Pemuda Millenial: Teknologi & Percepatan

MUHAMMAD ELVANDI, LC. MA.

Intelektual Muslim, Al Azhar Cairo & Manchester University

Profil: bit.ly/elvandi

Sebelum usia 30 tahun, ada sederet nama besar dalam sejarah Islam yang sulit dipercaya pernah terjadi di alam nyata. Muhammad bin Idris As-Syafi’i menjadi Imam seusia SD anak hari ini, Al-Bukhari menjadi pakar Hadist seusia anak SMA modern, Harun al-Rasyid atau Muhammad Al-Fatih menjadi pemimpin imerium besar yang menguasai satu pertiga dunia di usia-usia mahasiswa baru S1.

Tidak ada yang berbeda, soal modal biologis dan psikologis, antara pemuda zaman dulu dan sekarang. Pemuda 10 abad lalu, 5 abad, mempunyai jatah waktu yang sama dengan kita, yang mereka gunakan juga untuk makan, istirahat, keluarga, karir juga dakwah. Mereka bahkan tidak memiliki alat bantu teknologi yang selengkap sekarang.

Saat mereka sekolah, sama-sama harus menghafal rumus-rumus science, atau kosa kata bahasa baru, tapi tanpa gadget dan multimedia yang memudahkan proses penghafalan. Saat aksi fisik dibutuhkan, tubuh mereka fit untuk memikul tugas-tugas besar, berkuda sepekan hingga sebulan tanpa jeda.

Jumlah pemuda-pemuda jenius seperti itu terlalu banyak menghisai plafon sejarah umat Islam. Setiap zaman selalu hadir pemuda-pemuda yang kualitas pribadinya sebanding dengan seribu manusia.

Apa yang sebenarnya terjadi pada capaian-capaian besar itu? Bukanlah modal kita sama? Bisakah pemuda zaman ini merebut piala kepahlawanan yang agung seperti Abruddahman ad-Daakhil yang mendirikan imperium Islam di Andalusia Spanyol di usia 25 tahun?

Pembentukan karakter masa kecil-lah jawabannya. Di balik biografi setiap pemuda agung tersimpan masa panjang pendidikan mental, spiritual dan pikiran yang kuat, sistematis dan berat.

Inilah rahasia dari beratnya masa kecil Muhammad, yang tumbuh tanpa ayah, dan ditinggal Ibu di usia 6 tahun. Kasih sayang kakeknya hanya sampai 8 tahun. Sisanya, sang paman Abu Thalib yang miskin mengasuhnya dalam kehidupan yang keras. Menuntunya untuk menggembala dan berdagang.

Berat memang! Tapi bukan tanpa hasil, usia muda yang dihabiskan untuk tugas-tugas berat mematangkan kepribadian. Menegaskan pada diri, bahwa hidup itu keras dan setiap suap makanan harus diperjuangkan dengan keringat.

Tapi kehidupan muda sang Nabi juga bukan hanya soal bertahan mencari nafkah, tapi juga soal kontribusi sosial. Usia remaja beliau habiskan untuk organisasi, militer (dalam Perang Fijar) juga aksi sosial (Hilful Fudhul).

Pengalaman-pengalaman berbobot inilah yang membentuk kepribadian sang Nabi di masa depan, sehingga beliau mengatakan “addabani rabbii, fa ahsana ta’diibi” (Tuhanku telah mendidikku, maka Dia mendidikku dengan sebaik-baiknya).

Itulah keadilan Allah yang diberikan melalui sebuah siklus yang dalam peribahasa terkenal:

“Hard times create strong men, Strong men create good times, Good times create weak men, Weak men create hard times”

(Masa sulit mencetak manusia kuat, Manusia kuat membangun masa yang enak, zaman yang enak membuat orang lemah, dan orang lemah membuat zaman yang susah).

Masa-masa sulit itulah yang menciptakan generasi muda yang kuat, bukan hanya fisik, tapi juga kekuatan pikiran, mental, finansial dan keluhuran obsesi.

Inilah situasi nasional yang tidak banyak dirasakan pemuda di kota-kota besar. Anak-anak yang lahir dari latar belakang orang tua berada, akan merasakan bahwa pendidikan dasar hingga kuliah sarjana adalah sebuah privilege dan taken for granted (jatah dan keharusan). Maka situasi ini akan jelas berbeda dengan seorang anak yang harus berjuang bahkan untuk menyelesaikan SMA.

Setiap pemuda yang mudah mendapatkan akses sumber pengetahuan dengan sekali klik, tidak akan merasakan keseriusan Imam Bukhari yang harus berjalan 500 KM antar kota untuk mendapat 1 hadis, atau Imam Syafi’i yang harus menghafal setiap catatan pelajaran dari gurunya Imam Malik karena keterbatasan kertas dan alat tulis.

Maka sekali unduh satu paket Ensiklopedia Britanica ada di depan laptop anak muda zaman ini, dan satu frase keyword bisa memunculkan tayangan yang diinginkan di depan youtube tanpa merasa bahwa konten yang sedang kita buka itu sangat berharga, karena bisa di dapat kapanpun dimanapun.

Pemuda yang terbiasa menghabiskan waktu 5-8 jam perhari untuk lesure time (santai) baik itu game online, chatting, medsos, atau hang out dengan sahabat, tidak akan pernah merasakan bahwa satu satuan waktu selama 30 menit menit bisa dilakukan berbagai aktivitas di tangan orang yang keras terhadap pemanfaatan waktu.

Satu hari, satu jam bahkan satu menit, kadang bisa menentukan sebuah negara merdeka atau tidak, dalam satu menit sebuah perang bisa menang atau kalah, atau nyawa pemimpin selamat atau tidak.

Masa sulit kemerdekaan, revolusi dan reformasi telah kita lewati. Para pemuda angkatan 08, 28, 45, 60-an, hingga 98 mengantarkan negeri ini pada sebuah level modernitas yang berpeluang untuk memanjakan generasi muda perkotaan, yang kita sebut generasi millenials.

Inilah fase krusial yang menguji kematangan generasi muda sebuah bangsa. Ibnu Khaldun jauh-jauh hari memberi kita peringatan, bahwa siklus ini seperti tantangan yang menggelincirkan. Kata Ibnu Khaldun, usia peradaban seperti usia manusia. Ada masa kelahiran, muda, dewasa, tua dan mati. Generasi pertama fokus dengan misi luhur komunitasnya, atau agamanya, atau bangsanya. Generasi kedua menikmatinya, dan hanya mengingat semangat generasi pertama. Generasi ketiga lupa dengan semangat generasi pertama, dan melihat fasilitas kehidupan yang mereka terima adalah jatah wajib generasi mereka. Sedang generasi setelahnya hanya tinggal lanjut menikmati hingga meruntuhkannya.

Di fase mana generasi muda Indonesia hari ini? Apakah kita masuk generasi ke-2 yang meneruskan perjuangan generasi pertama untuk membawa Indonesia pada puncak peradabannya? Ataukah kita tidak membiarkan negeri ini mendapatkan peran sejarahnya di level global sebagai aktor utama, dan kita memilih menjadi generasi ke-3 yang hanya menikmati fasilitas kehidupan sebagai jatah, mengeksploitasinya sesuai selera dan trend yang sedang viral, atau melihat demokrasi dengan harga yang murah sehingga jiwa kita tidak tergerak jika institusi demokrasi ini bermasalah? Yang lebih parah, apakah kita masih mempunyai definisi atas nasionalisme? Memaknai kemerdekaan? Indonesia emas 2045?

Usia 17-35 adalah kategori pemuda menurut UU kita, berbeda dengan PBB yang mematok 8-25 tahun. Kategori 18-35 inilah yang sering disebut dengan generasi Y atau Millenials. Mereka mempunyai pola pikir, perasaan, gaya hidup dan memori yang berbeda tentang kehidupan, bahkan tentang agama.

Variabel terkuat yang memengaruhi generasi ini adalah teknologi, politik, pendidikan dan demografi.  Tapi dalam tulisan ini saya hanya akan mengulas dimensi teknologi sebagai variable yang memengaruhi positif dan negatif generasi millennials.

 

Teknologi

Tahun 1991 tembok Berlin runtuh. Perang dingin berakhir. Sebelumnya sistem totaliter komunisme memonopoli informasi, dan kebenaran hanya satu, yaitu versi penguasa. Informasi hanya dihegemoni pemilik media, negara, juga pemilik teknologi.

Setelah tembok berlin runtuh, 6 bulan setelahnya Windows 3.0 terbit. Generasi yang lahir tahun 60-an dipaksa beradaptasi melihat dunia baru yang ‘datar’. Semua orang jadi bisa memberi (uploading) dan mengambil informasi (downloading), siapapun, kapanpun, dimanapun, walau dalam skala yang terbatas. Semua fenomena ini adalah keajaiban bagi yang hidup di bawah rezim totaliter, di Asia Tengah bekas pecahan Uni Soviet, Uzbekistan, Tajikistan, atau Vietnam, bahkan Jerman timur dan Eropa timur.

Tapi bagi generasi ini, kesetaraan informasi adalah jatah kehidupan yang mereka terima dari lingkungan nasional ataupun global. Mayoritas anak yang lahir tahun 2000-an tidak mempunyai gagasan tentang ‘kendala jarak’. Setiap keinginan mereka terpenuhi dengan social media, google, teleconference, livestreaming.

Teknologi transportasi semakin memperluas ruang gerak generasi ini. Bisa makan pagi di Paris, makan siang di Brussels, dan makan malam di Amsterdam. Atau pagi rapat di Senayan, meeting dengan klien di Surabaya dan istirahat di hotel Bandung.

Kita mungkin merasa tidak perlu merenungi perkembangan ini. Apa efeknya terhadap mimpi-mimpi kita, visi bangsa kita, dan peran negara ini bagi masyarakat dunia?

Mengapa? Karena gelombang yang diciptakan oleh teknologi ini sedikit banyak menggerus nilai kemanusiaan manusia. Alexis Carrel, sang peraih Nobel dari Perancis dengan bukunya ‘L’homme inconnu’ menerbitkan kegelisahan jiwanya akan nasib umat manusia. Untuk apa teknologi jika semakin memuat manusia mengurangi gerakan fisiknya yang real? Bagaimana mesin mengubah cara kita merasa dan berfikir? Perkembangan science semakin pesat tapi pemahaman kita akan manusia semakin kabur (the need of a better science of man). Fasilitas kehidupan semakin pesat tapi kematangan kepribadian kita semakin tergerus?

Tahun berapakah keluhan Carrel akan nasib umat manusia itu? Tahun 1935, saat teknologi masih di level itu, saat Einstein belum melaunching bom atom.

Bayangkan saat ini, seperti apa efek yang ditimbulkan teknologi atas kehidupan pribadi, keluarga, sosial dan bernegara kita? Medsos yang tujuannya menghilangkan jarak komunikasi, bisa jadi menghilangkan komunikasi real manusia. Berada satu tempat, berdekatan fisik, tapi setiap orang sibuk dengan dunia virtual di gadgetnya.

Sarana pembelajaran semakin melimpah. Imam Bukhari yang harus berjalan berhari-hari untuk tahu 1 hadis, bisa kita kalahkan kecepatannya karena satu klik kita bisa mendownload seluruh 9 kitab Shahih. Atau para pembelajar yang dulu gigih menembus universitas-universitas besar, untuk mendapat akses sumber-sumber pengetahuan (learning sources), bisa tersaingi dengan cepat dengan ribuan situs online course, dengan narasumber yang tidak kalah kredibel atau mungkin selevel.

 

Tapi apakah sumber-sumber produktivitas itu yang diambil generasi muda? Ataukah sederet game online, ribuan jam browsing yang tidak beraturan, traveling untuk mengumpulkan ensiklopedi selfie?

Apakah kecepatan internet mengakselerasi kematangan pemikiran, keluasan visi, dan ketajaman analisis generasi millennials? Apakah kecanggihan smartphone mencipta smart people?

Apakah alat-alat bantu pembelajaran menguatkan proses belajar? Apakah Powert Point untuk presentasi mengasah skill public speaking atau justru cara menyembunyikan ketidakmampuan menyampaikan materi dengan bahan presentasi yang canggih?

Apakah evernote, onenote atau manajerial tools, membuat hidup lebih terorganisir? Ataukah mereduksi habis-habisan kemampuan natural manajemen hidup kita? Sehingga saat handphone dan laptop hilang atau rusak, maka produktivitas-pun lenyap?

Itulah sebagian renungan akan tantangan teknologi bagi generasi millennials ini. Teknologi bisa menjadi tuan yang mengendalikan kita dengan dorongan konsumerisme dunia kapitalisme yang merangsek memasuki setiap saku kita. Atau melumpukan potensi kita karena kita sudah terlalu bergantung kepadanya?

 

Pemimpin Teknologi

Saya membagi manusia menjadi tiga pada setiap fase perubahan revolusioner. Yaitu leaders (para pemipin), followers (para pengikut) atau victims (para korban).

Mislanya, dalam revolusi percetakan, para penulis tangan (an-Nassakh) adalah korban-korban perubahan. Sedangkan para pemakai kertas, buku, penulis adalah follower yang mengikuti arus zaman. Adapun para pemilik percetakan adalah para pemimpin yang mengarahkan visi kehidupan dibidangnya.

Seperti itu juga revolusi transportasi saat mobil dibuat. Kuda dan pengendaranya adalah korban pertama revolusi mobil, dan pengusaha mobil-lah yang menentukan masa depan transportasi dunia, hingga hari ini.

Maka sekarang revolusi teknologi dalam bidang-bidang utama yaitu informasi, transportasi, telekomunikasi melahirkan para pemimpin baru, pengikut baru, dan korban-korban baru.

Secara demografi, generasi diatas 40 tahun adalah golongan yang paling potensial menjadi korban atas perubahan ini, minimal menjadi pengikut. Saat anak dan cucu mereka menggunakan VPN gratis untuk memasuki jaringan negara lain dan menembus semua blokade yang dibuat negeri sendiri, tidak mudah difahami oleh orang umum diatas 50 tahun. Dan sehari-hari mereka dihadapkan pada para pengusaha online yang tidak dia ketahui kantornya, tapi dirasakan produknya.

Atau guru, ustadz, pendidik, yang tidak mudah meyakinkan generasi millennials, karena generasi ini mampu mengklarifikasi konten apapun yang mereka sampaikan. Dan tiba-tiba mereka menciptakan tren-tren budaya baru dalam hitungan bulan yang mengalahkan usaha pendidikan mereka selama puluhan tahun.

Tapi apakah betul generasi millennial Indonesia memiliki independensi dalam bersikap? Kematangan yang dihasilkan teknologi? Atau kemampuan melakukan penetrasi sosial dan rekayasa tren dunia?

Disinilah masalahnya. Pemimpin teknologi memiliki saham besar dalam mengatur wajah kehidupan di dunia ini. Pemilik facebook, Instagram, mobil, mobile phone, google, tidak kita sadari mampu mengatur cara kita mengambil foto, memotong video, memilih konten postingan, bahkan menkonsumsi informasi harian. Tanpa sadar kita mengikuti Instagram untuk mereduksi konten video yang 1.5 menit kita menjadi 60 detik. Atau menyingkat setiap kata kita agar gagasan bisa dimasukan ke dalam twitter.

Disanalah kepemimpinan mereka dalam skala yang ringan memengaruhi kita, sebagai follower dan konsumen teknologi.

Saya percaya, tidak hanya solusi-solusi kecil dalam level individu untuk memindah kita dari kuadran follower menjadi leader, tapi kita butuh solusi strategis struktural kultural yang terintegrasi dalam konteks peradaban Indonesia.

Tapi saya ingin berbicara dalam konteks kematangan pribadi generasi millennials di tahap ini.

Karena di saat yang sana, inilah juga masa ketika manusia bisa mempercepat kematangan pemikiran, fisik dan kepribadian. Inilah zaman ketika manusia bisa mengetahui banyak hal dalam satu waktu, memahami banyak kerumitan kehidupan dan tim pembelajar strategis, merancang masa depan dengan big-data dan analisis pemikir strategis. Inilah peluang yang ditawarkan teknologi bagi kita.

Ada 6 langkah untuk menjadikan teknologi informasi, transportasi dan telekomunikasi yang tersedia adalah asisten percepatan kematangan pribadi dan pemikiran.

 

Pertama, Visi yang Jelas.

Membuat visi yang jelas akan pengembangan diri kita di masa depan. Segala sesuatu bermulai dari sini, memulai dari akhir. Visi inilah yang akan memberi arah, kemana kita menuju setelah belasan tahun belajar? Bagaimana menghabiskan usia muda kita? Perangkat ilmu apa saja yang kita butuhkan untuk mencapai visi kita?

Muara dari visi yang jelas adalah adanya kurikulum pribadi yang sistematis, dalam rentang 15 tahunan, sekitar usia 20-35 tahun. Yaitu apa saja yang perlu kita tahu dan kita kembangkan dalam diri kita. Baik secara spiritual, mental, emosinal juga intelektual.

Disinilah perlunya mentor yang bisa mengarahkan kita membangun visi yang jelas dengan rincian jalan terefektif untuk mencapainya.

 

Kedua, Sumber Pembelajaran

Ini adalah zaman ketika semua yang ingin kita tahu bisa kita tahu dengan mudah dan cepat. Ini tidak berarti membuat kita generasi instan. Tapi yang saya maksud, jika kita mempunyai kurikulum pengembangan diri yang jelas, semua sumber pembelajaran yang kita butuhkan untuk kurikulum tersebut bisa kita dapatkan dengan mudah.

Hal ini membutuhkan wawasan informasi sumber pembelajaran. Pendidikan formal adalah yang utama, hingga S1 bahkan S3. Tapi ia tidak cukup, karena apa yang bisa didapat dari informalitas tidak kalah luas dan dalam.

Sumber pembelajaran ini berserak dimana-mana baik online ataupun kajian sistematis, yang bisa didapatkan dengan kualitas akademis yang mumpuni.

Teknologi memberi kita keberlimpahan informasi ini. Situs seperti TedTalks, MIT Online Course, dan ribuan lembaga pendidikan online dengan biaya yang jauh ratusan kali lebih murah dari pendidikan formal, bisa menjadi suplemen kognitif disamping pendidikan formal.

Tapi hal ini hanya akan berhasil jika kita mempunyai kurikulum pengembangan diri yang jelas, dan sumber-sumber pengetahuan yang kredibel. Jika tidak, waktu kita terbuang banyak tapi hanya untuk mengkonsumsi sajian yang tidak ilmiah bahkan menyesatkan.

 

Ketiga, Penguasaan Instrumen Teknologi Informasi dan Telekomunikasi

Menguasai semua instrument teknologi informasi dan telekomunikasi kontemporer adalah cara terbaik untuk mengefisienkan waktu kita, di depan target kurikulum pengembangan diri yang banyak. Karena pada akhirnya, semua target kita akan selalu lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Maka, misalnya instrument teknologi informasi dan telekomunikasi harus bisa mereduksi waktu rapat tanpa mengurangi kualitas keputusan. Waktu perjalanan menuju tempat pertemuan 1 jam pergi dan 1 jam pulang bisa direduksi dengan kordinasi online, chat dan teleconference. Secara pribadi, kami pernah mengelola sebuah event besar di Paris, yang berhasil terlaksana dengan koordinasi virtual menggunakan sarana teknologi tanpa pertemuan fisik sekalipun.

Maka banyak sekali urusan bisa terselesaikan jika kita menguasai instrumen ini. Inilah fenomena baru manajemen diri dan waktu berbasis teknologi, yang memberi kita banyak waktu untuk meneruskan sederet agenda pengembangan diri.

 

Ketiga, Tim Pembelajar

Saat Imam Al-Ghazali menulis buku Tahafut al-Falasifah di Daulah Abbasiyyah (sekarang daerah Iraq), di benua lain Ibnu Rusyd butuh waktu untuk mendapatkan bukunya. Karena dia tinggal di daulah Andalusiyah (sekarang Spanyol). Dan saat ia membantah buku tersebut dalam ‘Tahafut at-Tahafut’, itupun butuh waktu yang tidak sebentar agar dibaca al-Ghazali.

Tapi sekarnag, tim pembelajar bisa kita bentuk dengan mudah. Teknologi telekomunikasi harus kita berdayakan bukan hanya untuk komunikasi sosial, tapi untuk tim pembelajaran. Bahkan tidak hanya di Indonesia, tapi antar negara.

Karena pengetahuan hari ini sudah terlalu terspesialisasi, dan tidak ada orang yang mampu faham segala tentang segala. Pengetahuan kita semakin terfragmentasi dan semakin membutuhkan keterbukaan pikiran dan hati untuk mendengar perspektif berbeda, dari bidang berbeda, bahkan agama dan bangsa yang berbeda.

 

Kelima, Traveling

Teknologi memberi kita peluang lain yaitu transportasi yang memintahkan fisik kita ke benua berbeda dalam hitungan jam. Traveling yang produktif adalah tools lain untuk mempercepat kematangan mental dan pemikiran kita. Karena saat traveling itulah terjadi dialog budaya dan pertukaran sudut pandang.

Keluasan pikiran seseorang bisa diukur oleh keluasan daya jelajahnya atas bumi Allah ini. Oleh sebab itulah banyak sekali ayat Qur’an bertebaran yang memerintahakan “Qul siiruu fil ardhi…fandzhuru…” (berjalanlah di muka bumi lalu analisalah).

Itulah rahasia percepatan pemikiran dalam Qur’an, yaitu perjalanan yang disertai analisa. Maka traveling bukanlah-lah beban atau kemewahan, tapi investasi masa depan, dengan syarat traveling bukan hanya sekedar foto-foto atau belanja, melainkan proses pertukaran budaya, perspetif dan mengantarkan pada analisa-analisa peradaban.

 

Keenam, Bahasa Asing

Para akhirnya, semua instrument diatas adalah fenomena global hari ini yang bisa kita manfaatkan dengan optimal jika kita memiliki kuncinya. Yaitu Bahasa asing. Bahasa Arab, Inggris, Jerman, Spanyol, Perancis, Cina, Rusia adalah diantara besar yang membuka banyak sekali akses pada sumber pembelajaran, sumber tim belajar.

Jika Bahasa Arab kita kuasai, betapa banyak kajian keislaman berbasis teknologi informasi yang bisa kita pelajari di sela-sela menunggu bus, kemacetan bahkan saat berolah-raga. Jika Bahasa Inggris kita kuasai, betapa banyak sumber-sumber online course yang berbobot, terbuka dan bisa diakses lewat smartphone kita. Dan betapa luasnya jangkauan diskusi ilmiah yang bisa kita lakukan dengan berbagai pembelajar seluruh dunia.

Keenam poin diatas adalah tools untuk menjadikan perkembangan teknologi sebagai sarana percepatan kematangan pribadi, mental dan intelektual.

Muhammad al-Fatih pernah mendapatkan pendidikan terbaik, dengan fasilitas guru terbaik di zamannya di berbagai bidang. Sehingga ia menguasai berbagai Bahasa, bidang ilmu juga kepemimpinan. Tapi di zamannya, hanya Al-Fatihlah yang mendapat kehormatan agung itu, karena ayahnya seorang khalifah Daulah Ustmaniyyah yang mempunyai fasilitas itu.

Tapi saat ini, setiap generasi muda millennials mempunyai kesempatan yang sama dengan Al-Fatih berkat teknologi. Yang membedakan hanya satu: apakah kita mempunyai obsesi luhur yang sama, seluhur mimpi Al-Fatih untuk berkontribusi untuk umat dan bangsanya?

Comments

comments