Narasi Global Umat – Part 8

2013-06-25_130249TREND BARU DUNIA DAN PELUANG NARASI KITA

Pengetahuan kita seperti membuat bola kecil dengan tanah liat. Setiap datang pengetahuan baru saat itulah kita menempelkan tanah liat ke bola tersebut untuk memperbesarnya. Begitulah pengetahuan akumatif manusia membesar seperti bola tersebut.

Era digital abad 21 ini membuat ukuran bola pengetahuan itu membengkak luar biasa. Arus informasi membuat kita mengetahui apa yang ada di kutub dengan instan atau orang di pegunungan Tibet bisa mengetahui kemacetan saat kita mudik dengan seketika. Rahasia-rahaisa pun terkuak, dokumen-dokumen resmi tersembunyi kian banyak diakses publik. Organisasi-organisasi sejenis Wikileaks berjamuran, dan kunci-kunci kekuatan insitusi-insitusi besar semakin mudah diakses para pengejar informasi yang bersedia dibayar beberapa dolar oleh pihak yang berkepentingan.

Di bagian ini saya ingin berbagi tentang paradigma-paradigma baru pergerakan dan penyusunan kekuatan.

NEGARA BANGSA KE JARINGAN STRATEGIS

Peace of Westphalia adalah perjanjian damai di tahun 1648 setelah 80 tahun perang antara Spanyol, Belanda dan Jerman. Pengaruh penting perjanjian ini bagi kehidupan antar bangsa adalah kejelasan wilayah otoritas setiap kerajaan yang kemudian diadopsi menjadi doktrin Westphalian Sovereignity. Hal inilah yang menjadi cikal bakal pembentukan negara modern di Eropa dengan berbagai basis teori sosialnya.

Berdirinya negara-negara modern Eropa menandai pemusatan kekuatan pada institusi negara. Di abad pertengahan keluarga-keluarga kaya Eropa seperti Medici, Rotschild menghegemoni kekuasaan sebuah negeri, dengan mendompleng raja dalam sistem aristokrasi. Namun dalam nation-state segala unsur keuatan dihegemoni negara, terutama legitimasi penggunaaan kekerasan seperti definisi negara-nya Max Weber.

Pasca keruntuhan daulah Ustmaniyyah, negeri-negeri muslim berjuang memerdekakan diri untuk menjadi negara bangsa yang mandiri. Sedang di Eropa terjadi dua perang besar, yaitu PD-1 dan 2. Periode 1910-1945, setiap negara sedang mengarah menjadi ultranasionalis.

Dalam konteks seperti itulah Imam Hasan al-Banna merumuskan narasi besarnya sebagai respon atas tantangan zaman. Yaitu narasi yang bisa dirangkum dengan tujuh tahapan:

1. Pembinaan pribadi muslim

2. Membangun keluarga islami

3. Membimbing Keluarga

4. Memperbaiki pemerintahan

5. Mengembalikan Kekhilafahan

6. Merealisasikan kepemimpinan global

7. Mendeklarasikan Islam sebagai guru peradaban

Hasan al-Banna sendiri belum mencapai tahapan keempat dengan optimal karena peluru lebih mendului syahidnya. Maka tidak ada warisan fiqh politik yang memadai dalam literature pergerakan Islam IM, bahkan juga pergerakan-pergerakan lain.

Poin yang ingin saya bedah terlebih pada konteks negara bangsa yang meliputi pandangan perjuangan Hasan al-banna di masanya.

Negara bangsa adalah unsur kekuatan terpenting dalam perkumpulan manusia saat itu. Oleh karena itu Hasan al-Banna sangat menaruh perhatian besar pada pengusaan negara. Point nomor empat adalah inti perjuangan gerakan Islam yang terinspirasi IM di berbagai negara. Point 1, 2, 3 hanyalah supporting sistem untuk memastikan aktivis Islam menguasasi peran penting dalam pemerintahan. Dan bagi al-Banna point 5,6,7 adalah agenda yang mutlak hanya bisa dilakukan jika negara sudah dipegang.

Namun hari ini negara-bangsa sebagai entitas terkuat perkumpulan manusia diperdebatkan, khususnya di kalangan pengkaji International Relations. Global Governance adalah salah satu kajian penting dalam tema International Relations.

Pembahasan Global Governance atau pemerintahan global memberikan kita kesadaran bahwa hari ini terjadi power shifting. Beberapa negara tetap merupakan pemain global yang sangat berpengaruh. Terutama negara-negara raksasa seperti US, Russia, China, atau Indonesia. Tapi negara tidak selalu menjadi entitas terkuat. Karena ada aktor-aktor lain yang terkadang mempunyai pengaruh jauh lebih besar dibanding negara. Misalnya, multinational corporation seperti Apple yang mempunyai penghasilan 53 milyar dolar, lebih besar dari pendapatan perkapita Lebanon, Tunisia, Jordan, Bahrain, Paraguay ataupun Bolivia. Ada actor-aktor besar UN, aliansi strategis BRICs (Brazil, Rusia, India dan Cina). Ada NGO-NGO internasional, lembaga-lembaga Think Tanks dan Global Policy Network dan Private Military dan Security Company.

Para aktor global itu mempunyai sistem, aset kekuatan dan agenda sendiri. Yang selama ini tidak mendapat perhatian sebesar perhatian gerakan Islam pada institusi negara.

TNC (Trans National Corporation) atau perusahaan multinasional adalah imperium lama yang transparansi kekayaannya diketahui publik hari ini. Berbeda dengan bisnis-bisnis kaya abad 15-18 yang bisnisnya tertutup dan tidak akuntabel. East India Company milik Inggeris dan VOC Belanda adalah contoh dari TNC yang bisnisnya tidak akuntabel, dari segi administrasi ataupun etika. Terutama era kolonialisasi adalah era dimana TNC menjadi kekuatan utama ekonomi negara.

Tapi TNC hari ini bisa dibaca publik. Potensi yang mereka punya bisa menghancurkan negara tertentu jika mereka mau. Perusahaan-perusahaan minyak terbesar dunia, ataupun perusahaan-perusahaan energi pada dasarnya tidak akan peduli dengan nasib lingkungan sebuah negara ataupun nasib generasi mendatang negara tersebut. Hegemoni perusahaan-perusahaan minyak di negara-negara petromonarki seperti Kuwait, Uni Emirates, Saudi Arabia, sangat mencengkram. Maka jika, misalnya seorang pemikir mencoba merumuskan narasi besar untuk kawasan teluk, maka sudah saatnya mereka berfikir bahwa prioritas aktivis dakwah adalah mendirikan perusahaan minyak milik aktivis Islam yang selevel dengan Saudi Aramco, Total, Royal Dutch Shell, atau Exxon Mobil.

Loyalitas TNC adalah uang, atau apapun yang diinginkan pemiliknya. Maka bisa jadi aktivis Islam berhasil mem-‘futuh’-kan dakwah sebuah negara seperti Saudi atau Qatar dengan mengisi pos-pos penting pemerintahan. Lalu apa yang akan mereka lakukan terhadap minyak yang mereka punya jika memang kapasitas aktivis gerakan Islam belum mampu membangun sebuah imperium perusahaan minyak? Apakah betul konflik-konflik horizontal yang ada di kawasan petromonarki karena alasan ideologis ataupun madzhab? Ataukah ada kepentingan minyak disana? Apakah betul berkembangnya salafi di Saudi murni karena kekuatan dakwah salafi ataukah ada kepentingan minyak hasil riset mendalam tentang sosio-kultural masyarakat Saudi? Maka narasi dakwah disana perlu perenungan mendalam dan pemikiran yang luas berbasis fakta realita kontemporer. Dimanakah letak medan yang perlu diperebutkan?

Perusahaan minyak hanyalah salah satu contoh, diantara contoh yang terlalu banyak tentang real power yang dikuasai TNC, seperti Apple, Samsung yang menguasasi alat komunikasi kita, atau Google yang merekam semua aktvitas online kita, atau provider email (yahoo, outlook) yang mengarsipkan semua korespondensi kita, dari yang personal hingga aktivitas super rahasia yang strategis dalam dakwah. Atau Unilever yang mengendalikan nutrisi kita.

Paradigma ini perlu melengkapi manhaj dakwah pergerakan Islam. Memang ide Hasan al-Banna adalah state oriented, tapi tidak harus paradigma ini menjadi titik tolak perumusan narasi nasional gerakan dakwah hari ini. Karena Imam Syahid menghadapi konsteks yang sama sekali berbeda. Justru kewajiban umat Islam khususnya aktivis pergerakan untuk selalu memetakan kerumitan konstelasi global dan nasional dengan jeli agar ktia berebut pos-pos yang lebih strategis sesuai dengan konteks geopolitik masing-masing.

Masih banyak aktor-aktor lain yang lebih dahsyat dari TNC dalam mengendalikan hidup kita disadari ataupun tidak, yang akan saya bahas di tulisan berikutnya.

Comments

comments