Membaca Realitas

Inspirasi sejarah yang diambil pada akhirnya adalah instrumen untuk memahami realitas lalu merekayasa masa depan. Karena kaidah sejarah itu akan selalu sama, maka saat ini pemuda yang mempunyai inspirasi sejarah yang cukup akan lebih mudah memahami konstelasi dunia.

 

Namun sekarang manusia hidup di belantara permasalahan dunia yang kian rumit. Seperti badai gurun Gobi, terminologi-terminologi baru menyerbu masuki pendengaran. Nuklir Iran, clash Korsel-Korut, kebijakan US yang temporal dan cepat, pernah berteman dengan Afganistan lalu bermusuhan, ancam-mengancam Iran seperti sandiwara tapi justru perangnya dengan Irak. Ada revolusi Arab, ada krisis Uni Eropa. Harga minyak dunia bermasalah tapi demonstrasi di dalam negeri yang mekar disini-sana. Ada Ahmadiyyyah, ada pro-kontra fenimisme, syari’at atau nikah sesama. Seminar-seminar membicarakan isu terorisme, makar Zionis, Erdogan dan AKP Turki, korupsi pejabat  atau kelaparan Somalia.

 

Siapapun yang memasukinya tidak hanya linglung untuk memulai, bahkan tidak lagi tahu sedang dimana berada. Semangat pemuda untuk mengulangi kejayaan sejarah umat tetap membara, namun tidak jelas bagaimana sorongan langkah pertama. Realitas problematika dunia lebih dari sekedar kesimpulan ‘karena kurang iman’. Sehingga proyek penyelesaiannya tidak juga seputar ‘menjaga hati dan ketakwaan’.

 

Kemajuan umat tidak dibangun dengan dugaan, perkiraan dan angan-angan. Ia membutuhkan matematika sosial. Memahami realitas dengan perkiraan, berarti membuat proyek perbaikan yang bersifat percobaan. Adakah pasien yang sudi ditangani dokter yang tak teruji? Beranikah melahap obat dari analisis serampangan atau artikel kesehatan serabutan?

 

Pemuda, tempat umat meletakan tanggungan hidupnya, perlu membaca arah zaman ini dengan sistematis, ilmiah dan jika perlu dengan detail. Seperti proyek hijrah misalnya, prolog Rasulullâh untuknya adalah analisis geopolitik kota Madinah. Analisis mendetail tentang jumlah masyarakat yang mampu baca-tulis. Komposisi suku, antara Aus, Khazraj dan Yahudi. Dominasi ekonomi, tingkat kemandirian pangan, pusat pertemuan sosial, tokoh-tokoh jujur dan liciknya, cuaca dan kuantitas airnya. Karena semua solusi umat akan bergantung dari sana. Dalam seluruh momen besar hidup Rasulullah, berserakan strategi analisis realitas tersebut. Itulah yang dinamakan Fiqhul Wâqi [fikh realitas].

 

Pembacaan sistematis berarti, membuat peta realitas yang bersifat global dalam pikiran pemuda. Peta itu diklasifikasi atas kategori persoalan besar umat lalu mencari inti permasalahan di masing-masingnya tanpa harus masuk ke detail dahulu. Inti permasalahan tersebut lebih bersifat akut dan berakar atas masalah-masalah yang menjadi turunannya. Ada tujuh kategori.

 

Pertama, wajah politik umat Islam saat ini adalah penjajahan dan perpecahan. Penjajahan pada sebagiannya seterang matahari, seperti penjajahan militer Israel atas Palestina atau Tibet oleh Cina, Irak dan Afghanistan oleh Amerika. Dan sebagiannya tersembunyi. Yaitu hegemoni asing melalui tangan besi para diktator seperti negeri Arab dan Asia Tengah. Oleh karena itu solusi yang mereka usung satu: revolusi.

 

Perpecahan bukanlah kepartaian dalam terminologi demokrasi modern. Tapi hilangnya proyek bersama umat Islam. Negeri Arab, tambah Turki yang kokoh, muslim Asia Tengah, tambah Asia Tenggara seperti Indonesia yang agung bahkan tidak mampu berkutik di depan sebuah tema kemanusiaan: penjajahan Zionis Israel. Nasionalisme menggantikan makna umat Islam. Sehingga tidak ada prioritas agenda kecuali agenda rasnya.

 

Kedua, pokok krisis ekonomi adalah sistem riba dan dominasi perusahaan multinasional asing. Dari sanalah membludak pengangguran. Kemiskinan penduduk bumi bagian selatan sampai 90 persen saat 10 persennya dalam kehidupan jetset. Aset negara lenyap dan rakyat Irian masih fakir diatas emas yang diinjak kaki telajannya.

 

Ketiga, pemikiran. Kepala umat menderita sakit akut, yaitu kacau tidak logis. Bahwa karena Islam ideologi terbaik, maka keislamannya cukup jadi jaminan surga. Sedang imannya tidak menggerakan kerja, konsep amal salihnya membangun pribadi tapi tidak berefek pada umat. Padahal Allah Sang Pemilik sebab, juga menciptakan sebab-sebab bagi setiap kebangkitan umat. Ia berlaku bagi entitas manapun. Sehingga umat Islam tidak diberi dispensasi untuk bangkit tanpa alasan-alasan yang logis.

 

Keempat, akar krisis sistem sosial umat adalah permisivisme dan budaya mengekor buta [taklid] pada barat. Permisivisme yang terberat adalah pornografi. Kemanapun mata melihat, majalah, televisi ataupun internet, hantu itu menjerat tubuh umat. Ia melahirkan ratusan virus sosial. Jika angka penyakit moral kian menjulang di koran dan jurnal, ialah biangnya. Sedang taklid buta tidak sama dengan impor kebaikan budaya asing, bahkan ia diperlukan. Taklid buta berarti mencerabut budaya asli bangsa hingga keakarnya, apapun itu, hingga sebuah entitas kehilangan identitas. Hingga sampai suatu titik terpilu: orang arab lupa bahasa arabnya, orang Turki tak lagi sungkan hidup seliberal Eropa, orang Indonesia membarat dan tak bernyali di depan mereka, seperti sindiran Taufik Ismail ‘’malu aku jadi orang Indonesia’’.

 

Kelima, hukum. Umat tidak punya rumusan undang-undang yang orisinil. Yang ada hari ini sekedar warisan mantan penjajah mereka yang berputar atas prinsip yang ‘kuat yang menang’. Keenam, pendidikanumat berdana besar, ribuan intitusi berdiri, tapi generasi pemimpin tidak tercetak. Mengetahui tapi tidak memimpin, bahkan tidak memproduksi. Ketujuh, mental putus asa, dan inferior menekan dada umat. Bahwa kebangkitan terlalu jauh jika dikatakan tidak mungkin, bahwa matahari di barat tidak akan pernah lagi pindah kesini.

 

Peta persoalan umat ini akan membentuk pemahaman utuh atas situasi dunia, atas problematika kontemporer, atas kebutuhan zaman. Jika pemuda mampu memahami inti masalah dalam setiap kategori persoalan umat maka pikirannya tidak terpedaya dan teralihkan untuk sekedar menghadapi hilir sungai masalah yang remeh saat hulunya terus memproduksi limbah pada sungai umat.

 

Itu semua kerja-kerja besar yang menanti pemuda. Jika sejarah telah memberi inspirasi dan energi untuk merancang kerja-kerja unggulan, maka realitas memberi lahan konkret untuk memulainya. Sejarah memberi alat untuk memikirkan rencana kerja unggulan, dan hari ini saatnya menggunakan tajamnya peralatan itu. Karena ‘’apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan’’ kata WS Rendra.

 

Saint-Étienne Perancis, 30 April 2012

Majalah Intima Edisi-Mei 2012

Muhammad ELvandi, Lc.

Comments

comments