tapi dalam peradaban Yunani, Roma, Persia. Kaidah-kaidah yang membuat umat bangkit dan hancur akan selalu sama. Perang saudara, adalah musuh utama sebuah umat yang akan bangkit, bahkan bahaya yang paling mengancam bangsa raksasa sekalipun. Dan berkali-kali Indonesia menghadapi tantangan ini, tapi hingga hari ini ia selalu mampu menghadapi.

Insiden penolakan FPI di Kalimantan Tengah sama sekali bukan esensi persoalan yang besar. Karena ia lazim terjadi. Ia hanya tantangan dakwah biasa bagi organisasi Islam manapun. Tapi membuat persoalan ini menjadi besar, mencipta blok-blok baru, menjadi ladang adu kekuatan dan suara, medan tarung dukungan dan massa, ini yang membahayakan.

Pihak-pihak yang tidak ingin melihat Indonesia bangkit menuju kursi peradabannya sebagai negara demokratis berpenduduk muslim terbesar tidak akan membiarkan umat Islam rukun apalagi bersatu.            Lihatlah siapa pihak yang paling diuntungkan jika umat Islam di Indonesia terpecah, hingga menyeret disintegerasi bangsa? Kurang lebih merekalah yang memperbesar persoalan lokal menjadi perdebatan dan keributan nasional.

Umat Islam di Indonesia yang tetap ingin melihat negerinya tegak, harus mampu melihat persoalan dengan komprehensif dan tidak terbawa arus perseteruan buatan. Sikap yang sangat dibutuhkan di depan situasi ini adalah at-Taskîn [penghentian]. Penghentian dari saling memaki, dari saling mengadu kekuatan massa dan dukungan, dan penghentian dari memperbesar masalah.

FPI, JIL, juga seperti entitas muslim lain seperti Muhammadiyyah, NU, PERSIS, mempunyai rumah di Indonesia. Ini tidak berarti menyeragamkan semua organisasi Islam, karena harus ada evaluasi bagi setiap organisasi Islam di Indonesia agar dakwahnya produktif untuk umat bukan sebaliknya. Justru evaluasi dan kritik itu adalah bagian dari saling menasihati soal kebaikan dan kesabatan dalam Islam. Tapi itu ada momen khusus, yaitu evaluasi yang ilmiah, oleh para pakarnya dalam sebuah pertemuan saling menghargai bukan saling menghakimi di media.

Jika masih nyaring suara-suara penolakan dan penghancuran untuk kelompok lain, berarti mereka masih asyik dalam arena sabung ayam sebagai korban yang ditonton umat lain yang sedang tertawa. Kepada pada pendukung FPI, atau JIL, atau yang simpati kepada salah satunya, atau yang tidak sepakat kepada keduanya, berhentilah memaki, dan menghakimi. Diamlah sejenak. Biarkan kondisi dingin sedikit untuk kembali berdiskusi secara dewasa. Biarkan semua stabil, agar para pemimpin ormas Islam bisa duduk dan berdiskusi mencari resolusi untuk umat.

Umat Islam membutuhkan kembali jiwa-jiwa manusia Indonesia yang dadanya mampu menampung hati-hati saudaranya yang tidak sepemikiran dan sejalan. Jika jiwa-jiwa seperti itu terbentuk dan mewarnai pola pikir dan sikap mayoritas manusia Indonesia, berarti Indonesia kian siap untuk menjadi harapan baru umat manusia.

Saint-Etienne, Perancis, 17 Februari 2012

Muhammad Elvandi, Lc.

 

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.