Konspirasi dan Sikap Umat

Bag 1: Antara Value dan Karya

Tidak ada karya tanpa sebuah value (nilai), apalagi sesuatu karya yang rumit. Maka saya tidak percaya dengan apologi-apologi  berbalut argumen teknis, ‘segitiga adalah bentuk paling stabil, bla bla bla’. Karena pasti ada value si pembuatnya dalam karya apapun.
Maka jika seorang arsitek terbukti menyisipkan pesan kekufuran di masjid Allah, maka ia harus diadili oleh umat. Ia harus bertanggung jawab. Tidak boleh ada unsur non Ilahi di masjid Allah.
Tapi untuk sampai ke kesimpulan tersebut, harus diuji dan dicari kebenarannya dengan tabayyun atau analisis pakar arsitektur atau geometri.

Dzhann alias dugaan dari orang yang tidak punya ilmu tersebut tidak cukup, walaupun dia mengerti dalil-dalil.

Bag 2: Antara Value dan Fiqh

Value, status aqidah, status fiqh, bentuk implementasi fiqh (Fiqh Tanziil), fiqh dakwah, semuanya mempunyai ruang pembahasan sendiri-sendiri, yang sangat detail, dan mempunyai literatur ilmiah yang kaya.

Tema-tema tersebut saling berkaitan dengan sistem yang kompleks. Kita tidak boleh memsimplifikasi persoalan dengan hitam putih.

Benar dalam menjelaskan sebuah value (misal: bentuk segitiga disebuah bangunan ternyata terbukti iluminati), maka itu baru 1 hal.
Sedangkan menjelaskan bagaimana Fiqhnya, status Aqidah kita, ibadah kita, ini ranah para Fuqaha (ahli fiqh) yang jangan seenaknya kita memprovokasi umat untuk tidak solat disana, meninggalkan masjid tersebut, dll.

Perlu analisis dan kajian, bukan bermodal 1-2 ceramah akhir zaman kita meruntuhkan rumah Allah. Apalagi masjid-masjid tersebut dibangun dengan modal dan uang umat Islam, bukan dibangun oleh orang-orang munafiq seperti Masjid Dhirar di zaman Rasul.

Contoh di Masjid Al Azhar Cairo itu, kampus tempat saya belajar, berjejer ratusan bintang Daud (Yahudi) di temboknya. Ini tidak multi tafsir, jelas-jelas bintang Yahudi.

Tapi sikap Fiqh ulama-ulama Azhar biasa aja, tidak berlebihan. Jutaan umat tetap shalat dan belajar disana. Mereka ulama-ulama, doktor-doktor Azhar yang juga mengerti tentang iluminati dan muamarah (konspirasi).
Lalu bagaimana mungkin dugaan terhadap sebuah bentuk arsitektur dan geometri, membuat kita mengajak umat untuk tidak shalat di masjid tertentu, apalagi jika menyamakannya dg Masjid Dhirar? ini yang namanya Takalluf fiddin (berlebihan dalam agama).

Bag 3: Konspirasi dan Sikap Umat

Data-data tentang teori konspirasi (bahkan jika 100% valid-pun) perlu membimbing sikap yang benar bagi umat untuk melangkah.
Karena status pengujian data dan kesimpulan adalah suatu hal, sedangkan sikap dan langkah umat adalah hal yang lain.
Sikap umat dalam tema tersebut perlu dibingkai dalam fiqh peradaban Quran. Karena se’ngeri’ apapun konspirasi, ia bukanlah hal baru. Konspirasi sudah ada sejak zaman Nabi Adam, dan selalu ada.
Semuanya ada dan nyata. Tapi pertanyaannya, bagaimana umat melangkah?

Pertanyaan itulah yang sebetulnya perlu menjadi concern kita. Karena saya yakin konspirasi itu pasti selalu ada, sebagai sunnatullah. Konspirasi ilmuninati itu nyata ada, sebagaimana konspirasi One Belt One Road (OBOR) Tiongkok, konspirasi Eropa Skykes-Picot yang masih terasa hingga hari ini, konspirasi CIA.

Tapi memahami konspirasi dan memahami fiqh peradaban adalah 2 hal yang total berbeda. Poin terakhir inilah kritikan besar saya terhadap kajian-kajian “Akhir zaman” yang akhir-akhir ini mengisi tema-tema konspirasi.
10 tahun yang lalu saya concern mempelajari dan men-trace simbol-simbol seperti ini dimulai ketika membaca buku Abu Fatiah Al-Adnani, hingga di Cairo saya mengkaji karya seorang pakar Yahudi, Dr. Abdul Wahab Al-Masiri, tapi pada akhirnya semua itu mengantarkan saya pada kesimpulan : kita perlu sikap peradaban yang tepat dan produktif untuk umat, bukan fobia dan semangat tanpa strategi.
Kita perlu adil, tidak perlu berlebihan. Karena, walaupun preliminaries-nya benar, walaupun data-data tentang konspirasinya benar. Tapi jika sikap umat salah, ini bisa berbahaya.

Misalnya solusi kita adalah ‘menunggu imam mahdi’, ‘sebentar lagi kiamat, maka tidak usah repot-repot membangun peradaban’.

Kita perlu menawarkan perspektif lain dalam cara umat membangun peradaban, yang tidak didasari atas respon terhadap ‘threat’ ancaman konspirasi.
Maka dari itulah sang Nabi mengajarkan prinsip mendasar dalam tema ini “Jika datang hari kiamat, dan di tangan kalian ada benih, maka tanamlah”.

Itulah yang kita lakukan. Fokuskan energi umat pada pembangunan peradaban secara konstruktif bukan merespon dan fobia dengan konspirasi akhir zaman.

Justru overestimate dengan musuh adalah salah satu strategi melemahkan mental umat Islam, yang membuat kita was-was dan pasrah, padahal kita diajari “wa makaruu wa ma makarallah, wallahu khairul makirin” (mereka berkonspirasi dan Allah pun berkonspirasi, tapi Allah adalah sebaik-baik pembuat konspirasi).

Mekkah, 10 Juni

Comments

comments