Toleransi dan Ied di Manchester

Eid 2012 in Rusholme

Saya punya pengalaman yang kurang nyaman secara pribadi saat pulang ke Manchester setelah Ied tahun 2014 dan 2015. Tapi ada hikmah dari cerita ini.

 

Tahun lalu saya berlebaran di Paris dan pulang ke Manchester di hari kedua, sedang tahun ini saya berlebaran di Vienna dan pulang ke Manchester di hari ke tiga setelah Ied. Tahun lalu saya menggeret 2 koper dengan berat lebih dari 50 kg karena sedang proses pindahan, sedang tahun ini hampir 30 kg karena membawa buku-buku bahan tesis selama berpuasa di Austria.

 

Dari Manchester airport saya naik bus 43 menuju daerah yang bernama Rusholme. Daerah ini dikenal juga dengan nama Curry Miles, atau kampung Arab, karena banyak sekali restoran halal di kiri kanan jalan.

 

Jalan yang dilalui bus di daerah Rusholme ini termasuk jalan utama yang bersambung ke Oxford Road tempat University Manchester bertengger, seperti jalan Soekarno Hatta di Bandung. Maka hampir semua bus dari arah selatan yang menuju city center akan melewati daerah Rusholme ini.

 

Tapi jalanan ini ditutup pada hari Ied dan 2 hari setelahnya, karena banyak sekali umat Islam yang membawa mobil dan parkir disana. Mereka membawa kerabat dan sahabat, memenuhi restoran-restoran dan kadang berkumpul di bahu-bahu jalan dan menjejali jalanan yang sudah sesak dengan mobil yang diparkir.

 

Maka pemerintah kota menutup jalan itu dan mengalihkan bus-bus ke rute yang lain. Tahun kemarin saya harus jalan hampir 3 km sambil membawa koper tersebut, tapi untung ada seorang perempuan Italia di dalam bus yang kebetulan tinggal satu alamat bahkan satu flat, sehingga dia membantu membawakan koper itu.

 

Pengalaman tahun lalu membuat saya mengkritisi keapatisan sebagian umat Islam disini yang hanya memikirkan diri mereka menikmati Ied tapi memuat satu daerah tertutup aksesnya untuk publik. Setiap pendatang baru yang mengunjungi Manchester dan menuju Rusholme selalu bertanya-tanya mengapa bus tidak melalui jalur yang biasa. Sang supir bus menjawab “karena umat Islam sedang merayakan Iednya”.

 

Terlintas, rasa kikuk, karena saya menjadi bagian dari umat Islam disini yang berkontribusi menyusahkan orang lain. Sebagian mereka hanya memikirkan diri dan kekuarganya, dan parkir sembarangan, tidak peduli dengan kemacetan yang akan terjadi. Tapi pikiran itu hilang, karena Allah membuka hikmahnya.

 

Hikmah pertama, saya sedang dalam kondisi yang tidak fit untuk mengangkut 2 buah koper dalam jarak yang cukup jauh. Namun di tahun ini ada seorang lelaki India yang berniat ke Rusholme dan tidak tahu jalan. Akhirnya dia mengikuti saya setelah turun dari bus dan memaksa membantu membawakan koper saya hingga sampai ke rumah. Akhirnya saya sama sekali tidak menggeret koper besar dan hanya membawa koper kecil sampai rumah. Padahal andai bus melewati jalur biasa, saya harus menggeret koper besar 30 kg tersebut walaupun jaraknya lebih dekat.

 

Tapi mungkin, bagi orang lain yang tinggal di Rusholme, hal ini tetap menyusahkan, karena tidak semua orang mendapatkan pertolongan seperti yang saya temui. Setidaknya ini menjadi renungan internal umat Islam untuk lebih bisa memikirkan efek sosial dari aktivitas mereka.

 

Hikmah kedua, setelah saya menyimpan koper, saya jalan menuju salah satu restoran di daerah Rusholme tersebut dan bertanya ke salah satu polisi. “Mengapa jalan sampai ditutup?”.

 

Sang polisi menjawab dengan gembira “karena umat Islam sedang merayakan hari raya mereka dan kami sebagai pemerintah akan melindungi dan memfasilitasi apa yang mereka butuhkan”.

 

Saya kaget dengan jawaban dia, lalu saya berpura-pura mengkritisi atas jawaban tersebut “apakah hal ini tidak mengganggu orang lain?”. Apalagi bagi saya pribadi, jelas berefek dan menganggu. Andaikan Allah tidak menggerakan hati perempuan Italia dan lelaki India untuk menolong saya, mungkin kekecewaan itu lebih berat.

 

Mendengar pertanyaan itu Si Polisi menjawab “ini kan hanya 3 hari dalam setahun, tidak masalah, ini hari raya mereka, kami akan melakukan apapun untuk mereka”.

 

Saya tersentak dengan jawaban tersebut. Dan Allah memuka hikmah lain, bahwa inspirasi itu bisa datang dari mana saja, bahkan dari masyarakat yang mayoritasnya Kristen. Saya belajar toleransi hari ini dari pemerintah yang didominasi non-muslim, sebagaimana saya mempelajari toleransi dari sejarah umat Islam yang agung memperlakukan minoritas non-muslim dengan baik.

 

Hal ini memberi saya refleksi atas tragedi yang sedang terjadi di Indonesia. Saat beberapa orang sedang mencatut kata “toleransi” seakan orang yang sedang menggunakan istilah “Toleransi” adalah orang yang paling tahu tentang peradaban dan paling moderat. Saat “toleransi” mereka berarti bebas merasionalisasi kekejian pembakaraan umat Islam di Tolikara, lalu mengatakan “karena minoritas umat Islam menganggu mayoritas non-muslim disana”.

 

Saya ingin mempertanyakan logika siapapun yang salah kaprah memaknai toleransi, baik tokoh masyarakat, kaum yang merasa intelek ataupun pemerintah. Apa kiblat toleransi anda?

 

Jika yang anda maksud toleransi dalam literatur sejarah Islam, kita lihat Nabi Muhammad menyuapi nenek Yahudi, menghukum tawanan perang Badar dengan menjadi guru membaca, atau Umar yang menjamin keselamatan semua Kristen Koptik Mesir.

 

Jika yang anda maksud adalah toletansi modern di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, di Jawa di Sumatera, dan daerah-daerah lain, kita lihat minoritas non-muslim bebas beribadah di rumah peribadatan mereka, bahkan natalpun menghiasi seluruh penjuru negeri dengan kelapang dadaan umat Islam.

 

Tapi jika anda mengatakan bahwa tragedi Tolikara adalah karena kesalahan minoritas umat Islam dengan berbagai dalihnya, lalu melihat kekejian mayoritas oknun itu sebagai tindakan wajar, lalu tetap berdalih “toleransi”, maka anda perlu banyak membuka mata anda untuk merevisi arti toleransi yang salah kaprah.

 

Sudah bukan zamannya perasaan kita saat beribadah dihantui suasana minoritas versus mayoritas. Coba bukalah mata. Barangkali tidak semua orang suka membaca keagungan sejarah Islam dalam hal toleransi dan fakta-fakta toleransi muslim di berbagai belahan dunia, tapi lebih senang berkiblat ke barat karena ingin merasa modern.

 

Maka saya katakan, toleransi di Manchester ini adalah mayoritas Kristen melindungi umat Islam sebagaimana mayoritas Umat Islam melindungi non-muslim di Indonesia. Toleransi di Manchester artinya, jika anda melecehkan seorang muslim secara verbal, maka anda bisa lapor polisi mempunyai hak memprosesnya secara hukum. Lalu negara yang mayoritasnya non-muslim ini akan membela si Muslim. Karena ini bukan soal agama, tapi hak manusia yang dirampas dan dibela pemerintah.

 

Sekarang, apa itu bisa terjadi juga di pemerintah yang justru mayoritasnya muslim?

 

Muhammad Elvandi

Manchester

Comments

comments