Peran Alumni Azhar di Indonesia

(Refleksi Kejatuhan Mursi)
1. Beberapa waktu lalu diadakan lesehan nasional oleh Paguyuban Alumni Al-Azhar Mesir, dan sy sangat mengapresiasi inisiatif mulia ini.
2. Disana sy berkesempatan berbagi gagasan tentang Washathiyyah dan implementasinya di Indonesia, dengan mengambil inspirasi dari musibah Mursi.
3. Sejarah selalu mengulangi dirinya sendiri oleh karena itu Allah memerintahkan kita untuk berjalan di muka bumi, menganalisa nasib umat-umat lain agar kita bisa melakukan komparasi-komparasi, mmempelajari pola lalu memproyeksi masa depan.
4. Itulah sebabnya wawasan geopolitik sangat kita perlukan untuk membedah sejarah dan peradaban dengan lebih utuh.
5. Maka saya memilih mengambil sudut pandang politik dan global atas tragedi mursi, agar kita, umat Islam dan bangsa Indonesia tidak mengulangi fenomena yang sama.
6. Cerita timur tengah atau lebih tepatnya Alam Islami, setidaknya bisa kita runut ke masa runtuhnya Ustmaniyyah.
7. Jazirah Arab, juga Syam, Mesir adalah provinsi-provinsi Ustmaniyyah yang terus di provokasi untuk merdeka.
8. Agen-agen Inggeris dan Perancis bermain dengan sangat lincah di kawasan. Menjadi ‘sahabat’ bangsa Arab untuk merdeka dari Turki Ustmani. Terutama perwira flamboyan Lawrence ‘the arabia’ yang memgadvokasi berdirinya Saudi Arabia, Irak dan Jordania.
9. Markes Sykes diplomat Inggeris dan François George-Picot diplomat Perancis bahkan berbagi lahan timur tengah berdua secara rahasia tahun 1916.
10. Inggeris mendapat banyak lahan di kawasan Timur tengah hingga asia tengah, bahkan membagi India, Pakistan & Bangladesh sesuai kategorisasi politik mereka.
11. Perancis pun ikut membagi Syam menjadi Syria dan Lebanon.
12. Setahun kemudian baru terkekspos perjanjian Sykes-Picot itu di Izvestia dan Pravda, bahkan di harian Guardian Inggeris.
13. Dikemudian hari pasca perang dunia I, presiden Amerika Woodrow Wilson membuat perjanjian Sykes-Picot itu menjadi legitimate.
14. Tapi bayangkan, puluhan negara Arab yang kita pelajari di geografi SMA dulu adalah hasil beberapa gelintir orang yang berbagi lahan imperialisme di teritori Ustmaniyyah.
15. Makanya hingga hari ini sentimen antara Arab-Turki masih tersisa. Arab menganggap Turki penajajah, dan Turki menganggap Arab pengkhianat. Itulah hasil adu domba.
16. Prolog tersebut vital untuk melihat problematika Arab kontemporer, termasuk Mesir.
17. Bahwa sejak awal, berdirinya negara-negara Arab modern dijadikan kawasan satelit negeri barat untuk supplier bahan bakar industri mereka.
18. Puluhan tahun hubungan itu dijaga dengan berbagai ikatan, terutama yang menyangkut eksistensi Israel.
19. Mesir bukanlah pengecualian, ia terletak persis di pusaran konflik perebutan dominasi ekonomi-politik para raksasa neo-imperialis.
20. Dua puluh tahun pemerintahan Mubarak adalah perpanjangan tangan sistem global seperti juga di Asia Tenggara pasca perang dingin.
21. Maka jangan salah sangka: bahwa jika anda menguasai negara (Mesir) berarti anda menguasai negeri (Mesir)
22. Karena aktor-aktor global yang bercokol disana mengakar sejak awal abad dua puluh.
23. Tapi Allah-lah pemilik semua kekuatan dan kekuasaan. Pembuat sebaik-baik makar.
24. Monitoring dan cengkeraman asing di Mesir ada juga saat lemahnya, dan ia bertemu dengan momentum pembakar-dirian pemuda Tunisa pada Desember 2010. Hingga akhirnya revolusi Arab merambat ke Mesir.
25. Terbakarlah Timur Tengah dengan ‘Arab Spring’. Tumbanglah Mubarak dengan slogan revolusi rakyat yang dikomandoi IM. Salafi dan kalangan lain menjadi supporter.
26. Semua mabuk euforia, bahkan saya yang masih studi di Cairo ikut diajak serta dalam konvoi-konvoi simpatik membawa bendera IM bersama kawan-kawan Mesir yang IM.
27. Bahkan tentara menjadi partner revolusi melucuti kekuatan Amn Dauli (kepolisian dalam negeri).
28. Lalu Partai Keadilan dan Pembangunan milik IM memenangkan pemilu dan mengantarkan Mursi menjadi presiden.
29. Tapi IM tetap tawadhu, mengatakan ‘kemenangan ini dari Allah’. Karena seperti itu memang faktanya, semuanya tidak ada desain IM dari awal.
30. Mereka hanya mengambil celah sejarah (staghrah tarikhiyyah) yang terbuka lalu dengan mulus di eksekusi.
31. Ini yang saya sebut memenangkan demokrasi. Umat Islam sudah banyak yang mencapai tahap ini, yaitu mengambil alih kepemimpinan memalui pemilu demokratis.
32. Inilah juga mimpi barat imperialis pada awalnya. Mendemokratisasi dunia. Karena demokrasi itu pedang tak bertuan yang ampuh digunakan para petarung peradaban yang tangguh.
33. Baratlah yang dirasa akan selalu memenangkan demokrasi. Tapi sejarah memberi fakta keras.
34. Bahwa umat Islam (Islamis) mampu menjadi petarung tangguh dan memenangkan demokrasi. Di Mesir, di Aljazair, di Turki dengan kemenangan Erbakan beberapa kali.
35. Disinilah justru letak krusialnya. Level 2 perjuangan demokrasi: yaitu Menjaga demokrasi.
36. Dan umat Islam hampir selalu gagal disini. FIS di Aljazair diberangus, juga Erbakan, juga Mursi.
37. Akhirnya kita mempelajari kaidah baru: jika kaum islamis memenangkan demokrasi, maka demokrasi akan diaborsi dengan kudeta, kemudian sistem politik dikembalikan ke sistem darurat negara/ sipil/ militer.
38. Cara mengaborsi demokrasi itu terlalu banyak. Yang paling penting adalah menghilangkan stabilitas keamanan, dengan teror, bom, penembakan, kriminalisasi, dll.
39. Hilangnya keamanan adalah hilangnya pembangunan, hingga krisis ekonomi dan menjadi alasan paling mudah untuk kudeta.
40. Itulah yang terjadi dengan Mursi. Tidak siapnya menjaga demokrasi di depan ancaman perpecahan negeri, krisis ekonomi dan militer yang mengkhianati kepercayaan Mursi.
41. Itu juga yang hampir terjadi dengan AKP dan Erdogan. Tapi Erdogan memahami situasi ini. Berkat pengalamannya membersamai Erbakan.
42. Erdogan dikudeta berkali-kali dan stabilitas keamanan Turki berkali-kali diancam.
43. Tp prioritas pemerintahan Erdogan justru menjaga institusi demokrasi, dan semua perangkat negara (termasuk militer) ia konsolidasi dengan narasi baru “the new ottoman”. Ide Islamisme tidak ia bawa, karena tidak tepat di konteks sekularisme Turki.
44. Hal ini yang tidak kita temui dalam cerita Mursi. Tidak ada kebijakan kriris ekonomi, tidak siapnya perangkat coercive negara untuk mempertahankan rezim.
45. Yang paling parah adaah hilangnya dukungan penyolong revolusi yang tidak semuanya islami. Mereka mampu bersatu dibawah narasi IM saat melawan musuh bersama yang tiranik. Tapi mereka membutuhkan narasi baru pembangunan Mesir pasca kemenangan.
46. Lalu dimana posisi kita di Indonesia? Apa relevansinnya.
47. Pertama; perjuangan demokrasi melalui 3 tahapan. 1. Memenangkan. 2. Menjaga. 3. Mensejahterakan.
48. Memenangkan dan Menjaga demokrasi adalah prioritas kita hari ini. Sebagai alumni Azhar kita punya peran vital. Mengajarkan prinsip washathiyyatul Islam.
49. Entah siapa, yang jelas ada usaha memecah negeri ini.
50. Gerakan separatis mulai berani unjuk nyali.
51. Agenda-agenda umat dijadikan tumbal atas munculnya konflik sosial.
52. Umat Islam dipancing untuk membuka kembali debat-debat dasar negara, pancasila dan piagam jakarta.
53. Siapa yang paling diuntungkan? Jika anda memahami konteks geopolitik timur tengah yang saya jelaskan tadi, anda akan bisa memahaminya.
54. Menurut saya, saatnya debat-debat tentang dasar negara, pancasila VS Islam harus diakhiri. Umat Islam jangan terseret ke pinggiran untuk kembali ke meja-meja debat.
55. Karena bagi saya, diskusi pra-demokrasi sudah final. Pancasila yang ada sekarang adalah wujud ke agungan akhlak dan toleransi umat Islam dan pengorbanan umat Islam menjaga kebhinekaan kita. Apalagi sila pertama kita bahasa arabnya adalah “al I’tifaf bianna allah wahid”. Alias tauhid.
56. Dan demokrasi adalah cara kita mengimplentasikan prinsip syura.
57. Syura adalah pemerintahan partisipatif yang hari ini paling dekat diwujudkan dengan demokrasi.
58. Demokrasi adalah open platform yang elastis digunakan oleh pemenang pemilu. Demokrasi bahkan bias digunakan untuk isu rasial oleh Trump. Artinya demokrasi juga bisa digunakan untuk dakwah.
59. Peran alumni azhar adalah menjadi katalisator agar umat Islam berbondong-bondong menjejali pertarungan demokrasi lalu memenangkannya.
60. Kemudian menjaga negeri ini dari ancaman aborsi demokrasi dengan segala bentuknya.
61. Maka, menggandeng tokoh-tokoh militer adalah salah satu agenda strategis umat, asalkan para jenderal itu melepas kemegahan ketentaraannya dan maju sebagai tokoh sipil mewakili aspirasi umat Islam.
62. Alumni Azhar yang sudah kenyang dengan warisan washathiyyatul islam (kemoderatan islam) sudah saatnya membimbing umat dari pinggiran ruang debat pra demorasi, menuju tengah arena pertarungan memenangkan demokrasi, menjaganya dan mensejahterakannya.
63. Masyarakat Indonesia melihat alumni Azhar sebagai elit intelektual. Kapasitasnya dihormati sebagai tokoh pewaris nabi, dan kita diberikan privilege untuk mengatakan apa yang harus dijalani umat di negeri ini. Ini adalah power, mari gunakan power ini untuk membangun bangsa Indonesia.

Muhammad Elvandi, Lc. MA.
Intelektual Muslim
Al-Azhar Cairo & Manchester University

Link Video:

Comments

comments