Jeruji Tradisi

Tiga belas tahun risalah Islam mengetuk setiap rumah di Mekkah. Hitunglah berapa banyak generasi tua yang menanggalkan keagungan mahkota tradisi? Lalu bandingkan dengan para pemuda bernurani yang menjawab seruan langsung di minggu pertama risalah turun. Selain Ali pemuda pertama yang masuk Islam di muka bumi, Abu Bakar merekrut para pemuda seperti Ustman bin ‘Affân, az-Zubair bin al-‘Awwâm, ‘Abdurrahmân bin ‘Auf, Sa’ad bin Abî Waqqâsh, dan Thalhah bin Ubaidillâh yang kelimanya termasuk sahabat yang akan masuk surga tanpa hisab.

 

Rantai tradisi yang berkarat tidak jerati pikiran dan perasaan, maka mereka bersegera setelah mengetahui kebenaran. Kebenaran Islam itu sama dirasai generasi tua, yang selalu mengatakan keindahan Qur’an itu mustahil perkataan manusia, tapi fanatisme leluhur telah membendung deras ayat suci ke danau hati. Standarisasi berfikir mereka seperti yang Allah ungkapkan “hasbunâ mâ wajadnâ ‘alaihi âbâanâ” [sudah cukup apa yang kami dapat dari leluhur kami].

 

Fanatisme tradisi adalah jeruji terkompleks bagi pikiran manusia. Karena ia menutup mata, telinga, dan semua sumber pembelajaran manusia dari kebenaran. Oleh karena itu orang-orang Quraisy mengatakan “kami tidak akan pernah beriman walau datang seluruh ayat”. Dan dibutuhkan dua puluh satu tahun untuk menyadari rusaknya cara berfikir itu. Bangunan tradisi yang bertingkat luluh lantak di depan bukti keberhasilan Islam yang nyata dalam Fathu Makkah.

 

Jeruji ini kembali berdiri kokoh memenjarakan hidup umat Islam, bahkan juga mencengkeram kepala para pemudanya. Sehingga ide tentang rencana kerja unggulan, kemudian penyiapan kapasitas pribadi baik pikiran, perasaan dan fisik untuk memikul kerja-kerja unggulan yang dimulai dari rekonstruksi pikiran manusianya tidak mungkin dirangkai jika jeruji tradisi masih memenjara setiap pribadi.

 

Jeruji tradisi itu tergambar dalam empat fenomena. Pertama, Habit Bound Thinking. Saat pikiran generasi muslim menjadikan kebiasaan senior di fase tertentu sebagai ukuran kebenaran. Sehingga pada akhirnya sandungan ini membatasi produktivitas ide, pikiran-pikiran baru, dan merasa cukup dengan fikrah para pendahulu, bahkan jika itu pendahulu dakwah dan amal Islami.

 

Yang paling potensial terjerembab jeratan ini memang generasi senior, baik itu dalam bisnis, politik, teknologi ataupun sastra. Karena keberhasilan-keberhasilan mereka menjadi kebanggaan mereka untuk generasi setelahnya. Dan siapa manusia yang tidak senang jika langkahnya diikuti jutaan pengikut? Tapi permasalahan bukan dalam keberhasilannya, karena ia justru inspirasi kebangkitan masa depan, tapi jika keberhasilan lama ingin terus pamer pesona dengan melarang keberhasilan baru tumbuh.

 

Ia persis seperti kebijakan Perancis yang melarang pembangunan gedung-gedung tinggi di pusat kota Paris, agar tingginya Eiffel tetap indah dipandang dari arah manapun tanpa saingan. Namun klasiknya monumen di era modern tidak sama dengan gagasan usang di sahara kehidupan yang gersang. Setiap umat sedang bersaing meninggikan bangunan peradabannya untuk kemudian keluar menuju lapangan kemanusiaan sebagai kontributornya. Maka ia tidak bisa bercukup diri dengan ide abad lalu untuk hidup di abad mendatang. Karena dinamisme gagasan tidak sama dengan monumen yang semakin klasik semakin eksotik.

 

Kedua, Conformity. Mereka memang tidak merasa cukup dengan capaian leluhur, tapi saat tantangan zaman meminta solusi, mereka tidak berkreasi kecuali dengan sudut pandang, langkah, dan taktik generasi senior yang pernah menjalani persoalan yang sama, sepululuh tahun, sewindu atau seabad lalu. “Mereka mengatakan justru kami temui bapak-bapak kami seperti itu cara bekerjanya” dalam as-Shâffât 74. Jika dulu mereka mengikuti agama leluhurnya dalam kejahiliyahan, sekarang generasi muslim mengikuti cara guru-gurunya, kakek-buyutnya, senior dakwahnya, bos kerjanya, tokoh sejarahnya walaupun itu salah. Titik kesamaannya mengikuti jalan yang salah lalu mengulanginya.

 

Ia tidak terbatas pada pengulangan paradigma lama, tapi terkadang mengulangi program dan aktivitas yang sebenar sama dengan anggapan program itu pernah berhasil dulu. Andaikan benar pun, tidak selalu langkah lama sesuai di zaman baru. Strategi dakwah atau kebijakan makro ekonomi tahun 60-an tidak sama dengan era internet. Setiap tempat dan situasi meminta solusi sendiri, dan setiap zaman berbeda menuntut cara berbeda dan strategi berbeda. Siapa yang melalaikan ini, maka ia kehilangan hikmah yang besar.

 

Ketiga, Change Resistance. Semua ide, konsep, strategi yang berjubahkan ungkapan “baru”, ditolaknya dengan dengan alasan “cara ini baru dan tidak kami kenal, lalu mengapa harus kita coba, bahkan mengapa perlu kita dengarkan?”. Seperti generasi KH. Ahmad Dahlan yang menentang keras metodolologi penetapan kibatnya yang menggunakan kompas dan peta dunia. Penolakan itu bukan karena pengkajian dan pengujian ilmiah, tapi karena kompas dan peta itu baru, dan buatan Belanda.

 

Keempat, Anti Critism. Fenomena yang lebih berat jika dada umat ini tidak cukup kokoh untuk menerima hantaman kritik. Kritik atas ketidakmanfaatan ekonomnya; kemerosotan moral pemudanya, kemandulan karya politisinya, bahkan kritik langkah dakwahnya. Maka tidak aneh jika ada satu-dua generasi mengulangi kegagalan total yang persis sama seperti generasi lalu. Padahal rahim sejarah melahirkan kearifan bagi kita: kebijaksanaan bukan hanya mempelajari kegagalan sendiri yang telah lalu, tapi kegagalan lalu generasi lalu. Oleh karena itu negara seperti Amerika mempunyai sebuah kantor khusus, yang mengarsipkan seluruh kesalahan pengalaman mereka untuk mereka kaji dan uji, bukan dibanggakan apalagi disucikan.

 

Semua fenomena itu tidak mengajari bahwa senior selalu status quo dan pemuda selalu progresif. Karena betapa banyak para pemuda berdarah segar tapi berakal tua yang rapuh analisis dan miskin strategi baru? Terutama saat mereka menganggap bahwa keberhasilan para senior mereka adalah puncak kehidupan. Dan berapa banyak organisasi tumbuh saat para seniornya selalu haus gagasan perbaikan walau para pemudanya kering ide hingga akhirnya gelombang perubahan memaksa menghanyutkan mereka bergerak di sungai perubahan.

 

Juga tidak berarti tradisi dan gagasan lama selalu salah dan yang baru selalu benar. Tidak juga bermakna ide lama pasti benar dan yang baru itu menyeleweng. Bukan yang pertama tidak juga yang kedua. Tapi standarisasi pemikiran pemuda muslim adalah kualitas kebenaran: yaitu Qur’an, Sunnah Rasul lalu kebaikan-kebaikan baru yang bersumber dari keduanya, bukan perkataan leluhur dan senior, siapapun itu.

 

Seperti saat Umar merekomendasikan pengumpulan Qur’an dalam satu mushaf. Kata Abu Bakar dan para sahabat “ini hal baru yang tidak ada di zaman Rasul”, tapi karena Umar sadar tidak ada dalil Qur’an dan Sunnah yang melarang ini maka ia berani mengatakan “Demi Allah, ini untuk kebaikan”. Oleh karena itu Islam mempunyai kaidah sendiri untuk membebaskan pikiran umatnya dari jeruji tradisi “Al-Muhâfadhatu ‘ala Qadîmi Shâlih wal Akhdzu ‘ala Jadîdil Ashlah”[pertahankan kebaikan yang lalu dan adopsi hal baru yang lebih baik].

 

Feurs, Perancis, 29 Agustus 2012

Majalah Intima Edisi September 2012

Muhammad Elvandi, Lc.

 

Edisi Lengkap Serial Pemuda bisa di akses di website : [elvandi.com]

 

Comments

comments