Tim Partisipatif

 

Perjalanan itu bukan untuk meluaskan tahta, apalagi menumpuk harta. Tapi untuk sebuah misi agung yaitu distribusi jasa. Perjalanan pemimpin inspiratif Dzulkarnain dalam surat al-Kahfi adalah kisah abadi tentang prinsip kerja pemimpin dan umat. Diantaranya tentang produktivitas dan tawakkal. Kerja keras, kerja cerdas dan kerja sama. Keluhuran jiwa dan kerendah hatian, juga narasi atasan dan partisipasi bawahan.

 

Awalnya kaum yang bahasanya sulit dimengerti oleh Dzulkarnain itu menawarkan bayaran materil untuk proyek besar membangun ‘radma’ (benteng kokoh) tanpa mau berpartisipasi aktif. Mereka tahu masalah yang dihadapi, juga menegerti peta jalan yang harus dilalui. Tapi mendelegasikan semuanya kepada pemimpin memang nyaman. Sehingga jalan itu yang ditempuh. Membayar orang untuk jasa, lalu selesai masalah tanpa berlelah raga. Ringan bagi mental, enteng bagi pikiran, dengan cara meminta pemimpin mengambil alih semua urusan.

 

Tapi bukan itu karakter yang ingin dibangun Dzulkarnain. Melainkan “bantulah aku dengan apapun kekuatan kalian…” [al-Kahfi: 95]. Itulah sebabnya Dzulkarnain meledakan semua potensi masyarakat yang ada, tidak membungkamnya apalagi menihilkannya dengan alasan dia datang dengan pasukan besarnya sendiri atau karena dia yang paling tahu semuanya.

 

Independensi bawahan adalah prestasi terbesar seorang pemimpin. Jika bawahan bertumbuh dan berkembang menjadi pemimpin masa depan untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri maka itulah tanda keberhasilan pemimpin. Itu hanya terjadi jika pemimpin membuka keran potensi rakyat tidak menutup rapat pintunya. Mendengar harapan dan bisikan hati mereka, lalu meramunya menjadi aspirasi kolektif.

 

Itu juga agenda utama Rasulullah dalam membangun gerakan. Semua potensi terbaik dicarinya. Umar dan Ustman pengusaha kaya bukanlah hasil didikan ‘tarbiyah iqtishadiyyah’ (pendidikan ekonomi) Rasul, tapi mereka adalah para master di bidangnya yang kemudian potensinya terakomodasi dalam tim besar umat Islam. Juga Khalid bukanlah jago tarung setelah berislam, melainkan jawara Arab yang diberikan ruang dan panggung yang tepat dalam proyek ekspansif umat.

 

Maka peran Rasulullah adalah mengalirkan derasnya aspirasi dan obsesi orang-orang hebat itu di kanal yang tepat. Itulah sebabnya Rasul mengatakan “khiyarukum fil jahiliyyah khiyarukum fil islam idza faqihu” (yang terbaik diantara kalian di masa jahiliyyah berpotensi menjadi yang terbaik di masa Islam jika ia memiliki pemahaman yang tepat).

 

Semua potensi bawahan itu vital dalam sebuah proyek besar, dari kontribusi kerja tersulit hingga narasi verbal. Bahkan gagasan strategis tentang penempatan lokasi perang, yang seharusnya selesai di ruang pemimpin tertinggipun bisa dengan leluasan dan beradab di koreksi seorang sahabat Khabbab bin Mundzir di masa-masa genting itu.

 

Keterbukaaan rasul-lah yang membuat partisipasi Khabbab produktif. Dengan cara seperti itu tim partisipatif ditumbuhkan satu demi satu oleh Sang Rasul, yang menteladani prinsip kepemimpinan raja agung Dzulkarnain.

 

Beberapa prinsip kepemimpinan Qur’ani tersebut semakin hari terus berkembang dalam ilmu manajemen modern dan semakin dirasai produktivitasnya. Keterbukaan pemimpin dan pastisipasi kritis tim adalah salah satu unsur vital dinamisnya sebuah institusi untuk mengejar kecepatan arus informasi.

 

Paradigma-paradigma mendasar, gagasan besar atau grand narrative yang dahulu mungkin bertahan dalam ukuran abad, saat ini ditantang relevansinya dalam ukuran dekade oleh perubahan zaman akibat revolusi informasi, telekomunikasi dan transformasi.

 

Dua abad lalu kuda digantikan kereta uap, lalu sekarang taksi dan angkutan konvensional ditantang transportasi online yang kantornya virtual. Tidak lebih dari setengah abad kebelakang negeri-negeri muslim dibanjiri TV, diserbu tayangan yang menipiskan akhlak. Kemudian saat strategi-strategi dakwah di TV dipikirkan, diseminarkan, dirancang langkah praktisnya. Namun tiba-tiba saku-saku jutaan umat Islam diisi smartphone yang isinya lebih sulit di kendalikan dan jelas berbeda dengan rumusan strategi dakwah di TV.

 

Semua kecepatan ini membuat banyak pemimpin gamang atau bahkan lumpuh kreativitas menghadapi zaman baru. Seperti koran-koran raksasa sekelas New York Times atau Washington Post yang oplahnya terus merosot tereduksi berita online dalam genggaman tangan pembaca. Atau beberapa pengelola taksi yang memobilisir supir taksi untuk mendemo transportasi online di Perancis, Jerman, Denmark, juga Indonesia. Atau para pengusaha tekstil yang takluk di hadapan murahnya brand-brand ternama yang mengoutsource produksi ke Banglades, Vietnam, dan negara-negara Asean. Inilah era kecepatan gagasan yang disebut Thomas Friedman dengan ungkapan kiasan ‘the world is flat’.

 

Ada dua penyebab utama fenomena tersebut. Pertama, kesenjangan pengetahuan pemimpin atas fenomena paling mutakhir yang umumnya difahami oleh generasi yang berusia 10-20 tahun dibawahnya. Saldo pengetahuan para pemimpin untuk pengelolaan institusi, manajerial, hingga visi strategis umumnya dibangun dimasa muda saat konteks sosial politik demografi dan teknologi sangat kontras berbeda dengan masa dia memimpin.

 

Namun kesenjangan ini bukanlah krisis yang sebenarnya. Karena ia adalah kendala natural yang pasti dihadapi pemipin manapun saat tiba pada dinamika cepat masyarakat. Tapi krisis terbesarnya ada jika pemimpin tidak membuka pikiran dan telinga terhadap aspirasi dan kegelisahan kolektif generasi muda yang sedang menjadi aktor dan user utama semua perubahan diatas.

 

Penyebab kedua adalah saat generasi muda apatis dan pasif memberikan gagasan konstuktif bagi pemimpin. Dan sayangnya terlalu banyak alasan untuk merasionalisasi kepasifan itu, seperti soal ketakutan, ketidakpedulian, atau kelemahan kehendak.

 

Jika salah satu penyebab itu menjangkiti, sudah cukup membuat sebuah negeri, institusi, komunitas kehilangan relevansi untuk bekerja menjawab tantangan zaman modern. Pemimpin yang tertutup dengan aspirasi membuat gagasan konstuktif liar, tidak produktif atau bahkan terbuang sia-sia. Sebaliknya pemimpin terbuka akan kekurangan saldo strategi jika generasi mudanya diam membisu, memilih jalan nyaman sebagai para penunggu apalagi jika memang miskin gagasan.   Dalam situasi tersebut, sebuah negeri sedang menyalakan lonceng kematiannya.

 

Tapi jika para pemimpin terbuka, merasai denyut nadi keresahan pemuda, mendengar bisikan harapan mereka, juga memberi kenyamanan psikologis untuk semua bentuk kritikan dan masukan, maka mereka sedang menyiapkan panggung para pahlawan masa depan.

 

Dengan syarat, para pemuda partisipatif memberi rekomendasi soal tata kota, strategi transportasi, kebijakan ekonomi, kurikulum pendidikan atau rancangan-rancangan energi alam alternatif. Atau jika perlu kritikan bahkan protes soal tebang pilih hukum, mafia pemberantasan korupsi, reklamasi, kekayaan alam yang digerus asing, kerukunan yang dikoyak, dan banyak sekali ruang-ruang yang kosong untuk diperjuangkan.

 

Mengertilah kita, mengapa agama itu merupakan nasihat dari Allah, Kitabnya, dan Rasulnya. Untuk siapa saja? Rasulullah mengatakan “…untuk para pemimpin muslim dan seluruh umat Islam”.

 

Serial Pemuda Edisi 16

Comments

comments