Pernyataan Sang Negarawan

Negarawan 1

 

Dulu aku bangga kakek cerita luhurnya jiwa tentara

Dulu busung dadaku kata ‘MERDEKA’ diusung gempita

Dulu orasi yang berkobar tlah gembleng rakyat tuk bersabar

 

 

Tapi zaman ini masa lalu telah menjadi abu

Pun masa depan tlah terbang tak berbayang

 

 

Aku memang pejuang reformasi yang telah goyangkan itu kursi

Yang pernah citakan bangsa terbebas dari penindas

Yang inginkan minyak murah agar rakyat tak lagi susah

Yang impikan ibukota bangsa seindah Paris dan Venesia

 

 

Tapi idealisme ini tak lagi membekasi hati

Demonstrasi kami tak lagi punyai arti

Aku pejuang reformasi tak mampu lagi urusi negeri

Jas perjuangan ini kan kulumat sepenuh hati

 

 

Negarawan 2

 

Wahai Bung Reformasi,

Kemuliaan Engkau harapkan

Namun kakimu melangkah dalam surga mimpi yang nyaman

Kau tanggalkan jas perjuangan

Dan Kau sebarkan virus keputusasaan

Kaukah itu Bung? Generasi 98 yang gemilang

Mana suara lantangmu dalam barisan yang menderu-deru

 

 

Negarawan 1

 

Maaf Bung, Demo Bermasa-masa sedang perubahan tak lagi terasa

kereta sejarahku tlah lama berlalu

Karena tikus-tikus dewan masih mencuri tanpa malu

 

 

Negarawan 2

 

masih ada dewan terhormat yang selalu bela rakyat

 

 

Negarawan 1

 

Tapi di Negeriku tuan bermerci sibuk membangun villa pribadi

 

 

Negarawan 2

 

masih banyak pengusaha berderma seluruh harta

 

 

Negarawan 1

 

Tapi di Negeriku para santri saling membenci di tugu monas

 

 

Negarawan 2

 

masih banyak santri-santri menyeru persatuan negeri

 

 

Negarawan 1

 

Tapi di negeriku para gadis masih obral diri dengan gratis

 

 

Negarawan 2

 

masih banyak mahasiswi-mahasiswi suci membina diri

 

 

Negarawan 1

 

Tapi, sudahlah Bung,

kebaikan segantang tak mampu sirami negeri yang membentang

Salehnya para aktivis takkan sanggup buat bandit-bandit negeri tobat menangis

Sudahi saja mimpi ini Bung, Biarkan bangsa diurus pejabat tua

Biarkan mahasiswa urus diri mereka dan cari lowongan kerja

Negarawan-negarawan muda tak lebih dari bualan

Karena negeri ini masa depannya kian berantakan

 

 

 

Negarawan 2

 

Hai Bung, inikah batas kesabaran negarawan harapan?

Krisis dan tantangan mandulkan nyali dan keberanian

Hai Bung, lupakah kau semboyan tokoh yang slalu Kau teriakan

 

“Orang yang hidup untuk dirinya sendiri

ia hidup sebagai orang kerdil mati sebagai orang kerdil

Orang yang hidup untuk orang lain

ia hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar”

 

Akankah Kau duduk menunduk dan biarkan masalah bangsa bertumpuk-tumpuk

Jika itu yang Bung inginkan, maka biarkan ku buat pernyataan:

 

Wahai Penduduk Negeri! Aku berdiri di kesunyian

Sendiri berteriak lantang penuh keyakinan

Tanganku melepuh menggenggam erat api harapan

Tuk gugah citamu yang sekarat menuju kematian

 

Masa depan bangsa hanya ditangan barisan tak kenal putus asa

Pemuda berlemah hati yang urusi hajat sendiri

silakan duduk terpatri, menonton dan menanti

 

Terbitnya Sudirman-Sudirman baru yang angkat lagi wibawa serdadu

Natsir-Natsir Muda yang kembalikan kejayaan agama

Hamka masa depan yang tulis tafsir berjilid puluhan

Dan generasi Rahmat Abdullah yang seru orang kepada Allah

 

Negeriku kan segera bangkit karena harapan itu segera terbit

 

 

Negarawan 1

 

Bung, mungkinkah mimpimu yang agung kan rontokkan krisis yang menggunung?

 

 

Negarawan 2

 

Ya!!! bencana bangsa memang berturut di tiap kota

Konflik etnis dan agama perbesar luka yang menganga

Barang murah terus merangkak ke puncak harga

Dan musibah bangsa melimpah-limpah tiada tara

 

Tapi untuk itulah kita ada

Pemuda lahir tuk tuntaskan krisis yang tak kunjung berakhir

Harapan yang telah mati akan kita hidupkan kembali

Semangat yang tlah sekarat kan kita tekadkan bulat-bulat

 

Untuk itulah kita ada

Untuk bangun bumi manusia

Bangkit penduduk negeri !

Bangkit Bung ! Kita kembali ke lapangan dan kenakan jas perjuangan

Bela agama sempurnakan kemerdekaan

Kita lantangkan kembali sebuah pernyataan,

 

 

Negarawan 1

 

Pernyataan Sang Negarawan:

 

 

Negarawan 2

 

Wahai penduduk negeri, kan kutinggikan lembaran qur’an

Dan berlari berbekal pedang membelah lautan

Kudaki pula tangga langit menuju kota para ilmuwan

Tuk isi gua hati dengan benderangnya cahaya Tuhan

 

Wahai penduduk negeri, musibah, fitnah serta ujian

Adalah pajak abadi kemuliaan para pahlawan

Kuberjanji pada sejarah tuk berbekal keberanian

Kembali tuk penduduk negeri hiasi bumi dengan keadilan

 

Aula Shalah Kamil Cairo, 23 Agustus 2008

Dideklamasikan Pada Acara Tarhib Ramadhan

Muhammad Elvandi

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.