Syarat Peradaban  

Setiap persoalan masyarakat itu adalah persoalan peradaban. Tidak ada entitas yang bisa apatis pergaulan sosial di kampung bumi ini. Sebagaimana tidak bisa umat Islam saat ini, terus menonton umat lain saling berebut piala peradaban bergantian. Karena jika umat Islam pernah memberi senyum bagi kemanusiaan dengan kontribusinya, itu artinya mereka juga akan mengeluh jika umat Islam rehat kerja apalagi pensiun gerak. Abul ‘Ali al-Hasani an-Nadawi menggambarkan dengan jelas tangisan kemanusiaan dalam karya masterpiecenya ‘‘mâdza khasiral ‘âlam bin hithâthil muslimîn’’ [apa kerugian dunia akibat kemunduran umat Islam].

 

Sehingga setiap langkah perbaikan diri pemuda muslim, bukanlah sekedar untuk sukses karir pribadi, atau mashur karya, terlebih sekedar saluran hobi. Tapi ia adalah sambungan gerbong kereta yang akan mengantar umat Islam ke gerbang peradaban. Dan kelesuan mereka tanda umat Islam masih harus bersabar mengantri di pinggiran kehidupan.

 

Hal ini mengantar pada kesadaran lain. Bahwa pembentukan generasi muda kontributif bukan sekedar urusan pelatihan LSM Kepemimpinan, atau seminar tahunan kampus. Ia bukan sekunder. Ia adalah agenda prioritas umat, negara, jama’ah, partai, LSM hingga keluarga. Karena kualitas pemuda bagi sebuah entitas adalah ukuran paling jelas bagi produktivitas manusianya. Dan manusia itu yang akan menggunakan semua yang ada di tanah tempatnya berpijak.

 

Ini yang dibicarakan Malik bin Nabi, pemikir besar Aljazair. Syarat peradaban katanya “mencetak pemuda-pemuda yang berjalan di atas sejarah, yang menundukan tanah dan waktu dan potensi untuk membangun cita-cita besarnya’’.

 

Manusia yang produktif, tanah yang kaya, dan waktu yang tepat. Trilogi syarat peradaban yang mengangkat kepala setiap umat di atas lumpur kehinaan. Tanah, unsur kedua artinya sumber daya alam. Dan unsur ketiga adalah ‘‘zaman yang seperti mengalir antar kota. Memberi gizi dari kekuatan abadinya bagi yang berdinamika. Dan menertawakan mereka yang tidur…ia sama bagi setiap belahan bumi…namun ia sunyi hingga kadang kita lupa padanya dan pada peradaban’’ kata Malik bin Nabi. Suatu saat detik-detik tidak bisa terbayar oleh batangan berlian, seperti hari-hari sempit proklamasi Indonesia, dan kadang ia membentang tahunan dalam rutinitas tanpa secuil perubahan.

 

Tapi tanah dan waktu menjadi batu mati dan air keruh tanpa tangan-tangan produktif manusia. Produktivitas yang mengolahnya menjadi istana atau gua, menjadi pusat riset atau arena sabung ayam. Bahkan dalam kondisi keterbatasan sumber daya dan momen sulitpun, umat dengan manusia-manusia unggul tetap mampu mencipta. Mencipta materi, budaya, sistem sosial.

 

Sekarang jika diasumsikan ada pertukaran penduduk. Seluruh rakyat Jepang pindah ke hutan Amazon dan seluruh penghuni Amazon pindah ke Jepang. Bukankah dalam beberapa tahun saja hutan itu akan menjadi perkampungan, lalu menjadi kota kecil hingga se-metropolit Tokyo, dengan semua perangkat hidupnya yang rumit. Dan Jepang yang berteknologi tinggi dalam hitungan minggu saja akan menjadi gudang tumbukan mesin mati, bangunan runtuh dan gunungan sampah dalam kehidupan kembali primitif seperti di Amazon.

 

Manusia produktif itu objek kerja umat, oleh karena itu Rasulullâh mengatakan ‘’khairunnâs anfa’uhum linnâs’’ [manusia terbaik adalah yang mampu memberi kontribusi bagi orang lain]. Sedang tanah dan waktu adalah karunia gratis Allah untuk dikelola manusia. Tentu saat unsur pertama siap dan yang kedua dan ketiga hadir, akan sempurna, itulah yang namanya peradaban. Tapi umat tidak perlu menanti momen di teras rumah pensiunnya, sembari mencari-cari potensi alam yang memang tidak ada.

 

Pemuda-pemuda umat ini perlu turun kembali ke lapangan. Merekonsruksi lagi diri-diri mereka menjadi jenis manusia produktif untuk mengelola semua yang ada disekitarnya. Dalam bidang apapun. Disinilah konteks rencana kerja unggulan bertemu. Setiap satu pemuda datang ke tengah lapangan amal, dengan sederet rencana kontribusi. Berdiri untuk mendaftar di akademi perubahan menuju cita-cita yang jelas. Dimasa depan, rencana kerja unggulan yang terealisasi dan terakumulasi menjadi karya kolektif umat yang dikontribusikan untuk kemanusiaan.

 

Rencana kerja unggulan itu jika sudah ditetapkan di dalam diri, menjadi modal dasar untuk melangkah. Ia prasyarat untuk menciptakan manusia-manusia bermental baru, bahkan berbudaya baru. Yang  tersisa setelah perencanaan itu adalah sarananya, bahan-bahan realisasinya. Bahan-bahan itu yang akan merekonstruksi setiap detail kepribadian pemuda. Ia yang akan mewarnai pemuda menjadi manusia baru.

 

Setiap rencana kerja unggulan itu menuntut bahan yang berbeda. Karena pemuda yang berencana membangun ekonomi syari’ah umat berbeda bahannya dengan pemuda calon negarawan. Berbeda pula dengan para tentara atau scientist umat yang ingin mengembalikan kiblat ilmu pengetahuan ke kawasan negeri-negeri muslim.

 

Seorang negarawan misalnya, lebih membutuhkan perangkat ilmu sosial, filsafat sejarah dan seluruh ilmu pengetahuan yang ada secara global, berbeda dengan scientist yang perlu kematangan spesialis yang sangat dalam, bahkan mungkin menghabiskan seluruh usia mudanya disana tanpa pengalaman mendalam di bidang lain.

 

Ini bukanlah dikotomi profesi. Seakan tidak mungkin berpindah bidang dan garapan. Karena dalam setiap kaidah selalu ada pengecualian. Para spesialis umat terbukti mampu menjadi negarawan, seperti B.J Habibi atau Muhammad Mursi di Mesir misalnya.

 

Bahan-bahan ini lebih berarti pada penyiapan manusia-manusia muslim yang mampu produktif tingkat tinggi karena kematangan spesialisasinya. Rennaissance di Eropa menanjak hingga mencapai peradabannya tidak dibangun oleh manusia-manusia generalis yang tidak produktif dan tidak pakar di bidangnya. Tapi ia dibangun oleh generasi baru mereka yang berminat menyumbang satu-dua kontribusi sejak muda. Lalu mereka jalani lorong panjang pemenuhan bahan menuju rencana kerja unggulan mereka. Saat semua terpenuhi, jadilah pemuda-pemuda itu menjadi bagian dari manusia produktif yang menopang peradaban mereka.

 

Bacalah sejarah hidup Wolfgang Amadeus Mozart, Thomas Edison, Arthur Rimbaud atau F. Scott Fitzgerald. Bandingkan antara rencana kerja unggulan mereka dimasa muda dan kehidupan yang ia jalani setelah ia tetapkan mimpi itu. Renungi, dan akan didapati mekanisme tertentu dalam memilih bahan yang tepat untuk setiap rencana kerja unggulan. Mereka tahu apa yang ingin mereka kontribusikan untuk kemanusiaan dimasa depan kemudian mereka temukan bahan-bahan untuk menempa diri mereka.

 

Sekarang, jika setiap pemuda negeri ini sudah tahu ingin mengerjakan apa di masa depan, apakah mereka tahu juga, bahan bangunan keilmuan apa saja yang dibutuhkannya? Ini salah satu pertanyaan besar bangsa. Karena tiga puluh tahun kedepan, bahan-bahan itu menjadi penentu. Apakah memberi Indonesia syarat peradaban yaitu manusia spesialis yang produktif atau manusia-manusia yang pernah sekedar punya obsesi rencana kerja unggulan di masa mudanya tapi gagal mencapai rencana itu.

 

Paris Perancis, 1 Juli 2012

Majalah Intima Edisi-Juli 2012

Muhammad Elvandi, Lc.

 

 

Comments

comments