Kapasitas Diri

Kapasitas diri adalah perangkat kerja manusia. Dengannya manusia mencetak sejarah, tanpanya manusia tak berjejak di bumi. Selengkap apa perangkat yang ada seluas itu wilayah produktivitas yang mungkin dicipta.

 

Para pemuda pengukir sejarah, yang didadanya bergemuruh misi besar memahami benar kaidah ini. Generasi sahabat adalah model ideal tentang bagaimana pemuda mereka menjalani kehidupan yang berat.

 

Dalam sisi politik dan keamanan misalnya, Mekkah tidak pernah mempunyai sejarah sistem politik yang memadai untuk mengatur kehidupannya. Tidak ada tentara khusus negara, tidak ada undang-undang yang rumit. Sehingga kehidupan hampir serupa hukum rimba. Kondisi ini memaksa mereka full capacity untuk menghadapi kehidupan. Keluarga-keluarga mereka dilindungi oleh kecerdasan, kekayaan, kewibawaan dan kekuatan orang yang paling diagungkan diantara mereka. Dan keamanan kota dari invasi sangat mengandalkan skill personal dari seluruh lelaki mereka dalam peperangan. Ini berbedanya dengan masyarakat metropolit seperti Persia dan Roma. Para pemudanya tidak perlu berlelah jiwa melatih diri, karena sudah ada tentara resmi negara yang melindungi mereka. Sehingga kapasitas perang tidak ada di pemuda mereka, padahal ia primer. Bayangkan, dalam perang Mu’tah, 200 ribu Roma seri melawan 3 ribu Muslim, dan 120 ribu Persia takluk dihadapan 32 ribu Muslim dalam perang Qâdisiyyah.

 

Sisi budaya, generasi sahabat di Mekkah adalah manusia yang paling menguasai belantara sastra Arab level tinggi, tanpa ditulis tapi dihafal. Arab Syam atau Yaman tidak sefasih mereka. Sehingga ketika Qur’an turun, pemahaman merekalah sungai ilmu. Setelah berpuluh abad umat meminum darinya. Ini hanya salah satu hikmah, mengapa Islam bermula di masyarakat Mekkah. Karena kapasitas mereka siap pakai untuk seluruh misi Islam di masa depan. Dalam diri pemuda mereka, nilai pengorbanan, perjuangan, kedermawanan, kefasihan bahasa, kekuatan ingatan terlatih sejak muda dan kokoh di masa dewasa. Saat Islam meniupnya, kapasitas natural mereka meledak. Harumnya mengisi rongga nafas umat hingga hari ini. Itulah sebabnya “generasi terbaik adalah dizamanku, kemudian generasi setelahnya [tabi’în], kemudian generasi setelahnya [tâbi’ut tabi’în]” kata Rasulullah.

 

Kegemilangan pemuda sahabat mutlak tak tertandingi, karena para pengukir sejarah itu jumlahnya tidak seratus, atau dua ratus. Yang hadir dalam haji wada saja tercatat sekitar 110 ribu. Hebatnya, setiap satu dari manusia-manusia itu, mempunyai lembaran hidup yang lebih berkilau dari seribu reformis zaman ini.

 

Kapasitas dirilah oksigen seorang pemuda untuk menjelajahi angkasa hidupnya. Oleh karena itu perhatian Islam terhadap perbekalan kapasitas ini bersifat instruksi langsung yang dalam ungkapan al-Qur’an “persiapkanlah untuk mereka segala bentuk kekuatan dari kemampuan yang kamu miliki…” [al-Anfal:60]. Proses pengisian kapasitas diri ini sering disebut pendidikan dalam berbagai dimensinya. Formal atau non-formal, pemikiran, fisik, atau spiritual.

 

Penanggung jawab pendidikan ini ada empat lapis. Pertama orang tua. Jangankan sekedar kapasitas diri, bahkan Aqidah pertama yang memenuhi jiwa setiap anak adalah tanggung jawab mereka. Karena Rasulullah mengatakan “setiap bayi itu suci [dalam Islam], maka kedua orang tuanyalah yang justru menjadikannya Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi”. Beruntung, bagi siapapun yang beribu seperti Imam Syafi’i. Ia mengetahui benar, seperti apa anaknya akan dibentuk.  Sehingga di usia tujuh tahun ia sudah menjadi imam besar. Kapasitas dirinya disiapkan sedari kandungan. Tidak ada senandung lain yang didengar dari ibunya kecuali Qur’ân.  

 

Kedua adalah masyarakat. Jika sekarang industri Cina bahkan melalap bisnis Eropa, itu bukan ajaib. Karena di hati anak-anak mereka tertanam “kuasai matematika, kimia, fisika dan bisnis, baru genggam dunia”. Itulah kapasitas yang disemai masyarakat pada ladang jiwa pemuda. Sehingga bisnis rumahan sederhana bukan hanya mampu memproduksi manisan tapi motor yang di Barat dikelola perusahaan raksasa.

 

Ketiga adalah negara. Sungguh aneh di negeri ini, jika gara-gara bencana alam rutin sekolah-sekolah diliburkan. Padahal, sehari setelah bom Amerika di Hiroshima dan Nagasaki, sekolah-sekolah di Jepang langsung dibuka, di atas hitam batu reruntuhan, di tengah-tengah gosong mayat yang berserakan, tanpa atap, tanpa meja. Seperti itu juga selisih kapasitas yang manusia kita dan mereka.

 

Mereka memang para penanggung jawab yang membentuk kapasitas para pemuda. Mereka terkadang dijadikan perisai kokoh untuk menutup kondisi pemuda saat ini. Tapi perisai itu tidak kokoh dihadapan pertanyaan Allah. Karena “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya” [al-Muddatsir:38].

 

Walaupun ketiga penanggung jawab itu penting tapi bukan mereka orbit tempat para pemuda pencetak sejarah melintas. Bukan perisai baja yang mereka butuhkan, tapi setumpuk ransel dan sepatu untuk berkeliling di bumi Allah mencari pengalaman. Karena terkadang, umat berada di titik terendah dalam nasibnya. Negara lemah, masyarakat bobrok, dan orang tua kehilangan arah dan harapan, tapi selalu keluar segelintir pemuda dari kampung kehinaan.

 

Mereka tumbuh membina dirinya, tanpa petuah orang tua, atau arahan masyarakat, apalagi subsidi gratis pemerintah. Terkadang mereka hanya mendapat satu dua guru yang ikhlas di tengah perjalanan mereka. Mereka seperti Salman al-Fârisi muda yang mengembara mencari kebenaran, yang memaksa dirinya tumbuh menjadi manusia beriman hingga bertemu Rasulullâh. Mereka seperti Imâduddîn Zanki yang sedari muda sakit hati melihat umat tersungkur di kaki tentara salib. Sehingga misi utama masa mudanya mempersiapkan kapasitas diri untuk memimpin umat dan membebaskannya dari belenggu tentara salib.

 

Di tengah tidur umat, cukup satu-dua pemuda yang mempersiapkan diri memimpin mereka. Lalu tiba-tiba saja kematangannya menginspirasi sebuah generasi. Dan generasi itu membangunkan lagi umat yang nyenyak di balik perisainya. Dari segelintir itu umat bangkit. Jalan membangun kapasitas diri untuk membangun umat memang panjang, melelahkan dan menjemukan tapi ia bukan tanpa kompensasi yang menggembirakan. “Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepada kepadanya” [an-Najm: 40].

 

Kepada setiap pemuda yang tidak pernah menjalani manisnya nasihat orang tua, kepada seluruh anak negeri yang tidak kenal universitas formal yang tinggi, inilah jalan itu. Jalan para pemuda yang berusaha memahami kondisi umatnya, kebutuhan zamannya, dan mempersiapkan kapasitas diri untuk menjawabnya panggilannya.

 

Saint-Étienne Perancis, 28 November 2011

Majalah Intima Edisi-Desember 2011

Muhammad Elvandi, Lc.

 

Comments

comments