Narasi Global Umat – Part 4

New Turkey

Perjalanan pergerakan di Mesir sangat berbeda dengan Turki dan AKP-nya. Diawali oleh Erbakan. Ia adalah sosok antagonis bagi militer Turki selama beberapa dekade. Erbakan mempunyai pandangan dakwah yang tegas, pilih Islam atau sekuler. Sehingga tema dakwah jama’ah Millî Görüş atau Visi Nasional, adalah perlawanan terhadap sekularisme. Erbakan mempunyai tipikal strategi yang mirip dengan IM Mesir, sehingga inilah salah satu alasan IM tidak membuka cabang struktural di Turki, karena Millî Görüş dianggap representatif sebagai lokomotif gerakan Islam.

Satu yang paling ditakuti kekuatan deep state* turki adalah perlawanan sistematis Erbakan terhadap sekularisme. Sedangkan bagi penguasa barat adalah Erbakan sangat dianggap berbahaya karena ia menggagas aliansi strategis ekonomi yang bernama D-8 terdiri dari Turki, Indonesia, Mesir, Bangladesh, Pakistan, Nigeria, Malaysia dan Iran. Aliansi ini jauh lebih potensial dibanding OPEC. Sebagian menganggap narasi besar Erbakan adalah peluang tumbuhnya lagi soliditas umat Islam melalui negara-negara tersebut. Terlebih sikap Erbakan terhadap Zionis sangat tegas sehingga siapapun yang mulai menyentuh tema Palestina, akan dianggap musuh bersama kekuatan besar barat loyalis Israel.

Maka berakhirlah nasib sang arsitek yang mengambil dua kali PhD, satu di Aachen University dalam mechanical engineering dan PhD di King Saud University dalam Islamic Studies. Erbakan berkali-kali digulingkan, dan partainya berkali-kali dibredel, dari mulai Leader of the National Order Party (MNP), Leader of the National Salvation Party (MSP), Welfare Party (Refah Partisi), Felicity Party (SP).

Erdogan, murid Erbakan mempunyai strategi lain dengan AKP-nya. Ia datang dengan narasi yang benar-benar baru. Yaitu membangun kekuatan ekonomi Turki dari dalam sistem yang ada, baik sistem Turki ataupun Uni Eropa. Maka ia menerima sistem sekularisme Turki, menerima penghapusan hukuman mati sebagai salah satu syarat ketergabungan dengan Uni Eropa juga menegaskan tidak akan membawa ide negara islam.

Sebagian melihat bahwa semua itu hanyalah trik sementara Erdogan yang akan segera berganti saat ia menguasai Turki sehingga ideologi Erbakanlah yang kemudian menggantikan. Tapi bagi saya itu bukanlah trik, ataupun strategi pemenangan pemilu. Tapi Erdogan mempunyai grand narrative yang benar-benar baru, hasil pembacaannya terhadap realitas geopolitik Turki, Eropa juga dunia.

Ia tidak memaksakan seperangkat Qur’an untuk diinstutionalisasi dalam wadah yang bernama negara. Pengalaman Erbakan cukup memberi dia bukti bahwa kebenaran tidak selalu menang jika kendaraan tidak sesuai dengan tipe jalur yang dilalui. Maka ketimbang menentang sekularisme, Erdogan bermain dengan sekularisme. Ia memasuki sistem tersebut, foto Mustafa Kemal masih terpajang di kantor-kantor resmi pemerintahan seluruh Turki, sekularisme Turki ia lindungi, militer ia rangkul sehingga syarat pertama pertumbuhan ekonomi ia pastikan terlebih dahulu yaitu: stabilitas politik dalam negeri.

Perlu riset mendalam tentang diskursus antara Islam dan sekularisme dalam konteks Turki, dalam forum ilmiah, karena ia tidak bisa dipandang dengan pendangan simplistik atau membacanya dari kaca mata Hasan al-Banna yang tumbuh dalam konteks penjajahan Inggeris di Mesir, apalagi Sayyid Quthb yang saat itu berada dalam penjara.

Saat berinteraksi dengan sekularisme, saya tidak tahu apa yang ada di dalam hati Erdogan atau benak sang pemikir utama AKP, Dawud Oglu, tapi saya bisa mengangkap kebesaran narasi mereka untuk memperjuangkan Islam. Bukan melihat dari akhlak mereka, seperti yang sering dilakukan beberapa aktivis untuk membanggakan seorang pemimpin muslim modern. Tapi bagaimana dia berinteraksi dengan Gülen movement pimpinan Fethullah Gülen. Gülen movement adalah gerakan sosial spiritual yang tidak menyentuk politik. Mereka mirip dengan Muhammadiyyah atau NU dengan puluhan ribu sekolah di Turki juga seluruh dunia.

Gülen movement memastikan peningkatan spiritualitas masyarakat Turki yang tidak mungkin dikerjakan AKP secara frontal dalam sistem yang sekular.

Namun belakangan ini, Gülen dianggap menjadi dalang dari percobaan kudeta terhadap Erdogan. Terlepas dari fakta ataupun analisis terhadap kejadian kudeta terakhir, saya melihat bahwa kita perlu jeli memisahkan antara personal Gülen dengan corak keislaman yang dibawa organisasinya, yang notabene banyak mengadopsi spirit Said Nursi. Yang disebut terakhir ini, saya kira yang menjadi alasan kerja sama AKP dengan Gülen di awal-awal pemerintahan mereka sampai konflik politik dan kepentingan terjadi antara mereka. Walaupun ada sebagian yang menganggap bahwa Gülen telah membajak kemurnian ajaran Said Nursi.

Pernah terjadi beberapa usaha kudeta terhadap Erdogan sebelum kudeta Gülen, tapi justru para jenderal-lah yang ia tangkapi dengan tuduhan makar terhadap keutuhan Turki. Hal ini sebaliknya dengan apa yang terjadi di Mesir. Itu karena militer sudah berada di saku Erdogan. Saat standar stabilitas itu memadai, maka AKP mulai membuktikan janji-janji politiknya berupa membangun civil state (negara madani) dengan core agenda pembangunan ekonomi yang mengikuti global economic order. Semua syarat ekonomi Uni Eropa ia jalani untuk memastikan Turki bergabung dengan Uni Eropa. Tapi yang menarik bagi saya adalah mentalitas Erdogan untuk memasuki Uni Eropa. Bukanlah mentalitas pengemis yang menjadi objek dan berharap mencicipi kesejahteraan Eropa, tapi sebagai subjek, pemain ekonomi baru yang melihat Eropa seperti pasar untuk mereka taklukan. Terlebih Turki sebagai negara tidak mempunyai pengalaman dijajah negeri-negeri Eropa seperti Arab, namun justru sebaliknya. Sisa-sisa peradaban daulah Ustmaniyyah sangat terasa di negara Bulgaria, Kosovo, Bosnia, Rumania, bahkan hingga Austria.

Bentuk pembangunan ekonomi ekspansif itu lebih terlihat saat Turki mulai membangun deal-deal ekonomi dengan negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina).

Inilah kekhawatiran terbesar kompetitor ekonomi Turki, khususnya negara-negara Eropa. Oleh karena itu Turki akan terus digoncang oleh siapapun yang berkepentingan. Keamanannya akan terus dikoyak. Bom-bom akan terus meledak. Karena syarat pertama untuk pertumbuhan ekonomi harus dihilangkan dari negara tersebut, yaitu stabilitas dalam negeri. Inilah tantangan terkini Turki dengan narasi kekuatan baru Ekonomi umat. Setidaknya, mereka mempunyai narasi yang jelas. Pertarungan mereka adalah pertarungan mempertahankan ritme kemenangan

* Deep state atau derin devlet adalah gerakan bawah tanah Turki atau masyarakat elit rahasia yang sudah ada sejak sultan Selim III (1789–1807) yang berisikan militer, pakar hukum, intelijen, dan mafia. Mereka sering disebut dengan negara didalam negara. Ideologi mereka adalah ultra nasionalust, yang di era Turki modern ini menjadi penjaga terdepan sekularisme Turki.

Comments

comments