Mengetuk Pintu Sejarah

Seperti melihat masa depan, saat membuka lembaran masa lalu. Seperti melukis karir mendatang, saat menatap kanvas sejarah. Seperti memaksa diri kalau ‘itu mungkin’, saat melihat para tokoh itu pernah membuktikannya. Itu memang tabiat sejarah. Adanya untuk orang-orang berakal. Ketika sejarah dianggap lembaran kuno, Allah justru menunjuknya sebagai perangkat ketakwaan, ‘’telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah di muka penjuru bumi, dan perhatikanlah bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan. Inilah penjelasan untuk manusia, juga arahan dan ajaran untuk orang-orang yang bertakwa’’ [al-‘Imrân:137-138].

 

Cerita hidup manusialah yang diminta Qur’an untuk dikaji. Dari cerita negeri di balik tembok raksasa hingga cerita masyarakat yang kini memegang kendali peradaban di white house. Jika perlu jelajahi bumi ini, bukan sekedar menikmati alam Bunaken yang jernih, atau memotret Pyramid yang kesohor, atau mengukur setiap mili batu Inca di Peru. Tapi terutama mengkaji kisah manusia-manusianya. Karena sunnatullah yang mencerdaskan ada disana, yang sering kita namai pengalaman.

 

Kunci yang membuka kotak rahasia para manusia agung ada disana. Mereka membaca pahlawan-pahlawan idealnya sejak muda. Mereka mengikuti jejaknya lalu mengetuk pintu sejarah untuk ikut mendaftar dicatatannya. Lalu tiba-tiba saja kita membaca nama-nama mereka dalam urutan baru kontributor umat manusia. Seperti itu proses kelahiran tokoh-tokoh besar sepanjang sejarah. Sehingga mengkaji nasib umat-umat lalu, biografi khususnya menjadi santapan utama mereka. Itu adalah permulaan yang ideal. Dari keluasaan bacaan biografi mereka merancang rencana kerja unggulannya.

 

Biografi yang menjadi bagian dari sejarah itu bukan persoalan data, tanggal, tempat, dan kejadian saja. Biografi adalah cerita tentang semangat manusia, pergulatan hidup mereka, kesulitan yang menantang mereka, kemudahan  yang memperlancar hidup mereka, dan hasil-hasil yang diperoleh atau kegagalan-kegagalan yang meruntuhkan karir. Semua itu menancapkan efek yang dalam kedalam jiwa manusia.

 

Dari sana para pemuda muslim pencetak sejarah mengambil inspirasi tentang bagaimana manusia-manusia agung menyumbang sesuatu bagi peradaban. Kemudian mereka mengidintifikasi karakter dan kecenderungan para pahlawan idealnya itu kedalam diri mereka. Untuk mereka tiru, untuk mereka ulangi kemenangan itu, untuk mereka kembalikan Islam ke singgasananya. Oleh karena itu sepertiga al-Qur’an adalah cerita. Agar umat mempunyai stok alternatif, stok model, stok inspirasi.

 

Ini juga masalah kronis pemuda. Miskin inspirasi sejarah. Tidak ada cerita manusia besar yang meniupkan energi hariannya, apalagi membentuk visi hidup dan rencana kerja unggulannya. Tidak banyak pahlawan muslim yang dikenalnya setelah zaman sahabat selain Umar bin Abdul Aziz, Salahuddîn dan Muhammad al-Fâtih, seakan hanya di tiga masa itu Islam berjaya. Bahkan dalam sebuah Universitas, pernah diadakan survey, untuk menjawab urutan empat nama khulafâurrâsyidîn, itupun dianggap sulit. Sehingga terkadang mereka mempunyai visi yang islami, berorientasi ibadah, tapi sekedar untuk kehidupan yang pasif tanpa kontribusi, atau seminim-minim kontribusi.

 

Bumi ini Allah sediakan untuk dikelola. Karenanya generasi Adam disebut Khalîfah. Itu agenda pemuda muslim untuk seluruh hidupnya di masa depan. Menglola kehidupan. Mengelola dunia untuk bahan ke akhirat. Sehingga sepertiga Qur’an itu menceritakan bagaimana cara umat-umat lalu mengelolanya. Ada tsamud yang materialis dan angkuh  lalu runtuh bukan buatan, seperti juga ‘Âd, Fir’aun. Ada kerendahan hati dan kecanggihan teknologi Sulaiman sebagai perangkat imperium besar. Ada kebijaksanaan Luqman sebagai model psikologis bagi pendidikan modern. Ashabul Kahfi memberi gelora perlawanan pemuda atas tirani dan kesesatan. Dzulkarnain mengajari makna kekuasaan yang membentang untuk perlindungan jelata. Khidir dan Musa mengingatkan batas pengetahuan manusia, bahwa diatas yang berilmu ada yang lebih berilmu. Pernahkan cerita-cerita itu membentuk kesadaran misi hidup pemuda Indonesia?

 

Enam puluh tiga tahun usia Rasulullah adalah medan petualangan lain. Ia adalah skenario sempurna Allah tentang membangun ulang kehidupan dari titik nol. Ada cerita ketika Muhammad muda yang tak hidup seperti pemuda pasaran, ada misi kenabian yang penuh kerahasiaan ditengah cengkeraman tangan-tangan kasar intimidator. Ada momen penciptaan negara baru, momen kejayaan perang, pengkhianatan Yahudi yang menyakitkan, pengepungan yang mengerikan, momen diplomasi yang cerdas, ekspansi dakwah yang gencar, dan terbukanya Mekkah. Bukan sekedar bacaan inspirasi ringan, cerita hidup Rasul adalah inti Islam sendiri. Inti pemahaman atas semua ajaran Islam.

 

Pernahkah misi hidup disusun seperti Rasul menjalani hidup? Apakah proyek dakwah pemuda sebesar obsesi sahabat Rasul? Resapi lagi cerita mereka! Ratusan-ribuan sahabat Rasul mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Mungkin satu-dua dari mereka menginspirasi.

 

Jika rencana kerja unggulan itu masih tidak terpikirkan, karena kurang model dan inspirasi, atau sudah terbayang  tapi sekedar obsesi-obsesi hidup yang kerdil, maka buka lagi cerita generasi setelahnya. Ada al-Jahidz yang menjual rumah untuk buku, bukan buku untuk rumah, sehingga isi kepalanya seperti ensiklopedi berjalan, sastrawan kelas tinggi sepanjang zaman. Ibnu Haitsam yang dizamannya membedah fisiologi mata dan menjadi dasar ilmu optik modern, al-Idrisi pembuat atlas bumi yang bulat dan seakurat peta modern. Klan Barmaki di daulah Abbasiyyah memproduksi negarawan-negarawan penopang imperium, menteri-menteri besar lahir dari mereka, ini adalah model masa depan tentang kredibilitas kementrian yang ideal. Zhâhir Baybrus, cerita yang serupa dongeng, perjuangan dari seorang budak merangkak menjadi sultan besar, tapi ia nyata, ia sejarah. Abdullah bin Yâsin merekrut pengikut dari kesendirian di tengah padang pasir. Satu menjadi dua, dua menjadi sepuluh, sepuluh menjadi selupuh ribu. Dari lingkaran kecil pengajiannya menjadi negara besar, Daulah Murâbithûn.

 

Buka terus lembaran yang membelalakan mata itu! Walau kau takkan tahan dengan kemilaunya. Resapi lagi cerita para mahasiswa pemikir yang menjadi pilar kebangkitan umat, Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Ridha, Abduh, Hasan al-Banna, Mâlik bin Nabi, Rasyid Ghanûshi, Hasan Turâbi, Natsir, Agus Salim, Hamka.

 

Mereka adalah manusia yang hidup untuk memberi kebaikan bagi kehidupan manusia. Mereka telah membangun rumah sejarah. Tinggal giliran pemuda zaman ini. Ketuklah pintu itu. Kenali manusia-manusia besar didalamnya. Tentukan kontribusi seperti apa yang akan dikerjakan. Kontribusi sebesar gunung yang menjulang, bukan semungil kerikil yang diinjak orang. Cari model pahlawan paling pas dengan jiwamu. Dan tetapkan ia menjadi rencana kerja unggulanmu.

 

Saint-Étienne Perancis, 30 Maret 2012

Majalah Intima Edisi-April 2012

Muhammad Elvandi, Lc.

 

 

 

 

Comments

comments