Pesan Kehidupan

Apa yang biasanya ditanya seorang guru terhadap murid SD adalah cita-citanya. Jawaban-jawaban mereka seputar profesi-profesi populer yang mereka lihat dari lingkungan keseharian atau tokoh film pavorit. Maka misalnya menjadi dokter, pilot, presiden atau  insinyur adalah bentuk ungkapan mereka untuk mendefinisikan sebuah mimpi, cita-cita, atau apa yang sering disebut visi.

 

Lalu berlalulah dua puluh tahun, saat anak-anak itu menjadi para pemuda yang telah menyelesaikan pendidikan universitasnya. Menjadi seseorang, menjadi peserta kehidupan dengan sebuah profesi. Lalu apa setelahnya? Apakah visi itu menjadi sesuatu yang bersifat peran sosial? atau justru setelah peran-peran itu terintegrasi dalam diri barulah bertanya, apa yang perlu dikerjakan dalam hidup?

 

Peran-peran sosial itu sering dipersepsi sebagai visi atau cita-cita, padahal ia sekedar instrumen untuk menuntaskan kerja-kerja besar. Capaian-capaian yang dihasilkan peran sosial itulah yang disebut visi jika itu direncanakan sejak awal. Seperti visi Mao Tse Tung yang ingin agar Cina bangkit, maka ia rancang kerja-kerja unggulan. Maka menjadi seorang revolusionis, pemikir, bapak bangsa, bukanlah visinya, tapi instrumen, atau jalur menuju realisasi visinya.

 

Jadi visi secara umum adalah gambaran utuh atas rencana kerja unggulan dimasa depan, bukan menjadi apa, tapi mengerjakan apa. Dan gambaran utuh ini tidak akan tervisualisasi sejak muda kalau pada dasarnya seorang tidak mempunyai arah rencana kerja unggulan itu.

 

Bagi seorang pemuda muslim, jika hingga saat ini arah hidup belum terumuskan, maka berhentilah sejenak. Karena ia tidak perlu dicari. Karena ia sudah dilampirkan saat seseorang memilih Islam. Episode setelah kelahiran manusia di dunia bukan hanya kematian, tapi ada alam kubur, kebangkitannya, mahsyar, perhitungan amal, hingga berakhir di surga atau negara. Maka berentetlah ayat-ayat yang menjelaskan misi manusia hidup di bumi seperti‘‘tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah’’ [adz-Dzâriyyât :56]. Atau yang lebih khusus ‘‘Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuham kalian, dan bekerjalah dengan baik agar kalian beruntung’’[al-Hajj :77].

 

Ia hanya perlu melihat ulang apa pesan yang Allah titipkan untuk manusia setelah ia keluar dari rahim ibunya dan tumbuh dewasa. Ibadah, ialah misi seumur hidup seorang manusia. Salat harian atau puasa ramadhan atau infak adalah agenda-agenda pribadi yang harus menjadi bagian hidup. Tapi itu tidak mencakup semua ibadah. Karena Ibadah, yang dalam definisi Ibnu Taimiyyah ‘’semua bentuk kebaikan yang disukai dan diridhai Allah’’ berdimensi sangat banyak. Pesan kehidupan itu bukan hanya agar setiap orang membenahi dirinya, tapi bumi ini dititipkan juga untuk diurusnya berikut manusia-manusia yang hidup didalamnya.

 

Pesan hidup ini dengan begitu menuntut seorang muslim untuk memformulasi rencana kerja unggulannya dalam tiga dimensi ibadah. Pertama, rencana kerja apapun itu harus semakin menancapkan keimanan ke palung hatinya bahwa alam semesta ini mempunyai Tuhan yang satu. Dan perjalanan kehidupannya akan menuju pengadilan akhirat yang berujung ke surga atau neraka sebagai rumah masa depannya. Itulah visi yang dilihatnya dalam setiap aktivitas hidup. Ia hanya akan mengerjakan agenda-agenda yang akan menyelamatkan dirinya di akhirat karena bukti pertanggungjawaban itu adalah surga atau neraka.

 

Kedua, rencana kerja unggulan itu perlu memenuhi syarat-syarat amal shalih yang diterima Allah dan paling dibutuhkan umat. Sehingga cita-cita membangun negara komunis raksasa yang makmur bisa jadi luhur untuk ukuran ideologi Marx tapi ia tidak lebih baik dari visi membangun komunitas masyarakat kampung bertauhid yang sejahtera. Amal shalih bukan sekedar membenahi akhlak, tapi semua agenda yang membuat umat bangkit adalah amal shalih. Itu berarti ia terlalu luas, sampai-sampai para ulama mempunyai definisi yang terlalu banyak untuknya. Tapi Allah tidak meminta umat Islam mengerjakan seluruh amal shalih, karena selain tidak mungkin, itu karena rasio kesempatan usia dan kemampuan tidak akan cukup. Sehingga Allah mengatakan ‘‘(Allah) ialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji diantara kamu siapa yang amalnya terbaik’’ [Al-Mulk:2]. Sehingga Ibnu Qayyim merangkum definisi amal shalih terbaik itu dalam ungkapan yang sangat pas, yaitu suatu amal yang paling dibutuhkan di waktu tersebut, atau disebut ‘Wâjibul Waqt’ atau disebut kebutuhan zaman. Itulah amal terbaik yang diminta, sehingga dalam kerangka kedua ini setiap pemuda merancang kerja-kerja unggulannya.

 

Ketiga, rencana kerja unggulan harus menyelamatkan manusia. Pesan hidup ini tidak meminta agar seorang muslim selamat seorang diri, tapi umat manusia mendapat kesempatan yang sama mendengar kebenaran Islam. Itulah sebabnya misi Rasulullah adalah ‘’rahmatan lil ‘Âlamîn’’, menyebar rahmat, cinta, kasih sayang untuk seluruh manusia, bukan hanya orang Arab, atau Asia. Di bumi saat ini ada 2 milyar manusia menuhankan manusia, 1 milyar mensucikan sapi, setengah milyar bertuhan sangat banyak, dan satu setengah milyar tidak bertuhan sama sekali.  Setiap pemuda yang memahami pesan ini ia tidak akan lagi menyekat pikirannya dengan benteng teritori yang sempit karena medan dakwahnya adalah umat manusia. Yang ada di pikirannya adalah rancangan kerja-kerja besar di masa depan agar kebenaran Islam bisa juga menyentuh 5 milyar manusia.  Inilah skala obsesi seorang yang memahami pesan kehidupan.

 

Pesan tauhid, amal shalih, dan dakwah ini adalah trilogi membentuk struktur perencanaan hidup setiap pemuda muslim. Dan sekalinya rencana kerja itu mulai dilaksanakan, maka ia tidak boleh berhenti, ia tidak cukup diemban sekali atau dua kali dalam hidupnya, tapi terus-menerus hingga waktu hidupnya di dunia habis. Karena itulah ia memerlukan sebuah tim atau kelompok yang akan selalu mengingatkannya untuk bersabar di jalan tauhid, amal shalih dan dakwah. Sekalinya ia berhenti dari kerja-kerja itu, berarti pesan kehidupan dari Allah pernah ia lalaikan. Semua pesan itu terangkum dalam surat al-‘Ashr, yang kata Imam Syafi’I satu surat yang mewakili panduan manusia hidup di dunia, ‘‘Demi Masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beramal shalih dan saling menasihati tentang kebenaran, dan saling menasihati untuk bersabar’’.

 

Saint-Étienne Perancis, 01 Februari 2012

Majalah Intima Edisi-Maret 2012

Muhammad Elvandi, Lc.

 

Comments

comments