Narasi Global Umat – Part 5

BARAT DAN MUSLIM EROPA

BARAT VS ISLAM MASIH RELEVANKAH?

Terminologi Barat semakin rancu hari ini dengan perubahan demografi. Karena ia barat sama sekali tidak menunjukan sebuah entitas geografis. Barat adalah terminologi ideologis rasis. Barat adalah entitas kulit putih yang mewarisi peradaban Yunani-Romawi dengan latar budaya Kristen (Katolik-Protestan). Maka bukan hanya Eropa yang menyematkan istilah ‘western’, tapi juga Australia dan New Zealand yang letak geografisnya di timur.

Orang Amerika serikat menyebut dirinya mereka barat tapi belum tentu orang Kuba atau Venezuela. Ras kulit putih di London dengan pasti akan menyebut dirinya the genuine western (orang barat murni) tapi generasi ketiga imigran Pakistan pasti sulit mendefinisikan dirinya sebagai western. Bagaimanapun terminologi tersebut menjadi perdebatan serius bagi para ilmuwan sosial terlebih terhadap perubahan demografi yang terjadi besar-besaran di negara-negara Eropa. Masyarakat Eropa mendapat tantangan serius untuk mendefinisikan identitas mereka hari ini.

Yang menjadi perhatian kita adalah konsep Barat bagi umat Islam yang mayoritas berada di timur tengah dan Asia Tenggara. Barat dalam Bahasa arab berarti “Gharb” atau tempat terbenamnya matahari. Orang asing atau orang aneh dalam literature Bahasa arab disebut “Gharib”. Pada perkembangannya, dalam sejarah peradaban Islam, pendefinisan “we” dan “other” sangat melekat dengan sejarah interaksi umat Islam yang berpusat di Madinah, kemudian Damaskus, kemudian Baghdad dan Istanbul, dengan umat yang dianggap “gharib” atau asing, yaitu kerajaan-kerajaan di Eropa. Interaksi itu pada faktanya adalah interaksi persaingan, permusuhan dan perang. Peperangan umat Islam dengan dengan kerajaan Roma, perang Salib di Syam, peperangan di Andalusia, juga perang era kolonialisme adalah sejarah panjang ketidak harmonisan yang berurat berakar juga terwariskan pada mindset jutaan umat manusia hari ini.

Hal inilah yang menyebabkan default pikiran umat Islam hari ini terhadap barat adalah ‘mereka itu orang lain’. Dan default pikiran orang barat dengan definisi tersebut diatas (Eropa, US, Australia) terhadap umat Islam bahwa ‘mereka itu orang lain diantara kita’. Dikotomi ini terlihat dimana-mana, misalnya saat kita mengatakan “pilih sistem Islam atau barat” atau “harmonisasi antara Islam dan barat”. Saat kita mengatakannya kita tidak sadar bahwa kita seakan sedang menjadikan Islam adalah agama timur, sedangkan barat sebagai objek asing untuk kita inflistrasi dengan Islam.

Padahal nilai Qur’ani selalu menekankan pada universalisme Islam “wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin” atau hadist Rasulullah yang mengatakan “la yablughanna hadzad diinu maa balughallailu wannahaar” (agama ini akan tersebar keseluruh penjuru seperti malam dan siang mencapai mereka).

Bahkan andaikan pun Rasulullah menyebutkan kalimat “gharb” negeri barat, itu sebagai penunjuk geografis dan tidak menjadikan Islam agama timur.

Lalu bagaimana dengan Cina? Ada 1.3 milyar penduduknya. Laporan the world fact book CIA, umat Islam di Cina mencapai 20 juta. Lebih banyak dari jumlah umat Islam di Malaysia yang berjumlah 17 juta.

Maka saat kita mengkomparasikan Islam dengan sebuah entitas geopolitik, Islam VS Cina, Islam VS Barat, maka kita sedang mengebiri Islam menjadi sebuah agama Timur Tengah. Dampak paling signifikan dari pandangan tersebut adalah umat Islam tidak akan mampu memberikan narasi besar di kawasan masing-masing lebih dari narasi yang diproduksi pemikir-pemikir muslim di timur tengah. Karena narasi Cina berarti asing, narasi Perancis berarti asing, narasi Amerika berarti asing.

Contoh sebuah gagasan yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk diterima negara-negara berpenduduk mayoritas muslim adalah demokrasi. Sejak zaman Rifa’at Thahthawi, seruan demokrasi sudah bersaut-sautan di timur tengah, tapi butuh satu abad hingga ide demokrasi mulai dilirik para pemikir muslim dan mendapat legitimasi ‘tidak bertentangan dengan Islam’. Hal itu disebabkan mindset berikut: gagasan dari barat berarti asing, dan asing berarti resistensi hingga manfaat gagasan itu dipaksa dirasakan oleh umat Islam.

Tapi saya melihat, kendala ini bukan hanya berakar dari ketidakjernihan membaca sejarah, tapi juga dari masalah pemahaman ‘Manhaj Tafkir fil Islam’ atau metodologi berfikir dalam Islam yang tidak matang.

Maka saat kita menggunakan kata ‘barat’, yang perlu kita maksud adalah sebuah entitas geografi yang kosong akan ideologi. Disanalah Islam mulai mengisinya dari dalam.

Bersambung

Comments

comments