Saringan Potensi

Ibnu Khaldun, 20 tahun umur emasnya masa mudanya ia habiskan untuk membekali diri menjadi seorang negarawan di Maghrib Arabi. Dan 25 tahun berikutnya ia dedikasikan untuk karir itu di imperium Islam yang sedang memimpin peradaban saat itu, namun ia tidak bisa optimal disana.

 

Sampai pada satu titik ia sadari inti potensi dirinya, bahwa ia adalah pemikir bukan praktisi, ia adalah ilmuwan bukan negarawan. Sehingga 24 tahun terakhir hidupnya ia kuras untuk ilmu di Cairo. Menjadi guru, hakim dan penulis.

 

Tapi peralihan kerja itu bukan kelemahan, apalagi aib, justru disanalah masterpiecenya terbit. Detail pengalamannya untuk memahami fenomena negara dan peradaban memberinya perangkat analisis. Ia temukan inti kompetensinya di bidang filsafat sejarah hingga dari sanalah ia merancang ulang visi besarnya hingga lahirlah karya abadi yang dijunjung tinggi di bidang humaniora timur dan barat, yaitu buku Muqaddimah Ibnu Khaldûn. Yang menjadi dasar ilmu sosiologi modern, yang menjadi cahaya baru pustaka umat dalam memahami fenomena peradaban. Ia kenali dirinya kemudian ia tentukan puncak karya hidupnya untuk Islam.

 

Bagian terakhir dalam konsep rencana kerja unggulan ada disini. Pesan kehidupan bagi setiap manusia untuk memakmurkan bumi, menjadi rahmatan lil ‘âlamîn, untuk ‘’membebaskan manusia dari perbudakan manusia menuju ibadah kepada Tuhannya manusia’’, seperti dakwah Rib’i bin Amir di depan Kisra Persia. Ia adalah tugas raksasa. Pesan kehidupan ini yang menjadi bahan perumusan kerja unggulan di masa depan. Lalu inspirasi tokoh-tokoh agung dalam sejarah meyakinkan bahwa ide-ide rancangan kerja unggulan hidupnya itu possible. Kemudian realitas dan problematika umat saat ini memanggil jiwanya untuk bergerak dalam paket-paket tugas besar dan mendekatkan ide-ide yang melangit ke bumi realitas.

 

Tiga komponen itu: pesan kehidupan, inspirasi sejarah dan pemahaman realitas yang menumpuki catatan konsep diri pemuda dengan sederet kerja-kerja unggulan di masa depan. Yang membuat visinya melangit hingga terkadang tidak realistis dalam kondisinya.

 

Tapi pada akhirnya semua rencana kerja unggulan tersaring oleh potensi internal masing-masing. Itu karena tidak ada seorangpun yang bisa menjadi super di semua bidang, dan melakukan semua kerja dakwah, walaupun selalu ada pengecualian. Pemuda menjadi the rising star bukan dalam segala, tapi dalam kompetensi inti dirinya. Sehingga Khalîfah Râsyidah kelima Umar bin Abdul ‘Azîz mengatakan ‘‘rahimallâhu imra-an ‘arafa qadra nafsihi’’ [Allah merahmati orang yang mengetahui kadar kemampuan dirinya]. Karena manusia akan dimudahkan untuk menjalani kehidupan sesuai dengan yang telah Allah fitrahkan.

 

Namun ada benang tipis yang menjebak. Benang yang memisahkan antara memilah daftar kerja unggulan karena menyesuaikan dengan potensi; atau mendiskon visi karena malas dan kerendahan diri. Kapan seorang pemuda mengatakan ‘kerja unggulanku dalam hidup adalah mengerjakan ini’ atas perenungan diri bukan karena kecenderungan jiwa memilih tugas-tugas ringan.

 

Jika yang kedua terjadi, kemalasan yang menyaring daftar kerja unggulan, maka alangkah benar sindiranmu wahai Sayyid Quthb ‘‘orang yang hidup untuk dirinya sendiri, ia hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil’’. Mungkin pesan al-Qur’an menghidupkan semangatnya beramal sewaktu-waktu, bacaan sejarah membakar geloranya berdakwah, dan seminar tentang realitas keumatan mengisi lembaran hariannya untuk merubah umat. Tapi saat ia sendiri dan cermin kepribadian merefleksikan kemalasan, rencana hidupnya ia reduksi besar-besaran, sembari mengatakan ‘itu terlalu sulit’ dan mencukupkan diri duduk di barisan para penonton yang sibuk dengan dirinya.

 

Tapi jika para pemuda menseleksi kerja unggulan itu karena alasan pertama: potensi, maka sejarah mengabadikan puncak karyanya. Zaid bin Tsâbit muda menjadi penerjemah Rasul tidak menjadi panglima seperti Khâlid bukan karena kepengecutan, tapi karena kecerdasan linguistiknya terunggul dari seluruh sahabat yang ada. Khalid bin Walîd tidak menjadi imam atau guru tapi menceburkan dirinya dalam jihad sepanjang hidupnya karena strategi perangnya lebih dahsyat dibanding hafalan Qur’annya. Pemilihan kerja-kerja unggulan mereka karena kesadaran bukan menyerah di depan tantangan apalagi kemalasan.

 

Pada dasarnya tidak mudah mendeteksi seluruh potensi yang tersimpan itu. Tidak mudah menentukan bahwa disini kita akan unggul. Bisa jadi seniman, tapi fitrah dasarnya adalah politisi, bisa jadi arsitek padahal potensinya dokter, bisa jadi pedagang asongan padahal ia dilahirkan untuk menjadi negarawan.

 

Untuk itu perlu penelurusan ke dalam diri dalam renungan-renungan panjang dan percobaan-percobaan aktivitas yang beragam. Perenungan dilakukan dalam momen-momen terbaik, seperti sepuluh hari terakhir i’tikaf bulan ramadhan. Selain perenungan, kristal-kristal potensi itu tergali dari tambang diri melalui tour of duty. Mencoba berbagai bidang dan dimensi kerja. Merenung, bergerak dan mencoba. Bukan merenung, berteori lalu merasionalisasi kemalasan. ‘‘Berdinamikalah! Karena setiap orang dimudahkan sesuai untuk [potensi] apa ia diciptakan’’ dalam hadist Rasulullah.

 

Ada tiga ciri untuk menseleksi rencana kerja unggulan. Petama, yaitu adanya perasaan kesenangan natural saat menjalani; kedua, adanya penguasaan yang cepat terhadap bidang tersebut; ketiga, adanya keyakinan untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang tersebut kata Anis Matta.

 

Pyramida rencana kerja unggulan itu dibangun, tidak tiba-tiba. Sekalinya seorang pemuda selesai di puncaknya dan memutuskan: inilah daftar rencana kerja unggulan dalam hidupnya, maka disanalah kisah kepahlawanan bermula. Dari rencana kerja unggulan itu ia menentukan konsep pendidikannya, karir profesionalnya, jaringan sosialnya bahkan detail kehidupan pribadi dan keluarganya. Dari rencana kerja unggulan itu umat menunggu pemuda-pemuda baru yang naik arena peradaban, bukan sebagai penontonnya tapi pesertanya.

 

Saint-Étienne Perancis, 31 Mei 2012

Majalah Intima Edisi-28

Muhammad Elvandi, Lc.

Comments

comments